Hujan yang diturunkan oleh Allah bukan sekadar fenomena alam, melainkan rahmat, wujud kasih sayang, serta bukti kekuasaan bagi seluruh makhluk. Melalui hujan, Allah menghidupkan bumi yang tandus, menumbuhkan berbagai jenis tanaman, serta menjaga keberlangsungan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.
Naskah khutbah Jumat berjudul: “Khutbah Jumat: Hikmah Hujan, Tanda Kebesaran Allah dalam Mengatur Alam”, Untuk mencetak naskah khutbah ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini. Semoga bermanfaat.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَاۤءَ بِنَاۤءًۖ وَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا وَّاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ٢٢
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah Jumat kali ini, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan merupakan landasan utama dalam kehidupan seorang muslim, karena darinyalah lahir sikap taat, ikhlas, dan istiqamah dalam beribadah serta bermuamalah.
Ketakwaan tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan, tetapi harus dibuktikan melalui ketaatan dalam kehidupan sehari-hari. Di antara tanda orang yang bertakwa adalah kemampuannya mengambil pelajaran dari setiap ciptaan Allah SWT. Termasuk di dalamnya adalah peristiwa turunnya hujan yang sering kita saksikan, namun kerap kali kita lalai untuk merenungi makna, hikmah, dan pesan keimanan yang terkandung di dalamnya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Saat ini kita mengalami frekuensi hujan yang turun di daerah kita sangat tinggi. Fenomena alam ini perlu kita pahami dan renungi sebagai salah satu tanda-tanda kekuasaan Allah swt yang harus kita ambil hikmahnya sebagai orang yang beriman.
Dengan merenungi tanda kekuasaan Allah berupa hujan ini, kita bisa menambah keimanan kita dan semakin menyadari bahwa ada kuasa Allah di setiap kejadian yang terjadi di muka bumi ini.
Allah swt dalam Al-Qur’an berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ ٢
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan-Nya) kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal.” (QS Al-Anfal: 2).
Dalam Islam, hujan dimaknai sebagai rahmat yang Allah turunkan kepada seluruh makhluk di bumi. Air hujan menjadi sumber kehidupan bagi manusia, hewan, dan tumbuhan. Tanpa hujan, bumi akan kering, tanaman tidak tumbuh, dan kehidupan akan mengalami kesulitan. Oleh karena itu, turunnya hujan adalah nikmat besar yang wajib disyukuri.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Dia menurunkan air dari langit sebagai rahmat dan sebagai sumber kehidupan. Allah berfirman:
وَهُوَ الَّذِيْ يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْۢ بَعْدِ مَا قَنَطُوْا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهٗۗ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيْدُ ٢٨
Artinya: “Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan (Dia pula yang) menyebarkan rahmat-Nya. Dialah Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS Asy-Syura: 28)
Keberadaan hujan juga menunjukkan bahwa Allah Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya. Bahkan dalam ajaran Islam, ketika hujan turun, kita dianjurkan untuk berdoa karena saat hujan termasuk waktu yang mustajab untuk memohon kepada Allah. Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhâri, saat Nabi Muhammad melihat hujan, beliau mengucapkan doa:
اللَّهُمَّ صَيِّباً نافِعاً
Artinya: “Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan (lebat) yang bermanfaat.”
Dalam hadits yang disebutkan dalam kitab Al-Adzkâr, Rasulullah bersabda:
اِطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ التِقَاءِ الْجُيُوشِ وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ وَنُزُولِ الْغَيْثِ
Artinya: “Burulah manjurnya doa ketika perang berkecamuk, iqamah shalat, dan turunnya hujan.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Syaikh Zakariya al-Anshari dalam kitab Syarah Minhajut Thulab, mengatakan bahwa disunnahkan bagi seorang muslim untuk membaca doa khusus ketika hujan turun, serta diperbolehkan memanjatkan doa apa pun yang diinginkan, karena waktu tersebut termasuk salah satu dari empat keadaan di mana doa sangat diharapkan dikabulkan.
Hal ini selaras dengan firman Allah dalam QS. An-Naml: 60
اَمَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَاَنْزَلَ لَكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَنْۢبَتْنَا بِهٖ حَدَاۤىِٕقَ ذَاتَ بَهْجَةٍۚ مَا كَانَ لَكُمْ اَنْ تُنْۢبِتُوْا شَجَرَهَاۗ ءَاِلٰهٌ مَّعَ اللّٰهِۗ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَّعْدِلُوْنَۗ ٦٠
Artinya: "Apakah Zat yang menciptakan langit dan bumi serta yang menurunkan air dari langit untukmu, lalu Kami menumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah (yang) kamu tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah ada tuhan (lain) bersama Allah? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran)."
Dalam peristiwa turunnya hujan, kita dapat melihat kebesaran Allah yang mengatur alam dengan sangat sempurna. Allah menurunkan hujan dari tempat yang tinggi, yaitu dari langit, sehingga air dapat menyebar dan mengalir ke seluruh permukaan bumi. Dengan cara ini, air hujan mampu menjangkau berbagai wilayah, mulai dari pegunungan, perbukitan, hingga lembah dan dataran rendah yang sangat membutuhkan air.
Coba kita bayangkan jika hujan justru diturunkan dari dataran rendah. Air tentu tidak akan bisa mencapai dataran tinggi atau pegunungan. Akibatnya, sebagian wilayah akan kekurangan air, sementara wilayah lain bisa mengalami kerusakan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa setiap ketetapan Allah selalu memiliki tujuan dan hikmah bagi keseimbangan alam.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Demikianlah beberapa hal yang patut kita renungi dan ambil hikmahnya dari diturunkannya hujan oleh Allah ke muka bumi ini. Semoga hujan yang turun akan senantiasa menjadi keberkahan bagi kita, dan semoga kita senantiasa dilindungi oleh Allah dari berbagai mara bahaya. Amin.
Menutup khutbah ini mari kita renungi firman Allah dalam Al-Qur’an surat Qaf ayat 9:
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً مُّبٰرَكًا فَاَنْۢبَتْنَا بِهٖ جَنّٰتٍ وَّحَبَّ الْحَصِيْدِۙ ٩
Artinya: “Kami turunkan dari langit air yang diberkahi, lalu Kami tumbuhkan dengannya kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen.”
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
-----------
H. Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung
