IMG-LOGO
Trending Now:
Jumat

Sejarah Penamaan Hari Jumat, Muasal Terkikisnya Keangkuhan Manusia

Jumat 14 Desember 2018 15:0 WIB
Sejarah Penamaan Hari Jumat, Muasal Terkikisnya Keangkuhan Manusia
Nama-nama hari pada masa Arab Jahiliyah adalah; Syiyar (Sabtu), Awwal (Ahad), Ahwan (Senin), Jubar (Selasa), Dubar (Rabu), Mu’nis (Kamis), dan ‘Arubah (Jumat). Hari-hari ini merupakan tahap kedua, yang sebelumnya mereka membuat nama-nama hari, pertiga hari dalam satu bulan, misalnya; tanggal 1-3 disebut dengan Gharar, setelahnya dinamakan; Samar (4-6), Zahar (7-9), Darar (10-12), Qomar (13-15), Dara' (16-18), Dholam (19-21), Tsalatsu Anadis (22-24), Tsalatsu Dawari (25-27), dan Tsalatsu Muhaq (28-30).

Setelah Islam datang, nama-nama di atas berubah, di antaranya adalah nama hari 'Arubah, menjadi hari Jumat. Penamaan hari Arubah, sebelum menjadi hari Jumat, menurut Ibnu Abdul Bar, karena hari itu adalah hari; berbangga-banggaan, kepongahan, bergagah-gagahan, berhias, dan kasih sayang.

أن يوم العروبة آت من جذرين، الأول عرب، وهو الانكشاف والظهور والثاني بمعنى التزين والتودد

Dan dalam beberapa kajian, hari itu ('Arubah), adalah hari di mana orang Arab menampilkan; hasil karyanya (puisi), hasil perdagangannya, temuan sihirnya, dan lainnya. Yang hari sebelumnya, mereka berlomba-lomba mencari inspirasi, berdagang dengan strategi, dan berlatih menguapkan sihirnya.

Ketika Islam datang, dan turun Ayat Allah: "Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan shalat Jumat (Jumu'ah) maka bersegeralah mengingat Allah” (Q.S Al-Jumu’ah: 9). Sehingga, mereka yang menjadikan hari 'Arubah sebagai ajang pamer sihir, puisi, dan harta, menjadi hari yang penuh dengan keimanan, hari mendekatkan diri kepada Allah, dan menjadi hari persatuan umat, serta ajang silaturahim akbar.
Hari Jumat, disebut "Sayyidul Ayyam", tuannya dari hari-hari, karena di dalamnya dipenuhi dengan keberkahan, keluarbiasaan, dengan sejarah panjangnya.

Kata "Jum'at" dalam Kamus Al-Lughah Al-Arabiyah Al-Ma'ashir dapat dibaca tiga; "Jumuah", "Jum'ah" dan "Jumaah".

جُمْعَة، جُمَعَةً، جُمُعَة: جمع جُمْعات وجُمَعات وجُمُعات وجُمَع : أسبوع :- قضينا جمعة كاملة في القرية

Namun, cara baca yang paling banyak digunakan adalah kata "Jumu'ah". Menurut Imam al-Farra', Dengan tiga bacaan di atas adalah merupakan sifat hari, artinya berkumpulnya manusia, seperti "Humazah" yang bermakna "mengumpulkan". Sedangkan bahasa Indonesia menyerap kata tersebut menjadi "Jum'at" , takhfif, dengan men-sukun-kan Mim-nya.

Ada banyak pendapat tentang asal menamaan kata "Jum'at". Ada yang mengatakan, disebut "Jum'at" karena sempurnanya penciptaan yang dihimpun pada hari itu, sebagaimana pendapat Imam Abu Hanifah dan Ibnu Abbas. 

Pendapat lain, karena pada hari itu, berkumpulnya orang-orang di Masjid besar (Jami') untuk shalat Jum'at. Ada pula yang berpendapat, Allah mempertemukan Adam dan Hawa di bumi pada hari itu.

Ada pendapat lain yang dinilai lebih shahih, sebagaimana dalam kitab Nailul Autar dan Fathul Bari, yang diriwayatkan oleh Hadis Riwayat Ahmad, jilid 2 (113) adalah Allah Ta’ala menghimpun penciptaan Nabi Adam AS pada hari itu. Pendapat ini berdasarkan riwayat dari Nabi saw; ketika beliau ditanya, “Mengapa dinamakan hari Jumat?” Beliau bersabda, “Karena pada hari itu, tanah liat ayah kalian, Adam, dicetak. Pada hari itu, kiamat dan kebangkitan terjadi. Pada hari itu pula, kehancuran melanda. Di akhir tiga waktu pada hari itu, ada satu waktu, barang siapa yang berdoa kepada Allah pada waktu itu pasti doanya dikabulkan.”

Menurut salah satu pendapat, bahwa orang pertama kali yang memberi nama hari Jumat adalah Ka’ab bin Lu’ai. Tatkala itu, orang-orang Quraisy berkumpul mendatanginya pada hari itu, kemudian ia berkhutbah dan menyampaikan wasiat taqwa,memberikan pelajaran kepada mereka.

وكعب بن لؤي الجَمْعة يوم اجتماعهم للصلاة جماعة. ومن هنا جاء تقديسهم لهذا اليوم. أول من جمع يوم العروبة. وكانت قريش تجتمع إليه في هذا اليوم، فيخطبهم ويذكرهم بمبعث النبي. وقيل: بل سمي يوم الجمعة لأن قريشاً كانت تجتمع فيه إلى قصيّ في دار الندوة، ولذلك كانوا يفتحون فيه الجيم بمعنى التآلف والاجتماع. وفي الإسلام صار يوم.

Hari Jumat tidak sekadar nama, ia adalah waktu penyatuan umat, penguatan visi dan misi (buktinya, ketika khatib sudah membacakan khutbahnya, jamaah dilarang berbicara), serta penguatan jalinan silaturahim antar-hamba Allah dalam satu keimanan dan peningkatan ketaqwaan sebagaimana pesan dalam khutbah Jumat, dan tidak hanya memikirkan dunia yang fana belaka (wadzarul bai').

Walau hari Jumat mengganti hari Arubah, numun karena kadar keimanan dan ketaqwaan itu berbeda, maka keangkuhan tak akan pernah terkikis habis. Hasad, dengki, pamer, sombong akan selalu hadir, sepanjang sejarah manusia masih tercatat di muka bumi. 

Allahu'alam bissawab.


Ustadz Halimi Zuhdy, Dosen Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang; Khadim Pondok Pesantren Darun Nun Malang


Referensi: 
Ruhul al-Ma'ani, Mu'jam Al-Lughah Al-Arabiyah Al-Ma'shirah, Raghib aS-Sirjani, Ta’arraf ‘ala Asma al-Ayyam wa asy-Syuhur fi Jahiliyah, Shubhul A'Sya, al-Ayyam wa Layali.

Tags:
Share:
Jumat 14 Desember 2018 14:0 WIB
Keutamaan Wafat di Hari Jumat
Keutamaan Wafat di Hari Jumat
Ilustrasi (NU Online)
Kematian tidak dapat diprediksi. Ia adalah salah satu misteri yang dirahasiakan oleh Allah. Kematian pasti akan terjadi, namun siapa pun tidak dapat mengetahui kapan dan di mana ia menghampiri. Nasib seseorang di akhir hayatnya juga merupakan rahasia Tuhan, kita tidak dapat memastikannya. Pun demikian setelah wafat, ke mana nasib manusia kelak, surga atau neraka.

Ada beberapa tanda seorang Muslim meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah, di antaranya wafat saat hari atau malam Jumat. Keutamaan mati di hari Jumat ditegaskan oleh beberapa hadits Nabi, di antaranya hadits riwayat Imam al-Tirmidzi:

ما من مسلم يموت يوم الجمعة أو ليلة الجمعة إلا وقاه الله تعالى فتنة القبر

“Tidaklah seorang Muslim mati di hari atau malam Jumat, kecuali Allah menjaganya dari fitnah kubur.” (HR. al-Tirmidzi).

Hadits tersebut diriwayatkan al-Tirmidzi dari Rabi’ah bin Yusuf dari Ibnu Amr bin al-Ash. Menurut al-Tirmidzi, hadits ini tergolong gharib, tidak bersambung sanadnya, tidak pernah diketahui Rabi’ah mendengar dari Ibnu Amr. Namun al-Thabrani menyatakan hadits tersebut muttashil (tersambung sanadnya), al-Thabrani meriwayatkannya dari Rabi’ah bin ‘Iyadl dari ‘Uqbah dari Ibnu Amr bin Ash, demikian pula diriwayatkan oleh Abu Ya’la, al-Hakim al-Tirmidzi dengan status muttashil, Abu Nu’aim juga meriwayatkannya dari Jabir dengan status Muttashil. Meski bersambung sanadnya, menurut al-Hafizh al-Mundziri, hadits tersebut tergolong dla’if (Syekh Abdurrauf al-Manawi, Faidl al-Qadir, juz 5, hal. 637).

