Bullying ancaman terbesar bagi tumbuh kembang anak. Dampaknya bisa dirasakan dalam jangka panjang, menghancurkan rasa percaya diri, merusak kesehatan mental, bahkan memicu depresi berkepanjangan. Banyak anak korban perundungan, yang menjadi takut pergi ke sekolah, menarik diri dari teman-temannya, dan kehilangan semangat belajar. Jika tidak ditangani dengan serius, bullying bisa meninggalkan luka psikologis yang terbawa hingga dewasa.
Fenomena bullying semakin sering terjadi pada remaja, karena mereka sedang berada pada masa perubahan hormon dan emosi yang sangat intens. Ketidakstabilan ini membuat mereka lebih mudah tersinggung dan cepat marah. Tekanan emosional tersebut kerap diekspresikan dalam bentuk perilaku merundung teman.
Namun, perilaku bullying tidak muncul begitu saja. Pola didikan, kebiasaan sehari-hari, dan lingkungan rumah sangat berperan dalam membentuk cara anak memperlakukan orang lain.
Pertanyaannya, bagaimana mencegah anak menjadi pelaku bullying? Dalam Islam, jawabannya terletak pada pembangunan akhlak sejak usia dini. Orang tua memegang peran utama dalam menanamkan adab, empati, tutur kata yang lembut, dan cara memandang orang lain dengan hormat. Rumah menjadi pondasi moral di mana anak belajar mengenali batasan, menghargai perbedaan, dan membentuk karakter yang tidak mudah menyakiti sesama.
Salah satu prinsip penting yang diajarkan Nabi Muhammad , bahwa hadiah terbaik untuk anak bukanlah fasilitas, uang, atau warisan. Yang paling berharga adalah adab—karakter dan akhlak yang baik. Dengan kata lain, membangun karakter anak jauh lebih penting dan bernilai daripada segala sesuatu yang bersifat materi. Nabi bersabda;
مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَهُ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ
Artinya, “Tidak ada pemberian seorang ayah kepada anaknya yang lebih utama daripada adab yang baik.” (HR. At-Tirmidzi dan Hakim)
Imam as-Shan’ani dalam At-Tanwir Syarh al-Jami’ ash-Shaghir menjelaskan bahwa pendidikan terbaik yang diberikan orang tua kepada anak adalah pendidikan yang membentuk adab dan akhlak. Ia menegaskan bahwa adab yang baik mencakup tiga unsur penting, yaitu kedekatan dengan ajaran agama, pemahaman terhadap ibadah, serta kemampuan bergaul secara positif dengan orang lain.
Simak penjelasan lengkapnya;
وهو أدب الكتاب والسنة وتعليم مناسك الدين وحسن معاشرة المخلوقين
Artinya, “Adab yang baik adalah adab Al-Qur’an dan Sunnah, pengajaran tentang ibadah-ibadah agama, serta cara bergaul dengan makhluk secara baik.” (Imam as-Shan’ani, At-Tanwir Syarh al-Jami’ ash-Shaghir, [Riyadh, Maktabah Darul Islam: 2011], jilid IX, halaman 514)
Mengajarkan Anak Tata Krama Pergaulan yang Baik
Hal terpenting bagi orang tua adalah membimbing anak memiliki tata krama sosial yang baik, seperti bersikap sopan, saling menghormati, dan menghargai orang lain. Anak perlu dibiasakan menggunakan ungkapan sederhana seperti “terima kasih” dan “tolong” dalam keseharian, menghormati teman sebaya maupun orang yang lebih tua, serta belajar menghargai pencapaian orang lain. Kebiasaan ini membantu menumbuhkan budaya saling menghargai dan mencegah sikap merendahkan.
Anak juga perlu memahami bahwa setiap individu memiliki latar belakang, proses belajar, dan titik awal yang berbeda. Kesadaran ini menumbuhkan empati sekaligus menghindarkan mereka dari perilaku menghakimi atau meremehkan orang lain.
Lebih jauh lagi, penting mengubah cara pandang anak terhadap penyandang disabilitas. Dari pola pikir “kasihan” menjadi penghormatan sebagai sesama manusia yang setara. Pendekatan ini mengajarkan anak bahwa setiap manusia memiliki nilai yang sama, tanpa memandang kondisi fisik, latar belakang, atau status sosial.
