IMG-LOGO
Syariah

Saat Salafi Memelintir Perkataan Imam Syafi’i

Sabtu 8 Desember 2018 18:20 WIB
Share:
Saat Salafi Memelintir Perkataan Imam Syafi’i
Perdebatan antara kelompok Salafi dan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) di antaranya berkisar pada persoalan bid’ah hasanah. Masing-masing menyuguhkan dalil dari Al-Qur’an dan hadits, bahkan kelompok Salafi tak jarang menjadikan pendapat imam mazhab sebagai bahan “memukul”. Berikut ini adalah percakapan imajiner yang sejatinya berangkat dari kasus-kasus yang umum kita jumpai. Meski imajiner, narasi dalam dialog ini memiliki valditas ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. (Redaksi)

Salafi: Orang yang mengaku bermazhab Syafi’i itu hanya mempelajari fiqih Syafi’i saja, tapi tidak mau mempelajari aqidahnya. Aqidah pengikut mazhab Syafi’i itu sudah menyimpang dari aqidah Imam Syafi’i.

Aswaja: Lowh… 

Salafi: Dan lagi, selama ini pengikut Syafi’i itu ternyata telah menyimpang dari penjelasan Imam Syafi’i sendiri. 

Aswaja: Owh… Contohnya?

Salafi: Misalnya tentang bid’ah hasanah. Imam Syafi’i itu tak mengakui bid’ah hasanah! Sementara yang mengaku sebagai pengikutnya justru mengakui dan membela mati-matian bid’ah hasanah.

Aswaja: Wah, ajib nih. Gimana penjelasannya?

Salafi: Coba dengarkan ini. Ulama kami, namanya Syekh Muhammad Alu al-Syaikh mengutip pendapat dari dua kitab ulama pengikut mazhab Syafi’i, yaitu Imam al-Ghazali dan Syekh al-Mahalli. Dengarkan ya.

ولهذا قال الإمام الشافعي رحمه الله في كلمته المشهورة التي نقلها عنه أئمة مذهبه وعلماؤه كالغزالي في "المنخول" (ص374)، والمحلي في "جمع الجوامع-2/395 بحاشيته": "من استحسن فقد شرع"

Perlu diterjemahkan nggak?

Aswaja: Terjemahkan saja. Jangan-jangan terjemahannya saja yang salah.

Salafi: Ah, ya tidak. Ini terjemahannya: “Oleh karena itu, Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan dalam kalimat beliau yang populer, yang dinukil oleh imam-imam dan ulama-ulama mazhabnya, seperti al-Ghazali dalam al-Mankhul (hal. 374) dan al-Mahalli dalam Jam’u al-Jawami’ (2/395) dan Hasyiyahnya: Man istahsana faqad syarra’a (barangsiapa melakukan ‘istihsan/menilai baik sesuatu’ maka dia telah membuat-buat syariat.”

Aswaja: Oh, masalah istihsan. Terus?

Salafi: Nah, ini lebih tegas nih di kitab induk Imam Syafi’i, yaitu al-Risalah dan al-Umm. Imam Syafi’i ternyata memang mengatakan barangsiapa melakukan ‘istihsan/menilai baik sesuatu’ maka dia telah membuat-buat syariat. Jadi tidak mungkin Imam Syafi’i menyatakan adanya bid’ah hasanah, karena beliau menolak istihsan. Makanya di sini Syekh Muhammad Alu al-Syaikh dalam kitab yang sama, jilid 8, halaman 45 menjelaskan:

كيف يقول الشافعي رحمه الله بالبدعة الحسنة وهو القائل: "من استحسن فقد شرع".والقائل في "الرسالة" ( ص507):"إنما الاستحسان تلذذ".وعقد فصلاً في كتابه "الأم" (7/293- 304) بعنوان:"إبطال الاستحسان"

“Bagaimana Syafi’i rahimahullah mengakui keberadaan bid’ah hasanah, sedang beliau mengatakan, ‘Barangsiapa melakukan istihsan maka dia telah membuat-buat syariat.’ Beliau juga mengatakan dalam al-Risalah (hal 507), ‘Istihsan adalah perbuatan untuk mencari kesenanangan diri.’ Imam Syafi’i juga membuat bab tersendiri dalam al-Umm (7/293-304) dengan judul ‘Pembatalan Istihsan’.”

Jadi intinya, kalian yang mengaku sebagai penganut mazhab Syafi’i, pahamilah kalam Imam Syafi’i dengan kaidah dan ushul ajaran mazhab Syafi’i. Jelas-jelas beliau tidak mengakui istihsan.

Aswaja: Jadi karena Imam Syafi’i menolak istihsan, lalu kalian simpulkan beliau menolak bid’ah hasanah?

