NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Khutbah

Khutbah Jumat: Bahaya Brain Rot akibat Penggunaan Gadget Berlebihan

NU Online·
Khutbah Jumat: Bahaya Brain Rot akibat Penggunaan Gadget Berlebihan
Ilustrasi brain rot. Sumber: Canva/NU Online.
Sunnatullah
SunnatullahKolomnis
Bagikan:

Salah satu bentuk kelalaian modern manusia adalah tenggelam dalam penggunaan gadget tanpa batas yang dapat menggerogoti akal dan mematikan hati. Fenomena ini dikenal sebagai brain rot di beberapa media sosial. Brain rot adalah cermin betapa mudahnya manusia hari ini kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Berjam-jam waktu terbuang hanya untuk menatap layar, sementara akal menjadi tumpul, hati kering, dan jiwa kosong.

Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Bahaya Brain Rot akibat Penggunaan Gadget Berlebihan.” Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِى الْفَضْلِ الْجَسِيْمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْأِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Puji syukur alhamdulillahi rabbil alamin, atas segala limpahan rahmat dan karunia yang diberikan kepada kita semua. Dia yang memberikan nikmat waktu dan kesempatan, agar kita mengisinya dengan kebaikan, bukan kelalaian, dan tidak dengan sesuatu yang tak berguna. Shalawat dan salam kita haturkan kepada panutan kita Nabi Muhammad saw, yang telah mengingatkan kita akan urgensi waktu dan bahaya kelalaian. Melalui sabdanya, Nabi mengajarkan kita untuk memprioritaskan hal yang bermanfaat, dan tidak menyia-nyiakan waktu senggang dan kesehatan.

Selanjutnya, pada kesempatan yang mulia ini, kami selaku khatib mengajak para jamaah sekalian, khususnya diri khatib pribadi, untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, dengan menggunakan sebaik mungkin waktu yang kita punya serta menyadari bahwa durasi hidup kita sesungguhnya adalah modal yang terus berkurang. Setiap detik yang dihabiskan untuk sesuatu yang tak berguna, tidak hanya merugikan bagi masa depan kita, tetapi juga kerugian di akhirat kelak.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Salah satu fenomena yang banyak menimpa generasi kita hari ini adalah apa yang dikenal dengan istilah brain rot atau pembusukan otak. Istilah ini menggambarkan kondisi di mana otak seseorang mengalami penurunan fungsi akibat kebiasaan mengonsumsi konten digital yang tidak bermutu, berlebihan, dan instan.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa otak manusia dirancang untuk bekerja secara aktif dalam menyelesaikan masalah kompleks. Namun, konsumsi konten instan seperti video pendek dapat berdampak menjadikan otak bekerja secara pasif. Sehingga bisa mengurangi neuroplasticity atau kemampuan otak untuk beradaptasi dan belajar hal baru.

Banyak yang terjebak dalam scroll tanpa ujung, menonton video-video pendek yang menghabiskan waktu, hingga lupa bahwa setiap detik yang terbuang adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Waktu yang seharusnya diisi dengan hal bermanfaat, justru terkuras untuk scroll tanpa henti, menonton tanpa tujuan, atau bermain tanpa batas. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ

Artinya, “Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu (merugi) padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR Bukhari).

Sabda Nabi SAW tentang dua nikmat yang sering disia-siakan ini tidak sekadar peringatan biasa. Para ulama menjelaskan bahwa kesehatan dan waktu luang adalah dua modal utama untuk mengumpulkan bekal akhirat. Seseorang mungkin saja sehat, tetapi tidak memiliki waktu luang karena sibuk mencari nafkah, atau ada yang memiliki waktu luang, tetapi tidak disertai kesehatan. Namun, ketika kedua nikmat itu berkumpul pada seseorang, lalu ia malas menjalankan ketaatan, maka dialah orang yang benar-benar merugi.

Inilah hakikat maghbun (orang yang tertipu) yang disebut Nabi di atas. Kita sering mengira bahwa waktu luang adalah kesempatan untuk bersantai tanpa batas, padahal ia adalah ladang investasi akhirat. Karenanya, sudah seharusnya kita semua menggunakan waktu yang telah kita miliki sebaik mungkin. Berkaitan dengan hal ini, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari, jilid XI, halaman 230 mengatakan:

فَالصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ رَأْسُ الْمَالِ، وَيَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُعَامِلَ اللهَ بِالْإِيْمَانِ وَمُجَاهَدَةِ النَّفْسِ وَعَدُوِّ الدِّيْنِ لِيَرْبَحَ خَيْرَي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Artinya, “Maka kesehatan dan waktu luang adalah modal utama. Dan hendaknya seseorang menggunakan (modal itu) untuk bermuamalah dengan Allah melalui iman, memerangi hawa nafsu, dan melawan musuh agama, agar ia meraih dua kebaikan dunia dan akhirat.”

