NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Nasional

Alissa Wahid Ungkap Tantangan Petugas Layani Jamaah Haji Lansia

NU Online·
Alissa Wahid Ungkap Tantangan Petugas Layani Jamaah Haji Lansia
Alissa Wahid. (Foto: istimewa)
Bagikan:

Jakarta, NU Online 

Psikolog Alissa Wahid mengungkapkan tantangan spesifik yang dihadapi jamaah haji lanjut usia (lansia). Hal itu ia sampaikan saat didapuk menjadi narasumber pada Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Selasa (21/01/2026).

Menurut Alissa, jamaah haji lansia menghadapi dinamika yang perlu dipahami betul oleh para petugas haji. Kapasitas fisik mereka yang menurun, chronic pain atau rasa sakit berkepanjangan, hingga gap teknologi dan informasi menjadi tantangan tersendiri.

"Kapasitas fisik para lansia itu pasti menurun. Di manapun dia, itu pasti menurun. Pendengaran, penglihatan, pernapasan, tenaganya itu menurun. Karena itu para petugas haji diharapkan siap membantu," ujar putri almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini.

Alissa menjelaskan, penurunan kapasitas fisik juga berdampak pada kapasitas mental lansia. Pemahaman mereka berkurang sehingga petugas haji harus sabar ketika menemui jamaah yang berkali-kali bertanya hal yang sama atau kesulitan memahami instruksi.

Mantan anggota tim monitoring dan evaluasi khusus kebutuhan jamaah haji perempuan tahun 2022 ini juga mengingatkan soal demensia atau pelupa yang dialami lansia. Menurutnya, kondisi ini akan bertambah parah bila jamaah mengalami dehidrasi.

"Demensia itu sangat dipengaruhi juga, bertambah parah bila mereka mengalami dehidrasi. Di Saudi yang sangat kering itu, orang seringkali lupa untuk minum atau males karena ke toiletnya susah, ke kamar mandinya susah," ungkap Alissa.

Untuk itu, ia menyarankan para petugas haji, terutama yang bertugas di jalan atau di Masjidil Haram, sebaiknya membawa oralit saset. Ketika bertemu jamaah haji lansia, mereka bisa langsung diberikan minum supaya tidak dehidrasi.

Tantangan lain yang dihadapi jamaah lansia adalah gap teknologi dan informasi. Alissa mencontohkan, para lansia ini lahir di abad lalu dan tidak terbiasa dengan teknologi informasi seperti handphone atau aplikasi digital yang sekarang digunakan pemerintah Indonesia untuk membantu jamaah haji.

"Beliau-beliau ini, para lansia ini, gak kenal yang namanya HP dan gak ada gunanya dalam kehidupan mereka saat ini di desa-desanya. Sehingga mereka sangat tidak terbiasa. Kalaupun sekarang mereka membawa HP, belum tentu mereka tahu cara menggunakannya," papar Alissa.

Karena itu, ia menekankan pentingnya petugas haji terus mengingatkan jamaah lansia tentang perangkat identitas yang harus selalu dipakai, seperti kartu nusuk. Namun, informasi verbal menurutnya jauh lebih efektif untuk lansia dibanding informasi visual.

Pertama kali keluar negeri

Alissa juga mengingatkan bahwa bagi sebagian besar jamaah lansia, perjalanan haji adalah pengalaman pertama mereka keluar negeri. Pertama kali naik pesawat, bertemu bahasa asing, berada di lingkungan yang asing, dan yang paling penting, pertama kali bersama banyak orang yang tidak dikenal dalam satu ruangan.

"Saya ingat sekali pernah transit di Dubai, terus bareng dengan rombongan lansia-lansia umrah. Pada nyeker karena kakinya luka-luka, jadi gak pakai sandal di bandara karena kakinya luka-luka. Mereka tidak terbiasa di area yang sama sekali baru," kenangnya.

Kondisi ini, menurut Alissa, bisa menyebabkan jamaah lansia mengalami stres yang tinggi. Jika ditambah dengan stres di sana, mereka bisa mengalami kondisi yang dalam psikologi disebut "snap" atau patah secara psikologis.

Petugas harus proaktif dan sabar

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Alissa menekankan pentingnya sikap petugas haji yang proaktif, sabar, dan waspada. Petugas tidak boleh menunggu ditanya atau dihampiri, tapi harus aktif menawarkan bantuan.

"Proaktif itu penting. Jangan nunggu ditanya, jangan nunggu dihampiri. Kita yang harus proaktif. Karena para lansia yang bingung itu seringkali mereka saking bingungnya mereka gak tahu harus ngapain. Blank," tegasnya.

Alissa juga mengingatkan bahwa setiap petugas haji perlu memiliki mekanisme emergency response personal. Ketika ada kejadian darurat, mereka harus tahu langkah apa saja yang harus dilakukan.

Dalam penutupnya, Alissa mengingatkan bahwa perjalanan haji adalah impian setiap muslim dan mungkin merupakan perjalanan terakhir bagi jamaah lansia yang sudah menunggu 30-40 tahun untuk bisa berangkat haji.

"Berikanlah pengalaman terbaik bagi para jamaah lansia, karena mungkin ini adalah perjalanan terakhirnya. Ibadahnya para petugas haji adalah melayani para jamaah. Bapak Ibu adalah orang-orang yang istimewa," pungkasnya.

Alissa Wahid menjadi Amirul Haj perempuan pertama Indonesia pada tahun 2023 setelah sebelumnya menjadi anggota tim monitoring dan evaluasi khusus untuk melihat kebutuhan jamaah haji perempuan pada 2022. Keputusan mengangkat Amirul Haj perempuan diambil karena jamaah haji perempuan Indonesia mencapai lebih dari 50 persen, sehingga dibutuhkan perspektif perempuan dalam pengelolaan ibadah haji.

Artikel Terkait

Alissa Wahid Ungkap Tantangan Petugas Layani Jamaah Haji Lansia | NU Online