Salafi:  Ya, coba ini keterangan berikutnya:

الفصل الخامس: القيام عند ذكر ولادته - صلى الله عليه وسلم - وزعمهم أنه يخروج إلى الدنياأثناء قراءة قصص المولد (حثت القصص التي تقرأ بمناسبة الاحتفال بالمولد على القيام عند ذكر ولادة النبي - صلى الله عليه وسلم -وخروجه إلى الدنيا ومما جاء فيها من ذلك ما يلي:قال البرزنجي في "مولده" (ص77): (قد استحسن القيام عند ذكر مولده الشريف أئمة ذوو رِواية و روية فطوبى لمن كان تعظيمه - صلى الله عليه وسلم - غاية مرامه ومرماه). حكم الاحتفال بالمولد النبوي والرد على من أجازه" للشيخ محمد بن إبراهيم آل الشيخ رحمه الله (ص29-30) ـ

“Pasal kelima tentang berdiri saat momen penyebutan kelahiran Nabi ﷺ dan klaim mereka bahwa Nabi keluar ke dunia saat pembacaan kisah-kisah maulid. Kisah-kisah yang dibaca dalam acara peringatan maulid ini meniscayakan agar orang yang membacanya berdiri ketika penyebutan kisah kelahiran Nabi ﷺ dan bahwa beliau keluar ke dunia. Di antara penjelasan mereka adalah sebagai berikut. Al-Barzanji mengatakan dalam kitab Maulid (hal 77), ‘Para ulama yang menguasai riwayat dan maknanya menganggap baik (istahsana, dari kata istihsan, penj) berdiri saat penyebutan kelahiran beliau yang mulia. Maka sungguh beruntung orang yang menjadikan pengangungan terhadap Nabi Muhammad ﷺ sebagai tujuan dan kecintaannya.” (Muhammad Alu al-Syaikh, Hukm al-Ihtifal bi al-Maulid al-Nabawi, hal 29-30). 

Aswaja: Owh, paham, paham. Jadi ketika Imam al-Barzanji menganggap baik atau istahsana, dari kata istihsan amaliah berdiri saat penyebutan kelahiran Nabi Muhammad, lalu kalian benturkan dengan penolakan Imam Syafi’i terhadap istihsan itu?

Salafi: Iya. 

Aswaja: Saya simpulkan ya. Menurut keterangan Syekh Muhammad Alu al-Syaikh tadi: Pertama, Imam Syafi’i tidak mengakui bid’ah hasanah. Kedua, ketidaksetujuan Imam Syafi’i terhadap bid’ah hasanah itu dengan dasar karena beliau menolak istihsan. Ketiga, Alu al-Syaikh telah mengartikan istihsan yang ditolak oleh Imam Syafi’i dengan makna yang bersifat harfiah-menyeluruh atau generalisasi, yaitu “menganggap baik sesuatu”, termasuk dalam hal ini sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad  ﷺ.

Salafi: Betul. Kan memang seperti itu.

Baca juga:
Mazhabnya Syafi'i tapi Aqidahnya Asy'ari?
Jawaban Metodologis untuk Orang yang Gemar Menvonis Bid’ah
Aswaja: Sepertinya ada kesalahan ilmiah yang fatal di sini. Antum salah pikir.

Salafi: Lowh, kenapa? Antum harus menerima ini sebagai kebenaran, ya akhi. Memang umat Islam di Indonesia yang mengaku bermazhab Syafi’i sudah jauh dari tuntunan Imam Syaf’i. Ini fakta. Sudah, akui saja.

Aswaja: Ya akhi. Apa hubungan antara istihsan dengan bid’ah hasanah? Tidak ada hubungannya kecuali bila hanya secara paksa dihubung-hubungkan saja. Penulis kitab yang antum baca itu mengajak orang lain untuk memahami kaidah dan prinsip Imam Syafi’i untuk menafsirkan kalam Imam Syafi’i. Namun justru dia membuat pemaknaan sendiri tentang istihsan yang ditolak oleh Imam Syafi’i.

Salafi: Kan jelas Imam Syafi’i menolak sikap menganggap baik sesuatu atau istihsan itu. Jadi beliau menolak bid’ah hasanah kan?

Aswaja: Wah, kok pemahamannya begitu. Betulkah Imam Syafi’i menolak bid’ah hasanah melalui konsep istihsan? Apa betul kita sebagai penganut mazhab Syafi’i yang menganggap baik maulid, berdiri dalam pembacaan shalawat, dan sebagainya telah bertentangan dengan pendapat Imam Syafi’i? 

Dengarkan akhi ya. 

Pertama, menurut Imam Syafi’i, istihsan yang tidak boleh itu adalah bila bertentangan dengan dalil Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam kitab ar-Risalah dijelaskan:

 وهذا يبين أن حراما على أحد أن يقول بالاستحسان إذا خالف الاستحسان الخبر والخبر من الكتاب والسنة

“Hal ini menjelaskan bahwa haram bagi seseorang berpendapat dengan istihsan jika istihsan tersebut bertentangan dengan khabar. Sementara khabar itu dari Al-Qur’an dan as-Sunnah.” (al-Syafi’i, ar-Risalah, 503)

Kedua, istihsan yang dimaksud oleh Imam Syafi’i adalah istihsan sebagai lawan qiyas. Dalam ar-Risalah, hal 504 dijelaskan:

لِهَذَا تَدُلُّ على إبَاحَةِ الْقِيَاسِ وَحَظْرِ أَنْ يُعْمَلَ بِخِلَافِهِ من الِاسْتِحْسَانِ.

