NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Khutbah

Khutbah Jumat: Menjenguk Orang Sakit, Langkah Kecil Menuju Surga

NU Online·
Khutbah Jumat: Menjenguk Orang Sakit, Langkah Kecil Menuju Surga
khutbah Jumat (Freepik)
Bagikan:

Menjenguk orang sakit merupakan amalan yang tampak sederhana, namun memiliki pahala yang sangat besar di sisi Allah SWT. Rasulullah mengajarkan bahwa setiap langkah seorang Muslim untuk menjenguk saudaranya yang sakit akan dicatat sebagai kebaikan dan mendatangkan rahmat. 

Khutbah Jumat dengan judul, “Khutbah Jumat: Menjenguk Orang Sakit, Langkah Kecil Menuju Surga”, Untuk mencetak naskah khutbah ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini. Semoga bermanfaat.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَ بِالتَّرَاحُمِ تَأْكِيْدًا، وَحَثَّ عَلَى التَّعَاوُنِ تَشْرِيْعًا، وَجَعَلَ فِي خِدْمَةِ الْخَلْقِ أَجْرًا عَظِيْمًا، وَفِي تَفْرِيْجِ كُرُبَاتِهِمْ فَضْلًا كَبِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ تَعَالَى، وَقَدْ قَالَ: وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt, Tuhan Yang Maha Pengasih, yang terus melimpahkan nikmat-Nya kepada kita semua tanpa henti. Berkat rahmat dan pertolongan-Nya, pada hari ini kita masih diberi kesehatan, umur yang senantiasa bermanfaat, serta kesempatan untuk berkumpul dan beribadah dengan penuh rasa aman.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw, teladan agung dalam berbudi pekerti, berkepedulian, dan kasih sayang kepada sesama. Semoga pula shalawat tersebut sampai kepada keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh pengikutnya yang setia meneladan ajaran Islam hingga akhir zaman.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, khatib mengajak diri pribadi dan jamaah sekalian untuk terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Selain itu, salah satu cara bertakwa kepada Allah ialah dengan selalu menyambung silaturahmi kepada sesama. 

Sebagaimana disebutkan dalam surat  An-Nisa ayat 1:

وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Artinya: “Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, 

Menjenguk orang sakit bukan sekadar tradisi sosial, melainkan wujud nyata kepedulian dan kasih sayang terhadap sesama. Kehadiran kita di sisi mereka yang sedang diuji dengan sakit mampu menjadi penguat hati, menghadirkan semangat, serta menumbuhkan harapan untuk kembali sehat. Sering kali, perhatian sederhana dan doa tulus justru menjadi penopang batin yang sangat berarti bagi yang sedang terbaring lemah.

Di sisi lain, aktivitas menjenguk juga mendidik diri untuk lebih peka dan berempati. Kita dilatih merasakan penderitaan orang lain, menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial, serta menyadari bahwa setiap manusia pada hakikatnya saling membutuhkan. Dari sana tumbuh kesadaran bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri, melainkan tentang kebersamaan dan kepedulian.

Islam mengajarkan bahwa kehidupan seorang mukmin tidak terlepas dari mukmin lainnya. Mereka diikat oleh persaudaraan iman yang mendorong untuk saling menguatkan, saling menolong, dan bekerja sama dalam kebaikan. Menjenguk orang sakit menjadi salah satu bentuk nyata dari ajaran tersebut, menghadirkan kehangatan, mempererat ukhuwah, serta meneguhkan nilai kemanusiaan dalam bingkai keimanan.

Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam QS. At-Taubah ayat 71:

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Artinya: “Orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) makruf dan mencegah (berbuat) mungkar, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, 

Lebih jauh, dalam surat  At-Taubah ayat 71 ini menegaskan bahwa orang-orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki hubungan untuk saling menguatkan dan saling menolong. Karena dengan iman tidak serta-merta menjadikan seseorang individualis dalam menjalankan ibadah dan kehidupan, tetapi  dengannya menempatkan kita dalam satu ikatan kebersamaan dan tanggung jawab sosial. 

