Hikmah

Akhlak Para Ulama-Mahaguru Madrasah Nidhamiyah

Rab, 18 Januari 2017 | 08:00 WIB

Akhlak Para Ulama-Mahaguru Madrasah Nidhamiyah

Ilustrasi (www.faker.net)

Di zaman Islam abad pertengahan, kita mengenal sebuah lembaga pendidikan bernama Madrasah Nidhamiyah. Sekolah tinggi yang berdiri di Bagdad pada masa Khalifah Abu Ja'far Abdullah al-Qa'im bi-Amrillah ini menjadi oase bagi studi keislaman. Ia menjadi mercusuar bergengsi sekaligus membanggakan bagi perkembangan ilmu pengetahuan zaman itu.

Di madrasah tersebut diajarkan berbagai keilmuan, mulai dari syariah, ilmu kalam, hingga tasawuf kelas berat. Para pengajarnya pun bukan orang sembarangan. Pihak kerajaan kala itu memastikan betul bahwa para mahaguru yang aktif di sana adalah orang-orang mumpuni. Imam Abu Ishaq asy-Syirazi, Imam Abu Hamid al-Ghazali, dan Imam Haramain adalah tiga tokoh yang pernah mendapat kesempatan menduduki posisi prestisius tersebut.

(Baca juga: Detik-detik Wafatnya Imam Al-Ghazali)

Namun demikian, seperti ulama-ulama kaliber umumnya, mereka yang menjadi guru besar di Madrasah Nidhamiyah tak serta merta menunjukkan perubahan sikap yang menonjolkan diri. Di antara mereka bukan tak pernah terjadi perbedaan pemikiran, namun semuanya disikapi dengan penuh kedewasaan dan rendah hati. Adu argumentasi tentu sering terjadi, tapi saling memuji dan berempati juga menjadi kebiasaan mereka.

Pernah suatu kali Imam asy-Syirazi menyanjung Imam Haramain dengan pernyataan, “Tuan adalah imamnya para imam.” Namun, di lain kesempatan Imam Haramain yang juga guru Imam al-Ghazali ini justru tak sungkan menuntun hewan tunggangan Imam asy-Syirazi. Demikian diceritakan kitab Irsyâdul Mu’minîn karya Muhammad Isham Hadziq.

Cerita lainnya adalah tentang ketawadukan Imam Abu Bakr asy-Syasyi, penerus Imam Abu Ishaq asy-Syirazi dan Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam memimpin Madrasah Nidhamiyah. Jabatan baru ini sesungguhnya menunjukkan bahwa Abu Bakr asy-Syasyi telah meraih capaian tertinggi secara formal di dunia keilmuan. Tapi sepertinya prestise itu hanya ada di benak orang-orang. Abu Bakr asy-Syasyi sendiri tak merasa layak menggantikan para pendahulu yang juga gurunya tersebut.

Ulama berjuluk fakhrul islam (kebanggaan Islam) ini selalu menampilkan rasa hormat dan pengagungan yang luar biasa tiap menyebut nama Imam Abu Ishaq asy-Syirazi dan Imam al-Ghazali. Kadang ia menangis kala duduk di atas mimbar ajar sembari mengungkapkan kekurangan-kekurangannya dibanding guru-gurunya. Padahal, pemuka ulama syafi’iyah di Iraq di zamannya ini memiliki banyak karya dan diakui kealimannya oleh para ulama lain.

(Baca: Ketika Pengarang Alfiyah Dihinggapi Rasa Ujub)

Begitulah keindahan hubungan para ulama terdahulu, bahkan saat mereka “distratifikasi” dengan relasi guru-murid. Mereka bersaing dalam mendalami ilmu tapi di saat yang sama seperti sedang berlomba berendah hati. Mereka mengerti bahwa ilmu bertalian erat dengan akhlak, bukan semata soal melimpahnya hafalan atau kepiawaian dalam berdebat. Para ulama itu jauh dari karakter ingin terlihat paling menonjol, mencapai posisi duniawi tertentu, apalagi menjatuhkan orang lain. (Mahbib)