IMG-LOGO
Hikmah
BULAN GUS DUR

Gus Dur Tawar-Menawar Umur sebelum Wafat?

Ahad 9 Desember 2018 9:45 WIB
Share:
Gus Dur Tawar-Menawar Umur sebelum Wafat?
KH Abdurrahman Wahid (Dok. istimewa)
Keistimewaan sejumlah ulama sebagai pewaris para Nabi dalam kajian tasawuf berfungsi untuk memperkuat keimanan umat Muslim. Lain dengan mukjizat para Nabi yang levelnya lebih tinggi yaitu di antaranya untuk menunjukkan kekuasaan Allah SWT melalui utusannya.

Riwayat karomah (keistimewaan) ulama dimaksud banyak menjadi pelajaran yang tertulis di dalam berbagai kitab. Karomah yang dimiliki oleh wali itu tidak hanya nampak ketika hidup saja. Tetapi setelah wafat, waliyullah masih diberi karomah.

Dan bagi pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah, kepercayaan terhadap adanya waliyullah dan karomah itu perlu diyakini secara baik. Bahkan empat imam madzhab sudah bersepakat mengenai karomah yang ada para wali ketika hidup maupun sudah wafat.

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan dalam karyanya Secercah Tinta (2012) mengungkapkan, banyak Nabi-nabi dari Bani Israil dengan mukjizatnya bisa menghidupkan orang mati. Lalu bagaimana umatnya Rasulullah SAW? Umat Rasulullah pun sama.

Jika pada Bani Israil ada Nabi yang bisa menghidupkan orang mati, maka umat Nabi SAW pun bisa menghidupkan orang mati dengan karamahnya, seperti Syekh Abdul Qadir Jailani, sebagaimana disebutkan dalam manaqib-nya. Demikian juga Imam Yahya bin Hasan yang juga keturunan Syekh Abdul Qadir Jailani akhirnya disebut Bin Yahya. Karomah-karomahnya juga bisa menghidupkan orang mati.

Selain itu, Imam Al-Ghazali termasuk ulama masyhur yang memiliki banyak riwayat keistimewaan. Konon, Al-Ghazali dikehendaki masuk surga karena menolong seekor lalat yang kecebur dalam wadah tinta yang digunakannya untuk menulis kitab.

Diceritakan oleh KH Abdul Moqsith Ghazali (2018), Imam Al-Ghazali pernah berdoa kepada Allah. Dalam doanya, ia berharap kitab yang ditulisnya, Ihya’ Ulumiddin lebih terkenal dibanding kuburannya. Doa tersebut dikabulkan. Saat ini kitab tersebut dikaji di berbagai pesantren dan perguruan tinggi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Sebaliknya, kuburan Al-Ghazali tidak banyak yang tahu. Bahkan menurut Kiai Moqsith yang pernah berkunjung ke makam Al-Ghazali, kuburan penulis Kitab Tahafutul Falasifah itu terlihat apa adanya karena baru dua tahun belakangan ditemukan. Artinya, selama ratusan tahun yang ramai diziarahi selama ini bukan makam Al-Ghazali.

Salah seorang kiai pesantren yang dikenal mempunyai keistimewaan ialah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bahkan, Gus Dur tak hanya masyhur tulisan-tulisannya, tetapi juga kuburannya yang diziarahi ribuan orang setiap hari. Nilai-nilai kemanusiaan yang dikembangkan oleh Gus Dur membuatnya tak hanya diziarahi umat Islam, tetapi juga masyarakat dari berbagai kalangan dan agama.

Kiai Moqsith yang juga dikenal dekat dengan Gus Dur saat masih hidup menuturkan, dahulu Gus Dur ditawari umur 90 tahun oleh malaikat. “Buat apa sih umur panjang-panjang, yang sedang sajalah 69 tahun. Akhirnya benar Gus Dur wafat pada usia tersebut,” ungkap Kiai Moqsith saat mengisi forum ilmiah tentang moderasi Islam di Bogor, Jawa Barat baru-baru ini.

