Jakarta, NU Online
Memasuki abad kedua, Nahdlatul Ulama (NU) menegaskan langkah strategis untuk merawat jami’iyah dan jama’ah. Tidak hanya berfokus pada penanaman nilai-nilai saja, pesantren kini juga beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pesantren secara serius merumuskan pola adaptasi untuk bisa beradaptasi dan merespon dinamika yang terus berlangsung.
Komitmen ini ditegaskan oleh KH Hodri Ariev, Ketua Rabithah Maahid Islamiyah (Asosiasi Pesantren) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU), dalam Forum Silaturahim Nasional Pengasuh Pesantren yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Ia menekankan bahwa transformasi pesantren adalah keniscayaan agar NU tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan karakter tradisionalnya.
"Pesantren di abad kedua ini berikhtiar maksimal untuk berkontribusi dalam merawat jam'iyah agar bisa memberi manfaat optimal kepada jamaah," tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti stereotipe yang selama ini melekat bahwa pesantren menolak untuk berubah dan tetap memegang teguh jati diri sebagai lembaga pendidikan sebagai otoritas keilmuan.
Di forum ini, Kiai Hodri mengemukakan sikap tegas untuk mendorong pesantren meningkatkan fungsinya dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan fungsi pesantren sebagaimana termaktub jelas dalam UU Pesantren Nomor 18 Tahun 2019.
"Pada pertemuan ini, kita mendalami bagaimana respons para pengasuh pesantren dalam beradaptasi dengan dinamika yang terus berlangsung. Kita harus hadir di sana," tambahnya.
Lebih lanjut, ia juga menegaskan bahwa, dalam merespons berbagai dinamika yang terus berlangsung, pesantren harus tetap berpegang kuat pada nilai-nilai kepesantrenan, akhlak santri, yang senantiasa menunjung tinggi kebenaran, persaudaraan, tawazun, tawassuth, dan i’tidal, baik sebagai sikap individual maupun berjamaah.
"Karena adaptasi tanpa akhlak akan sangat mungkin melahirkan ketidakseimbangan, ketimpangan, dan akhirnya kekacauan. Ini wajib dihindari," ujarnya.
Menjawab tantangan urban
Merespons tantangan adaptasi tersebut, Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta KH Muhyiddin Ishaq memaparkan strategi konkret melalui tema "Pendampingan Jamaah Perkotaan". Menurutnya, masyarakat kota memiliki kerentanan psikologis dan spiritual yang unik akibat tekanan gaya hidup modern.
"Masyarakat urban butuh sandaran spiritual yang menenangkan dan rasional. Nilai-nilai pesantren masuk ke apartemen, perkantoran, dan komunitas kelas menengah untuk menawarkan Islam yang ramah, moderat, dan menjadi solusi atas kegersangan hati manusia kota," ujarnya.
Meski melebarkan sayap ke wilayah urban, pesantren menegaskan tetap akan menancapkan akarnya pada masyarakat kecil (wong cilik). Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh dalam paparannya mengenai "Advokasi Nahdliyin di Tingkat Akar Rumput" mengingatkan bahwa mayoritas santri memiiki latar belakang petani, buruh, dan nelayan.
"Advokasi adalah harga mati. Pesantren harus hadir membela hak tanah petani, kesejahteraan buruh, dan kedaulatan nelayan. Ini adalah fungsi pesantren sebagai pemberdayaan masyarakat dan wujud keberpihakan Jam'iyah terhadap mereka yang lemah secara struktur," tegas Kiai Ubaidullah.
Fondasi ilmu pesantren
Sebagai pengikat antara gerakan di desa dan kota, KH Ahmad Nadhif Abdul Mujib menekankan pentingnya kembali ke basis keilmuan melalui tema "Penguatan Otoritas Keilmuan Pesantren".
Baginya, di manapun NU bergerak, nilai-nilai pesantren, otoritas dan sanad keilmuan harus tetap menjadi ruh pergerakan.
"Revitalisasi nilai pesantren, seperti kejujuran, rendah hati, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, dan semacamnya adalah kunci penting dalam merawat Jam'iyah," ujarnya.
Sebab, menurutnya, otoritas keilmuan dan adab santri menjadi filter agar gerakan kita tidak kehilangan arah, sekaligus menjadi benteng dari narasi keagamaan yang ekstrem.
"Hidup harus dijalani sebagai ibadah agar kita selalu sadar bahwa kebenaran, kebaikan, kejujuran, merupakan nilai penting yang tidak bisa ditawar," katanya.
Silaturrahim gagasan dari para pengasuh pesantren ini menandai kesiapan pesantren untuk hadir secara utuh, baik sebagai pemberdayaan masyarakat maupun sebagai pembimbing spiritual di masyarakat perkotaan. Hal ini dilakukan dengan tetap berpegang teguh pada tradisi-tradisi keilmuan pesantren.
