Jakarta, NU Online
Sejumlah titik di Jakarta pada pagi ini menyebabkan sejumlah ruas jalanan di Jakarta terendam banjir. Akibatnya aktifitas para pekerja menjadi terganggu.
Silvia, seorang karyawan swasta yang bertempat tinggal di Taman Kota, Jakarta Barat, pada pagi ini menghadapi empat titik banjir sekaligus. Kondisi tersebut memaksanya mencari jalan alternatif agar kendaraannya tidak mogok.
"Hari ini saya harus menghadapi empat titik banjir, yaitu di depan Stasiun Taman Kota, kawasan Green Garden, jalur berlawanan arah di depan Jalan Daan Mogot, serta wilayah Kapuk (Pejagalan Babi)," katanya saat dihubungi NU Online pada Jumat (23/1/2026).
Banjir juga memakan waktu perjalanannya dari Taman Kota, Jakarta Barat ke Penjaringan, Jakarta Utara, semula hanya 20 menit, saat banjir menjadi 2 jam. Dalam perjalanan, ia mengaku sempat membantu mendorong kendaraan warga lain yang mogok akibat banjir, kondisi tersebut membuatnya lelah sebelum bekerja.
"Namun hal tersebut justru membuat saya terkena cipratan air hingga pakaian menjadi basah," katanya.
Ia berharap, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat memberikan perhatian lebih terhadap penanganan banjir dengan menambah jumlah pompa air, serta segera memperbaiki kondisi jalan yang berlubang.
"Kondisi jalan yang rusak semakin membahayakan dan sangat menyulitkan mobilitas masyarakat," katanya.
Sementara itu, Salah Seorang Pengajar, Rifat Syauqi mengaku banjir yang terjadi memberikan dampak besar bagi para pekerja, terutama dalam aspek mobilitas, produktivitas, dan kesejahteraan.
Hal itu dialaminya sebagai pekerja yang beraktivitas di berbagai lokasi di sekitar Jakarta Selatan, di mana mobilitas harian sangat bergantung pada kondisi jalan dan transportasi umum.
"Oleh karena itu, pemerintah diharapkan dapat melakukan penanganan banjir secara komprehensif dan berkelanjutan melalui perbaikan sistem drainase, pengendalian tata ruang, serta peningkatan kapasitas dan fungsi ruang resapan air," katanya.
Lebih lanjut, seorang pekerja swasta, Arina Mayang Fa’una, pengguna transportasi umum, mengakui bahwa kondisi banjir sangat melelahkan baginya. Meskipun harus bangun lebih awal, keterlambatan tetap tidak terhindarkan akibat kemacetan parah, ruas jalan yang tidak dapat dilalui, serta adanya pengalihan arus lalu lintas karena proyek galian di sepanjang jalan.
"Transportasi umum jadi lebih lama datangnya, ojek online harganya dua kali lipat dari biasanya, dan belum tentu ada driver yang mau pick up, belum lagi risiko sepatu, laptop, dan barang kerja rusak kena air, karena meskipun make jas ujan kadang tetep basah sampai kantor," terangnya.
Mayang menjelaskan bahwa pemerintah perlu lebih serius dalam melakukan upaya pencegahan banjir jangka panjang, bukan hanya turun tangan ketika banjir telah terjadi.
"Pengawasan pembangunan harus lebih tegas, soalnya banyak area resapan yang hilang. Kemudian informasi banjir yang cepat, jelas, dan menyeluruh agar pekerja bisa cari alternatif sebelum berperang di jalan," terangnya.