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Lantas, bagaimana dengan kita yang menghabiskan waktu luang dan kesehatan hanya untuk scroll gadget tanpa tujuan? Menonton konten yang tidak mendidik, bermain game berjam-jam, atau terjerumus dalam percakapan sia-sia? Itulah bentuk penipuan terhadap diri sendiri! Kita lupa bahwa waktu luang akan digantikan oleh kesibukan, dan kesehatan akan digantikan oleh penyakit. Bahkan usia tua pun akan datang menghampiri, di mana tenaga melemah dan kesempatan beramal semakin sempit.

Inilah mengapa membatasi durasi penggunaan gadget menjadi keharusan bagi kita semua, karena setiap detik yang kita habiskan untuk scroll tanpa tujuan atau menonton konten sia-sia yang tidak berguna, sesungguhnya kita sedang menggali kuburan sendiri untuk masa depan yang hampa. Kita mengira sedang bersantai, padahal kita sedang menjual nikmat waktu dan kesehatan dengan harga yang sangat murah.

Karenanya, membatasi penggunaan gadget menjadi salah satu upaya seseorang untuk meraih kesempurnaan dalam beragama, karena muslim sejati adalah mereka yang meninggalkan setiap sesuatu yang tidak berguna baginya. Ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah, dalam salah satu haditsnya Nabi bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Artinya, “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR Ahmad).

Selain itu, Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa salah satu ciri orang yang akan meraih keberuntungan adalah mereka yang berpaling dari perkara-perkara sia-sia. Artinya, seorang Muslim sejati tidak akan rela waktunya habis untuk hal yang tidak menambah iman, ilmu, maupun amal. Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ، وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

Artinya, “Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, orang-orang yang meninggalkan (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,” (QS Al-Mu’minun, [23]: 1-3).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab Tafsir Al-Qur’anil Azhim, jilid V, halaman 462, bahwa para ulama berbeda pendapat dalam memaknai meninggalkan sesuatu yang tidak berguna pada ayat di atas, ada yang mengatakan meninggalkan kebatilan, seperti syirik, ada juga yang mengatakan meninggalkan kemaksiatan, dan sesuatu yang tidak memiliki faedah berupa perkataan maupun perbuatan,

وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ. أَيْ عَنِ الْبَاطِلِ، وَهُوَ يَشْملُ الشِّرْكَ كَمَا قَالَهُ بَعْضُهُمْ وَالْمَعَاصِي كَمَا قَالَهُ آخَرُوْنَ وَمَا لاَ فَائِدَةَ فِيْهِ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ

Artinya, “Dan orang-orang yang meninggalkan sesuatu yang tidak berguna. Maksudnya dari kebatilan. Hal itu mencakup syirik sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, kemaksiatan  sebagaimana dikatakan oleh sebagian yang lain, serta segala sesuatu yang tidak bermanfaat baik berupa ucapan maupun perbuatan.”

Maka, membatasi durasi penggunaan gadget tidak sekadar perkara disiplin diri, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kualitas iman dan tanda keseriusan kita dalam mengamalkan Islam. Dengan demikian, setiap waktu yang kita sisihkan dari hal-hal sia-sia dapat menjadi ladang pahala, dan setiap detik yang kita manfaatkan dengan baik akan berubah menjadi investasi untuk akhirat nanti.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Demikianlah serangkaian khutbah yang dapat kita renungkan bersama. Marilah kita tutup khutbah ini dengan mengambil pelajaran bahwa setiap detik dari hidup kita adalah amanah. Kesehatan dan waktu luang yang Allah anugerahkan adalah modal berharga yang harus kita kelola dengan bijak, bukan untuk dihabiskan dalam kelalaian digital yang merusak akal.

Mari kita komitmen untuk segera bertindak dengan batasi durasi gadget, filter konten yang kita konsumsi, dan alihkan waktu untuk hal yang bermanfaat dan mendatangkan pahala. Jangan sampai kita termasuk golongan orang yang tertipu (maghbun) sebagaimana yang disinggung Rasulullah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.

Kolomnis: Sunnatullah

Artikel Terkait

Khutbah Jumat: Bahaya Brain Rot akibat Penggunaan Gadget Berlebihan | NU Online