Media sosial belakangan ini diramaikan oleh sebuah video yang diunggah oleh akun @illiandeta di Instagram yang memperlihatkan tindakan tidak pantas dari seorang guru terhadap seorang remaja penyandang disabilitas tuna wicara. Dalam video tersebut, sang guru tampak melontarkan ucapan bernada merendahkan, disertai mimik wajah dan gestur yang mengarah pada pelecehan verbal.
Tentu saja video tersebut memicu kemarahan warganet, terutama para orang tua yang memiliki anak dengan kondisi serupa. Salah satu respons paling menyentuh datang dari seorang ibu yang memiliki anak tuna wicara bernama Aziza. Ia mengungkapkan kekecewaannya dan merasa sangat emosi melihat seorang guru yang seharusnya menjadi panutan, justru melakukan tindakan yang tidak terpuji dengan melecehkan anak murid yang tuna wicara.
Lantas, bagaimana sebenarnya sikap yang seharusnya dimiliki seorang guru dalam pandangan Islam? Nilai-nilai dan teladan apa saja yang semestinya ditanamkan dalam diri seorang pendidik? Mari kita bahas secara perlahan dan mendalam.
Allah Menciptakan Manusia dengan Sempurna
Perlu diketahui bahwa dalam ajaran Islam, Allah swt menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Setiap manusia, tanpa terkecuali, memiliki martabat dan kehormatan yang harus dijaga. Perbedaan fisik atau kemampuan seharusnya tidak menjadi alasan untuk merendahkan atau menghina seseorang. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْأِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Artinya, “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin, [95]: 4).
Dalam ayat yang lain, Allah swt berfirman:
خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Artinya, “Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta.” (QS. Al-Mu’minun, [23]: 14).
Dalam surat Al-Infithar, ayat 6-8, Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan yang sempurna. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ. الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ. فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ
Artinya, “Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Mahamulia, yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)-mu seimbang? Dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun (tubuh)-mu.” (QS. Al-Infithar, [82]: 6-8).
Ayat-ayat di atas menegaskan bahwa proses penciptaan manusia adalah bukti nyata dari kekuasaan dan keagungan Allah swt. Setiap tahapan penciptaannya, mulai dari setetes air mani hingga menjadi manusia yang sempurna adalah hasil karya Allah yang Maha Sempurna. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi setiap orang untuk merasa lebih sempurna dari yang lain, karena semuanya memang diciptakan dengan sempurna.
Larangan Menghina Sesama
Manusia diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang paling sempurna, sebagaimana ditegaskan dalam berbagai ayat Al-Qur’an. Karena itu, tindakan menghina atau merendahkan sesama, terlebih jika dilakukan oleh seorang guru kepada orang lain, apalagi kepada penyandang disabilitas, adalah perbuatan yang sama sekali tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.
Dalam dunia pendidikan, guru memiliki peran yang sangat penting. Ia bukan hanya penyampai ilmu, tetapi juga pembimbing, pendidik, dan teladan bagi para siswanya. Sikap dan ucapan seorang guru akan terekam kuat dalam ingatan, bahkan membentuk cara pandang dan kepribadian peserta didik.
Perilaku menghina atau merendahkan tidak hanya mencoreng martabat seorang pendidik, tetapi juga dapat melukai mental dan meruntuhkan kepercayaan diri korban. Padahal, lingkungan pendidikan seharusnya menjadi ruang yang aman, ramah, dan mendukung, tempat setiap individu dapat tumbuh dan berkembang tanpa diskriminasi, termasuk atas dasar kondisi fisik.
Lebih dari itu, Islam dengan tegas melarang segala bentuk penghinaan terhadap sesama manusia. Bahkan, sebagian ulama menilai perbuatan tersebut termasuk dosa besar. Sebab, merendahkan manusia pada hakikatnya sama dengan merendahkan Sang Pencipta. Allah tidak pernah memandang rendah makhluk-Nya, maka manusia pun tidak pantas merendahkan satu sama lain.
Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdurrauf al-Munawi. Dalam kitab Faidhul Qadir , ia mengutip pendapat Ba‘ḍul ‘Arifin yang menyebutkan bahwa:
لَا تَحْقِرْ أَحَدًا مِنْ خَلْقِ اللهِ فَإِنَّهُ تَعَالَى مَا احْتَقَرَهُ حِينَ خَلَقَهُ، فَلَا يَكُوْنُ اللهُ يُظْهِرُ الْعِنَايَةَ بِإِيْجَادِ مَنْ أَوْجَدَهُ مِنْ عَدَمٍ وَتَأْتِيْ أَنْتَ تَحْتَقِرُهُ فَإِنَّ ذَلِكَ احْتِقَارٌ بِمَنْ أَوْجَدَهُ وَهُوَ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ
Artinya, “Janganlah engkau meremehkan seorang pun dari makhluk Allah, karena sesungguhnya Allah Ta'ala tidak meremehkannya ketika Dia menciptakannya. Maka tidak pantas Allah menampakkan perhatian dengan mewujudkan (menciptakan) makhluk yang Dia wujudkan dari ketiadaan, lalu engkau datang meremehkannya. Sesungguhnya hal itu adalah penghinaan terhadap Dzat yang mewujudkannya, dan itu termasuk dosa-dosa besar.” (Faidhul Qadir Syarh Jami’is Shagir, [Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 1994 M/1415 H], jilid IV, halaman 21).
Dalam haditsnya, Nabi menjelaskan bahwa bisa jadi orang yang tidak dianggap oleh banyak orang karena penampilannya yang dinilai tak sempurna, merupakan orang yang paling mudah dikabulkan doanya. Rasulullah bersabda:
Lebih jauh, dalam hadits yang bersumber dari Abu Hurairah, Nabi menjelaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari penampilan fisik atau pandangan manusia, melainkan dari ketakwaan dan kedekatannya kepada Allah. Oleh karena itu, merendahkan orang lain, apa pun kondisi dan penampilannya, bertentangan dengan ajaran Islam.
Nabi bersabda;
رُبَّ أَشْعَثَ أَغْبَرَ ذِي طمْرَيْنِ تَنْبُو عَنْهُ أَعْيُنُ النَّاسِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ
Artinya, “Bisa jadi ada orang yang rambutnya kusut, berdebu, dan berpakaian lusuh, yang dipandang rendah oleh mata manusia, tetapi jika dia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.” (HR. Al-Hakim).
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tindakan guru dalam video yang viral tersebut sama sekali tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Seorang guru seharusnya menjadi teladan dalam bersikap penuh kasih sayang, membimbing, dan memanusiakan orang lain, tanpa membeda-bedakan latar belakang, kondisi fisik, maupun kemampuan yang dimiliki.
Menghina dan merendahkan anak yang memiliki keterbatasan bukan hanya mencerminkan buruknya akhlak, tetapi juga menunjukkan hilangnya rasa empati dan nilai-nilai kemanusiaan. Padahal, dunia pendidikan semestinya menjadi ruang yang aman dan ramah bagi setiap individu untuk tumbuh dan berkembang.
Guru yang baik akan berupaya menumbuhkan rasa percaya diri pada siswanya, memberikan motivasi untuk terus belajar, serta menciptakan suasana belajar yang nyaman dan inklusif. Guru yang berakhlak mulia menyadari bahwa setiap manusia dianugerahi potensi yang berbeda-beda, dan tugas pendidik adalah membantu mengembangkan potensi tersebut secara optimal, termasuk pada anak-anak penyandang disabilitas.
----------
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.