Terkait pendidikan akhlak ini, Al-Ghazali menegaskan:
وَيُمْنَعُ مِنْ أَنْ يَفْتَخِرَ عَلَى أَقْرَانِهِ بِشَيْءٍ مِمَّا يَمْلِكُهُ وَالِدَاهُ أَوْ بِشَيْءٍ مِنْ مَطَاعِمِهِ وملابسه أو لوحه ودواته بَلْ يُعَوَّدُ التَّوَاضُعَ وَالْإِكْرَامَ لِكُلِّ مَنْ عَاشَرَهُ وَالتَّلَطُّفَ فِي الْكَلَامِ مَعَهُمْ
Artinya, “Dan ia harus dicegah dari berbangga diri di hadapan teman-temannya dengan sesuatu yang dimiliki orang tuanya, atau dengan makanan, pakaian, papan tulis, maupun peralatan tulisnya. Sebaliknya, ia harus dibiasakan bersikap rendah hati, menghormati setiap orang yang bergaul dengannya, serta bertutur kata dengan lembut kepada mereka.” (Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, [Beirut, Darul Ma’rifah: t.t.], jilid III, halaman 73)
Mendidik Anak Menjaga Ucapan
Bullying sering berawal dari kata-kata. Ejekan kecil, candaan yang merendahkan, atau ucapan kotor dapat berkembang menjadi tekanan mental yang menyakitkan. Karena itu, Al Ghazali menekankan pentingnya menjaga tutur kata anak.Katanya, anak perlu dijauhkan dari kata-kata kasar, omongan yang tidak bermanfaat, dan kebiasaan mencaci.
Semua bentuk ucapan seperti ini dapat membentuk karakter yang buruk dan merusak hubungan dengan sesama. Di dalam keluarga, anak harus dibiasakan menggunakan bahasa yang santun. Hal ini bukan hanya untuk menjaga kesopanan, tetapi juga sebagai benteng agar ia tidak tumbuh menjadi pelaku bullying secara verbal.
وَيُمْنَعُ مِنْ لَغْوِ الْكَلَامِ وَفُحْشِهِ وَمِنَ اللَّعْنِ وَالسَّبِّ
Artinya, “Dan ia harus dijauhkan dari ucapan sia-sia, kata-kata kotor, serta dari kebiasaan melaknat dan mencaci,” (Imam Al-Ghazali, Jilid III, halaman 73)
Upaya Pencegahan Bullying
Pengaruh pergaulan sangat kuat dalam membentuk karakter. Sifat agresif atau meremehkan seringkali merupakan hasil tiruan dari lingkungan pergaulan. Al-Ghazali mengingatkan bahwa kebiasaan buruk mudah menular.
Lingkungan pertemanan yang tidak sehat dapat mendorong anak untuk ikut mengejek, mengintimidasi, atau meremehkan temannya. Karena itu, menjauhkan anak dari teman yang berpotensi membawa pengaruh buruk adalah langkah preventif individual yang dapat dilakukan orang tua. Alternatif lain adalah membangun kepribadian anak agar tidak bergantung pada validasi lingkungan, terutama dari teman-teman yang condong pada perilaku negatif.
Al-Ghazali mengatakan:
وَمِنْ مُخَالَطَةِ مَنْ يَجْرِي عَلَى لِسَانِهِ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ فَإِنَّ ذَلِكَ يَسْرِي لَا مَحَالَةَ مِنْ القرناء السُّوءِ وَأَصْلُ تَأْدِيبِ الصِّبْيَانِ الْحِفْظُ مِنْ قُرَنَاءِ السوء
Artinya, “Anak juga harus dijauhkan dari bergaul dengan orang-orang yang lisannya terbiasa mengucapkan hal-hal seperti itu, karena kebiasaan buruk itu pasti menular dari teman yang buruk. Dasar dari pendidikan anak-anak adalah menjaga mereka dari teman-teman yang buruk.” (Imam Al-Ghazali, Jilid III, halaman 73)
Namun demikian, upaya pencegahan bullying juga membutuhkan pendekatan yang lebih sistemik. Sekolah, masyarakat, dan rumah harus bekerja sama menciptakan ruang aktivitas yang aman, inklusif, dan ramah anak. Lingkungan yang sehat akan membentuk budaya saling menghargai dan menjadi pelindung bagi semua anak.
Pada akhirnya, mencegah bullying bukan sekadar menertibkan perilaku anak ketika muncul masalah, tetapi membangun fondasi karakter sejak dalam rumah sebagai tempat pertama anak belajar adab, empati, serta cara menghargai orang lain.
Upaya ini perlu diperkuat dengan lingkungan sosial yang sehat, di mana sekolah, keluarga, dan masyarakat berkolaborasi menciptakan budaya yang aman, ramah, dan inklusif. Dengan sinergi tersebut, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang lembut, bijak, serta mampu menghadirkan kebaikan bagi lingkungannya. Wallahu ’alam.
Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan Madura