Ada beberapa riwayat senada mengenai keutamaan wafat di hari Jumat, misalnya riwayat Humaid dari Iyas bin Bukair yang menyatakan “Barangsiapa mati di hari Jumat, ia dicatat mendapat pahala syahid dan aman dari siksa kubut.” Namun, menurut Syekh Muhammad Anwar Syah al-Kasymiri, hadits-hadits tersebut tidak sampai kepada derajat hadits Shahih. Masih menurut al-Kasymiri, andai ada riawayat shahih, maka yang mendapat keutamaan adalah orang yang meninggal di hari Jumat, bukan orang yang meninggal sebelum Jumat, kemudai baru dimakamkan di hari Jumat. Al-Kasymiri menegaskan: 

ما صح الحديث في فضل موت يوم الجمعة ، ولو صح بالفرض لكان الفضل من عدم السؤال لمن مات يوم الجمعة لا من مات قبل وأخر دفنه إلى يوم الجمعة

“Tidak mencapai derajat shahih, hadits mengenai keutamaan mati di hari Jumat, bila diandaikan keshahihannya, maka keutamaan tidak ditanya malaikat diarahkan kepada orang mati di hari Jumat, bukan orang yang meninggal di hari sebelumnya dan diakhirkan pemakamannya sampai hari Jumat.” (Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azzham Syah al-Kasymiri, al-‘Arf al-Syadzi, juz 2, hal. 452).

Meski tergolong hadits dla’if, namun tetap bisa dipakai, karena persoalan ini berkaitan dengan keutamaan amaliyyah (fadlail al-a’mal). Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:

وقد تقرر أن الحديث الضعيف والمرسل والمنقطع والمعضل والموقوف يعمل بها في فضائل الأعمال إجماعا

“Dan merupakan ketetapan bahwa hadits dla’if, mursal, munqathi’, mu’dlal dan mauquf dapat dipakai untuk keutamaan amal menurut kesepakatan ulama’.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra, Beirut, Dar al-Fikr, 1983 M, juz 2, hal. 53).

Berkaitan dengan penjelasan hadits keutamaan wafat di hari atau malam Jumat, Syekh Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfauri mengatakan:

قوله ( ما من مسلم يموت يوم الجمعة أو ليلة الجمعة ) الظاهر أن أو للتنويع لا للشك ( إلا وقاه الله ) أي حفظه ( فتنة القبر ) أي عذابه وسؤاله وهو يحتمل الاطلاق والتقييد والأول هو الأولى بالنسبة إلى فضل المولى وهذا يدل على أن شرف الزمان له تأثير عظيم كما أن فضل المكان له أثر جسيم

“Sabda Nabi, tidaklah seorang Muslim yang mati di hari atau malam Jumat, pendapat yang jelas bahwa kata lafazh “au” berfaidah membagi-bagi, bukan berfaidah keraguan. Sabda Nabi, kecuali Allah menjaganya dari fitnah kubur, maksudnya ketika saat menyiksa dan menanyakan di alam kubur, ini kemungkinan dimutlakan dan dibatasi (dengan waktu tertentu), dan kemungkinan pertama lebih utama bila dikaitkan dengan anugerah Allah. Hadits ini menunjukan bahwa kemuliaan waktu memiliki pengaruh yang besar sebagaimana keutamaan tempat juga memiliki dampak yang besar.” (Syekh Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfauri, Tuhfah al-Ahwadzi, juz 4, hal. 159).

