Jakarta, NU Online
Program Inklusi Lakpesdam PBNU turut berpartisipasi dalam rangkaian Event Pesta Pinggiran yang digelar pada 24–25 Januari 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Hal itu dilakukan dengan menghadirkan dua ruang kampanye publik, yakni Booth Kolektif dan Booth Anti-Brain Rot.
Partisipasi ini menjadi bagian dari strategi edukasi publik untuk memperkuat kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terkait pencegahan perkawinan anak dan pemenuhan hak anak.
Melalui Booth Kolektif, pengunjung diajak mengenal lebih dekat kerja-kerja Program Inklusi Lakpesdam PBNU. Berbagai materi literasi ditampilkan, mulai dari profil program, modul edukasi pencegahan perkawinan anak, penguatan inklusi sosial, hingga jurnal dan publikasi Lakpesdam PBNU. Pengunjung juga dapat berdiskusi langsung dengan fasilitator serta membawa pulang bahan bacaan yang tersedia.
Media and Communication Officer Program Inklusi Lakpesdam PBNU Nidlomatum Mukhlisotur Rohmah menjelaskan bahwa kehadiran booth ini dirancang sebagai ruang belajar yang terbuka dan dialogis.
“Kami ingin menyampaikan isu pencegahan perkawinan anak dengan cara yang lebih dekat dengan keseharian anak muda. Booth Kolektif menjadi ruang literasi, sementara Booth Anti-BrainRot kami rancang sebagai medium refleksi agar pengunjung benar-benar memikirkan dampak jangka panjang dari keputusan hidup yang diambil terlalu cepat,” ujar Nidlomatum pada Selasa (27/1/2026).
Sementara itu, Booth Anti-BrainRot menghadirkan permainan interaktif bertajuk “Swipe Masa Depan”, sebuah permainan edukatif yang mengadaptasi mekanisme cepat ala aplikasi digital yang dimainkan secara luring. Peserta dihadapkan pada berbagai skenario kehidupan remaja, seperti dorongan menikah di usia dini, kehamilan remaja, keterbatasan akses pendidikan, hingga kondisi disabilitas.
Dalam permainan tersebut, peserta diminta menentukan pilihan dengan sistem swipe: melanjutkan atau menunda keputusan. Setiap pilihan kemudian diikuti dengan pembahasan dampak kesehatan, ekonomi, psikologis, dan akses hak, yang dipandu langsung oleh fasilitator.
“Melalui permainan ini, kami ingin menantang pola pikir serba instan atau brainrot. Pesan utamanya sederhana, bahwa keputusan yang diambil hari ini bisa mengunci atau membuka masa depan seseorang,” tambah Nidlomatum.
Kegiatan ini menyasar pengunjung Pesta Pinggiran secara umum, khususnya remaja, pemuda, pelajar, mahasiswa, serta komunitas seni, literasi, dan pegiat isu sosial. Seluruh rangkaian booth difasilitasi oleh tim Program INKLUSI Lakpesdam PBNU yang memastikan pesan kampanye tersampaikan secara partisipatif dan inklusif.
Melalui partisipasi dalam Pesta Pinggiran, Program Inklusi Lakpesdam PBNU berharap pendekatan edukatif dan kreatif ini dapat memperluas jangkauan kampanye pencegahan perkawinan anak, sekaligus mendorong generasi muda untuk mengambil keputusan hidup secara sadar, berperspektif hak, dan berorientasi pada masa depan.
