NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Internasional

Iran Beri Peringatan kepada AS lewat Mural Raksasa di Lapangan Enqelab

NU Online·
Iran Beri Peringatan kepada AS lewat Mural Raksasa di Lapangan Enqelab
Mural besar Iran di Lapangan Enqelab, Teheran. (Foto: WANA News Agency)
Afrilia Tristara
Afrilia TristaraKontributor
Bagikan:

Jakarta, NU Online

Sebuah mural raksasa terpampang di jantung Teheran, Iran, tepatnya di Lapangan Enqelab, Ahad (25/1/2026). Mural tersebut memuat kalimat dalam bahasa Inggris dan Persia "Jika kamu menabur angin, kamu akan menuai badai" (if you sow the wind, you will reap the whirlwind). Mural ini sebagai respons simbolis tingkat tinggi terhadap sikap militer transisi Presiden Amerika Serikat, Donald J Trump.

WANA melaporkan bahwa peluncuran mural ini terjadi setelah beberapa hari bermunculan laporan tentang peningkatan kehadiran angkatan laut AS di wilayah tersebut.

Dengan menempatkan peribahasa ini di salah satu ruang publik paling terkemuka di Teheran, langkah ini disebut-sebut sebagai penanda kesiapan Iran untuk menanggapi apa yang mereka anggap sebagai provokasi Amerika.

Dalam rentang waktu yang relatif sama, terdeteksi perubahan posisi Gugus Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln. WANA menulis, menurut data pelacakan terbaru dan pejabat Angkatan Laut AS, kapal induk dan kapal perusak rudal pengiringnya telah berpindah dari Laut Cina Selatan ke Samudra Hindia.

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa kapal-kapal tersebut dipindahkan "untuk berjaga-jaga" jika ia memutuskan untuk mengambil tindakan, sebagaimana dilaporkan The Guardian.

“Kita memiliki armada besar yang menuju ke arah sana (Iran) dan mungkin kita tidak perlu menggunakannya,” kata Trump pada hari Kamis (22/1/2026) usai menghadiri World Economic Forum di Davos, Swiss.

Hingga saat ini, Iran masih memberlakukan pembatasan dan pemutusan akses internet. Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menjelaskan langkah tegas diambil pemerintah Iran dengan membatasi akses internet sejak 10 Januari 2026 dan mengklaim kebijakan ini efektif memutus kontak antara aktor teroris di luar negeri dengan sel-sel perusuh di dalam negeri

Ia menyebut kerusuhan yang terjadi di Iran disebut-sebut telah disusupi perintah dari pihak asing, yakni CIA dan Mossad.

"Strategi mereka adalah menciptakan korban jiwa semaksimal mungkin agar Iran dapat dituduh sebagai pelanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Ini menjadi alasan yang dianggap sah bagi pihak luar untuk melakukan penyerangan terhadap negara kami," tegas Boroujerdi dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Berdasarkan data yang dirilis oleh Kedubes Iran, sebanyak 3.117 jiwa menjadi korban dalam peristiwa tersebut dengan 2.427 di antaranya merupakan aparat keamanan yang syahid dalam tugasnya dan warga sipil yang tidak berdosa.

Aksi demonstrasi di Iran dimulai pada 28 Desember 2025 yang dilatarbelakangi oleh jatuhnya nilai mata uang Iran, rial, dan dengan cepat menyebar ke seluruh negeri.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut aksi protes yang bergulir di Iran sebagai hak rakyat. Pihaknya mengaku akan segera mengupayakan penyelesaian masalah yang dikeluhkan oleh masyarakat.

"Kami menganggap protes masyarakat sebagai hal yang sah. Kami tidak akan pernah mengabaikan mereka yang menyampaikan kekhawatiran yang sah," ungkapnya, sebagaimana dikutip NU Online.

Namun, situasi berubah mencekam dan kerusuhan yang diklaim Iran didalangi oleh penyusup asing terjadi saat demonstrasi berlangsung. Melalui akun Truth Socialnya, Trump merespons hal ini dan mengumumkan bahwa jika para demonstran di Iran dibunuh secara brutal, Amerika Serikat siap mengambil tindakan untuk “menyelamatkan” mereka.

Artikel Terkait

Iran Beri Peringatan kepada AS lewat Mural Raksasa di Lapangan Enqelab | NU Online