Syekh Abdur Rauf al-Manawi memberi pandangan mengapa wafat di hari atau malam Jumat mendapat keutamaan dijaga dari fitnah kubur dalam keterangannya dalam kitab Faidl al-Qadir sebagai berikut:

ـ (ما من مسلم يموت يوم الجمعة أو ليلة الجمعة إلا وقاه الله تعالى فتنة القبر) لأن من
مات يومها أو ليلتها فقد انكشف له الغطاء لأن يومها لا تسجر فيه جهنم وتغلق أبوابها ولا يعمل سلطان النار ما يعمل في سائر الأيام فإذا قبض فيه عبد كان دليلا لسعادته وحسن مآبه لأن يوم الجمعة هو اليوم الذي تقوم فيه الساعة فيميز الله بين أحبابه وأعدائه ويومهم الذي يدعوهم إلى زيارته في دار عدن وما قبض مؤمن في هذا اليوم الذي أفيض فيه من عظائم الرحمة ما لا يحصى إلا لكتبه له السعادة والسيادة فلذلك يقيه فتنة القبر

“Sabda Nabi, tidaklah seorang Muslim mati di hari atau malam Jumat, kecuali Allah menjaganya dari fitnah kubur, sebab orang yang wafat di hari atau malam Jumat dibukakan paginya tutup (kurungan), sebab pada hari Jumat api neraka Jahannam tidak dinyalakan, pintu-pintunya ditutup, keleluasaan api neraka tidak berjalan sebagaimana hari-hari yang lain. Maka, bila di hari Jumat seorang hamba dicabut ruhnya, hal tersebut menunjukan kebahagiannya dan baiknya tempat kembali baginya, sebab hari Jumat adalah hari terjadinya kiamat. Allah memisahkan di antara para kekasih dan musuh-musuhNya, demikian pula memisahkan hari-hari mereka yang dapat mengundang mereka untuk berziarah kepadaNya di hari tersebut di surga ‘And. Tidaklah seorang mukmin dicabut nyawanya di hari Jumat yang penuh dengan kebesaran rahmatNya yang tidak terhingga, kecuali Allah mencatatkan untuknya keberuntungan dan kemuliaan, maka dari itu, Allah menjaganya dari fitnah kubur.” (Syekh Abdur Rauf al-Manawi, Faidl al-Qadir, juz 5, hal. 637).

Demikian penjelasan mengenai keutamaan meninggal di hari Jumat. Secara umum, orang yang meninggal di hari Jumat merupakan tanda-tanda akan kebaikan dan kemuliaannya. Namun tidak bisa dipahami terbalik bahwa yang meninggal di selain hari Jumat, sebagai tanda keburukan sang mayat. Banyak para kekasih Allah dan hamba pilihan-Nya wafat di selain hari Jumat. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan saat ajal menjemput kita. Amin. Wallahu a’lam.

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)

Rabu 12 Desember 2018 14:0 WIB
Lebih Utama Mana, Shalat Qabliyah Jumat di Rumah atau Masjid?
Lebih Utama Mana, Shalat Qabliyah Jumat di Rumah atau Masjid?
Di antara yang disunnahkan dalam pelaksanaan Jumat adalah shalat sunnah qabliyah Jumat, yaitu shalat sunnah sebelum Jumat, yang umum di Indonesia, biasanya dilakukan sebelum khatib menyampaikan khutbah. Shalat Qabliyah Jumat hukumnya sunnah, sebagaimana qabliyah zuhur, demikian pula ba’diyyah Jumat, disunnahkan sebagaimana sunnahnya ba’diyah zuhur.

Anjuran qabliyah Jumat berdasarkan dua teori pengambilan dalil, pertama menggunakan nash hadits, kedua, menganalogikan dengan shalat zuhur. Di antara hadits yang menegaskan kesunnahan Qabliyah Jumat adalah:

ما من صلاة مفروضة إلا وبين يديها ركعتان

“Tidaklah shalat fardlu kecuali sebelumnya terdapat dua rakaat sunnah qabliyah.” (HR. Ibnu Hibban)

Hal tersebut sebagaimana diterangkan dalam kitab Asna al-Mathalib sebagai berikut:

ـ (والجمعة كالظهر) في الرواتب قبلها وبعدها من المؤكد وغيره قياسا على الظهر وللأخبار الواردة في ذلك كخبر الصحيحين أنه صلى الله عليه وسلم كان يصلي ركعتين بعد الجمعة وخبر بين كل أذانين صلاة

“Jumat seperti zuhur dalam hal kesunnahan shalat rawatib sebelum dan sesudahnya, dari shalat sunnah yang dikukuhkan dan selainnya, hal ini disamakan dengan zuhur dan karena beberapa hadits tentang hal tersebut, seperti hadits Imam Buhari dan Muslim, bahwa sesungguhnya Nabi shalat dua rakaat setelah Jumat, dan hadits Nabi, di antara dua azan dianjurkan shalat.” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 1, hal. 220)

