NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Nasional

22 Jenis Bumbu Bercita Rasa Indonesia Disiapkan untuk Kebutuhan Haji 2026

NU Online·
22 Jenis Bumbu Bercita Rasa Indonesia Disiapkan untuk Kebutuhan Haji 2026
Dirjen Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU) Jaenal Efendi. (Foto: Kemenhaj)
Bagikan:

Jakarta, NU Online

Kementerian Haji dan Umrah memaksimalkan penggunaan bumbu khas Indonesia dan makanan siap saji (ready to eat/RTE) untuk konsumsi jamaah, khususnya di Armuzna.

Sebanyak 22 jenis bumbu bercita rasa Indonesia disiapkan oleh pelaku usaha nasional untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan haji 2026. Kebutuhan hal tersebut mencapai lebih dari 400 ton serta sekitar 3,9 juta paket RTE. Tentu pengiriman kebutuhan itu harus telah memenuhi standar Saudi Food and Drug Authority (SFDA).

“Produk ini telah melalui uji cita rasa dan keamanan pangan. Selain meningkatkan kenyamanan jemaah, ini juga membuka pasar ekspor nyata bagi UMKM kita,” jelas Jaenal Efendi, Dirjen Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU), pada Selasa (27/1/2026) sebagaimana dilansir situsweb Kementerian Haji dan Umrah.

Nilai ekonomi dari pengadaan bumbu tahun ini, menurutnya, diperkirakan mencapai Rp63 miliar. Sementara RTE berpotensi menciptakan perputaran ekonomi dalam skala jutaan riyal.

Selain bumbu, Kemenhaj juga tengah menginisiasi ekspor beras Indonesia untuk kebutuhan konsumsi jamaah haji, seiring dengan kondisi surplus panen nasional.

“Indonesia surplus lebih dari dua juta ton beras. Sudah saatnya beras Indonesia hadir di dapur haji, agar jamaah bisa mengonsumsi beras yang sesuai selera dan kualitas yang mereka kenal,” kata Jaenal.

Koordinasi telah dilakukan dengan Bulog, Kementerian Pertanian, serta importir dan dapur penyedia layanan konsumsi haji di Arab Saudi untuk memastikan aspek harga, kualitas, dan keberlanjutan pasokan.

Platform Oleh-Oleh Haji dan Expo UMKM

Sebagai bagian dari peningkatan layanan, Kemenhaj RI juga mengembangkan platform oleh-oleh haji. Hal ini memungkinkan jamaah membeli produk UMKM sebelum keberangkatan, dengan pengiriman langsung ke rumah masing-masing.

Produk yang dikembangkan meliputi kurma lokal dari NTB dan Pasuruan, tasbih, sajadah, hingga aneka produk kerajinan dan makanan khas daerah. “Tujuannya, jamaah lebih nyaman dan UMKM mendapatkan kepastian pasar,” ujarnya.

Untuk mendukung program tersebut, Kemenhaj akan menggelar Expo UMKM Oleh-Oleh Haji di Indonesia dengan pembagian wilayah barat, tengah, dan timur.

Dalam rangka meningkatkan kenyamanan jamaah di Tanah Suci, Kemenhaj juga menyiapkan tenan UMKM di lobi hotel jamaah di Makkah dan Madinah. Sekitar 280 hotel akan dimanfaatkan sebagai ruang layanan yang menyediakan makanan dan produk khas Indonesia.

Sebagai penguatan kelembagaan, Ditjen PE2HU membentuk tiga fungsi utama, yaitu pengendalian keuangan haji, pengendalian kemitraan, dan pengendalian standardisasi produk, guna memastikan seluruh layanan berjalan tertib, akuntabel, dan berkelanjutan.

Kemenhaj menargetkan platform ekosistem ekonomi haji dapat diluncurkan pada awal Februari, sebagai sarana business matching dan integrasi layanan haji dan umrah berbasis ekonomi nasional.

Jaenal Efendi menyampaikan bahwa dana penyelenggaraan ibadah haji yang mencapai sekitar Rp18 triliun per tahun memiliki potensi besar untuk memberikan manfaat berlapis, tidak hanya bagi jamaah, tetapi juga bagi perekonomian dalam negeri.

“Harapan Presiden dan Menteri jelas, dana haji tidak hanya terserap di Arab Saudi, tetapi sebagian besar bisa dirasakan masyarakat Indonesia melalui produk dan layanan UMKM,” pungkas Jaenal.

Artikel Terkait

22 Jenis Bumbu Bercita Rasa Indonesia Disiapkan untuk Kebutuhan Haji 2026 | NU Online