Penyandang Disabilitas adalah saudara-saudara kita yang memiliki keterbatasan fisik, intelektual, atau mental yang menyebabkan mereka terhambat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Dalam pandangan Islam, keterbatasan tersebut bukanlah aib, melainkan bagian dari ketetapan Allah yang tidak mengurangi martabat seseorang.
Oleh karena itu, naskah khutbah Jumat berjudul, “Islam dan Martabat Penyandang Disabilitas”, Untuk mencetak naskah khutbah ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini. Semoga bermanfaat.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ كَرَّمَ بَنِيْ آدَمَ تَكْرِيْمًا، وَرَفَعَ قَدْرَهُمْ بِالتَّقْوَى تَرْفِيْعًا، وَلَمْ يَجْعَلِ الْفَضْلَ فِي الْخِلْقَةِ وَلَا فِي الصُّوْرَةِ وَلٰكِنْ فِي الْقُلُوْبِ وَالْأَعْمَالِ تَقْوِيْمًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ تَعَالَى، وَقَدْ قَالَ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Segala puji dan syukur, mari kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan karunia-Nya yang tiada henti. Dengan izin dan rahmat-Nya, kita masih diberi kesehatan, kesempatan, serta kekuatan untuk menjalani kehidupan dengan semangat dan optimis. Bahkan, dalam waktu yang tidak lama lagi, kita memohon kepada-Nya agar dipertemukan dengan bulan penuh keberkahan, bulan yang selalu kita rindukan, yakni Ramadhan.
Selanjutnya, tidak lupa kita sampaikan shalawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, sosok teladan yang telah membimbing umat manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya keimanan. Begitu juga kepada keluarga beliau, sahabat, serta para ulama yang terus menjaga risalah Islam di tengah umat, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka.
Pada kesempatan yang mulia ini pula, khatib mengajak diri pribadi dan seluruh jamaah sekalian untuk senantiasa menumbuhkan dan memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT. Sebab, ketakwaan adalah kunci kemudahan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 70-71:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Dia (Allah) akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia menang dengan kemenangan yang besar.”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Penyandang disabilitas sering kali diperlakukan oleh kita dengan cara-cara yang tidak menyenangkan. Kita kerap memandang mereka dengan penglihatan yang merendahkan. Apalagi terkadang, secara sadar kita menghardik dan mengucilkan keberadaan mereka.
Padahal, tindakan semacam ini sangat mencederai nilai-nilai luhur yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam Islam kita tidak boleh menghina atau mengerdilkan satu sama lain. Sebab, bagaimanapun keadaan individu, dia tetap memiliki hak dan martabat yang harus kita hormati.
Begitu pula, dengan kita mengejek penyandang disabilitas, lantas tidak membuat kita menjadi lebih baik dari segi apapun. Bahkan, bisa jadi mereka itu lebih bernilai daripada kita di hadapan Allah. Dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 11, dijelaskan:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok)..”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Penyandang disabilitas dalam Islam itu dihormati dan dianggap setara dengan manusia normal. Hak hidupnya dijamin dan tidak boleh kita sepelekan. Maka, dengan mendiskriminasi orang-orang berkebutuhan khusus itu, secara langsung, kita menyalahi pedoman agama Islam.
Penjaminan hak hidup bagi penyandang disabilitas dalam Islam tersebut dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 61:
لَيْسَ عَلَى الْاَعْمٰى حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْاَعْرَجِ حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْمَرِيْضِ حَرَجٌ وَّلَا عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَنْ تَأْكُلُوْا مِنْۢ بُيُوْتِكُمْ
Artinya: “Tidak ada halangan bagi orang buta, orang pincang, orang sakit, dan dirimu untuk makan (bersama-sama mereka) di rumahmu.”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Al-Mawardi dalam kitab An-Nukat wal Uyun, jilid 4, halaman 122, menjelaskan tentang penyebab QS. An-Nur ayat 61 ini diturunkan. Dalam uraiannya, ia menyebutkan lima pendapat. Salah satu di antaranya ialah bahwa di masa lalu orang-orang Anshar (Madinah) tidak membolehkan penyandang disabilitas seperti: Orang buta, orang pincang, dan orang sakit untuk makan bersama dengan mereka.
Disebutkan oleh Al-Mawardi, alasan mereka melakukan perlakuan itu karena: bagi yang buta, mereka tidak mampu melihat makanan dengan baik. Sedangkan bagi yang pincang, mereka tidak bisa terlalu berdesakan. Kemudian orang sakit, mereka terlalu lemah untuk makan secara bersama-sama.
Perlakuan diskriminatif ini yang menyebabkan Allah SWT, menurunkan QS. An-Nur ayat 61, sebagai peringatan atas tindakan yang tidak menyetarakan hak sesama makhluk hidup tersebut.
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Ditambahkan lagi, Imam Fakhrurrozi dalam kitab Mafatihul Ghaib, jilid 24, halaman 241 menyebutkan, bahwa rata-rata di zaman tersebut, orang-orang normal itu mendiskriminasi penyandang disabilitas, terutama ketika makan bersama. Maka dengan turunnya ayat ini, perlakuan itu dilarang atau dihilangkan. Fakhrurrozi menjelaskan:
وَقَالَ الْأَكْثَرُونَ الْمُرَادُ مِنْهُ أَنَّ الْقَوْمَ كَانُوا يَحْظَرُونَ الْأَكْلَ مَعَ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةِ وَفِي هَذِهِ الْمَنَازِلِ، فَاللّٰهُ تَعَالَى رَفَعَ ذَلِكَ الْحَظْرَ وَأَزَالَهُ، وَاخْتَلَفُوا فِي أَنَّهُمْ لِأَيِّ سَبَبٍ اعْتَقَدُوا ذَلِكَ الْحَظْرَ
Artinya: “Mayoritas ulama berpendapat, bahwa maksud dari ayat ini ialah (rata-rata) kaum melarang makan (bersama) dengan ketiga penyandang disabilitas yang disebutkan dalam QS. An-Nur ayat 61 (Orang buta, pincang dan sakit). Maka dengan itu, Allah menghilangkan (tidak membolehkan) tindakan tersebut. Akan tetapi para ulama berbeda pendapat tentang alasan kaum itu melakukan pelarangan (diskriminasi disabilitas) itu.”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Bagi yang merasa sering mendiskriminasi penyandang disabilitas, memperlakukan mereka dengan tidak layak dan merendahkan mereka, mulai saat ini sadarlah dan jangan pernah mengulangi tindakan yang tidak baik tersebut.
Karena penyandang disabilitas itu, meskipun secara nyata mereka kekurangan fisik, tapi bisa jadi mereka memiliki amal dan etikanya yang lebih baik daripada kita. Sehingga membuat mereka menjadi lebih bernilai di hadapan Allah.
Sebab sejatinya, Allah tidak memandang fisik, melainkan kepada keluhuran hati dan amal ibadah, sebagaimana Hadits Nabi Muhammad SAW, menjelaskan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللّٰهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Artinya: Dari Abu Hurairah, Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada bentuk rupa dan harta kalian, melainkan Dia memandang hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Ahmad)
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللّٰهِ ! إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman.