Baca juga:
Apakah Shalat Jumat itu Zuhur yang Diringkas?
Dasar Hukum Bacaan Bilal Menjelang Khatib Naik Mimbar Khutbah

Dalam komentarnya atas referensi di atas, Syekh Ahmad bin Hamzah al-Ramli mengatakan:

ـ (قوله : وخبر بين كل أذانين صلاة) وخبر ابن حبان في صحيحه ما من صلاة مفروضة إلا وبين يديها ركعتان

“Ucapan Syekh Zakariyya, dan hadits di antara dua azan dianjurkan shalat, dan juga terdapat pula haditsnya Imam Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya, tiada shalat fardlu kecuali sebelumnya terdapat dua rakaat qabliyah.” (Syekh Ahmad bin Hamzah al-Ramli, Hasyiyah ‘ala Asna al-Mathalib, juz 1, hal. 220).

Berkaitan dengan pelaksanaan qabliyah Jumat di rumah, pada dasarnya hal tersebut dibolehkan, bahkan dianjurkan. Menurut mazhab Syafi’i, pelaksanaan shalat sunnah rawatib, hukumnya sunnah dilakukan di rumah. Berbeda dengan shalat fardlu, lebih utama dilakukan di masjid. Ketentuan ini berlaku umum untuk seluruh shalat sunnah rawatib, baik shalat sunnah di siang atau di malam hari. Sedangkan menurut pendapat Malikiyyah diperinci, shalat sunnah rawatib di siang hari sunnah dilakukan di rumah, sedangkan shalat sunnah rawatib malam hari dianjurkan di dalam masjid. Berpijak dari pendapat Malikiyyah ini, qabliyah Jumat lebih baik dilakukan di rumah, karena pelaksanaannya dilakukan di siang hari.

Keterangan ini sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Nawawi al-Damasyqi berikut ini:

حدثنا عبيد الله عن نافع عن ابن عمر قال صليت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم قبل الظهر سجدتين وبعدها سجدتين وبعد المغرب سجدتين وبعد العشاء سجدتين وبعد الجمعة سجدتين فأما المغرب والعشاء والجمعة فصليت مع النبي صلى الله عليه وسلم في بيته

“Menceritakan kepada kami Ubaidillah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, beliau berkata, aku shalat bersama Rasulullah sebelum dan setelah zuhur dengan dua kali sujud, setelah Maghrib dengan dua kali sujud, setelah Isya’ dengan dua kali sujud dan setelah Jum’at dengan dua kali sujud. Adapun maghrib, Isya’ dan Jumat, aku shalat bersama Nabi di rumahnya.”

فيه استحباب النوافل الراتبة في البيت كما يستحب فيه غيرها ولا خلاف في هذا عندنا وبه قال الجمهور وسواء عندنا وعندهم راتبة فرائض النهار والليل قال جماعة من السلف الاختيار فعلها في المسجد كلها وقال مالك والثوري الأفضل فعل نوافل النهار الراتبة في المسجد وراتبة الليل في البيت 

“Dalam hadits tersebut menyimpulkan kesunnahan shalat sunnah rawatib di rumah sebagaimana disunnahkannya selain rawatib di rumah. Dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab Syafi’i dalam masalah ini. Juga berpendapat demikian, mayoritas ulama. Menurut kalangan kami, ulama Syafi’iyyah, tidak dibedakan antara shalat rawatib siang dan malam hari. Berkata sekelompok ulama salaf, idealnya seluruh shalat rawatib dilakukan di masjid. Imam Malik dan al-Tsauri berkata, yang lebih utama adalah melakukan shalat sunnah rawatib siang di masjid dan shalat sunnah rawatib malam di rumah.”

ودليلنا هذه الأحاديث الصحيحة وفيها التصريح بأنه صلى الله عليه و سلم يصلي سنة الصبح والجمعة في بيته وهما صلاتا نهار مع قوله صلى الله عليه و سلم أفضل الصلاة صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة وهذا عام صحيح صريح لا معارض له فليس لأحد العدول عنه والله أعلم

“Dalil kami adalah beberapa hadits shahih ini, dan di dalamnya menyebutkan jelas bahwa Nabi shalat sunnah Subuh dan Jumat di rumahnya, keduanya adalah shalat di siang hari, demikian pula ada hadits Nabi, lebih utamanya shalat adalah shalatnya seseorang di rumahnya kecuali shalat fardlu. Hadits ini tergolong umum, shahih dan jelas, tidak ada yang dapat menentangnya, maka tidak boleh bagi siapapun untuk berpindah darinya.” (Syekh Abu Zakariyya Yahya Bin Syaraf al-Nawawi, Syarh al-Nawawi ‘ala Muslim, juz 6, hal. 9).

