IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Hukum Shalat dengan Sarung atau Celana Sedikit Bolong

Jumat 14 Desember 2018 12:0 WIB
Share:
Hukum Shalat dengan Sarung atau Celana Sedikit Bolong
(Foto: @ctvnews.ca)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, sebelumnya saya ingin menerangkan bahwa lubang pada pakaian kadang tidak bisa dihindari karena beberapa sebab. Sementara pakaian berlubang ini dipakai di dalam shalat. Pertanyaannya, bagaimana keabsahan shalat dengan pakaian sedikit lubang pada bagian aurat? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Yahya Fadhilah/Bogor)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Pakaian tidak selamanya mulus seperti baru. Ada kalanya pakaian cacat berlubang karena terkena percikan api rokok atau koyak biasanya pada bagian lutut atau bagian–maaf–pantat karena aus.

Lalu bagaimana dengan pakaian sedikit berlubang yang digunakan untuk shalat?

Pakaian berkaitan erat dengan pembahasan penutupan aurat yang menjadi syarat sah shalat. Penutupan aurat menentukan keabsahan shalat itu sendiri. Penutupan aurat adalah syarat sah shalat karena ia merupakan ibadah mulia yang menghadapkan manusia dan Penciptanya.

Ulama Mazhab Syafi‘i menyebutkan ketentuan perihal penutup aurat. Begi mereka, penutup aurat adalah benda yang menghalangi warna kulit orang yang shalat, sekali pun berupa lumpur atau air keruh yang melekat di tubuh. Tentu saja benda penutup aurat itu harus suci.

Ulama Mazhab Maliki memberikan catatan bahwa jika warna kulit aurat tubuh orang yang shalat itu masih tampak, maka kondisi itu sama saja dengan kondisi tanpa penutup aurat. Tetapi bila hanya menggambarkan warna kulit aurat, maka hal ini terbilang makruh.

وقال الشافعية: شرط الساتر: ما يمنع لون البشرة، ولو ماء كدراً أو طيناً، لاخيمة ضيقة وظلمة، ويجب عندهم أن يكون الساتر طاهراً، وقال المالكية: إن ظهر ما تحته فهو كالعدم، وإن وصف فهو مكروه

Artinya, “Ulama Mazhab Syafi‘i mengatakan bahwa syarat penutup aurat adalah benda yang mencegah penampakan warna kulit sekali pun ia hanya air keruh atau tanah, bukan kemah yang sempit dan kegelapan. Penutup aurat itu, menurut mereka, harus suci. Sementara ulama Mazhab Maliki, kalau tetap muncul warna kulit di balik penutup itu maka ia sama saja dengan tanpa penutup. Tetapi jika hanya menggambarkan warna kulit, maka itu makruh,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz I, halaman 579).

Adapun ulama Mazhab Hanbali sepakat bahwa penutupan aurat merupakan syarat sah shalat. Tetapi penampakan sedikit aurat tidak membatalkan shalat dengan dasar praktik serupa oleh sahabat Amr bin Salamah riwayat Abu Dawud. Sementara ukuran terbuka sedikit atau banyak berpulang pada kelaziman di masyarakat.

وإن انكشف من العورة يسير، لم تبطل صلاته، لما رواه أبو داود عن عمرو ابن سلمة الذي كانت تنكشف عنه بردته لقصرها إذا سجد. وإن انكشف من العورة شيء كثير، تبطل صلاته. والمرجع في التفرقة بين اليسير والكثير إلى العرف والعادة.

Artinya, “Jika aurat seseorang sedikit terbuka, maka shalatnya tidak batal sebagaimana riwayat Abu Dawud dari Amr bin Salamah yang terbuka selendangnya karena terlalu pendek saat sujud. Tetapi jika auratnya besar telihat, maka shalatnya batal. Ketentuan kecil dan besar berpulang pada adat dan kelaziman di masyarakat,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz I, halaman 592).