Kisah tersebut muncul ketika Kiai Moqsith juga menjelaskan riwayat salah seorang sahabat Nabi Muhammad, Sa’ad bin Abi Waqash. Saat itu sahabat Sa’ad didatangi malaikat pada umur 42 tahun dan ingin mencabut nyawanya. 

Seketika sahabat Sa’ad protes kepada malaikat, karena anak-anaknya yang masih kecil. Akhirnya, sahabat Sa’ad berdoa meminta kepada Allah dan diberikan umur panjang. Dikabulkan oleh Allah, 84 tahun baru meninggal. Kuburan sahabat Sa'ad berada di Kota Guangzhou, Tiongkok (China) dan ramai diziarahi banyak orang dari mancanegara.

Gus Dur dan Rumi

Gus Dur meninggal setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Cipto Manungkusumo (RSCM) Jakarta. Baik dalam kondisi dirawat dan setelah kepergiannya, orang-orang tidak pernah berhenti mengunjungi Gus Dur.

Bahkan, padatnya pentakziah yang tidak terhitung jumlahnya dari berbagai daerah di Indonesia turut mengantar jenazah putra sulung KH Wahid Hasyim tersebut ke tempat peristirahatan terakhir di komplek makam keluarga Tebuireng, Jombang. 

Tebuireng saat itu tumpah ruah penuh dengan orang-orang yang ingin menyaksikan proses dikebumikannya Gus Dur. Pesantren Tebuireng penuh dan sesak. Begitu juga jalanan utama di depan pesantren terlihat manusia berbondong-bondong ingin ikut mengantar Gus Dur.

Di luar sana, tidak hanya teman-teman Muslim yang memadati masjid, musholla, dan majelis-majelis untuk mendoakan Gus Dur, tetapi juga teman-teman dari agama Konghucu, Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha turut meramaikan rumah ibadah masing-masing untuk mendoakan Gus Dur. Bahkan, mereka memajang foto Gus Dur di altarnya masing-masing.

Kini, pemikiran, gagasasn, tulisan, dan pergerakan sang zahid Gus Dur yang di batu nisannya tertulis, Here rest a Humanist itu tidak pernah kering meneteskan dan mengguyur inspirasi bagi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara di Republik ini. Begitu juga makamnya yang hingga sekarang terus ramai diziarahi.

KH Husein Muhammad Cirebon dalam buku karyanya Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus (2015) mengungkapkan persamaan kondisi wafatnya Gus Dur dengan kepergian salah seorang penyair sufi masyhur, Maulana Jalaluddin Rumi dari Konya, Turki.

Kepulangan Rumi ke Rahmatullah dihadiri beribu-ribu orang yang mengagumi dan mencintainya. Saat itu, di antara mereka yang berduka ialah para pemimpin, tokoh-tokoh penganut Yahudi, Kristen berikut sekte-sektenya, segala madzhab-madzhab pemikiran, serta rakyat jelata yang datang dari pelosok-pelosok dan sudut-sudut bumi yang jauh.

Gambaran singkat dari kepergian dua zahid (manusia dengan maqom zuhud) yang disambut iringan ribuan orang dari berbagai penjuru serta didoakan pula dari segala penjuru menunjukkan sebuah cinta dan kasih sayang. Rasa tersebut mengkristal dari seluruh komponen masyarakat sebagai wujud cinta dari dua zahid kepada semua manusia ketika hayat masih dikandung badan.

Kiai Husein menuturkan, Gus Dur, Maulana Rumi, dan para wali Allah merupakan orang yang selama hidupnya diabdikan untuk mencintai seluruh manusia, tanpa pamrih apapun. Mereka memberikan kebaikan semata-mata demi kebaikan itu sendiri, bukan bermaksud kebaikan tersebut kembali kepada dirinya.

