IMG-LOGO
Thaharah

Cara Keluarkan Setan saat Bangun Tidur

Jumat 14 Desember 2018 7:45 WIB
Share:
Cara Keluarkan Setan saat Bangun Tidur
(Foto: @forbes)
Di antara sunnah yang perlu dilaksanakan sebelum mulai wudhu adalah membaca basmalah, cuci tangan, berkumur, dan istinsyâq.

Istinsyâq adalah menghisap air ke dalam hidung hingga sampai atas (insang/khaisyûm). Untuk mengantarkan air supaya bisa sampai masuk ke hidung, kita dapat menggunakan bantuan tangan sebagai media gayung atau bisa juga tanpa menggunakan bantuan tangan.

Namun sunnahnya adalah menggunakan tangan sebagai alat bantu. Sebab, seumpama hidung turun ke kulah untuk menyedot air, nanti akan mirip dengan hewan seperti kerbau, sapi dan sejenisnya. Ini perlu dihindari.

Sunnahnya lagi, Selain itu, gunakan tangan kiri saat mengambil air. Jika mampu, saat mengambil air dari pancuran atau kulah, ambillah dengan sekali ambil air. Sebagian masuk mulut. Sebagian lagi masuk hidung. Hal itu diulangi sebanyak tiga kali.

Hukum hirup air ke dalam hidung sebagaimana perintah Rasulullah dalam sebuah hadits, menurut madzhab Syafi’I, bukan menjadi wajib, tetapi sunnah. Sebab tidak ada petunjuk jika ada orang meninggalkan menghirup air ke hidung, lalu disuruh mengulanginya lagi. Ini menunjukkan bahwa menghisap air ke hidung itu tidak wajib.

Meski begitu, sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Bathal, ada sebagian pendapat ulama yang menyatakan istinsyâq hukumnya wajib.

Setelah orang menghirup air ke pangkal hidung, sebagai penyempuna, kemudian orang menyemprotkan air dari bagian depan kepala tersebut untuk kemudian dikeluarkan dengan dorongan semprotan yang cukup kuat.

Salah satu hikmahnya selain membuat hidung menjadi bersih adalah berfungsi untuk mengeluarkan setan bagi orang yang baru bangun dari tidur.

Sabda Rasulullah bersabda sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah RA:

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيَاشِيمِهِ 

Artinya “Jika salah satu dari kalian bangun dari tidurnya, maka keluarkan air dari pangkal hidung sebanyak tiga kali. Sungguh setan itu menginap pada masing-masing pangkal hidung seseorang,” (Muttafaq alaih).

Hadits di atas, setidaknya ulama terbagi pada dua pendapat. 

Pertama, orang yang pangkal hidungnya ada setan saat tidur sebagaimana yang diisyaratkan pada hadits di atas adalah orang yang sebelum tidurnya tidak membaca-bacaan doa terlebih dahulu.

Kalau baca doa, tidak akan ada setan numpang menginap di dalam tubuh. Maka bagi orang yang hidungnya dibuat menginap setan, supaya setan tersebut keluar, dengan cara mengisap air ke hidung, lalu menyemprotkannya kembali. Setan akan ikut keluar.

Ada ulama yang memandang lain. Orang yang sebelum tidur membaca doa semacam ayat kursi misalnya, hatinya tidak akan sampai kemasukan setan. Tapi setan hanya akan berhenti di pangkal hidung saat ia mencoba masuk ke dalam tubuh. Wallâhu a’lam. (Ustadz Ahmad Mundzir)
Tags:
Share:
Kamis 6 Desember 2018 21:0 WIB
Hukum Memegang Mushaf Al-Qur'an oleh Anak-anak
Hukum Memegang Mushaf Al-Qur'an oleh Anak-anak
(Foto: @thenational.ae)
Al-Quran merupakan rujukan utama umat Islam. Setiap anak perlu dikenalkan dengan Al-Quran sejak usia dini. Mulai belajar huruf-huruf hijaiyyah, harakat, menyambung dan seterusnya hingga tingkatan mereka bisa membaca Al-Quran atau menghafalkannya dengan fasih.

