NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Nasional

Gus Yahya Soroti Pergeseran Standar Keulamaan di Tubuh NU

NU Online·
Gus Yahya Soroti Pergeseran Standar Keulamaan di Tubuh NU
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) du Jakarta, Jumat (30/1/2026). (Foto: NU Online/Suwitno)
Bagikan:

Jakarta, NU Online

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menyoroti adanya pergeseran standar dan persepsi keulamaan di tubuh Nahdlatul Ulama dari masa ke masa. Hal tersebut ia sampaikan dalam agenda Silaturahmi Nasional Pengasuh Pesantren yang digelar di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Jumat (30/1/2026) malam.

Dalam paparannya, Gus Yahya mengisahkan riwayat yang ia terima dari almarhum KH Abdul Muchit Muzadi. Ia menceritakan bahwa pada masa awal NU, bahkan ketika Kiai Muchit sudah menjadi santri senior di Pesantren Tebuireng dan menjadi tangan kanan KH Abdul Karim Hasyim, posisi keulamaan masih memiliki standar yang sangat ketat.

“Semua urusan Kiai Abdul Karim pada waktu itu dikerjakan oleh Kiai Muhith. Tapi beliau ini, yang sudah santri senior dan saya kira sudah alim, masih belum diakui boleh menjadi anggota NU. Mau mendaftar saja tidak boleh, karena dianggap belum alim,” kata Gus Yahya.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pada masa awal NU, organisasi ini benar-benar diisi oleh kalangan ulama dengan standar keilmuan yang sangat tinggi. Bahkan struktur tanfidziyah pun diisi oleh sosok-sosok yang secara keilmuan diakui kealimannya.

Gus Yahya lalu membandingkan situasi tersebut dengan kondisi NU saat ini. Ia menyebut bahwa belakangan, orang-orang yang belum tentu memiliki tingkat keulamaan seperti generasi terdahulu, sudah bisa masuk dan bahkan menduduki posisi kepemimpinan dalam jam’iyah. Hal ini, menurutnya, menjadi penanda adanya perubahan dalam persepsi dan standar tentang keulamaan.

"Bahwa standar yang dipahami orang tentang keulamaan itu berubah. Perubahannya mungkin tidak terasa, tapi terjadi,” ujarnya.

Ia pun mengakui bahwa standar mutu kekiaian dari waktu ke waktu mengalami pergeseran, bahkan cenderung menurun, meski hampir tidak disadari. Gus Yahya mengibaratkan perubahan tersebut seperti kualitas padi dari masa ke masa.

“Padi zaman dulu yang tumbuh dari tanah subur dengan kerja petani yang ikhlas itu mutunya beda dengan padi hasil pupuk kimia di kemudian hari. Rasanya beda. Tapi orang tidak terlalu merasakan karena perubahannya berlangsung pelan, sedikit demi sedikit,” jelasnya dilanjutkan dengan menyampaikan penjabaran almarhum KH Maimoen Zubair terkait surah Al-Fath ayat 29.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa tradisi keulamaan di NU sejatinya masih berusaha memegang kuat warisan para pendahulu. Karena itu, pergeseran antara dua generasi sering kali sulit dikenali secara kasatmata.

Oleh sebab itu, Gus Yahya menekankan pentingnya para kiai dan nyai memahami perubahan-perubahan tersebut secara jernih. Menurutnya, kesadaran ini menjadi kunci untuk merumuskan kembali peran ulama di masa kini, yang boleh jadi telah bergeser dari bentuk dan fungsi peran ulama pada masa lalu.

Sebelumnya, Ketua RMI PBNU KH Hodri Arief menegaskan bahwa para kiai dan ulama pengasuh pesantren memiliki peran strategis dan tanggung jawab besar dalam merawat jamaah serta jam’iyah Nahdlatul Ulama. Keterlibatan para pengasuh pesantren secara utuh dan mendalam dinilai menjadi kunci keberlanjutan peran NU di tengah dinamika masyarakat.

Dalam beberapa bulan terakhir, RMI PBNU telah mulai mengimplementasikan program transformasi ini di sejumlah pesantren, meskipun belum menjangkau seluruh pesantren. Salah satu kegiatan yang telah dilaksanakan adalah Sekolah Manajemen Pesantren yang digelar di Pesantren Darul Mugni, Bogor. Ke depan, program serupa direncanakan akan dilaksanakan di pesantren-pesantren lain.

Selain itu, RMI-PBNU juga menyelenggarakan berbagai bimbingan bagi santri, antara lain bimbingan sukses masuk perguruan tinggi serta pendampingan akses beasiswa.

"Oleh karena itu, perbincangan pada malam hari ini kami sangat berharap hadir dalam forum kita menghasilkan pokok-pokok pikiran dan insya Allah kami dari RMI PBNU akan mengintegrasikan pembicaraan malam ini ke dalam program Transformasi Pesantren," pungkasnya.

Artikel Terkait