Cara hidup demikian diungkapkan dalam sebuah puisi indah gubahan sufi besar dari Mesir, pengarang Kitab Al-Hikam, Ibnu Athaillah As-Sakandari yang sering dikutip Gus Dur dalam banyak kesempatan: Idfin wujudaka fil ardhil khumuli, fama nabata mimmaa lam yudfan laa yutimmu nitaa juhu (tanamlah wujudmu di tanah yang tidak dikenal, karena sesuatu yang tumbuh dari benih yang tak ditanam, buahnya tidak sempurna). (Fathoni)
Share:
Ahad 9 Desember 2018 18:0 WIB
Lima Pendekatan Dakwah Wali Songo
Lima Pendekatan Dakwah Wali Songo
Wali Songo memiliki peran yang sangat signifikan dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara, utamanya. Bagaimana tidak, selama tujuh abad lamanya –sejak abad ke-7 hingga ke-14- Islam ‘tertolak’ di wilayah Jawa. Namun pada saat akhir abad ke-14 atau awal abad ke-15, hampir semua masyarakat di pesisir pantai utara Jawa sudah memeluk Islam. Tidak lain itu diyakini sebagai hasil dakwah dari Wali Songo. 

Oleh sebab itu, ada penilaian kalau dakwah Wali Songo adalah dakwah yang paling sukses dan berhasil karena mampu mengislamkan masyarakat Jawa. Yang tidak kalah menarik, perubahan masyarakat Jawa, dari agama sebelumnya –Hindu, Budha, Kapitayan, dan lainnya, menjadi Muslim, hanya berlangsung sekitar 50 tahunan. Lagi-lagi, itu merupakan hasil dari kecanggihan dan kejeniusan dakwah Wali Songo.

Lantas, bagaimana ada apa strategi dakwah yang dilakukan Wali Songo sehingga membuahkan hasil yang gemilang seperti itu? Dalam buku Islam Indonesia, Islam Paripurna: Pergulatan Islam Pribumi dan Islam Transnasional (Imdadun Rahmat, 2017), setidaknya ada lima pendekatan dakwah yang digunakan Wali Songo. 

Pertama, pendekatan teologis. Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Ampel adalah yang menggunakan pendekatan ini. Mereka berdakwah bahkan hingga ke tingkat lapisan masyarakat paling bawah (waisya dan sudra) saat itu. Masyarakat diajari tentang nilai-nilai Islam, perbedaan antara pandangan hidup Islam dengan yang lainnya, dan menanamkan dasar-dasar Islam.

Kedua, pendekatan ilmiah. Tidak seperti dua sunan sebelumnya, Sunan Giri berdakwah dengan cara menggunakan pendekatan ilmiah. Ia membangun pesantren, membuat pelatihan dan pengkaderan, serta menugaskan muridnya untuk berdakwah di suatu tempat. 

Tidak hanya itu, Sunan Giri juga menggunakan permainan sebagai medium untuk berdakwah. Oleh karena itu, ia menciptakan permainan anak-anak seperti jemblongan, tembang syair seperti ilir-ilir, padang bulan, dan lainnya. Singkatnya, Sunan Giri mengembangkan dakwah secara sistematis dan metodologis.  

Ketiga, pendekatan kelembagaan. Tidak semua anggota Wali Songo berdakwah di masyarakat langsung. Ada juga yang berdawah di pemerintahan. Mereka adalah misalnya Sunan Kudus dalam Kesultanan Demak Bintoro dan Sunan Gunung Jati di Kesultanan Cirebon. Mereka ikut serta mendirikan kesultanan dan aktif di dalamnya. Mereka memiliki pengaruh yang besar di kalangan bangsawan, birokrat, pedagang, dan kalangan elit lainnya.

Keempat, pendekatan sosial. Sunan Muria dan Sunan Drajat lebih senang hidup jauh dari keramaian. Mereka memilih untuk berdakwah pada masyarakat kecil di desa-desa atau kampung-kampung. Mereka mengajarkan masyarakat kecil untuk meningkatkan pemahaman keagamaannya. Mereka juga membina masyarakat agar kehidupan sosialnya meningkat.

