NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Nasional

Pidato Lengkap Gus Yahya: Tantangan Pesantren Hadapi Perubahan, Arus Digital, dan AI

NU Online·
Pidato Lengkap Gus Yahya: Tantangan Pesantren Hadapi Perubahan, Arus Digital, dan AI
Gus Yahya saat menyampaikan pidato sambutan dalam Peluncuran Gerakan Pesantren Cakap AI, di Plaza Gedung PBNU, Jakarta, pada Kamis (22/1/2026). (Foto: NU Online/Suwitno)
Bagikan:

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan arahan dalam Peluncuran Gerakan Pesantren Cakap Artificial Intelligence (AI) yang digelar Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU bekerja sama dengan Microsoft Global yang digelar di Plaza Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis, 22 Januari 2026.

Berikut adalah pidato lengkap Gus Yahya dalam kesempatan tersebut.

***

Assalāmualaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāh wa syukrulillāh, was shalātu was salāmu alā Rasūlillah Sayyidina wa Maulana Muhammad ibni Abdillah, wa 'alā ālihi wa shahbihi wa man wālāh. Amma ba’ad.

Bapak Ibu, para jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang hadir, baik dari pengurus harian maupun RMI; ada Pak Amin Said Husni, Pak Syarif Munawi, Kiai Hodri Arief Ketua RMI, dan Saudara Ulun Nuha Sekretaris RMI PBNU. Hadlirin wal hadlirat yang saya muliakan.

Sejak awal tugas atau masa tugas Pengrurus Besar Nahdlatul Ulama periode ini, saya telah mulai sampaikan—baik secara internal maupun dalam berbagai kesempatan komunikasi publik—bahwa tema dasar dari pergulatan kita sebetulnya adalah pergulatan untuk menghadapi dunia yang berubah. Dan dunia ini berubah dengan percepatan, dengan akselerasi yang terus-menerus meningkat.

Saya pernah menyampaikan, sekian tahun yang lalu, betapa masa depan bagi kita hari ini semakin menekan. Masa depan rasanya menjadi lebih cepat datangnya, menekan kita semua untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi.

Dulu pada waktu saya masih kanak-kanak atau remaja, kita bisa hidup dengan lebih santai karena dunia berubah lebih lambat.

Dan langgam pesantren itu sendiri, karena kulturnya, memang cenderung kasual, cenderung lebih santai di dalam menghadapi hidup ini, karena rata-rata sudah kenal sama Gusti Allah, jadi slow saja [hadirin tertawa], semuanya diserahkan kepada Allah SWT. Itu sebabnya, sebetulnya sudah sejak lama ada fenomena keterlambatan dunia pesantren di dalam mengikuti, beradaptasi dengan dunia yang berubah itu.

Ketika dunia pendidikan semakin terintegrasikan ke dalam sistem global melalui strategi deliberate, strategi yang sengaja dibangun oleh pemerintah Indonesia pada waktu itu untuk memodernisasi dunia pendidikan, pesantren tidak serta-merta mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi karena itu. Bahkan pada awalnya menolak. Ketika penjajah Belanda memperkenalkan sistem pendidikan barat dalam masyarakat, pesantren menolak sebagai, tentu saja, bagian dari semangat perlawanan terhadap penjajah.

Tapi ketika kemudian kita merdeka dan pemerintah Indonesia sendiri, sebagai agenda negara, mengadopsi sistem pendidikan barat yang diperkenalkan oleh pemerintah kolonial sebelumnya, pesantren itu masih enggan mengikuti.

Saya pernah menggambarkan dalam salah satu halaqah transformasi pesantren, bagaimana tahun 1945 itu pihak-pihak lain sudah mencapai tingkatan-tingkatan pembelajaran yang tinggi di dalam sistem pendidikan barat atau pendidikan global, dan pesantren belum apa-apa.

Tahun 1940-an, 1945 itu ayahnya Presiden Prabowo Subianto, Prof Sumitro Djojohadikusumo, sudah doktor, lulus dari pendidikan di Belanda, kalau nggak salah, doktor ekonomi. Santri-santri kita belum ada yang sekolah. Yang ada itu sebagian yang Sekolah Ongko Loro itu: po-po, ro-ro; tu-ku, te-lo, dan seterusnya. Belum ada yang sekolah. Ketika kalangan lain sudah masuk dalam pendidikan tinggi bahkan sudah panen sarjana setiap tahun 1950-an, 1960-an, kalangan pesantren juga belum sekolah.