Mengajarkan Al-Quran kepada anak merupakan kewajiban orang tua masing-masing. Apabila orang tua tidak mampu, mereka bisa meminta tolong kepada guru-guru yang kredibel dan kompeten di bidangnya. Meski demikian, kewajiban dasar mengajar tetap tetap dipikul orang tua masing-masing. Guru hanya sebagai pembantu.

Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas:

مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَلْيُحْسِنِ اسْمَهُ وَأَدَبَهُ، فَإِذَا بَلَغَ فَلْيُزَوِّجْهُ فَإِنْ بَلَغَ وَلَمْ يُزَوِّجْهُ فَأَصَابَ إِثْمًا، فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى أَبِيهِ

Artinya, “Barang siapa yang dikaruniai anak, maka berilah nama yang bagus. Perbaiki pula sikapnya. Jika ia sudah mencapai umur baligh (dewasa), nikahkan. Apabila sudah baligh tidak segera dinikahkan lalu mereka terjerumus melakukan dosa, maka dosa ditanggung ayahnya,” (Lihat Al-Baihaqi, Syu’abul Îmân, [Riyadh, Maktabah Ar-Rusyd: 2003], juz XI, halaman 138).

Mengajarkan Al-Quran kepada anak yang masih kecil namun sudah cukup tahu (tamyiz) sekira anak sudah mulai sekitar usia 4 tahun atau usia belajar tidak bisa lepas dengan sentuhan mereka pada kitab suci Al-Quran. Bagaimana ulama memandang hukum anak-anak yang menyentuh Al-Quran?

Bagi anak-anak yang sudah mulai pada fase usia belajar (tamyiz), memegang Al-Quran dengan tanpa mempunyai wudhu menurut pendapat pertama yaitu yang lebih shahih, hukumnya diperbolehkan asalkan mereka menyentuh atau membawa Al-Quran tersebut dengan tujuan untuk belajar, bukan semata-mata mendaras Al-Quran sebagai sarana ibadah sebagaimana orang dewasa yang sedang mengaji pada umumnya. 

Kebolehan menyentuh dengan hadats tersebut hanya berlaku bagi anak-anak yang cukup umur. Hal ini disebabkan susahnya menjaga mereka untuk melanggengkan wudlu secara total, sedangkan mengajari mereka pada naskah-naskah suci Al-Quran sangat penting untuk dipersiapkan. Memaksa mereka untuk selalu suci dari hadats sangat memberatkan. 

Adapun anak yang masih terlalu kecil, belum bisa mengenali huruf, belum fase belajar Al-Quran, sekira umur satu tahun misalnya, mereka baru hanya murni menyentuh saja, mereka belum bisa belajar, hukumnya tidak boleh.

Begitu pula bagi anak-anak yang sudah baligh. Walaupun baru kelas 4 SD, umurnya 10 tahun, namun sudah baligh misalnya, dia sudah tidak boleh lagi menyentuh Al-Quran dengan tanpa wudlu. Jika kedapatan demikian, bagi wali, atau orang dewasa yang melihat harus melarang.

Jadi yang diperbolehkan menyentuh adalah anak tamyiz namun belum baligh. Sedangkan anak yang masih terlalu dini usianya atau bahkan sudah baligh tetap dilarang menyentuh dengan tanpa wudhu meskipun dengan tujuan belajar.

Bagi guru yang mengajar Al-Quran berlaku hukum sebagaimana orang dewasa pada umumnya yaitu harus suci dari hadas kecil dan besar.

Pendapat kedua menyatakan haram menyentuh secara mutlak.

