Pagi itu Dulkemit masih seperti hari-hari biasanya. Berselimut sarung, siap-siap tidur di pojok mushala tua setelah shalat subuh berjamaah.
Pak Mudin pun menghampiri pemuda yang sudah berumur namun masih jomblo dan belum punya pekerjaan tetap itu.
Pak Mudin: "Mit, mau tidur lagi ya?"
Dulkemit: "Iya pak, masih ngantuk." (sambil menarik lipatan karpet yang selalu ia jadikan bantal)
Pak Mudin: "Mbok ya beraktifitas sana. Kerja biar kaya, banyak duit dapet istri cantik."
Dulkemit: "Sebenarnya aku tinggal ambil saja rezeki sama jodohku, pak. Tapi masih dipegang yang lain."
Pak Mudin: "Dipegang siapa, Mit?"
Dulkemit: "Dipegang Tuhan, Pak. Jodoh dan rezeki kan di tangan Tuhan. Nggak enak mau ngambilnya. Nunggu diserahkan saja." (Muhammad Faizin)