Kita baru mulai panen sarjana secara relatif besar-besaran itu pada pertengahan tahun 1975-an. Itu saja sarjana sag-sagan semua, kalau istilah sekarang itu. Sarjana sag-sagan itu SAg itu lho, sarjana yang agak gimana gitu, karena dari IAIN semua. Begitu seterusnya, langgam kita masih lamban, sehingga ada banyak perubahan-perubahan yang sangat strategis, fundamental, kita juga telat melakukan antisipasi.

Ketika dunia mengenal internet, kita telat mengantisipasi. Kalau kita punya kesadaran mengenai kebutuhan menghadapi dunia yang berubah, mestinya tahun awal 1980-an (1990-an?) itu sudah ada gerakan cakap internet, misalnya, karena internet itu perubahan fundamental sekali. Dan terbukti kemudian sangat menentukan perihidup umat manusia hingga sekarang.

Nah, perubahan-perubahan ini terjadi semakin cepat. Sementara kita punya masalah mengenai, pertama, langgam gerak kita berdasarkan kultur dan, kedua, jembatan generasional, jembatan antar generasi di dalam menghadapi perubahan itu.

Generasi saya ini generasi X, kelahiran antara tahun 1960-an, 1980-an, itu saja generasi X yang agak awal, sudah mengerti bahwa platform digital ini sangat menentukan perannya di dalam tatanan kehidupan.

Itu sebabnya, misalnya, ketika saya pada waktu itu memberanikan diri untuk maju sebagai calon ketua umum, sebetulnya yang pertama-tama saya pikirkan adalah soal digitalisasi ini, karena entitas berskala sedemikian besar seperti Nahdlatul Ulama ini tidak mungkin lagi dikelola secara manual, harus secara digital.

Masalahnya, ini masalahnya, sebagai generasi X awal, saya tidak begitu paham digital itu makhluk apa, sehingga saya harus bergulat—termasuk pergulatan antar generasi, sebetulnya—untuk bisa menemukan format yang dibutuhkan. Dan itu harus menunggu sampai hampir tiga tahun, sampai kita berhasil menemukan satu format platform digital bagi manajemen jam’iyah ini, bagi manajemen organisasi ini.

Sekarang kita sudah punya Digdaya yang akan terus kita kembangkan. Dan Alhamdulillah, begitu kita ketemu format itu, segala-galanya, pengembangannya menjadi lebih cepat, menjadi lebih cepat. Sekarang ini, Alhamdulillah, kita sudah sampai kepada pengembangan artificial intelligence untuk menggantikan admin. Semula dalam penggunaan platform digital itu dibutuhkan admin-admin. Kita harus menggaji orang untuk menjadi admin dalam melayani pengurus-pengurus untuk menggunakan platform digital itu. Sekarang sudah jadi barangnya, artificial intelligence yang menggantikan admin, sehingga admin Digdaya itu nanti sudah bukan lagi dari bangsa manusia, bahkan bukan bangsa lelembut, tapi sudah pakai coding, algoritma, dan lain-lain dengan artificial intelligence itu. Alhamdulillah.

Karena ada wawasan baru dalam soal ini bahwa sekarang tidak bisa lagi kita mengharapkan bangsa manusia ini mendekati teknologi. Kita harus memikirkan cara supaya teknologi yang mendekat kepada kita. Bukan kita yang harus sibuk belajar ini itu supaya bisa menggunakan teknologi, tapi teknologi yang mendekat kepada kita sehingga kita lebih mudah untuk menggunakannya.

Nah, maka—Bapak Ibu sekalian, saudara-saudara, hadirin yang saya hormati—jelas bahwa dalam hal ini terjadi perubahan-perubahan yang luar biasa cepat dan kita dituntut untuk beradaptasi dengan cepat.

Beberapa waktu yang lalu kita melakukan konsolidasi di kalangan pesantren untuk wacana tentang transformasi pesantren. Dan transformasi itu jelas terkait dengan perubahan: Apa yang harus dilakukan untuk menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi itu? Transformasi itu, saya katakan, selalu melibatkan tawar-menawar, negosiasi tentang apa yang harus kita ubah dan apa yang harus dipertahankan.