الْأَصَحُّ (أَنَّ الصَّبِيَّ الْمُحْدِثَ لَا يُمْنَعُ) مِنْ مَسِّ الْمُصْحَفِ وَاللَّوْحِ وَحَمْلِهِمَا لِحَاجَةِ تَعَلُّمِهِ مِنْهُمَا وَمَشَقَّةِ اسْتِمْرَارِهِ عَلَى الطَّهَارَةِ. وَالثَّانِي عَلَى الْوَلِيِّ وَالْمُعَلِّمِ مَنْعُهُ مِنْ ذَلِكَ. قوله: (أَنَّ الصَّبِيَّ) أَيْ الْمُمَيِّزَ وَإِلَّا فَيَحْرُمُ تَمْكِينُهُ مِنْهُ لِفَقْدِ تَعَلُّمِهِ وَخَرَجَ بِالصَّبِيِّ الْبَالِغُ وَإِنْ شَقَّ عَلَيْهِ دَوَامُ الطَّهَارَةِ كَمُؤَدِّبِ الْأَطْفَالِ، وَمَا نُقِلَ عَنْ الشَّيْخِ ابْنِ حَجَرٍ مِنْ جَوَازِ الْمَسِّ وَالْحَمْلِ لَهُ مَعَ التَّيَمُّمِ غَيْرُ مُعْتَمَدٍ عِنْدَ شَيْخِنَا

Artinya, “Pendapat yang lebih shahîh, sesungguhnya anak kecil yang mempunyai hadats tidak dilarang menyentuh mushaf dan kayu (hiasan dinding yang ada tulisan Al-Qur’an) serta membawanya karena merupakan kebutuhan dia untuk mempelajarinya dan sulitnya menjaga mereka untuk selalu dalam keadaan suci. Pendapat kedua, wali atau pendidik harus melarang jika melihat anak menyentuh Al-Quran atau membawanya tanpa keadaan suci,” (Lihat Qulyubi dan Umairah, Hâsyiyah Qulyubi wa Umairah, [Beirut, Dârul Fikr: 1995), juz I, halaman 41-42).

Hal senada juga dikatakan Imam Nawawi Al-Jawi dalam Kitab Nihayatuz Zain dan Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyati dalam tulisannya I’anatuth Thâlibîn.

Masih dalam kitab yang sama dijelaskan, yang dimaksud dengan anak kecil adalah anak kecil yang sudah tamyîz (walau ia sudah hafal Al-Qur’an). Jika anak tersebut belum tamyiz, hukum membiarkan mereka menyentuh mushaf adalah haram sebab mereka bisa belajar sehingga belum membutuhkan menyentuh mushaf tersebut.

Orang dewasa yang menjadi pendidik bidang kajian Al-Quran, meski ia mengajar seharian penuh dengan tanpa jeda, ia tetap harus konsisten menjaga dirinya dari hadats. Apabila batal, harus wudhu lagi atau penghilang hadats sejenisnya. Wallâhu a’lam. (Ahmad Mundzir)
Selasa 27 November 2018 8:30 WIB
Hukum Nifas Perempuan setelah Operasi Sesar
Hukum Nifas Perempuan setelah Operasi Sesar
(Foto: @pinterest)
Perkembangan teknologi kedokteran ikut memudahkan teknik persalinan bagi ibu yang hendak melahirkan, salah satunya dengan operasi sesar. Operasi sesar adalah proses persalinan melalui pembedahan dengan melakukan irisan di perut dan rahim perempuan untuk mengeluarkan bayi.

Setelah melahirkan, ibu biasanya mengalami nifas, yakni darah yang keluar dari rahim usai melahirkan. Nifas terjadi karena plasenta keluar dan organ dalam rahim mengalami masa pemulihan untuk bisa kembali ke bentuk semula. Rahim bersifat elastis, saat mengandung, rahim bisa menampung bayi seberat 3 hingga 4 kg. 