Kelima, pendekatan kultural. Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang lebih menonjol menggunakan pendekatan kultural. Mereka sadar bahwa budaya adalah sesuatu yang sudah mendarah daging di masyarakat. Jika langsung ditolak, maka masyarakat akan emoh mengikutinya. Solusinya, keduanya melakukan islamisasi budaya. Budaya-budaya yang sudah ada dan berkembang disisipi dengan ajaran-ajaran Islam. Tidak hanya itu, mereka juga menciptakan budaya-budaya baru yang mengandung nilai-nilai Islam. Diantara produk budaya yang mereka ciptakan dan masih ada hingga hari ini adalah Gamelan Sekaten (dari kata syahadatain), Gapura Masjid (berasal dari kata ghofura), baju takwo (dari kata takwa), dan lain sebagainya.   
Disadari atau tidak, dakwah merupakan kunci utama untuk memperkenalkan Islam kepada mereka yang tidak atau belum tahu tentangnya. Berhasil atau tidaknya dakwah sangat dipengaruhi oleh orang yang melakukan dakwah itu sendiri. Sejauh mana ia memahami ajaran agama Islam. Sejauh mana ia mengenal sasaran dakwahnya (masyarakat). Dan seberapa lihai ia mentransformasikan ajaran agama Islam kepada masyarakat sehingga diterima dengan baik. 

Melalui lima pendekatan di atas, Wali Songo terbukti mampu mengislamkan hampir seluruh masyarakat di pesisir pantai utara Jawa dalam tempo waktu yang cukup singkat. Diakui atau tidak, itulah dakwah yang sangat gemilang. Dari situ, umat Islam kini bisa saja mencontoh atau meneladani apa yang telah dikerjakan Wali Songo. Tentunya dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian sebagaimana dengan situasi dan kondisi masa kini. (A Muchlishon Rochmat)
Kamis 6 Desember 2018 17:0 WIB
Rasulullah tentang Ahli Ibadah yang Buruk dalam Bertetangga
Rasulullah tentang Ahli Ibadah yang Buruk dalam Bertetangga
Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya mengajarkan sikap baik kepada Allah subhânhû wa ta’âlâ saja namun juga mengajarkan akhlak yang indah terhadap sesama. Berperilaku baik kepada sesama pun tidak terbatas kepada orang muslim saja. Banyak hadits yang menyatakan bahwa Baginda Nabi tidak memberikan spesifikasi agama yang dipeluk orang lain dalam ranah urusan-urusan sosial. 

Contohnya adalah dalam masalah bertetangga. Suatu ketika istri Rasul, Sayyidah Aisyah radliyallâhu ‘anhâ meminta petunjuk Nabi.

يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ لِي جَارَيْنِ، فَإِلَى أَيِّهِمَا أُهْدِيْ، قَالَ: إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا

Artinya: “Wahai Rasulullah, saya mempunyai dua tetangga. Kepada siapa saya perlu memberikan hadiah? Rasul menjawab, ‘Kepada orang yang pintunya paling dekat darimu’.” (HR Bukhari) 

Memberikan hadiah bukanlah sebuah kewajiban. Namun apabila ada satu barang, dengan dua jumlah tetangga atau lebih, prioritas sasaran pemberian jatuh pada tetangga yang pintunya paling dekat dari rumah si pemberi. 

Rasulullah tidak menyarankan pilihlah agamanya yang paling Islam, tidak. Rasul menyarankan yang paling dekat. Sebab Rasulullah sedang mengajarkan tentang hak-hak bertetangga. Sedangkan kita tidak bisa lepas dengan peranan tetangga.
Dalam satu kesempatan, ada sahabat yang bertanya kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ. 

إِنَّ فُلَانَةَ تَقُومُ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ، وَتَفْعَلُ، وَتَصَدَّقُ، وَتُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا

Artinya: “Sesungguhnya Fulanah melakukan ibadah malam dengan rutin, ia juga bersedekah, tapi ia menyakiti tetangga-tetangga dengan mulutnya.”
Rasul pun kemudian menjawab:

لَا خَيْرَ فِيهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ 

Artinya: “Ia tak punya kebaikan sama sekali. Dia termasuk ahli neraka.”
 