“Dengan ini menjadi dalil tentang kebolehan qiyas dan larangan untuk mengamalkan sebaliknya yaitu istihsan.”

Salafi: Istihsan itu kan artinya menolak menganggap baik sesuatu. Sudah, jangan sulit-sulit mengartikan ucapan Imam Syafi’i itu. Beliau menolak bid’ah hasanah atas nama istihsan.

Aswaja: Itulah hobi kalian. Sukanya mengartikan sesuatu dengan harfiah, tapi tak mau meneliti lebih mendalam. Antum harus tahu, baik ar-Risalah maupun al-Umm, itu adalah kitab ushul fiqh. Apa istihsan yang dimaksud dalam ushul fiqih itu? 

Para pakar ushul fiqih memiliki beberapa pengertian tentang istihsan ini. Syekh Muhammad al-Amin al-Syinqithi dalam Mudzakkirah Ushul Fiqh ‘ala Raudhatun Nazhir misalnya merilis beberapa definisi tersebut.

Terdapat ulama ushul yang memberikan pengertian istihsan dengan “Sesuatu yang dianggap baik oleh seorang mujtahid dengan akalnya (ma yastahsinuhul mujtahidu bi ‘aqlih).” 

Apakah yang dianggap baik tersebut? Ternyata objeknya adalah dalil. 

Oleh karena itu, terdapat ulama ushul yang memberikan pengertian istihsan dengan “Suatu dalil yang terbesit di benak mujtahid tanpa mampu untuk dia ungkapkan (dalilun yanqadihu fi nafsil mujtahidi la yaqdiru ‘alat ta’biiri ‘anhu).” 

Antum bisa baca di kitab beliau, Mudzakkirah Ushul Fiqh ‘ala Raudhatun Nazhir, halaman 259.

Nah, berdasarkan pengertian istihsan tersebut dapat disimpulkan bahwa objek istihsan itu adalah dalil. Maksudnya, suatu pikiran dalam benak mujtahid untuk memilih suatu dalil dan meninggalkan yang lain, namun ia tak dapat mengungkapkan mengapa ia memilih dalil tersebut dan meninggalkan yang lain. Hal inilah yang ditolak oleh Imam Syafi’i, bukan istihsan yang antum artikan “menganggap baik sesuatu” secara umum, atau “menilai sesuatu sebagai bid’ah hasanah”.

Salafi: Tapi al-Barzanji secara jelas tadi mengatakan bahwa berdiri saat pembacaan maulid itu di-istihsan-kan oleh para penghobi Maulid. Bagaimana nih? Ana ulang lagi ya:

قد استحسن القيام عند ذكر مولده الشريف أئمة ذوو رِواية و روية

Aswaja: Ya akhi, ulama Ahlussunnah wal Jama’ah ketika menganggap baik sesuatu memang memakai kata istihsan.Tapi yang dimaksud adalah istihsan dari segi bahasa, bukan dalam bidang Ushul Fiqh. Antum harus lanjutkan kalam al-Barzanji itu. Jangan dipotong-potong.

Lanjutan kalam beliau tentang istihsan saat qiyam dalam pembacaan Maulid, sebagaimana dikutip Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki dalam kitab al-Bayan wa al-Ta’rif fi Dzikra al-Mawlid al-Nabawi, hal 29-30 begini:

ونعني بالاستحسان بالشيئ هنا كونه جائزا من حيث ذاته وأصله ومحمودا ومطلوبا من حيث بواعثه وعواقبه, لا بالمعنى المصطلح عليه في أصول الفقه.

“Yang kami maksud dengan istihsan atau menganggap baik sesuatu di sini adalah sesuatu yang dari asalnya suatu perbuatan itu boleh serta dari sisi tujuan dan dampaknya memang baik dan diharapkan. Bukan istihsan yang diistilahkan dalam ilmu ushul fiqh.”

Fahimtum?

Jadi berdiri adalah sesuatu yang boleh. Bila tujuan dan dampaknya baik – sebagaimana dalam mahallul qiyam – maka itu baik. Itulah yang disebut istihsan di sini, bukan istihsan dalam ushul fiqh yang memang ditolak oleh Imam Syafi’i.

Salafi: Jadi, salah ya bahwa Imam Syafi’i menolak bid’ah hasanah dengan dalih beliau menolak istihsan.

Aswaja: Ya iyalah. Makanya antum dan jamaah antum selama ini hanya digiring saja untuk memahami sesuatu hanya sesuai yang dimaui Syekh-Syekh antum itu. Teliti lagi ya akhi. Jangan manggut-manggut saja. Apalagi ini jelas makar terhadap pernyataan Imam Syafi’i. Ini namanya kedustaan atas nama beliau.

Belum lagi, al-Hafizh al-Baihaqi dalam Manaqib al-Imam al-Syafi’i menyitir pendapat sang imam bahwa bid’ah itu ada dua, yaitu sesat dan tidak sesat.

اَلْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ: مَا أُحْدِثَ مما يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أثرا أوإِجْمَاعًا فَهذه بِدْعَةُ الضَّلالِ وَمَا أُحْدِثَ من الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهذه مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ. (الحافظ البيهقي، مناقب الإمام الشافعي، ١/٤٦٩) ـ

“Sesuatu yang baru (muhdats) itu ada dua, sesuatu yang baru dikerjakan yang bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, atsar, atau ijma’, maka ini adalah bid’ah yang sesat. Sementara sesuatu baru yang baik yang tidak bertentangan dengan sedikitpun dari hal itu maka ini adalah bid’ah yang tidak jelek.” 

Syekh Ibnu Taimiyah dalam al-’Aql wa al-Naql mengomentari, periwayatan al-Baihaqi ini sanadnya shahih. Beliau menjelaskan:

قَالَ عَنْهُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ فِي العَقْلِ وَالنَّقْلِ 1/ 248 رَوَاهُ البَيْهَقِي بِإِسْنَادِهِ الصَّحِيْحِ فِي المدْخَلِ

“Ibnu Taimiyah menjelaskan dalam al-‘Aql wa al-Naql, 1/248, periwayatan ini (tentang Imam Syafi’i membagi bid’ah menjadi dua) diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang sahih dalam al-Madkhal.”

Salafi: Baik, baik. Saya simpulkan ya. Dengan membagi bid’ah menjadi dua, sesat dan tidak sesat, itu artinya justru Imam Syafi’i sendiri mengakui keberadaan bid’ah hasanah. Sama seperti pemahaman jumhur atau mayoritas ulama setelah beliau. Maka klaim bahwa Imam Syafi’i menolak bid’ah hasanah – apalagi dengan dalih beliau menolak istihsan – adalah sebuah kegagalan pemahaman dari kami.

Aswaja: Nah, ahsantum, ya akhi. Barakallah fiikum.


Ustadz Faris Khoirul Anam, Lc., M.H.I., Wakil Direktur Aswaja NU Center PWNU Jatim

Share:
Senin 3 Desember 2018 17:20 WIB
Keharusan Menghormati Ahlul Bait dan Menasihati jika Mereka Menyimpang
Keharusan Menghormati Ahlul Bait dan Menasihati jika Mereka Menyimpang
Sebagai Muslim kita harus menghormati sekaligus mencintai keluarga dan keturunan Rasulullah ﷺ yang disebut Ahlul Bait. Rasulullah memang mengimbau agar umatnya menghormati dan mencintai keluarga dan keturunannya. Hal ini karena Ahlul Bait memang memiliki kemuliaan tersendiri sebagai kerabat Rasulullah. Namun apabila di antara mereka ada yang menyimpang dari jalan leluhurnya, hendaklah ada yang menasihatinya. 

Imbauan seperti itu sebagaimana dikemukakan oleh salah seorang ulama sekaligus habib yang merupakan dzurriah Rasulullah ﷺ asal Tarim Hadramaut Yaman, yakni Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad (1634-1720 M) dalam kitabnya berjudul Al-Fushul al-‘Ilmiyyah wal Ushul al-Hikamiyyah, (Dar Al-Hawi, Cet. II, 1998, hal. 89 ) sebagai berikut: 

لأهل بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم شرف، ولرسول الله صلى اللهعليه وسلم  بهم مزيد عناية وقد أكثر على أمته من الوصيّة بهم والحث على حبّهم ومودتهم. وبذالك أمرالله تعالى في كتابه في قوله تعالى: "قل لا أسألكم عليه أجرا إلا المودة في القربى" .(الشورى، ٢٣) ـ

Artinya: “Ahlul Bait memiliki kemuliaan tersendiri, dan Rasulullah telah menunjukkan perhatiannya yang besar kepada mereka. Beliau berulang-ulang berwasiat dan mengimbau agar umatnya mencintai dan menyayangi mereka. Dengan itu pula Allah subhanahu wataála telah memerintahkan di dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya: “Katakanlah wahai Muhammad, tiada aku minta suatu balasan melainkan kecintan kalian pada kerabatku.” (QS 42:23). 

Dari kutipan di atas dapat ditegaskan bahwa kaum Muslimin memang harus menghormati dan mencintai Ahlul Bait bukan saja karena kekerabatan mereka dengan Rasulullah ﷺ, tetapi juga karena Allah telah memerintahkan kepada beliau untuk berseru kepada umatnya agar mencintai kerabat beliau. Dengan kata lain perintah untuk mencintai Ahlul Bait merupakan perintah dari Allah subhanahu wataála. Rasulullah sebagai pemimpin kaum Muslimin tidak meminta balasan apa pun dari umatnya kecuali kecintaan mereka kepada keluarga dan keturunan beliau. 

Namun Sayyid Abdullah Al-Haddad mengingatkan agar dalam memberikan penghormatan dan kecintaan kepada Ahlul Bait, kaum Muslimin bersikap wajar dan tidak berlebih-lebihan. Hal ini sebagaimana ditegaskannya dalam kutipan berikut: 

فعلى كافة المسلمين أن يعتقدوا حبّهم ومودتهم، وان يوقّروهم ويعظّموهم من غير غلوّ ولا إسراف. 

