Jakarta, NU Online
Psikolog Klinis Bianglala Andriadewi menyebut bahwa praktik child grooming berisiko besar memicu masalah harga diri serta membentuk pola relasi yang tidak sehat hingga masa dewasa. Dampak psikologis ini, menurutnya, kerap tidak disadari karena berakar pada konsep diri yang telah terganggu sejak usia dini.
Bianglala menjelaskan, salah satu dampak jangka panjang yang paling sering muncul adalah menurunnya harga diri. Kondisi harga diri yang tidak stabil dapat mempengaruhi berbagai tahap kehidupan seseorang dan berpotensi memicu gangguan kesehatan mental.
“Dampak child grooming terhadap konsep diri sangat besar. Ini benar-benar sangat berpengaruh. Masalah harga diri itu dampaknya bisa ke mana-mana. Ketika harga diri kita utuh, penuh, dan cenderung stabil, kita akan merasa berhak untuk diperlakukan dengan baik,” kata Bianglala saat dihubungi NU Online, Selasa (27/2/2026).
Ia menuturkan, ketika seseorang memiliki rasa percaya diri yang sehat, ia cenderung lebih mampu menolak perlakuan yang membuatnya tidak nyaman. Rasa percaya diri juga mendorong seseorang untuk berani meraih hal-hal yang lebih baik dalam hidupnya. Karena itu, harga diri yang stabil menjadi fondasi penting dalam membangun relasi yang sehat.
Sebaliknya, ketika harga diri rapuh dan rasa berharga diri goyah, dampaknya dapat merembet ke berbagai aspek kehidupan. Salah satu yang kerap muncul adalah perasaan tidak pantas menerima kebaikan, disertai rasa bersalah yang berlebihan. Kondisi ini sering membuat seseorang enggan berusaha karena merasa dirinya tidak layak.
“Lalu muncul perasaan tidak cukup berharga untuk diperlakukan dengan baik, sehingga seseorang tetap bertahan dalam relasi yang toxic ketika sudah dewasa, karena merasa, ‘Aku memang pantas diperlakukan seperti ini, kan aku pernah mengalami ini dan itu’,” jelasnya.
Bianglala menegaskan, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa ada individu yang terus-menerus berada dalam hubungan tidak sehat. Mereka dapat berpindah dari satu pasangan ke pasangan lain, tetapi kembali terjebak dalam pola relasi yang sama. Hal itu terjadi karena individu memandang dirinya rendah dan menganggap perlakuan buruk sebagai sesuatu yang wajar.
Selain itu, penyintas juga kerap mengalami kesulitan mengenali hubungan yang tidak sehat. Dalam beberapa kasus, seseorang sebenarnya menyadari bahwa ia senang diperlakukan dengan baik, misalnya ketika pasangan membantu saat ia kerepotan. Namun, kesadaran itu tidak cukup kuat untuk mendorongnya menetapkan standar relasi yang sehat.
“Namun, karena merasa tidak berharga dan memiliki pengalaman buruk di masa kecil atau remaja, muncul pikiran, ‘Tidak apa-apa yang penting punya pasangan.’ Akhirnya, ia cenderung sembarangan dalam memilih pasangan,” terangnya.
“Ketika pasangannya tidak membantu atau tidak memenuhi kebutuhan emosionalnya, ia tidak menyuarakan ketidaknyamanan tersebut. Ia memilih diam dan berpikir, ‘Ya sudah, yang penting punya suami.’ Bahkan perlakuan yang berada di bawah standar minimum pun diterima,” tambahnya.
Lebih jauh, Bianglala menyebut bahwa dampak lain yang sering muncul adalah kecenderungan menjadi people pleaser karena takut ditinggalkan. Pola ini ditandai dengan sikap selalu mengiyakan pasangan demi mempertahankan hubungan, karena merasa lebih baik memiliki pasangan daripada harus menghadapi kesepian, terutama dengan latar belakang pengalaman buruk sebelumnya.
“Semua ini kembali pada konsep harga diri yang tidak stabil. Karena memandang dirinya rendah, ia merasa tidak pantas diperlakukan dengan baik, dan siklusnya terus berputar di sana,” tuturnya.
Dampak berikutnya terlihat pada kemampuan individu dalam membangun batasan atau boundaries yang sehat. Penyintas kerap kesulitan menetapkan batasan dan cenderung menoleransi hal-hal yang sebenarnya tidak disukainya demi mempertahankan hubungan.
“Pasangan pun tidak tahu bahwa perilakunya membuat tidak nyaman, karena ketidaknyamanan itu terus ditoleransi atau bahkan tidak pernah disampaikan. Akhirnya, hubungan tersebut menjadi saling menyakiti karena perasaan tidak nyaman terus diabaikan,” jelasnya.
Bianglala juga membagikan pengalamannya menangani klien dengan pola relasi serupa. Ia mencontohkan klien yang berulang kali memiliki pasangan, tapi seluruh hubungannya menunjukkan pola yang tidak sehat. Setelah ditelusuri, klien tersebut selalu menjalin hubungan dengan pasangan yang tidak bertanggung jawab.
“Hal itu terjadi karena selama ini perilaku tersebut ditoleransi. Mengapa ditoleransi? Karena rasa kesepian. Daripada kesepian, ia memilih memiliki pacar meskipun dengan standar yang sangat minim, bahkan di bawah bare minimum,” ujarnya.
Menurut Bianglala, trauma sering kali tidak tampak secara kasatmata, tetapi termanifestasi dalam pola perilaku dan karakter seseorang.
“Trauma adalah sesuatu yang ada di dalam diri. Kadang yang terlihat hanya karakteristik seseorang, padahal sangat mungkin itu merupakan pengejawantahan dari trauma yang dialaminya,” pungkasnya.