قِيلَ: وَفُلَانَةَ تُصَلِّي الْمَكْتُوبَةَ، وَتَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ وَلَا تُؤْذِي أَحَدًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ 

Artinya: “Rasul ditanya lagi, si Fulanah itu shalat hanya yang wajib-wajib saja. Dia menyedekahkan beberapa potong roti keju, namun dia tidak pernah menyakiti hati tetangganya. Rasul kemudian menjawab, ‘Dia termasuk ahli surga’.” (Lihat: Al-Baihaqi, Syu’abul Îmân, [Maktabah ar-Rusyd, Riyadl, 2003], juz 12, halaman 94).

Hadits di atas dapat memberikan pemahaman kepada kita bahwa pintu surga tidak hanya terbuka melalui satu jalan ibadah vertikal saja. Tapi harus dikomparasikan dengan hubungan baik secara horizontal. Ibadah malam, berpuasa di siang hari itu sangat baik apabila dibarengi dengan hubungan sosial yang bagus, terutama dalam masalah bertetangga.

Dalam bertetangga, Rasul juga pernah berpesan kepada Abu Dzar, untuk memperbanyak kuah saat memasak. Tujuannya, walaupun material masakan sedikit, apabila dipadu kuah yang banyak, tetap bisa berbagi kepada tetangga sebelah.

Ada lima pesan Rasulullah ﷺ kepada Abu Hurairah yang penting kita perhatikan: 

اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ، وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ، وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا، وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا، وَلَا تَكْثُرِ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكَ تُمِيتُ الْقَلْبَ

Artinya: “Hindarilah segala macam bentuk perkara yang haram, niscaya kamu akan menjadi orang yang paling beribadah kepada Allah. Relakan atas apa yang Allah bagikan kepadamu, kamu akan menjadi orang yang paling kaya. Perbaikilah hubunganmu dengan tetangga, kamu akan jadi orang yang beriman. Cintailah manusia sebagaimana kamu mencintai diri kamu sendiri, kamu pasti akan jadi orang muslim sejati. Janganlah kamu memperbanyak tertawa, sesungguhnya tertawa itu bisa mengakibatkan hati mati.” (Musnad Ahmad: 8095)

Pada hadits yang masyhur, dikatakan: 

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangga.” (HR Bukhari: 6019)

Dua hadits ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa ada hubungan yang erat antara keimanan seseorang dengan hubungan sosial, tertutama bertetangga. Oleh karena itu, tidak heran jika ada orang rajin ibadah namun sebab bertetangganya buruk, mengakibatkan dia masuk neraka sesuai sabda Nabi Muhammad ﷺ di atas. Na’ûdzu billâh min dzâlik. Wallâhu a’lam. (Ahmad Mundzir)

Rabu 5 Desember 2018 15:0 WIB
Kisah Orang yang Berlebihan dalam Beribadah (II)
Kisah Orang yang Berlebihan dalam Beribadah (II)
Ilustrasi (islamicsunrays.com)
Sepanjang hayat, saat Rasulullah memimpin ibadah, tidak pernah sekalipun menyusahkan para sahabat yang menjadi makmumnya. Hal ini karena kegiatan yang dilakukan Rasulullah selalu sedang-sedang saja, tidak terlalu cepat, juga tidak terlampau lama. Rasulullah tidak berlebihan. 

Sahabat Abdullah bin Jabir mengakui lewat ceritanya yang terekam pada sebuah hadits sebagai berikut:

كُنْتُ أصَلِّي مَعَ النَّبيِّ - صلى الله عليه وسلم - الصَّلَوَاتِ، فَكَانتْ صَلاتُهُ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا

Artinya: “Saya shalat bersama Nabi ﷺ berkali-kali. Shalat beliau sedang, khutbahnya juga sedang (tidak terlalu cepat dan tidak terlampau lama).” (HR Muslim: 866) 

Satu ketika Salman al-Farisi berkunjung ke rumah Abu Darda’. Kita tahu, antara mereka berdua sudah diikatkan persaudaraan oleh Rasulullah ﷺ. Rasulullah banyak mengikatkan persaudaraan sahabat, antara kaum muhajirin sebagai pendatang dengan kaum anshar sebagai pribumi. Sahabat Salman yang terkenal dengan ide briliannya membuat parit pada perang Khandaq ini merupakan asli warga Persia. Oleh Baginda Nabi Muhammad ﷺ, ia diikatkan persaudaraan dengan warga lokal (anshar) bernama Abu Darda’.

