Tobat bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, bahkan bagi orang yang merasa dirinya tidak pernah melakukan dosa.
Muhammad Afiq Zahara
Kolumnis
Ramadhan kali ini sangat berbeda dengan Ramadhan sebelumnya. Kita dihadapkan dengan keadaan yang asing lagi aneh. Dalam keadaan seperti ini, kita perlu merenung dan mengambil hikmah dari keadaan yang sedang kita hadapi, dan bergerak maju untuk mengenali segala dosa dan kekurangan yang ada pada diri kita. Untuk itu, kita perlu merenungi pintu tobat yang ada di depan kita, dan memasukinya.
ย
Renungan tobat ini akan diawali dengan kisah sederhana yang disampaikan Sayyid Abdul Aziz al-Darani. Berikut kisahnya:
ย
ูุบุถุจ ุจุนุถ ุงูู ููู ุนูู ูุฒูุฑู ูุฃุฑุฏ ุฃู ูุตุฑูู ุนู ุฎุฐู ุชู ููุจุนุฏู ุนู ุญุถุฑุชู, ููุงู ูู ุงููุฒูุฑ: ุฅู ูุงู ููุงุจุฏ ูุฑุฏ ุนููู ู ุง ุฃูููุชู ูู ุฎุฐู ุชู, ููุงู: ู ุง ููุ ูุงู: ุดุจุงุจู ุฑุฏู ุนููู ููุฏ ุฃูููุชู ูู ุฎุฐู ุชู ูุฃุนุฌุจ ุงูู ูู ุฐูู ูุฑุถู ุนูู
ย
โSeorang raja marah pada menterinya, ia ingin memecatnya dari pengabdiannya dan menyingkirkannya dari kekuasaannya. Kemudian menteri itu berkata pada raja: โJika pemecatan ini terjadi, kembalikan padaku segala yang kukorbankan untuk mengabdi kepadamu.โ Raja bertanya: โApa itu?โ Sang menteri menjawab: โMasa mudaku. Tolong kembalikan semua masa mudaku yang telah kuhabiskan untuk mengabdi kepadamu.โ Sang raja terkejut mendengar jawaban itu dan tidak jadi marah pada menterinyaโ (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahรขrah al-Qulรปb wa al-Khudlรปโ li โAllรขm al-Ghuyรปb, Beirut: Darul Kutub al-โIlmiyyah, 2003, h. 154)
ย
Apa maksud Sayyid Abdul Aziz al-Darani memasukkan kisah di atas dalam kitabnya? Kita akan uraikan perlahan-lahan.
ย
Dengan memasukkan kisah di atas, Sayyid Abdul Aziz al-Darani ingin menekankan pentingnya masa muda, bahwa tobat tidak melulu harus dilakukan ketika sudah tua. Tobat harus dilakukan sejak dini, setiap saat, dari mulai baligh sampai ajal menjemput. Jangan anggap masa lalu adalah masa yang sangat jauh dari sekarang. Sedetik saja waktu berlalu, itu telah menjadi masa lalu, tidak dapat diulang kembali.
ย
Karena itu, Allah dan nabi-Nya tidak pernah mensyaratkan โtuaโ sebagai salah satu syarat diterimanya tobat. Tobat bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, bahkan bagi orang yang merasa dirinya tidak pernah melakukan dosa. Dia harus tobat dari perasaannya itu, karena tidak ada manusia yang tidak membawa beban dosa selain para nabi.
ย
Di halaman sebelumnya, Sayyid Abdul Aziz al-Darani mengutip sebuah riwayat tentang Sayyidina Umar dan seorang pemuda. Dalam riwayat itu dikatakan:
ย
ููุธุฑ ุนู ุฑ ุจู ุงูุฎุทูุงุจ ุฑุถู ุงููู ุนูู ุฅูู ุบูุงู ูุชุฑุฏุฏ ูู ุงูุฃุณุญุงุฑ ุฅูู ุงูู ุณุงุฌุฏ ูุนููู ุญุจุฉ ุตูู ููุงู ูู: ูุง ุบูุงู ููุฏ ุฃุณุฑุนุช, ููุงู: ูุง ุฃู ูุฑ ุงูู ุคู ููู ููุณ ูู ุซู ุฑ ูุฏุฑู ุงููุถุฌ
ย
โ(Sayyidina) Umar bin Khattab radliyallahu โanh pernah melihat seorang pemuda yang merutinkan dirinya mendatangi masjid di waktu sahur, ia mengenakan pakaian shuf. Sayyidina Umar berkata kepadanya: โWahai pemuda, sungguh kau telah terburu-buru.โ Pemuda itu menjawab: โWahai pemimpin orang-orang yang beriman, tidak semua buah menjumpai masa matangnyaโ (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahรขrah al-Qulรปb wa al-Khudlรปโ li โAllรขm al-Ghuyรปb, 2003, h. 152).