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa melakukan shalat sunnah qabliyah Jumat di rumah adalah hal yang diperbolehkan. Sedangkan mengenai sisi keutamaannya terdapat ikhtilaf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama. 

Namun bila melihat pertimbangan kemashlahatan, pendapat yang menganjurkan dilakukan di masjid adalah hal yang paling ideal untuk diterapkan. Sebab bila dilakukan di rumah, besar kemungkinan masyarakat terlambat datang menyimak khutbah, mengingat pelaksanaan khutbah umumnya dilakukan langsung setelah jamaah menyelasaikan qabliyah Jumatnya. Sebenarnya bisa saja khatib menunggu kedatangan jamaah sebelum ia maju ke mimbar, namun hal tersebut biasanya tidak efektif, justru mengakibatkan masyarakat tidak sabar dan bubar, mereka harus segera melanjutkan aktivitas dan kesibukan setelah shalat Jumat. Kaidah fiqih menegaskan, Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala Jalb al-Mashalih, mengindari kemudaratan lebih didahulukan dari pada menggapai kemaslahatan. Demikian semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.


(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)

Jumat 7 Desember 2018 8:30 WIB
Apakah Pelaksanaan Ibadah Jumat Harus Izin Pemerintah?
Apakah Pelaksanaan Ibadah Jumat Harus Izin Pemerintah?
(Foto: @reuters)
Idealnya, pelaksanaan Jumat dilakukan dalam satu tempat, satu masjid. Setiap sepekan sekali seluruh penduduk desa berkumpul bersama-sama untuk melaksanakan ibadah Jumat atau sebagian ulama menyebutnya muktamar mingguan. Yang demikian itu sesuai dengan hikmah pensyariatan Jumat, yaitu untuk mempersatukan dan mengharmoniskan umat.

Namun, tidak semua pelaksanaan Jumat di beberapa daerah berjalan dengan mulus. Nyatanya masih ditemukan beberapa kendala untuk menyatukan pelaksanaan Jumat. Misalkan daya tampung masjid yang tidak memadai, tempat yang terlalu jauh dijangkau atau karena ada konflik internal di antara masyarakat.

Dampaknya, masing-masing mendirikan Jumatan baru, sebab tidak memungkinkan dilaksanakan dalam satu tempat. Saat mendirikan jumatan tandingan, sebagian meminta izin pemerintah setempat, namun ada juga yang tidak melakukannya.

Secara hukum fiqih, berbilangnya Jumat karena faktor-faktor tersebut diperbolehkan karena ada hajat. Kami sudah mengupasnya dalam tema khusus tentang hukum melaksanakan dua Jumatan dalam satu desa. Fokus tulisan ini adalah mengenai keharusan izin pemerintah dalam pelaksanaan Jumat, apakah hal tersebut diwajibkan?

Dalam masalah ini, ulama berbeda pendapat. Menurut tiga mazhab, Syafi’iyyah, Malikiyyah, dan Hanabilah tidak wajib izin pemerintah. Menurut pendapat ini, Jumat tetap sah meski tanpa izin penguasa, namun hukumnya sunah meminta izin terlebih dahulu sebelum mendirikan Jumat.

Sedangkan menurut kalangan Hanafiyyah wajib izin, pendapat ini menegaskan tidak sah pelaksanaan Jumat tanpa izin pemerintah. Sebelum masjid digunakan untuk pelaksanaan Jumat, pihak takmir wajib meminta rekomendasi terlebih dahulu kepada pemerintah daerah setempat.

Keterangan ini sebagaimana ditegaskan dalam referensi berikut ini:

قال الأئمة الثلاثة بصحة الجمعة بغير إذن السلطان ولكن المستحب استئذانه وقال أبو حنيفة إنها لا تنعقد إلا بإذنه قاله الشعراني في الميزان.

Artinya, “Tiga imam mengatakan sahnya Jumat tanpa izin penguasa, namun yang disunahkan adalah meminta izinnya. Abu Hanifah berkata Jumat tidak sah kecuali dengan izin pemerintah. Hal ini dikatakan Imam As-Sya’rani dalam kitab Al-Mizan,” (Lihat Syekh Umar bin Muhammad As-Saqaf, Mukhtashar Tasyyid Al-Bunyan, halaman 160).