Saat Salman masuk ke rumah Abu Darda’ pada suatu ketika ia melihat ibunda Dar’da sedang memakai pakaian lusuh yang kurang layak pakai. Salman mencoba menelisik, apa gerangan yang menjadikan ibunda Darda’ memakai pakaian yang sedemikian buruk.

“Bu, anda ini kenapa?” tanya Salman pada sang Ibu. 

“Itu lho, saudaramu Abu Darda’ sudah tidak butuh dunia lagi.” 

Habis mengatakan begitu, Abu Darda’ datang, ia mempersiapkan jamuan makan untuk tamu yang sekaligus saudaranya tersebut. Sembari mempersilahkan, Abu Darda’ mengatakan, “Ayo, silakan dimakan. Saya sedang puasa ini.”

Salman menjawab, “Tidak, saya tidak mau makan kalau kamu tidak juga makan.” 

Akhirnya mereka makan bersama-sama. 

Usai makan, Salman menginap di rumah Abu Darda’. Di dalam keheningan malam, di saat seluruh anggota keluarga tidur, Abu Darda’ yang sedang tidur bersama Salman meninggalkan tempat. Ia melaksanakan shalat malam. Namun tiba-tiba Salman menyergahnya. “Ayo, tidur lagi!” suruh Salman. 

Setelah Abu Darda’ tidur, ia bangun lagi, dan disuruh tidur lagi oleh Salman untuk yang kedua kalinya. Hingga mereka berdua memasuki waktu subuh. Saat subuh benar-benar menyapa, Salman baru kemudian mengajak Abu Darda’ bangun. “Nah, kalau sekarang, ayo bangun!” Mereka berdua melakukan shalat secara berjamaah. 

Usai shalat, Salman menasihati saudaranya tersebut, “Tuhanmu mempunyai hak yang harus kamu tunaikan. Tubuhmu juga mempunyai hak yang harus kamu berikan. Begitu pula keluargamu juga mempunyai hak yang wajib kamu penuhi. Berilah haknya masing-masing sesuai porsinya.”

Setelah mendapat nasihat, Abu Darda’ sowan kepada Baginda Rasul ﷺ. Ia menuturkan kisah yang baru saja terjadi. Lalu Rasul menjawab, “Benar apa yang dikatakan Salman.” (HR Bukhari: 1968)

Hampir senada dengan cerita di atas, hadits riwayat dari Anas. Satu ketika Nabi Muhammad ﷺ masuk ke dalam masjid. Di sana, Rasul melihat ada tali yang membentang antara dua tiang masjid. 

“Tali apa ini?” tanya Rasul 

“Oh, itu tali milik ibu Zaenab, Ya Rasul. Saat letih, beliau berpegangan pada seutas tali itu,” jawab sahabat. 

Rasul kemudian berpesan, “Lepaskan tali itu. Shalatlah kalian saat bugar. Ketika capek, tidurlah.” (Muttafaq ‘Alaih)

Hadits di atas memberikan pelajaran kepada kita, ibadah-ibadah sunnah itu sangat bagus nilai pahalanya. Namun kita perlu adil dalam membagi waktu. Jangan sampai kita beribadah, namun ada hak lain yang perlu kita penuhi namun belum terbayarkan. Apalagi, makna ibadah sejatinya amat luas. Ia tak sebatas pada ritual-ritual, tapi juga mencakup berbagai aktivitas lain seperti bekerja, memasak, merawat keluarga, dan lainnya yang dilandasi niat ibadah. Wallâhu a’lam. (Ahmad Mundzir)