Artinya: “Seluruh kaum Muslimin hendaknya memastikan kecintaan dan kasih sayang mereka kepada Ahlul Bait, serta menghormati dan memuliakan mereka secara wajar dan tidak berlebih-lebihan.”

Terhadap Ahlul Bait yang menyimpang dari apa yang dicontohkan Rasulullah ﷺ, Sayyid Abdullah Al-Haddad mengimbau agar mereka tetap dihormati semata-mata karena mereka adalah kerabat Nabi Muhammmad ﷺ dengan tidak meninggalkan perlunya memberikan nasihat kepada mereka sebagaimana kutipan berikut: 

وأما من كان من أهل هذا البيت ليس على مثل طرائق أسلافهم الطاهرين، وقد دخل عليهم شيئ من التخليط لغلبة الجهل، فينبغي أيضا أن يعظّموا ويحترموا لقرابتهم من رسول الله الله صلى الله عليه وسلم. ولا يدعوا المتأهل للنصيحة نصحهم وحثّهم على الأخذ بما كان عليه سلفهم الصالح, من العلم والعمل الصالح، والأخلاق الحسنة والسيرالمرضية.

Artinya: “Adapun mereka yang berasal dari keluarga dan keturunan Rasulullah ini yang tidak menempuh jalan leluhur mereka yang disucikan, lalu mencampur adukkan antara yang baik dan yang buruk disebabkan kejahilannya, seyogyanyalah mereka tetap dihormati semata-mata karena kekerabatan mereka dengan Nabi ﷺ. Namun siapa saja yang memiliki keahlian atau kedudukan untuk memberi nasihat, hendaknya tidak segan-segan menasihati dan mendorong mereka kembali menempuh jalan hidup para pendahulu mereka yang saleh-saleh, yang berilmu dan beramal kebajikan, berakhlak terpuji dan berperilaku luhur.” (Lihat hal. 90). 

Dari kutipan di atas, dapat diketahui bahwa dalam masyarakat tidak tertutup kemungkinan ada dari Ahlul Bait yang berperilaku tidak sebagaimana dicontohkan para leluhurnya khususnya Rasulullah ﷺ. Kepada Ahlul Bait yang seperti itu Sayyid Abdullah Al-Haddad mengimbau agar siapa pun yang memiliki kepasitas keilmuan dan kewenangan untuk tidak segan-segan memberikan nasihat dengan tetap bersikap hormat dan cinta kepada mereka secara wajar. 

Nasihat-nasihat yang hendaknya disampaikan kepada mereka adalah perlunya kembali menempuh jalan hidup sebagaimana para pendahulu yang berilmu dan beramal saleh serta berakhlak mulia sebagaimana dicontohkan Baginda Rasulullah ﷺ. Imbauan dari Sayyid Abdullah Al-Haddad ini sekaligus merupakan jawaban atas adanya sikap sebagian kaum Muslimin yang menganggap bahwa jika ada dari Ahli Bait yang melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari agama, mereka tidak perlu diingatkan karena menganggap Rasulullah sudah pasti akan memberinya syafaat di akhirat kelak. 

Sayyid Abdullah Al-Haddad tidak setuju atas anggapan seperti itu sebagaimana kutipan berikut: 

فيقول هؤلاء أهل بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم، ورسول الله شفيع لهم، ولعل الذنوب لا تضرهم، وهذا قول شنيع، يضر القائل به نفسه، ويضر به غيره من الجاهلين، وكيف يقول أحد ذالك وفي كتاب الله العزيز ما يدل غلى اهل أن أهل البيت يضاعف لهم الثواب على الحسنات، والعقاب على السيئات. 

Artinya: “Ada yang mengatakan,”Biarlah, mereka adalah dari Ahlul Bait, Rasulullah ﷺ pasti akan bersyafaat kepada mereka, dan mungkin pula dosa-dosa yang mereka lakukan tak akan menjadi mudarat atas mereka.” Sungguh ini adalah ucapan yang amat buruk, yang menimbulkan mudarat bagi si pembicara sendiri dan bagi orang-orang lainnya yang tergolong kaum jahil. Bagaimana bisa seseorang berkata seperti itu, sedangkan dalam Al-Qurán, Kitab Allah yang mulia terdapat petunjuk bahwa anggota keluarga Rasulullah dilipat gandakan bagi mereka pahala amal baiknya, demikian pula hukuman atas perbuatan buruknya.” (Lihat hal. 88).

Sangat jelas bahwa Sayyid Abdullah Al-Haddad tidak setuju terhadap anggapan bahwa orang-orang tertentu seperti Ahlul Bait memiliki kekebalan hukum atas hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah subhanahu wataála disebakan kemuliaan nasabnya yang bersambung kepada Rasulullah. Ulama yang diyakini sebagai pembaharu abad 11 hijriyah ini menyebut orang yang memiliki anggapan seperti itu telah melakukan perbuatan dusta tentang Allah subhanahu wataála serta menyalahi ijma’ seluruh kaum Muslilimin. (Lihat hal. 89).