Ketika pesantren hendak menghadapi perubahan lingkungan, perubahan dunia, tidak ada pilihan bagi pesantren selain menyesuaikan diri dengan cara berubah. Pesantrennya tentu harus berubah. Karena tidak bisa kalau tidak, karena harus beradaptasi. Kalau tidak mampu beradaptasi, tidak mau berubah, nasibnya cuma satu, masa depannya cuma satu, yaitu kepunahan, sebagaimana yang dialami—dalam sejarah—oleh makhluk-makhluk, spesies-spesies yang punah di masa lalu, karena tidak mampu beradaptasi dengan perubahan alam. Dan yang mampu bertahan hidup itu tidak selalu yang paling kuat, tidak selalu yang paling besar, tetapi selalu yang paling mampu beradaptasi.

Dunia ini pernah mengenal makhluk-makhluk raksasa, super kuat, Dinosaurus dan lain-lain itu, dan mereka semua punah karena tidak mampu beradaptasi. Tapi ada makhluk sepele yang menjijikkan sekali yang bertahan sejak zaman perubahan sampai sekarang. Sekarang masih ditemui di toilet-toilet itu, namanya kecoak. Itu makhluk purba, tapi dia mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan alamnya. Ini yang dituntut dari pesantren.

Nah, transformasi yang melibatkan tawar-menawar tentang apa yang berubah dan apa yang dipertahankan, karena tentu saja ada hal yang harus kita pastikan menjamin jati diri pesantren sebagai pesantren.

Kecoak itu tidak tahu tadinya seperti apa, tapi jelas jati dirinya masih kecoak. Manusia ini kalau beradaptasi dengan perubahan alam, tidak boleh lalu menjadi makhluk lain yang bukan manusia. Karena kalau jadi makhluk lain itu namanya tidak beradaptasi.

Jadi ada hal-hal yang sifat yang terkait dengan jati diri yang harus dipertahankan, tapi jelas ada yang harus direlakan untuk dilepas. Karena terkadang kita juga tidak bisa menolak bahwa itu harus lepas.

Dulu, sejak zaman studinya Clifford Geertz sampai dengan studinya Pak Zamakhsyari Dhofier, pesantren ini digambarkan sebagai satu lingkungan budaya yang khas, yang berbeda dengan lingkungan budaya budaya masyarakat yang lebih luas, sampai-sampai Gus Dur membangun teori tentang pesantren sebagai subkultur dengan mengandaikan pesantren sebagai satuan budaya yang kurang lebih punya batas-batas tertentu yang memisahkannya dari dunia luar yang lebih luas. Tapi sekarang kita dapati, kita tidak bisa menolak, batas-batas yang tadinya diandaikan sebagai batas subkultur pesantren itu, sekarang sudah runtuh semuanya.

Santri-santri pesantren itu, kalau bersiul-siul, lagunya sama dengan murid-murid sekolah umum. Sama-sama kenal, siapa artis hari ini? Saya sendiri sudah tidak kenal lagi karena sudah terlalu tua. Mereka menyanyikan lagu-lagu yang sama. Mereka membuka situs-situs yang sama di internet.

Kalau dulu diandalkan bahwa kiai itu adalah culture broker, kata Clifford Geertz. Culture broker, makelar budaya. Jadi kalau ada budaya luar masuk ke pesantren harus lewat kiai dulu sebagai makelar. Mudah-mudahan ini bukan justifikasi dari aktivis NU yang aktif menjadi makelar. [Hadirin tertawa]. Tapi dulu itu ada perkembangan dan seperti itu, karena kiai yang menentukan apa yang boleh, apa yang tidak.

Sampai sekarang, kita tahu, sejumlah pesantren ini masih, misalnya, harus minta izin kiai-kiai dulu untuk bisa menggunakan fasilitas internet, untuk bisa menggunakan gadget-gadget yang sudah menjadi lazim, tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat luas, karena kiai-kiainya masih berpikir tentang culture brokering—kiai-kiai harus melindungi santri-santri ini dari pengaruh budaya-budaya yang dianggap atau dikhawatirkan negatif dampaknya terhadap santri.