Sebagaimana dijelaskan oleh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir, jilid X, halaman 103, sesungguhnya orang-orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, adalah pribadi-pribadi yang saling menolong dan saling menguatkan satu sama lain. Ikatan keimanan menjadikan mereka berdiri dalam satu barisan yang kokoh, saling menopang dalam kebaikan dan ketakwaan.

Dalam hadis sahih Nabi bersabda bahwa perumpamaan kaum mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh; apabila satu anggota tubuh merasakan sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan demam dan tidak dapat tidur.

 مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ.

Artinya; “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai dan saling menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakannya dengan demam dan tidak bisa tidur.”

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, 

Dalam konteks inilah, ketika seorang mukmin ditimpa sakit, ia berada pada kondisi lemah dan membutuhkan dukungan, baik secara fisik maupun mental. Kehadiran saudara seiman yang menjenguknya menjadi wujud nyata dari sikap saling menolong. Kunjungan tersebut simbol persaudaraan yang hidup; menguatkan yang lemah, menghibur yang gelisah, dan meneguhkan harapan di tengah ujian.

Lebih dari itu, menjenguk orang sakit tidak hanya mengajarkan empati, semangat tolong-menolong, serta kesadaran akan tanggung jawab sosial. Di baliknya tersimpan ganjaran pahala yang besar. Setiap langkah yang diayunkan untuk menjenguk, setiap doa yang dipanjatkan, dan setiap kalimat penguat yang diucapkan bernilai ibadah di sisi Allah Swt. 

Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bersumber dari Tsauban, budak Rasulullah Saw:

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ عَادَ مَرِيضًا لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ.

Artinya: Dari Tsauban, budak Rasulullah Saw, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa menjenguk orang sakit, maka ia senantiasa berada di kebun-kebun surga hingga ia kembali.” (HR. Muslim)

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

Al-Ashbahani dalam kitab At-Tahrir fi Syarh Shahih Muslim halaman 589 menyampaikan penjelasan yang begitu indah tentang hadis riwayat Imam Muslim tersebut. Ia menegaskan bahwa menjenguk orang sakit dapat mengantarkan seseorang menuju surga. Di sana, ia akan merasakan berbagai kenikmatan yang Allah sediakan, termasuk buah-buahan surga yang menjadi simbol kelezatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan abadi.

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

Menjenguk orang sakit bukan sekadar tradisi sosial, melainkan amalan mulia yang sarat makna. Ia menumbuhkan kepedulian sosial, melatih hati agar lebih peka terhadap penderitaan orang lain, serta menghadirkan empati yang mempererat ukhuwah. Bagi yang sedang sakit, kehadiran, sapaan hangat, dan doa tulus mampu menenangkan jiwa, mengurangi beban psikologis, serta menumbuhkan harapan di tengah ujian.

Di sisi lain, menjenguk orang sakit adalah wujud nyata dari keimanan. Saling menolong dan menguatkan merupakan perintah agama yang harus diwujudkan dalam tindakan. Setiap langkah menuju tempat orang yang sakit dicatat sebagai amal kebaikan dan menjadi sebab turunnya pahala serta keberkahan, bahkan menjadi jalan yang mengantarkan seorang hamba kepada surga sebagaimana dijanjikan Rasulullah saw.

Karena itu, mulai saat ini, ketika ada sanak keluarga, kerabat, sahabat, tetangga, atau siapa pun di sekitar kita yang tengah diuji dengan sakit, marilah kita berusaha untuk menjenguk dan menengoknya. Jangan menunda, apalagi mengabaikannya. Sebab, sekali lagi, menjenguk orang sakit bukanlah amalan yang sepele. 

Di dalamnya tersimpan begitu banyak kebaikan: menguatkan tali silaturahmi, menumbuhkan empati, menghadirkan doa dan penghiburan bagi yang sakit, serta yang lebih agung lagi, mengundang pahala dan rahmat Allah Swt. Sebuah langkah kecil yang bisa menghadirkan manfaat besar, baik di dunia maupun di akhirat.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللّٰهِ ! إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

---------------
Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman

Kolomnis: Muhaimin Yasin