NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Khutbah

Khutbah Jumat: Jangan Kehilangan Arah di Tengah Derasnya Arus Kehidupan

NU Online·
Khutbah Jumat: Jangan Kehilangan Arah di Tengah Derasnya Arus Kehidupan
Ilustrasi hilang arah. Sumber: Canva/NU Online.
Bagikan:

Perkembangan teknologi yang cukup signifikan membuat kehidupan masyarakat modern juga terasa cepat. Mereka dituntut untuk segera berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain demi mengejar target pekerjaannya. Pada tahap inilah roda kehidupan terlihat bergerak lebih cepat dari sebelumnya, sehingga tujuan utama kehidupan tampak kabur.

Dengan demikian, naskah khutbah Jumat ini berjudul “Jangan Kehilangan Arah di Tengah Derasnya Arus Kehidupan.” Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!

Khutbah I

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيْدًا أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّاللَّهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَايَحْتَسِبُ، وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah..

Pertama, marilah kita mensyukuri atas anugerah Allah yang telah diberikan kepada kita, baik anugerah yang terlihat seperti materi atau yang tidak terlihat seperti iman, islam, dan kesehatan. Kedua, shalawat dan salam semoga senantiasa dihaturkan untuk Nabi Muhammad serta keluarga dan para sahabatnya.

Khatib hendak mengingatkan kita semua agar meningkatkan keberagamaan dan ketakwaan di tengah kehidupan zaman kita hari ini yang cenderung materialistik dan instan. Dengan meningkatkan kedua aspek itu, orientasi utama kehidupan kita terhadap akhirat tidak akan sirna.

Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah..

Bila sesekali kita merenungi perjalanan hidup saat ini, aktivitas yang kita jalani setiap harinya, rasanya waktu terasa berjalan dengan cepat. Bangun di pagi hari, kemudian bersiap-siap untuk berangkat beraktivitas, dengan sekejap waktu sudah terasa sore dan saatnya pulang ke rumah.

Kita menjalani rutinitas itu setiap hari sehingga tidak terasa sudah ketemu lagi dengan liburan setiap pekan, setelah itu berganti bulan, kemudian lanjut berganti tahun, dan begitu seterusnya, pola kehidupan yang banyak dilakoni oleh masyarakat modern hari ini.

Bahkan, termasuk masyarakat desa yang aktivitasnya di sawah, kebun, dan toko atau warung, misalnya. Mereka juga merasakan kesan bahwa zaman sekarang waktu terasa berjalan lebih cepat daripada sebelumnya. 

Entah karena sudah terlena dengan aktivitas yang dijalani sehingga tidak ada aktivitas lain selain menyelesaikan pekerjaan utamanya. Atau ada unsur keberkahan waktu yang mulai dicabut sehingga perputaran rotasi alam menjadi lebih cepat. 

Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah..

Selain itu, waktu terasa berjalan semakin cepat seiring dengan perkembangan zaman yang kian canggih. Kita menikmati berbagai gawai yang dulu tak pernah terbayangkan bisa secerdas hari ini. Sarana transportasi, baik yang kita gunakan maupun sekadar kita saksikan, membuat jarak terasa semakin dekat dan perjalanan semakin singkat. Pembangunan gedung pun kini tidak lagi memerlukan waktu lama berkat kecanggihan teknologi dan peralatan yang digunakan.

Semua itu menunjukkan bagaimana sendi-sendi kehidupan kita dituntut untuk dijalani dengan serba cepat: dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, dari satu target ke target berikutnya, dan dari satu tempat ke tempat yang lain. Arus kehidupan yang memaksa kita terus bergerak cepat ini sering kali membuat fokus kita hanya tertuju pada pencapaian-pencapaian duniawi semata.

Dengan kata lain, pola pikir kita seolah dibentuk untuk hanya memikirkan apa yang ada tepat di hadapan kita. Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, bahkan melampauinya demi meraih bonus dan penghargaan, perlahan menumbuhkan rasa candu untuk terus mengulang pola tersebut.

Jika pola hidup semacam ini dibiarkan, kita akan terjebak dalam cara berpikir yang pragmatis dan materialistik. Akibat yang paling berbahaya adalah kita menjadi terlalu sibuk mengurus urusan dunia, sementara urusan akhirat justru terabaikan.

Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah..