Setelah melahirkan, rahim akan mengecil menjadi sekitar dua kepalan tangan laki-laki dewasa. Sekitar dua minggu kemudian, rahim akan  mengecil hingga satu kepalan tangan, kemudian menjadi seukuran telur ayam hingga akhirnya rata dan tak dapat diraba lagi melalui perut. Bila tidak terjadi masalah, proses pengecilan rahim terjadi selama 40 hari.

Lalu apakah perempuan yang melakukan operasi sesar juga menjalani masa nifas?

Operasi sesar berfungsi sebagai pengganti proses persalinan normal yang melalui farji. Meskipun prosesnya berbeda, namun tujuannya tetap sama, yakni untuk mengeluarkan bayi yang ada di kandungan. Oleh karena itu, nifas bagi ibu yang bersalin sesar tetap berlaku sebagaimana melahirkan normal. Hal ini berdasarkan kaidah fiqih

حُكْمُ البَدَلِ حُكْمُ المُبْدَلْ مِنْهُ

Artinya, “Hukum pengganti sama dengan hukum yang digantikan.”

Meskipun sebagian darah sudah keluar saat proses sesar, ibu yang melakukan persalinan sesar tetap akan mengalami nifas. Namun proses kesembuhan organ-organ bagian dalamnya akan sedikit berbeda dengan ibu yang bersalin normal. Pasalnya, saat menjalani sesar lapisan-lapisan perut dibuka, mulai dari otot perut, dinding perut, hingga dinding rahim.

Secara umum tidak ada perbedaan masa nifas antara ibu yang bersalin normal dan sesar. Ibu yang bersalin sesar bahkan memiliki kemungkinan menjalani masa nifas yang lebih sebentar karena sebagian darah sudah dikeluarkan saat pembedahan rahim. 

Terdapat beberapa pendapat mengenai batas maksimal nifas. Adapun Imam Atha, As-Sya’bi, dan Aisyah berpendapat bahwa batas maksimal nifas 60 hari. Namun, mayoritas ulama mengatakan 40 hari. Ibnu Rusyd dalam Kitab Bidayatul Mujtahid menyatakan:

وأما أكثره فقال مالك مرة: هو ستون يوما، ثم رجع عن ذلك، فقال: يسأل عنذلك النساء، وأصحابه ثابتون على القول الأول، وبه قال الشافعي. وأكثر أهل العلم من الصحابة على أن أكثره أربعون يوما، وبه قال أبو حنيفة.

Artinya, “Batas maksimal nifas, Imam Malik suatu kali pernah mengatakan 60 hari, namun ia meralat perkataannya dan mengatakan “Tentang hal itu ditanyakan kembali pada para wanita.” Mayoritas pengikutnya mengikuti perkataan yang pertama, begitu pula yang dikatakan Imam As-Syafi‘i. Mayoritas ulama dari kalangan sahabat berpendapat maksimalnya 40 hari, begitu pula yang dikatakan Imam Abu Hanifah,” (Lihat Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, [Kairo, Darussalam: 2018 M), halaman 69).

Ulama yang menyatakan masa nifas 40 hari mendasari pendapatnya pada teks-teks hadits, salah satunya hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، قَالَتْ: كَانَتِ النُّفَسَاءُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَجْلِسُ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، وَكُنَّا نَطْلِي وُجُوهَنَا بِالْوَرْسِ مِنَ الْكَلَفِ

Artinya, “Dari Ummu Salamah ia berkata, ‘Pada masa Rasulullah SAW perempuan-perempuan yang nifas duduk berdiam diri (menunggu masa nifas) selama empat puluh hari, dan kami membersihkan wajah kami dari kotoran dengan wars (semacam tumbuhan yang wangi),’” (HR Ibnu Majah).