Sebelumnya pada halaman 87, Sayyid Abdullah Al-Haddad mengutip sebuah hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan dari Abu Hurairah. Hadits itu berisi peringatan kepada putri beliau bernama Sayyidah Fathimah agar tidak mengandalkan pembelaan dari ayahnya di hadapan Allah subhanu wa taála sebagai berikut: 

يا فاطمة بنت ممدs لا أغني عنكِ من الله شيئا.

Artinya: “Hai Fathimah binti Muhammad, sungguh aku takkan cukup sebagai pembelamu di hadapan Allah.”

Baca juga:
Ini Alasan Kenapa Nahdliyin Cinta Habib
Kenapa Keturunan Nabi Tak Tentu Berakhlak Baik? Ini Penjelasan Habib Luthfi
Habib Zen Minta Maaf Jika Ada Keturunan Rasulullah Minta Dilayani

Jadi sekali lagi, ada kewajiban bagi kaum Muslimin untuk menghormati dan mencintai Ahlul Bait karena mereka memiliki kekerabatan dengan Rasulullah ﷺ. Perintah ini memiliki dasar di dalam Al-Qur’an, surat Asy-Syura, ayat 23. Disamping itu ada kewajiban lain bagi orang-orang tertentu yang memiliki kapasitas untuk menasihati jika ada dari mereka berbuat kemaksiatan dan berperilaku tercela. Perbuatan dosa yang mereka lakukan akan dilipat gandakan hukumannya. Namun cara menasihati mereka harus tetap baik dan hormat karena bagaimanapun mereka adalah dzurriah Rasulullah ﷺ. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.

Sabtu 24 November 2018 19:30 WIB
Hukum Membunuh Semut
Hukum Membunuh Semut
Ilustrasi (via stmed.net)
Semut adalah salah satu hewan yang sering kita jumpai di mana pun. Seringkali hewan ini muncul ketika menemui sesuatu yang mengandung rasa manis. Terkadang aktivitas semut tidak sampai menyakiti manusia, hanya sebatas berkeliling mencari makanan saja, namun tak jarang juga kita lihat dalam jenis semut tertentu aktivitasnya sampai mengganggu bahkan menyakiti manusia, hingga akhirnya semut itu dibunuh dengan tujuan supaya tidak mengganggu dan menyakiti lagi. Sebenarnya bagaimana hukum membunuh semut itu?

Dalam salah satu hadits dijelaskan:

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ عَنْ قَتْلِ الصُّرَدِ ، وَالضِّفْدَعِ ، وَالنَّمْلَةِ ، وَالْهُدْهُدِ

“Rasulullah ﷺ melarang membunuh burung shurad, kodok, semut dan burung hud-hud” (HR. Ibnu Majah)

Selintas jika dipahami dari hadits di atas menyatakan bahwa membunuh semut adalah hal yang dilarang oleh Rasulullah ﷺ, sehingga termasuk perbuatan yang harus dihindari. Namun para ulama mengarahkan bahwa semut yang dimaksud dalam hadits tersebut tidaklah bermakna mutlak yang mencakup seluruh jenis semut, namun hanya tertentu pada semut-semut besar dan panjang yang tersebut dalam kisah Nabi Sulaiman. Sehingga ketika semut selain jenis ini boleh-boleh saja untuk dibunuh, terlebih ketika semut itu menyakiti terhadap manusia atau mengganggu aktivitasnya. Bahkan jika semut besar dan panjang  yang haram dibunuh ini menyakiti manusia maka keharaman membunuhnya menjadi hilang, sehingga boleh-boleh saja hewan ini dibunuh.

Bolehnya membunuh semut ini dengan catatan sekiranya cara membunuhnya tidak dengan cara membakarnya, tapi dengan cara lain seperti memukul atau menginjaknya, sebab membunuh semut dengan perantara membakar akan menyakiti terhadap semut itu sendiri. Kita diperintahkan untuk menggunakan cara yang baik dalam membunuh hewan. Salah satu cara yang baik adalah tidak membunuh dengan sesuatu yang akan semakin menyiksa hewan tersebut.

Baca juga: Gara-gara Burung dan Semut, Rasulullah Tegur Para Sahabat
Penjelasan tentang ketentuan ini terdapat dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin:

ـ (مسألة : ك) : روى أبو داود "أنه نهى عن قتل أربع من الدواب : النملة والنحلة والهدهد والصرد" والمعروف حمل النهي على النمل الكبير السليماني الطويل الذي يكون في الخراب فيحرم قتله على المعتمد ، إذ الأصل في النهي التحريم ، وخروجه عنه في بعض المواضع إنما هو بدليل يقتضيه ، أما النمل الصغير المسمى بالذر فيجوز بل يندب قتله بغير الإحراق لأنه مؤذ ، فلو فرض أن الكبير دخل البيوت وآذى جاز قتله اهـ. قلت : ونقل العمودي في حسن النجوى عن شيخه ابن حجر أنه إذا كثر المؤذي من الحشرات ولم يندفع إلا بإحراقه جاز اهـ