Ini masalahnya kemudian bahwa cultural brokering ini mungkin sekarang tidak lagi efektif karena, misalnya, pondok-pondok pesantren sekarang ini dari segi infrastruktur fisik semakin sulit untuk dikungkung dalam batas-batas fisik yang jelas, sehingga santri bisa mencari fasilitas-fasilitas dengan mudah di tempat lain.

Nah, hal-hal ini merupakan pergulatan yang intens sekali, yang karena masalah-masalah kesenjangan antargenerasi, kesenjangan wawasan, kesenjangan pengalaman hidup dan pendidikan, tidak mustahil menimbulkan benturan-benturan yang keras secara internal di antara sesama proponent (pendukung) dari pesantren ini.

Ini NU saja masih harus gagap-gagap: cari mik yang enggak mati-mati saja masih susah sampai sekarang. [Hadirin tertawa].  Jadi masih gagap. Dan benturan yang keras itu tidak mustahil sehingga seolah-olah seperti saling menghancurkan. Kenapa? Karena pilihannya memang krusial. Pilihan transformasi itu krusial: Apa yang harus kita relakan? Apa yang harus kita ubah? Apa yang harus kita pertahankan? Ini luar biasa. Di dalam keadaan dunia yang sudah melibatkan sumber daya-sumber daya yang besar-besaran ini, dengan ukuran-ukuran NU yang besar-besaran ini, kita ini masih kaget-kaget, masih banyak yang kaget-kaget.

Nah, maka Gerakan Cakap AI ini sebetulnya adalah kebutuhan yang tidak mungkin kita elakkan, mengingat bagaimana AI semakin dominan di dalam urusan-urusan umat manusia dewasa ini.

Masalah yang paling berdasar dari AI ini adalah bahwa—kalau saya tadi sebut ada kegagapan dunia pesantren dalam menyesuaikan diri dengan perubahan—sebetulnya umat manusia itu sendiri pada dasarnya cenderung gagap dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. Teknologi ini berkembang lebih cepat, mungkin dari rata-rata kesadaran umat manusianya sendiri. Ketika AI hari ini sudah berkembang begitu luas, umat manusianya sendiri sebetulnya belum cukup siap untuk menghadapi itu.

Maka ketika pertama kali AI ini mulai diluncurkan, diperkenalkan penggunaannya, bahkan seorang juragan teknologi besar di dunia ini yaitu Elon Musk mengusulkan supaya penggunaan AI ditunda karena terlalu menakutkan. Karena AI ini, begitu jadi, dia punya kemampuan untuk belajar sendiri, mengembangkan sendiri dengan kemampuan yang lebih cepat daripada manusia. Sehingga manusianya sendiri mungkin tidak bisa memperkirakan kemampuan AI ini nanti akan jadi apa? Nah, ini hal-hal yang luar biasa krusial bagi kehidupan kita sebetulnya.

Maka sebetulnya juga wajar bahwa sampai hari ini—tadi saya dialog dengan perwakilan dari Microsoft—di seluruh dunia ini belum ada hukum untuk mengatur AI, itu belum ada. Undang-undang untuk mengatur AI, belum ada di mana-mana, belum ada sama sekali. Undang-undang untuk mengatur medsos itu saja adanya telat: sudah terlanjur ruwet, baru ada undang-undangnya, Undang-Undang ITE. Nah, hari ini di seluruh dunia belum ada. Padahal AI itu bisa bikin macam-macam.

AI itu, masyaallah, jenisnya bermacam-macam dan bisa bikin produk yang bermacam-macam. Yang namanya pemalsuan-pemalsuan itu menjadi mudah sekali dengan AI. Kalau tadi digambarkan oleh Kiai Hodri bahwa orang bisa mengerjakan tugas-tugasnya dengan lebih cepat, iya, tapi AI juga bisa dipakai yang enggak-enggak. Ada—apa istilahnya sekarang itu?—deep fake atau apa itu, pemalsuan yang dalam sekali. Orang sekarang sudah bisa bikin film, movie, tanpa bangsa manusia itu sudah bisa, hanya dengan AI. AI itu bisa menciptakan manusia di dalam film. AI bisa memalsukan wajah siapa pun untuk mengatakan apa pun dengan menirukan suaranya, dan seterusnya. Ini luar biasa. Belum ada hukum yang mengatur itu.