Ibnul Jarud dalam kitabnya, Al-Muntaqa minas Sunnanil Musnadah meriwayatkan sebagai berikut:

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ، أَنَّهُ كَانَ لَا يَقْرَبُ النِّسَاءَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا يَعْنِي فِي النِّفَاسِ

Artinya, “Dari Utsman bin Abil ‘Ash, ‘Sesungguhnya ia tidak mendekati (menjimak) perempuan (istrinya) selama 40 hari ketika masa nifas.’”

Dalam ilmu kesehatan, darah yang keluar dari rahim terbagi atas beberapa fase, yaitu:

Fase Lochia rubra (Cruenta), yakni tahap keluarnya darah berwarna merah segar, terjadi selama dua hari pascapersalinan.

Fase lochia sanguinolenta, yakni tahap keluarnya darah berwarna kecokelatan dan kekuningan, biasanya terjadi pada hari ketiga sampai ketujuh pascapersalinan.

Fase lochia serosa, tahap keluarnya darah berwarna kuning dan cairan ini tidak berdarah lagi pada hari ketujuh sampai keempat belas pascapersalinan.

Fase lochi alba, cairan putih kekuningan yang keluar setelah dua minggu.

Lochia purulenta, terjadi karena infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk, (Lihat Suherni dkk, Perawatan Masa Nifas [Yogyakarta, Fitramaya: 2009 M), halaman 78-79).

Darah yang keluar pada empat fase pertama merupakan darah nifas, normalnya ini terjadi selama 6 hingga 8 minggu (42 hingga 56 hari). Jika darah merah dan pekat keluar lagi setelah fase lochi alba selesai, maka darah itu termasuk darah infeksi atau disebut lochia purulenta. Faselochia puruleta inilah yang merupakan masa istihadah.

Meskipun kebanyakan perempuan mengalami nifas selama 40 hari, bukan berarti ini menjadi satu-satunya rujukan, karena siklus nifas semua perempuan tidak selalu sama, kadang kala ada yang mengalami lebih sebentar, ada pula yang mengalami lebih dari 40 hari. Bahkan Imam Malik menyatakan bahwa perihal itu ditanyakan lagi kepada perempuan. Namun apabila selama delapan minggu sang ibu masih mengeluarkan darah, hendaklah ia mengonsultasikannya kepada dokter, karena kemungkinan ia mengalami infeksi. Wallahu a’lam. (Fera Rahmatun Nazilah)
Sabtu 24 November 2018 18:30 WIB
Apakah Darah Pasca-Kuret Perempuan Hamil Termasuk Nifas?
Apakah Darah Pasca-Kuret Perempuan Hamil Termasuk Nifas?
Ilustrasi (WordPress.com)
Angka kematian ibu dan anak adalah salah satu fokus pelayanan kesehatan negeri ini. Dalam beberapa tahun terakhir, angka ini mengalami penurunan, sebagaimana dilansir dalam data laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dari Kementerian Kesehatan RI.

Kehamilan penting diperhatikan terkait keselamatan nyawa ibu dan juga bayi yang dikandung. Salah satu insiden yang bisa mengancam nyawa ibu adalah perdarahan saat kehamilan. Hal tersebut bisa membahayakan terlebih jika perdarahan tersebut masif, karena bisa memicu gangguan sistemik pada tubuh yang membahayakan ibu dan janin.

Perdarahan ini bisa disebabkan oleh perkembangan janin yang abnormal dalam rahim, atau plasenta (ari-ari) yang tidak menempel dengan baik dengan dinding rahim. Salah satu tindakan yang dilakukan untuk mengeluarkan sisa jaringan dari rahim adalah kuretase, agar perdarahan bisa dihentikan dan mencegah risiko lebih lanjut. 

Tindakan yang umum disebut kuret ini, diindikasikan semisal pada jaringan yang tersisa akibat abortus (keluarnya jaringan embrio/janin secara spontan sebelum mampu bertahan hidup) atau hamil anggur (mola hidatidosa). Keluhan yang dialami pasien biasanya adalah perdarahan yang banyak dari jalan lahir.