ย
Ada cara pandang menarik yang disampaikan pemuda itu. Dia menyadari betul bahwa tidak semua buah bertemu masa matangnya. Artinya, tidak semua usia bertemu masa senjanya. Kesadaran inilah yang membuatnya tidak membuang-buang waktu untuk berdekatan dengan Tuhannya. Sayyidina Anas bin Malik radhiyallahu โanhu pernah berkata, โmรข min syaiโin ahabbu ila Allah min syรขbb tรขโibโtidak ada yang lebih disukai Allah daripada seorang pemuda yang bertobatโ (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahรขrah al-Qulรปb wa al-Khudlรปโ li โAllรขm al-Ghuyรปb, 2003, h. 152).
ย
Pertanyaan Sayyidina Umar harus dipahami sebagai caranya mendidik dan memberi pelajaran, seakan-akan ia sedang mengukur kedalaman istiqamah pemuda tersebut. Sayyidina Umar sudah melakukan kegiatan mendatangi masjid di waktu sahur sejak lama. Jika ia tidak melakukannya, tentu ia tidak akan tahu kebiasaan pemuda tersebut. Karena itu, pertanyaannya adalah bentuk pendidikan. Ia ingin menjaga istiqamah pemuda tersebut. Bagi orang yang telah bertahun-tahun lamanya melakukan kegiatan tersebut, mungkin Sayyidina Umar telah melihat banyak pemuda yang muncul dan pergi. Untuk beberapa saat mereka sangat rajin, di saat lainnya mereka tak lagi terlihat batang hidungnya.
ย
Kembali ke pembahasan awal. Bulan Ramadan adalah bulan ampunan. Karena itu, Sayyid Abdul Aziz al-Darani mendorong umat Islam, khususnya para pemuda untuk memasrahkan dosa-dosanya kepada Allah, dengan tobat yang sungguh-sungguh. Rasulullah SAW bersabda:
ย
ู ู ุตุงู ุฑู ุถุงู ุฅูู ุงูุง ูุงุญุชุณุงุจุง ุบูุฑ ูู ู ุง ุชูุฏูู ู ู ุฐูุจู
ย
โBarangsiapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahuluโ (HR. Imam al-Bukhari).
ย
Kemudian, Sayyid Abdul Aziz al-Darani menyampaikan nasihatnya kepada kita. Katanya:
ย
ูุง ู ู ูุทู ุน ุฃู ููุญู ุจุงูุนุงู ููู ููู ุฑุงูุฏ ูู ู ูุงุฏ ุงูุบุงูููู, ูุงุฑู ุฃูุทุงู ุบููุชู ููุนูู ุชุตุญู ู ู ุณูุฑุฉ ูุชุฑุชู
ย
โWahai orang yang menggebu-gebu untuk mendapatkan (pahala atau kemuliaan) orang-orang yang beramal, sementara ia tidur terlelap dalam bantal orang-orang yang lalai. Jauhilah rumah kelalaianmu, semoga saja kau bisa sembuh dari masa-masa mabuk (yang melalaikanmu itu)โ (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahรขrah al-Qulรปb wa al-Khudlรปโ li โAllรขm al-Ghuyรปb, 2003, h. 155).
ย
Manusia sering kehilangan kesadaran bahwa Tuhan sedang mengawasinya, dan memberikannya banyak anugerah. Meski demikian, setiap manusia memiliki hasrat untuk menjadi pribadi yang lebih baik, tapi antara keinginan dan penerapannya tidak seimbang. Keinginan hanya tinggal keinginan, yang kemudian berlalu begitu saja. Karena itu, Sayyid Abdul Aziz al-Darani menegur manusia dengan ungkapan, โwahai orang-orang yang menggebu-gebu untuk mendapatkan pahala/kemuliaan orang-orang yang beramal, sementara ia sendiri tidur terlelap dalam bantal kelalaian.โ
ย
Kelalaian inilah yang membuat keinginan manusia untuk beramal baik dan bertobat kepada-Nya selalu tertunda, dan akhirnya keinginan tersebut menjadi masa lalu. Apakah kita juga demikian?
ย
Wallahu aโlam...
ย
ย
Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussaโadah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen
ย
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: 4 Hal yang Menghalangi Terkabulnya Doa Seorang Muslim
2
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah Mengendalikan Amarah
3
PBNU Siapkan Peluncuran Sa'adatuna, Ekosistem Digital Penghubung Warga NU hingga Akar Rumput
4
Innalillahi, Putra Bungsu KH Wahab Chasbullah Wafat
5
Khutbah Jumat: Adab Bertamu dalam Islam, Wujud Akhlak Seorang Muslim
6
Meski Diancam AS, Anwar Ibrahim Tetap Larang Warga Israel Masuk Malaysia
Terkini
Lihat Semua