Nasional

Ini Tahapan Al-Qur'an dalam Mendidik Perdamaian

Kam, 1 November 2018 | 21:00 WIB

Tangerang Selatan, NU Online
Al-Qur'an mengajarkan perdamaian kepada Muslim sejak sedini mungkin dengan memerintahkan agar berbuat baik terhadap orangtua.

"Mendidik umatnya mulai dari kecil agar birrul walidain," kata KH Ahsin Sakho Muhammad, Rais Majelis Ilmy Jamiyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) saat seminar bertema Al-Qur'an Lumbung Perdamaian di Auditorium Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (1/11).

Menurutnya, hal itu merupakan tonggak penyampaian benih kedamaian karena menjadi mula pendidikan perdamaian.

Di samping itu, perdamaian juga Al-Qur'an ingatkan kepada pasangan suami istri. Ia mengutip beberapa ayat Al-Qur'an tentang itu, seperti An-Nisa ayat 35 dan 128. "Harus islah antara suami dan istri," ujarnya.

Selain itu, konsep perdamaian Al-Qur'an juga melintas batas perbedaan, baik ras, suku, bangsa, maupun agama. Kiai Ahsin mengutip Al-Qur'an surat Al-Hujurat ayat 13.

Litaarafu (saling mengenal), menurutnya, bagian dari silatul ajsad, perjumpaan secara fisik. Tidak cukup berhenti di situ, perlu dilanjutkan dengan silatul afkar, mencari titik temu dalam pemikiran. Berikutnya silatul arwah, berjumpa ruhnya.

Setelah itu, dilanjutkan dengan tahapan berikutnya, yakni saling tolong menolong. Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu mengutip Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 2.

"Untuk saling tolong menolong al-birr. Al-birr itu kebaikan yang sangat luas sekali," ungkapnya.

Sikap demikian ini, katanya, tidak saja ditujukan kepada sesama Muslim, tapi juga kepada orang non-muslim. Hal ini tertuang dalam Al-Qur'an surat Al-Mumtahanah ayat 8.

"Jadi, inilah titik-titik sentral yang ada di dalam Al-Qur'an yang menjadi inti ajaran agama Islam," pungkasnya.

Ayat yang terakhir diungkapkan oleh Kiai Ahsin juga disitir kembali oleh Faizah Ali Syibromalisi, dosen senior Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Terkait ayat tersebut, A'wan Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menceritakan kisah ayahnya, yakni KH Ali Syibromalisi, yang pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta. Tetapi, Kiai Ali, katanya, memiliki seorang tangan kanannya orang Muhammadiyah tulen. Keduanya, katanya begitu karib, meski dua organisasi yang melatarbelakangi mereka kerap kali berbeda pandangan menyikapi beberapa persoalan agama. Keakraban itu menurun ke putra-putrinya hingga kini.

Tiap kali lebaran tiba, rumah kiai yang pernah menjadi salah satu Ketua PBNU itu juga ramai tetangganya yang berasal dari berbagai daerah, suku, dan agama. "Kalau lebaran, rumah kami penuh sama mereka," kisahnya.

Kegiatan yang digelar oleh Himpunan Qari Qariah Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini juga menghadirkan Ketua Dewan Pembina Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (Madani) Romahurmuziy, dan Eks Teroris Sufyan Tsauri. (Syakir NF/Abdullah Alawi)