Menjalani kehidupan seperti itu bukan berarti seseorang pasti meninggalkan kewajiban-kewajiban agama. Bisa jadi ia masih menunaikan salat, berpuasa, membayar zakat, bersedekah, dan ibadah lainnya. Namun, ibadah tersebut sering kali hanya dilakukan sebatas formalitas, sekadar untuk menggugurkan kewajiban.

Ketika melaksanakan salat, misalnya, secara fisik ia melakukan gerakan sebagaimana mestinya, tetapi pikirannya justru dipenuhi oleh urusan-urusan dunia. Hati tidak hadir, kekhusyukan pun menghilang. Karena itulah Allah SWT telah mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya, "Wahai orang-orang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barang siapa melakukan demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi," (QS. al-Munafiqun: 9).

Syekh al-Maraghi dalam kitab tafsirnya, Tafsir al-Maraghi, menjelaskan bahwa ayat tersebut mengandung pesan agar seorang mukmin menjalani kehidupan secara seimbang antara urusan dunia dan urusan akhirat. Jangan sampai perhatian terhadap urusan dunia justru lebih mendominasi dan mengalahkan kepedulian terhadap akhirat.

Terlebih lagi, kita meyakini bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah kekal. Karena itu, tidak sepantasnya perkara yang fana menguras pikiran dan perhatian kita lebih besar dibandingkan kehidupan yang abadi.

Ma’asyiral muslimin hafizakumullah..

Di ayat lain Allah juga mempertegas bagaimana kehidupan dunia ini:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

Artinya, “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, saling bermegah-megahan di antara kalian, serta berlomba-lomba dalam memperbanyak harta dan anak keturunan,” (QS. al-Hadid: 20).

Kita dapat menyaksikan gambaran ayat ini di sekitar kita, atau bahkan mungkin pada diri kita sendiri. Banyak di antara kita bekerja dengan sangat optimal untuk menumpuk harta kekayaan, bukan hanya demi diri dan anak-anak kita, tetapi juga agar dapat dinikmati hingga cucu dan cicit kelak.

Padahal, kita, anak-anak kita, bahkan cicit-cicit kita nantinya tidak akan hidup selamanya di dunia ini. Kehidupan sejati bagi seorang mukmin adalah kehidupan akhirat. Oleh karena itu, seharusnya arah dan orientasi hidup kita tertuju pada akhirat, bukan semata-mata pada dunia.

Malik bin Dinar dalam Hilyah al-Awliya’, jilid 2 halaman 357, berkata:

الدُّنْيَا مَطِيَّةٌ، إِنْ رَكِبْتَهَا حَمَلَتْكَ، وَإِنْ حَمَلْتَهَا قَتَلَتْكَ

Artinya, "Dunia itu seperti tunggangan. Jika kamu menungganginya (mengendalikannya), ia akan membawamu. Namun jika engkau memikulnya (dikuasai olehnya), ia akan membinasakanmu."

Dengan demikian, kita harus berupaya agar dunia tidak sampai mengendalikan hidup kita. Justru kitalah yang harus mengendalikannya, sehingga dunia berada dalam genggaman dan dapat kita manfaatkan secara bijak sesuai tuntunan agama.

Ma’asyiral muslimin hafizakumullah,

Nabi Muhammad SAW pernah menasihati seseorang sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Artinya, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan hidupmu sebelum datang kematianmu.”

Melalui nasihat ini, Rasulullah SAW sejatinya mengingatkan kita agar tidak melupakan urusan akhirat dengan memperbanyak ibadah. Baik ibadah yang bersifat personal, seperti salat dan puasa, maupun ibadah yang bersifat sosial, seperti zakat dan sedekah.

Dengan menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, tujuan utama hidup kita sebagai seorang mukmin akan tetap terarah, yaitu meraih kebahagiaan akhirat. Dunia kita jadikan sebagai sarana dan ladang untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya demi kehidupan yang kekal kelak.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَبِهِ وَ كَفَرَ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَاِئِقَ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَسَلَّمُ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً۰ اَمَّابَعْدُ

 فَيَاعِبَادَ ﷲ... اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَاتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرٍ

 إِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ، فَقَالَ قَوْلًا كَرِيْمًا:  ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ، ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮْﺍ ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮْﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ ...ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰسَيِّدِنَا ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁلهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْن

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأْهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، اللهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ،  اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ  اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

عبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

M. Syarofuddin Firdaus, Dosen Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat.

Tags:khutbah

Artikel Terkait