Maka sebetulnya banyak kalangan, khususnya kalangan umat beragama, hari ini, mengembangkan keprihatinan (concern) yang mendalam terkait dengan AI ini. Salah satunya adalah Vatikan, kalangan gereja Katolik. Vatikan, misalnya, sudah membentuk satu entitas khusus yang dinamai Renaissance Foundation. Renaissance itu kan tulisannya ren-AI-ssance, jadi ada AI-nya di situ. Ini entitas yang dimaksudkan untuk meng-address masalah-masalah etik di dalam artificial intelligence itu.

Nah, rumusan etikanya seperti apa? Belum ada. Maka tadi dikatakan, oleh Mbak siapa tadi dari Microsoft, karena belum ada norma yang jelas, yang tertulis, yang bisa dianggap sebagai semacam hukum positif terkait AI ini, kita tidak bisa lain selain bersandar kepada manusia-manusia penggunanya. Manusia penggunanya ini seperti apa? Kelakuannya seperti apa? Perilaku etiknya seperti apa?

Maka memperkenalkan AI kepada dunia pesantren, ini punya fungsi timbal-balik yang juga sangat fundamental dan strategis. Yang pertama, adalah bagaimana agar dunia pesantren lebih cepat memiliki literasi tentang artificial Intelligence ini. Dan, di sisi lain, karena kita asumsikan bahwa di dunia pesantren itu yang pertama diajarkan adalah soal akhlak, soal etika, maka ketika dunia pesantren berinteraksi dengan AI, dengan sendirinya kita harapkan kemudian tumbuh pemikiran-pemikiran, gagasan-gagasan, wawasan-wawasan tentang bagaimana seharusnya etika menuntun orang di dalam menggunakan artificial intelligence.

Kita bahkan bisa berharap bahwa di kemudian hari ada pemikiran tentang rumusan-rumusan norma yang lebih operasional tentang penggunaan artificial intelligence ini yang diinspirasi oleh akhlak yang diajarkan di dunia pesantren.

Alakullihal, Bapak Ibu hadirin sekalian yang saya hormati, apa yang menjadi inisiatif dari Rabithah Ma’ahid Islamiyah yang diluncurkan hari ini dalam kerja sama dengan Microsoft yang dengan berbagai macam state of the art-nya, berbagai macam uborampe-nya, ini adalah inisiatif strategis yang fundamental yang kita tidak bisa menghindar untuk memulainya sedini mungkin.

Ini sebetulnya agak telat. Tadi sudah disebutkan sudah ada jutaan yang masuk dalam sistem pelatihannya Microsoft dan kita baru mau mulai. Kita baru mau mulai, agak telat. Tapi kalau tidak segera mulai, ya jangan sampai dunia pesantren ini menjadi makhluk purbakala yang sekian tahun ke depan sudah dianggap punah hanya gara-gara tidak mampu atau tidak mau menyesuaikan diri dengan perubahan dengan cara mentransformasikan diri secara strategis.

Terima kasih kepada Microsoft Global, terima kasih kepada Rabithah Ma’ahid Islamiyah yang telah menginisiasi program ini.

Mari kita jadikan ini sebagai gerakan, supaya kemudian maslahatnya, benefit-nya itu termultiplikasi dengan sendirinya. Kalau tadi dikatakan akan ada 40 ribu orang yang dilatih untuk program Cakap AI ini, dengan menjadikannya gerakan, maka sesudah itu kita harapkan 40 ribu orang ini akan terus bergerak sendiri menggalang keseluruhan konstituensi dari dunia pesantren ini untuk menjadi lebih cakap di dalam memahami artificial intelligence.

Mudah-mudahan dengan cara ini masa depan yang kita tidak tahu akan seperti apa itu akan jadi sesuatu yang dunia pesantren sendiri lebih siap menghadapinya, lebih mampu memberikan tanggapan yang konstruktif dan bermakna bagi bukan hanya kehidupan pesantren sendiri tapi juga bagi kemanusiaan selanjutnya. Amin.

Wallāhul muwaffiq ilā aqwāmith tharīq.

Wassalāmualaikum warahmatullāh wabarakātuh.

Artikel Terkait

Pidato Lengkap Gus Yahya: Tantangan Pesantren Hadapi Perubahan, Arus Digital, dan AI | NU Online