Setelah dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari organ kandungan, perdarahan ini mesti segera ditangani, sebelum memicu gangguan sistemik yang lebih lanjut pada tubuh (syok). Begitu pula sisa jaringan dalam rahim yang tak segera dievakuasi, juga bisa memicu infeksi rahim. Keduanya bisa meningkatkan risiko kematian ibu.

Secara teknis kuretase dibagi menjadi dua metode yaitu kuretase hisap dan kuretase tajam. Metode ini disesuaikan dengan kondisi ibu, jaringan yang akan diambil, dan ketersediaan fasilitas kesehatan. Biasanya, setelah dilakukan kuret, ada darah yang masih sedikit keluar akibat tindakan medis tersebut. Bagaimana status darah perempuan yang usai dikuret itu?

Kuret adalah tindakan mengeluarkan jaringan dari dalam rahim baik dengan alat hisap atau sejenis alat “pengerok” jaringan di dinding rahim, setelah dilakukan pembiusan dan pelebaran serviks (leher rahim) agar memudahkan masuknya alat kuret. 

Dalam beberapa literatur, disebutkan kuret mesti dilakukan pada kehamilan muda yang kurang dari trimester pertama kehamilan. Karena usianya masih pada tahap awal kehamilan jaringan yang dikuret ini biasanya berupa jaringan embrionik yang belum mewujud manusia. Mudahnya, mirip gumpalan daging atau darah.
Apakah tindakan kuret yang “hasilnya” belum mewujud manusia ini dihukumi sebagaimana wiladah, sehingga darah pasca-kuret dapat dihukumi nifas? Berikut keterangan fiqih yang bisa Anda rujuk:

يَثْبُتُ لِلْعَلَقَةِ مِنْ أَحْكَامِ الْوِلَادَةِ وُجُوبُ الْغُسْلِ وَفِطْرُ الصَّائِمَةِ بِهَا وَتَسْمِيَةُ الدَّمِ عَقِبَهَا نِفَاسًا وَيَثْبُتُ لِلْمُضْغَةِ ذَلِكَ

“‘Alaqah (gumpalan darah yang keluar dari jalan lahir) ditetapkan memiliki hukum sebagaimana melahirkan, sehingga diwajibkan mandi, boleh tidak berpuasa, dan darah yang keluar setelah itu dianggap sebagai nifas. Dan demikian juga mudigah (gumpalan jaringan yang padat).” (Syekh Sulaiman al-Ujaili, Hasyiyatul Jumal, Beirut-Darul Fikr, juz 1, hal. 234)

Dengan demikian, darah yang keluar pascatindakan kuret termasuk darah nifas juga. Dalam kitab-kitab fiqih darah nifas paling sedikitnya adalah sebercak saja, dan lumrahnya sekitar 30-40 hari. Darah yang keluar pasca-kuret biasanya terjadi hanya beberapa jam atau sekian hari saja. Karena itu, jika darah sudah berhenti, maka Anda bisa segera bersuci, dan kembali melakukan ibadah sebagaimana biasa.

Meski begitu, kapan seseorang pasca-kuret diperkenankan untuk hamil lagi? Mengenai hal ini mesti dikonsultasikan ke tenaga medis terkait, mengingat ada ketentuan dan waktu penyembuhan sebelum perempuan yang dikuret diperkenankan hamil lagi. Tidak semata darah berhenti lantas segera merencanakan kehamilan kembali.

Ulama mungkin berbeda pandangan tentang darah pasca-kuret, mengingat pada masa itu teknologi deteksi kehamilan belum seperti sekarang. Saat ini, dengan alat USG misalnya, adanya pertumbuhan jaringan di rahim bisa segera dideteksi, baik yang normal maupun abnormal. Semoga kita senantiasa sehat. Wallahu a’lam.

(Muhammad Iqbal Syauqi)