Salah satu ciri khas keutamaan bulan Ramadhan yang dapat kita rasakan bersama adalah keberadaannya yang selalu menjadi istimewa bagi umat Islam. Pada bulan mulia ini, kita bisa melihat masjid seolah menjadi lebih hidup, Al-Qur’an lebih sering dibaca dan terdengar di mana-mana, dan ibadah ditunaikan dengan lebih khusuk.
Dan dari sekian banyak ibadah yang kita lakukan di dalamnya, puasa menjadi ibadah yang paling menonjol dan lebih terasa daripada ibadah-ibadah yang lain. Mengapa demikian? Karena puasa tidak hanya tentang menahan diri dari makan dan minum saja, tetapi juga melibatkan pengendalian diri secara menyeluruh, baik fisik maupun mental.
Karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui lebih lanjut perihal hikmah-hikmah diwajibkannya puasa. Sehingga kita tidak hanya merasakan lapar dan dahaga, tetapi benar-benar meresapi makna puasa dengan sebenar-benarnya.
Hikmah Disyariatkannya Puasa
Sebagaimana kita ketahui bersama, puasa memiliki hikmah yang sangat luar biasa. Ia merupakan sarana untuk membersihkan diri dari dosa, meningkatkan ketakwaan, dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Puasa melatih kita untuk bersabar, jujur, dan peduli terhadap sesama. Ia juga menjadi momentum untuk introspeksi diri, memperbaiki diri, dan meningkatkan kualitas ibadah kita.
Setidaknya ada empat hikmah luar biasa di balik disyariatkannya puasa yang penting untuk kita ketahui bersama, sebagaimana disampaikan oleh Syekh Muhammad Ali as-Shabuni dalam kitab Rawai’ul Bayan fi Tafsiri Ayatil Ahkam halaman 93, yaitu:
1. Bentuk Penghambaan
Hikmah pertama dari puasa adalah wujud penghambaan diri kepada Allah SWT. Puasa mengajarkan kita untuk tunduk dan patuh sepenuhnya terhadap perintah-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya. Dalam puasa, seseorang harus meninggalkan makan, minum, dan berbagai kenikmatan yang sebenarnya halal bukan karena tidak mampu, tetapi semata-mata karena ketaatan kepada Allah. Hal ini berdasarkan salah satu hadits Rasulullah, yaitu:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي
Artinya, “Rasulullah SAW bersabda: Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Dia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku’.” (HR. Ahmad).
Melalui puasa, manusia dilatih untuk benar-benar merasakan dirinya sebagai hamba yang senantiasa berserah diri kepada keputusan dan ketetapan Allah. Dan inilah puncak tujuan dari semua ibadah, yaitu menumbuhkan sikap tunduk, patuh, dan pasrah kepada Rabb semesta alam.
2. Mendidik Jiwa dan Melatih Kesabaran
Hikmah kedua dari disyariatkannya puasa adalah untuk mendidik jiwa dan melatihnya agar terbiasa bersabar serta tabah dalam menghadapi kesulitan di jalan Allah. Puasa menumbuhkan kekuatan tekad dan kemauan, serta menjadikan manusia mampu mengendalikan hawa nafsu dan keinginannya. Dengan berpuasa, kita tidak menjadi budak jasmani atau tawanan syahwat, tetapi mampu berjalan di atas petunjuk syariat Islam dan akal sehat.
3. Menumbuhkan Rasa Cinta, Kasih Sayang, dan Empati
Hikmah ketiga dari disyariatkannya puasa adalah menumbuhkan rasa cinta, kasih sayang, dan kepekaan sosial dalam diri manusia. Puasa menjadikan hati lebih lembut, jiwa lebih peka, dan perasaan lebih halus terhadap penderitaan orang lain. Karena rasa lapar dan haus yang kita rasakan tidak hanya bentuk pengekangan diri, melainkan sarana untuk membangkitkan energi spiritual agar kita mampu merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang kekurangan.
Dari sinilah tumbuh dorongan untuk berbagi, mengulurkan bantuan, menghapus air mata orang-orang yang lemah, serta meringankan beban mereka yang tertimpa kesusahan. Dengan puasa pula, ia akan menjadi pribadi yang dermawan dan penuh empati, karena hati yang telah ditempa oleh ibadah puasa tidak akan tega berpaling dari penderitaan sesama.
Demikianlah salah satu contoh yang pernah dilakukan oleh Nabi Yusuf alaihissalam. Meski ia pernah memegang perbendaharaan negaranya, namun ia tidak pernah makan hingga sangat kenyang dan senantiasa merasakan lapar, hingga suatu saat ia ditanya perihal alasan dari perbuatan itu, maka ia menjawab:
أَخْشَى إِنْ أَنَا شَبعْتُ أَنْ أَنْسَى الْجَائِعَ
Artinya, “Aku khawatir jika aku kenyang, aku akan melupakan orang yang kelaparan.”
4. Menyucikan Jiwa dan Mencapai Derajat Takwa
Hikmah keempat dari disyariatkannya puasa adalah untuk menyucikan jiwa manusia dengan menanamkan rasa takut kepada Allah, serta kesadaran akan pengawasan-Nya baik dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan, puncaknya adalah menjadikan orang-orang yang berpuasa menjadi hamba yang benar-benar bertakwa kepada Allah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Dan ini pula alasan mengapa Allah SWT pada ayat di atas menegaskan bahwa tujuan puasa adalah agar manusia meraih derajat takwa, bukan agar manusia merasakan lapar, dahaga, atau sekadar memperoleh manfaat jasmani, yaitu agar tumbuh dalam dirinya sikap takwa yang sejati. Dan inilah manfaat terbesar yaitu kesiapan jiwa untuk kembali menjadi hamba Allah yang senantiasa berkomitmen untuk menjalani perintah-Nya, dan konsisten menjauhi larangan-Nya.
Demikianlah kultum Ramadhan tentang hikmah disyariatkannya puasa. Semoga apa yang telah dijelaskan ini tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan dan nasihat di lisan saja, tetapi benar-benar meresap ke dalam hati dan terwujud dalam perilaku keseharian kita. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.
