Aceh Tengah, NU Online
Lebih dari sebulan pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Aceh Tengah, para penyintas masih menghadapi berbagai persoalan mendasar, mulai dari keterbatasan air bersih, trauma psikologis, hingga belum tersedianya hunian layak. Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh warga Desa Kelitu dan sejumlah kampung terdampak lainnya di wilayah Takengon.
Misrah Fitri, penyintas asal Desa Sintep, mengisahkan bahwa kondisi di kampungnya telah memburuk bahkan sebelum bencana terjadi. Dua hari sebelum longsor, aliran listrik sudah padam dan baru kembali menyala sekitar 10 hari setelah kejadian. Sementara itu, akses air bersih menjadi persoalan serius hingga saat ini.
“Air bersih sangat sulit. Kami terpaksa mandi dan mencuci di Danau Laut Tawar,” ujar Misrah saat perbincangn dengan staf NU Care-LAZISNU Putri Azmi Milatie diakses NU Online, Sabtu (17/1/2026).
Bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi pada 26 hingga 27 Desember 2025 memaksa warga mengungsi ke beberapa titik. Misrah bersama keluarga sempat mengungsi di Lorong Belang Mesrah selama satu bulan, kemudian berpindah ke Bolak Mosrak Alun selama dua pekan, sebelum kembali lagi ke Belang Mesrah dalam beberapa hari terakhir.
Misrah mengaku mengalami trauma mendalam akibat bencana tersebut. Rumah miliknya hanyut dan seluruh barang tidak dapat diselamatkan. Ia mengaku hingga kini masih merasa takut setiap kali hujan turun.
“Saya sangat trauma. Melihat air, batu, dan kayu datang bersamaan itu sangat menakutkan. Saya tidak sanggup mendengar suara batu lagi,” jawab Misrah.
Dampak bencana juga dirasakan oleh anak-anak. Salah satu anak Misrah yang bersekolah di SMP Bintang terpaksa tidak masuk sekolah selama satu setengah bulan karena akses jalan terputus dan dipenuhi material longsor. Keterbatasan jaringan komunikasi juga menyulitkan Misrah untuk berkomunikasi dengan anaknya yang berada di Banda Aceh.
Dalam kondisi darurat tersebut, Misrah menyebut bantuan paling mendesak yang dibutuhkan warga adalah bahan pangan, terutama beras. Meski bantuan pakaian sudah mulai diterima, kebutuhan dasar lainnya masih terbatas.
“Kami berharap segera ada rumah bantuan atau minimal hunian sementara. Kalau hujan turun, kami selalu takut,” ujar Misrah Jumat (16/1/2026).
Sementara itu, penyintas lainnya dari Kampung Karas, Haika mengungkapkan dirinya telah tinggal di posko pengungsian selama dua bulan. Selama itu, kebutuhan hidup dipenuhi secara seadanya.
“Alhamdulillah sekarang beras dan makanan sudah ada. Tapi yang paling kami butuhkan adalah rumah, supaya kami bisa segera kembali dan hidup normal,” ucap Haika.
Ia juga berharap pemerintah segera memberikan perhatian lebih, termasuk relokasi atau pembangunan rumah bagi warga terdampak, terutama menjelang bulan Ramadan.
“Harapan kami kepada Presiden dan pemerintah, semoga kami segera diberi rumah. Kami ingin pulang dan berkumpul bersama keluarga,” ujarnya.
Selain persoalan hunian, kebutuhan air bersih masih menjadi masalah krusial. Haika menjelaskan, saat hujan turun air menjadi keruh dan tidak layak digunakan. Listrik pun baru kembali menyala dua minggu terakhir setelah sempat padam selama sebulan.
Kondisi pendidikan anak-anak juga terdampak. Anak-anak usia TK terpaksa bersekolah di tenda darurat, sementara siswa SD baru bisa kembali bersekolah sekitar sepekan terakhir. Kebutuhan perlengkapan sekolah seperti seragam, sepatu, dan pakaian bagi siswa SMP hingga SMA pun belum sepenuhnya terpenuhi.
“Kalau soal alat ibadah, sebagian sudah ada. Tapi trauma itu masih terasa. Kalau harus membangun rumah di lokasi lama, rasanya kami tidak sanggup lagi,” imbuh Haika.
Pada Jumat (16/1/2026), NU Care-LAZISNU bersama PCNU Aceh Tengah menyalurkan bantuan sembako kepada masyarakat terdampak di tiga titik, yakni Desa Sintep, Kelitu, dan Kala Segi. Bantuan tersebut difokuskan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga yang hingga kini masih berada di pengungsian.
Relawan NU Care-LAZISNU menyatakan akan terus melakukan pendampingan kepada para penyintas hingga tahap rehabilitasi dan pemulihan pascabencana, termasuk mendorong pemenuhan kebutuhan hunian sementara dan akses dasar lainnya.
"Pendampingan akan kami lakukan agar para penyintas tidak terabaikan dan mendapatkan perhatian yang layak dari semua pihak,” ujar salah satu relawan di lokasi.
===========
Bagi masyarakat yang ingin berdonasi, bantuan dapat disalurkan melalui NU Online Super App dengan mengklik banner “Darurat Bencana” di halaman beranda atau melalui laman filantropi NU filantropi.nu.or.id/solidaritasnu.