“Imam Abu Daud meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ melarang untuk membunuh empat jenis binatang yaitu semut, tawon, burung hud-hud dan burung shurad. Hal yang telah diketahui bahwa larangan membunuh semut dalam hadits tersebut diarahkan pada semut yang besardan panjang yang terdapat di masa Nabi Sulaiman AS yang biasa terdapat di reruntuhan bangunan, maka haram membunuh semut jenis ini menurut pendapat yang kuat, sebab hukum asal dari sebuah larangan adalah menuntut keharaman, dan keluarnya larangan dari hukum haram di sebagian teks dikarenakan adanya dalil yang menuntut menghukumi tidak haram. Adapun semut yang kecil, yang dalam istilah Arab dikenal dengan nama dzurr maka boleh bahkan Sunnah membunuhnya namun dengan selain dengan cara membakar, sebab membakar ini menyakitkan. Jika terdapata semut besar yang masuk ke rumah dan menyakiti penghuni rumah itu maka boleh untuk membunuhnya. Dikutip dari pendapatnya Imam ‘Amudi  dalam kitab Husni an-Najwa dari gurunya, Imam Ibnu Hajar bahwa boleh membunuh hewan hasyarat (hewan melata kecil, termasuk semut) ketika menyakiti dengan cara membakarnya ketika memang tidak ad acara lain selain membakarnya” (Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin Umar Ba’lawy, Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 551)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membunuh semut adalah hal yang diperbolehkan kecuali pada jenis semut yang besar dan panjang yang biasa ditemui saat membongkar rumah, sedangkan pada jenis selain itu diperbolehkan terlebih saat wujudnya dapat menyakiti manusia. Wallahu a’lam.

(Ali Zainal Abidin)

Sabtu 24 November 2018 15:0 WIB
Menentukan Waktu Ibadah Bukan Berarti Bid’ah
Menentukan Waktu Ibadah Bukan Berarti Bid’ah
Banyak kasus di mana beberapa tradisi yang berlaku di masyarakat dianggap bid’ah oleh sebagian kalangan sebab di dalamnya ada unsur ibadah yang diklaim waktunya ditentukan sendiri tanpa ada tuntunan dari Allah dan Rasulullah ﷺ. Dalam tradisi Tahlilan dan Yasinan misalnya, ada kegiatan membaca Al-Qur’an dan dzikir yang waktunya ditentukan dalam hari-hari tertentu setelah kematian seseorang, demikian juga dalam tradisi peringatan Maulid ada kegiatan membaca shalawat dan sedekah di momen Maulid, padahal tak ada tuntunan dari Allah dan Rasul untuk membaca al-Qur’an, shalawat, dan sedekah di hari-hari tersebut. Benarkah penentuan waktu seperti ini masuk dalam kategori bid’ah?

Baca juga:
• Inilah Penjelasan Mengenai Aswaja Perspektif NU
• Jawaban Metodologis untuk Orang yang Gemar Menvonis Bid’ah
Bila kita melihat contoh dari masa Rasulullah dan para sahabatnya, akan kita dapati bahwa Sahabat Bilal telah memperbanyak shalat sunnah di waktu yang ia tentukan sendiri sesuai kesempatan yang dia punya. Kesempatan tersebut baginya adalah setiap selesai berwudhu sehingga secara rutin beliau shalat sunnah setiap kali usai berwudhu. Tindakan sahabat Bilal dilakukan tanpa adanya tuntunan spesifik dari Rasulullah ﷺ. Padahal, mudah bagi Bilal untuk bertanya dahulu pada Rasul sebelum melakukannya namun ia memilih untuk berijtihad langsung dari ajaran Rasul yang sudah ada lalu melakukannya tanpa ada restu dari Rasulullah ﷺ.  Ternyata Nabi Muhammad bersabda pada Bilal: 

فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الجَنَّةِ

“Sesungguhnya aku mendengar suara kedua sandalmu di depanku di surga.” (HR. Bukhari)

Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bâri menjadikan hadits Bilal tersebut sebagai dalil kebolehan menentukan waktu khusus untuk ibadah yang memang tak terikat waktu.

وَيُسْتَفَادُ مِنْهُ جَوَازُ الِاجْتِهَادِ فِي تَوْقِيتِ الْعِبَادَةِ لِأَنَّ بِلَالًا تَوَصَّلَ إِلَى مَا ذَكَرْنَا بِالِاسْتِنْبَاطِ فَصَوَّبَهُ النَّبِيُّ ﷺ

“Dipahami dari hadits tersebut adanya kebolehan berijtihad dalam menentukan waktu ibadah karena Bilal sampai pada apa yang telah kami sebutkan itu dengan ijtihadnya, kemudian Nabi ﷺ membenarkannya.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bâri, Juz III, halaman 34)

Hal yang sama juga dilakukan oleh sahabat Khubaib bin Adiy. Ia membuat sebuah tradisi baru yang tak pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ berupa shalat sunnah mutlak dua rakaat sebagai permintaan terakhir sebelum dibunuh. Dalam Shahih Bukhari diceritakan:

فَكَانَ أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الرَّكْعَتَيْنِ عِنْدَ القَتْلِ.