Selain wajib izin pemerintah, ulama Hanafiyyah juga mensyaratkan pemerintah, stafnya atau departemen yang diberi wewenang mendirikan Jumat, harus bertindak sebagai imam dan khatib Jumat. Mereka berpandangan, syarat ini untuk mengantisipasi adanya perebutan imam atau khatib.

Uama selain Hanafiyyah tidak mensyaratkan izin imam dan bertindaknya pemerintah sebagai khatib dan imam Jumat karena perilaku para sahabat.

Pernah suatu ketika Khalifah Utsman berhalangan untuk menghadiri Jumat, kemudian Sahabat Ali menggantikannya tanpa izin dari Sahabat Utsman, hal ini tidak ada satu pun sahabat yang mengingkarinya.

Pertimbangan lainnya, Jumat sama dengan Zuhur sehingga tidak memerlukan dua syarat di atas. Syekh Wahbah Az-Zuhayli mengatakan:

اشترط الحنفية هذين الشرطين: الأول ـ أن يكون السلطان ولو متغلباً أو نائبه، أو من يأذن له بإقامة الجمعة كوزارة الأوقاف الآن هو إمام الجمعة وخطيبها؛ لأنها تقام بجمع عظيم، وقد تقع منازعة في شؤون الجمعة، فلا بد منه تتميماً لأمره، ومنعاً من تقدم أحد

Artinya, “Ulama Hanafiyyah mensyaratkan dua syarat ini. Pertama, penguasa, penggantinya atau orang yang diberi izin untuk mendirikan Jumat seperti departemen wakaf sekarang harus menjadi Imam dan khatib Jumat, sebab Jumat didirikan dengan kelompok besar, terkadang terjadi perselisihan dalam urusan Jumat, maka wajib terpenuhi syarat ini, untuk menyempurnakan pelaksanaannya dan mencegah berebut majunya siapapun.”

والثاني ـ الإذن العام: وهو أن تفتح أبواب الجامع ويؤذن للناس بالدخول إذناً عاماً، بأن لا يمنع أحد ممن تصح منه الجمعة عن دخول الموضع الذي تصلى فيه؛ لأن كل تجمع يتطلب الإذن بالحضور، ولأنه لا يحصل معنى الاجتماع إلا بالإذن، ولأنها من شعائر الإسلام، وخصائص الدين، فلزم إقامتها على سبيل الاشتهار والعموم.

Artinya, “Kedua, izin umum, yaitu pintu-pintu masjid Jami’ dibuka dan pemerintah mengizinkan manusia untuk memasukinya secara umum, dengan sekira orang yang mengesahkan jumat tidak dicegah untuk memasuki tempat pelaksanaan Jumat, sebab setiap perkumpulan menuntut untuk izin untuk menghadirinya dan karena tidak hasil makna perkumpulan kecuali dengan izin, alasan lain Jumat adalah termasuk syi’arnya Islam dan kekhasan agama, maka pendiriannya wajib disebarluaskan dan diumumkan.”

ولم يشترط غير الحنفية هذين الشرطين، فلا يشترط إذن الإمام لصحة الجمعة، ولا حضوره؛ لأن علياً صلى بالناس، وعثمان محصور، فلم ينكره أحد، وصوبه عثمان ، ولأن الجمعة فرض الوقت، فأشبهت الظهر في عدم هذين الشرطين

Artinya, “Selain Hanafiyyah tidak mensyaratkan dua syarat ini, maka tidak disyaratkan izin imam untuk keabsahan Jumat dan tidak pula disyaratkan kehadiran imam. Sebab Sayyidina Ali pernah shalat Jumat mengimami manusia saat Khalifah Utsman tertahan, kemudian tidak ada satu pun orang yang mengingkarinya, Khalifah Utsman juga membenarkan tindakan Sahabat Ali. Alasan lain, Jumat adalah shalat fardhu yang harus dilaksanakan di dalam waktunya, sehingga menyerupai shalat Zuhur dalam sisi tidak adanya dua syarat ini,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, juz II, halaman 436).

Demikian penjelasan mengenai kedudukan izin pemerintah berkaitan dengan pelaksanaan Jumat. Afdhalnya tetap meminta izin terlebih dahulu kepada pemerintah atau aparat setempat, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam. (M Mubasysyarum Bih)