Jakarta, NU Online
Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Melky Nahar menyoroti maraknya gempa bumi berulang di sejumlah kawasan geotermal sepanjang 2024. Ia menduga, fenomena tersebut berkaitan dengan aktivitas pengeboran tanah oleh industri panas bumi yang beroperasi di wilayah-wilayah tersebut.
Namun, menurutnya, gempa-gempa kecil itu tidak tercatat dan tidak terpublikasi secara luas, baik oleh otoritas resmi maupun pihak industri.
“Pada tahun 2024, terjadi gempa di kawasan geotermal seperti di daerah Gunung Gede, Gunung Salak, Flores, dan hampir seluruh di kawasan geotermal itu merasakan gempa setiap pekan bahkan terkadang setiap hari,” ujarnya dalam Diskusi Membongkar Politik Transisi Energi di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Kamis (29/1/2026).
Melky menyebut, gempa-gempa tersebut tidak masuk dalam catatan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) karena berkekuatan di bawah tiga skala richter.
“Kami mencoba menyurati hasil temuan-temuan kami kepada BMKG, tapi tidak digubris hingga saat ini,” tegasnya.
Ia mencontohkan peristiwa gempa di kawasan Gunung Salak yang jaraknya dinilai tidak terlalu jauh dari lokasi pengeboran geotermal. Menurutnya, tidak ada aktivitas industri lain di kawasan tersebut selain operasi panas bumi.
“Karena kita cek, tidak ada aktivitas lain, terutama aktivitas industri atau manusia, selain geotermal di situ. Maka selain ini bagian dari kerjanya si tektonik, dia dipicu juga oleh operasi geotermal,” jelasnya.
Melky menambahkan, aktivitas pengeboran panas bumi dilakukan hingga mencapai lapisan yang sangat dalam.
“Karena dia melakukan pengeboran ke bawah, ke kedalaman lapisan magma itu,” katanya.
Ia menyayangkan tidak adanya respons dari BMKG atas kebutuhan informasi publik terkait fenomena tersebut.
“Nah, sayangnya memang si BMKG-nya memang tidak merespons soal-soal kebutuhan kita waktu itu,” ujarnya.
Berdasarkan pengecekan lapangan yang dilakukan Jatam, kata Melky, warga di sekitar kawasan geotermal juga menyampaikan keluhan terkait seringnya gempa kecil yang dirasakan.
“Setelah kita cek ke lapangan waktu itu, warga itu mengeluh karena rupanya sering terjadi gempa-gempa kecil. Jadi tiba-tiba goyang dikit, goyang dikit,” kata Melky.
Ia menegaskan bahwa intensitas gempa kecil tersebut disebut terus meningkat dari waktu ke waktu.
“Nah, itu skalanya semakin naik dari waktu ke waktu sekarang,” ungkapnya.
Menurut Melky, persoalan utama dalam kasus ini adalah minimnya keterbukaan informasi kepada publik.
“Problemnya kan, semua informasi-informasi itu tidak pernah tercatat atau terpublikasi secara umum, bahkan tidak pernah dibuka oleh industri, apalagi pemerintah. Karena informasi begitu kan kayak informasi sensitif,” ujarnya.
Ia juga mengungkap dugaan bahwa praktik pengeboran geotermal tidak selalu dilakukan secara vertikal lurus ke bawah.
“Misalnya mereka titik pengeboran yang ada di sini, dia tidak ngebor lurus ke bawah, bisa jadi dia bengkok,” katanya.
Berdasarkan laporan warga di kawasan geotermal, lanjut Melky, pengeboran bahkan diduga sudah dilakukan di bawah permukiman dan melintasi lempeng patahan.
“Menurut teman-teman di kawasan geotermal itu, ada keluhan bahwa para industri geotermal itu sudah ngebor di bawah pemukiman warga, tidak vertikal lagi tapi memutar, ditambah mereka ngebornya di lempeng patahan,” ungkap Melky.
Ia pun mengingatkan potensi risiko dari praktik tersebut apabila terjadi pergerakan lempeng bumi.
“Ini sangat membahayakan sekali kalau ada gerakan dari lempeng bumi, ditambah di bawahnya kosong, sangat berpotensi adanya bencana amblesan tanah,” pungkasnya.