“Dia (Khubaib bin Adiy) adalah orang pertama yang mentradisikan salat sunnah sebelum dihukum mati.” (HR. Bukhari)

Khubaib saat itu tak pernah bertanya kepada Rasulullah apakah boleh shalat sunnah sebelum dihukum mati? Para Sahabat juga, sepengetahuan penulis, juga tak tercatat menanyakan pada Rasulullah bagaimana hukumnya meniru tindakan Khubaib itu yang hingga wafat tak sempat mengonfirmasi tindakannya pada Rasulullah sebagaimana dilakukan Bilal itu. Namun tindakan yang jelas-jelas baik dan tak bertentangan dengan syariat itu begitu saja mentradisi setelah itu tanpa pernah Nabi menyebutnya sebagai bid’ah.

Penentuan waktu ibadah seperti yang dilakukan oleh Bilal atau Khubaib di atas bukanlah bid'ah, terbukti Nabi kemudian mengakuinya sebagai kebaikan meskipun jelas itu inovasi dalam hal agama. Andai penentuan waktu bagi ibadah yang waktunya memang bebas itu dianggap bid’ah, tentu Nabi akan melarangnya sebab seluruh bid’ah adalah terlarang. Di sini harus dipahami bahwa istilah bid’ah sendiri dalam istilah Syariat hanya khusus bagi segala hal baru yang buruk dalam arti melawan aturan syariat yang telah ada sebelumnya. Imam az-Zarkasyi, dengan menukil pernyataan Syekh Ibnu Durustawaih, menjelaskan maksud istilah bid’ah sebagai berikut:

هِيَ فِي اللُّغَةِ إحْدَاثُ سُنَّةٍ لَمْ تَكُنْ، وَتَكُونُ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ... فَأَمَّا فِي الشَّرْعِ فَمَوْضُوعَةٌ لِلْحَادِثِ الْمَذْمُومِ، وَإِذَا أُرِيدَ الْمَمْدُوحُ قُيِّدَتْ، وَيَكُونُ ذَلِكَ مَجَازًا شَرْعِيًّا حَقِيقَةً لُغَوِيَّةً.

“Bid’ah dalam perspektif kebahasaan adalah melakukan sesuatu yang tak ada sebelumnya, baik berupa kebaikan atau keburukan ... Adapun dalam perspektif syariat, maka dipakai sebagai istilah bagi hal baru yang tercela. Bila dimaksudkan adalah hal baru yang terpuji, maka harus diberi batasan (embel-embel semisal hasanah). Istilah bid’ah dengan batasan ini adalah secara syariat adalah ungkapan majazi (konotatif) dan secara kebahasaan adalah ungkapan hakiki (denotatif).” (Badruddin az-Zarkasyi, al-Mantsûr Fî al-Qawâ’id al-Fiqhiyah, juz I, halaman 217).

Jadi, menentukan waktu khusus bagi ibadah yang memang dibebaskan oleh syariat untuk dilakukan kapan pun, seperti shalat sunnah mutlak, membaca Al-Qur’an, sedekah dan lain sebagainya bukanlah hal yang dilarang oleh syariat, justru hal seperti ini diakui oleh Rasulullah ﷺ. Hal semacam ini secara syariat tidak boleh disebut bid’ah. Kalau pun mau dianggap bid’ah sebab secara kebahasaan memang hal baru, maka harus diberi embel-embel seperti bid’ah hasanah, bid’ah mamdûhah atau bid’ah mustahabbah. Istilah bid’ah dengan embel-embel seperti ini adalah istilah kebahasaan, bukan istilah syariat.

Yang dianggap salah dan tercela adalah apabila suatu ibadah telah mempunyai waktu khusus dari Syariat, misalnya shalat wajib lima waktu, zakat fitrah, haji, dan sebagainya dipindah waktunya ke luar dari waktu yang ditentukan, atau ibadah tersebut sebenarnya luas waktunya tetapi sengaja dilakukan di waktu yang memang terlarang seperti shalat sunnah mutlak tanpa sebab dilakukan setelah subuh sebelum matahari meninggi. Penentuan waktu yang melanggar syariat inilah yang masuk kategori bid’ah dalam kacamata syariat. Imam Mutawalli, mencontohkan kasus “bid’ah” dalam perspektif kebahasaan yang tidak cocok dengan syariat dengan ungkapan:  بِأَنْ يَتَعَبَّدَ فِي وَقْتِ الْكَرَاهَةِ  (dengan cara dilakukan ibadah di waktu yang tidak disukai oleh syariat). (Badruddin az-Zarkasyi, al-Mantsûr Fî al-Qawâ’id al-Fiqhiyah, juz I, halaman 217).

Bila seseorang hendak melarang kegiatan membaca surat Yasin, shalawat atau dzikir tertentu di saat kematian seseorang, di saat bulan Rabiul Awwal dalam rangka Maulid Nabi, di saat tasyakuran atau waktu-waktu lain sesuai tradisi masyarakat, maka dia dituntut untuk mendatangkan dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang menyatakan bahwa melakukan ibadah-ibadah di atas memang dillarang di waktu-waktu tersebut. Bila dia tak mampu melakukannya, maka tanpa sadar dia telah membuat-buat syariat baru alias melakukan bid’ah yang tercela. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jatim.