Dari sini kita dapat menarik simpulan bahwa shalat dengan sarung, pakaian, atau celana sedikit berlubang pada bagian aurat tidak berpengaruh pada keabsahan shalat. Hal yang sama juga berlaku untuk shalat dengan pakaian sedikit koyak kecil pada bagian lutut yang masih tertutup oleh benang-benang pakaian yang tersisa. Apalagi kalau pakaian sedikit bolong pada bukan bagian aurat.

Kami menyarankan masyarakat menggunakan pakaian yang tidak berlubang meski hanya lubang kecil dalam ibadah shalat. Saran atas pakaian yang menutup rapat ini dimaksudkan agar menghilangkan kebimbangan seseorang atas keabsahan shalatnya karena auratnya tertutup rapat.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Share:
Jumat 14 Desember 2018 20:45 WIB
Hukum Minum Darah Ular untuk Pengobatan
Hukum Minum Darah Ular untuk Pengobatan
(Foto: @pinterest)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, sejak dulu tersiar kabar bahwa darah ular berkhasiat untuk pelbagai macam penyakit berat. Oleh karena itu, darah ular kemudian diperjualbelikan di masyarakat. Bagaimana kita menyikapi masalah ini? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Deni/Surabaya).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Al-Qur’an menyebutkan darah sebagai salah satu benda yang dilarang untuk dikonsumsi. Hal ini tercantum dalam Surat Al-Maidah ayat 3.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحْمُ ٱلْخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيْرِ ٱللَّهِ بِهِ

Artinya, “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah…,” (Surat Al-Maidah ayat 3).

Selain termasuk kategori haram, darah juga termasuk benda najis yang mengharuskan kita untuk menyucikan anggota tubuh biasanya untuk kepentingan shalat atau benda-benda yang diperlukan darinya.

Lalu bagaimana dengan berobat dengan menggunakan darah ular?

Benda najis tentu juga haram dapat digunakan untuk kepentingan darurat pengobatan. Hal ini dimungkinkan karena manusia adalah makhluk mulia sehingga penyakit yang dideritanya harus dihilangkan sekali pun dengan benda najis sebagaimana riwayat perihal masyarakat Uraniyin di masa Rasulullah SAW.

أما حديث العرنيين وأمره عليه السلام لهم بشرب أبوال الإبل، فكان للتداوي، والتداوي بالنجس جائز عند فقد الطاهر الذي يقوم مقامه

Artinya, “Adapun hadits tentang masyarakat Uraniyin dan perintah Nabi Muhammad SAW terhadap mereka untuk meminum air kencing unta berkaitan dengan kepentingan pengobatan. Pengobatan dengan menggunakan benda najis diperbolehkan ketika tidak ada benda suci yang dapat menggantikannya,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405, juz I, halaman 161).

Dari sini, kita dapat menarik simpulan bahwa pengobatan dengan darah ular bersifat jalan terakhir sebagai darurat karena tidak ada lagi obat alternatif selain darah ular tersebut. Darah ular dapat dijadikan obat bila terbukti dan teruji secara klinis mutakhir sebagai obat atas penyakit tersebut. Artinya, pertimbangan ilmu pengetahuan medis perlu menjadi pertimbangan utama dalam hal ini, bukan karena konon atau katanya.

Kalau hanya katanya, kami menyarankan agar sebaiknya menghindari darah ular sebagai obat karena keharamannya sudah jelas, sementara manfaatnya masih bersifat spekulasi. Dalam hal ini, kami sepenuhnya menaruh kepercayaan kepada dunia medis.

Demikian jawaban kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Jumat 14 Desember 2018 6:15 WIB
Apakah Shalat Dhuha Dapat Sempurnakan Kekurangan Shalat Wajib?
Apakah Shalat Dhuha Dapat Sempurnakan Kekurangan Shalat Wajib?
(Foto: @sohu.com2)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, yang kami hormati. Dalam kesempatan ini kami akan menanyakan tentang Shalat Dhuha dan zikir setelah shalat. Apakah keduanya bisa menjadi penyempurna shalat wajib? Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Prasetyo).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Shalat lima waktu merupakan kewajiban yang selalu melekat bagi seorang Muslim. Ia juga salah satu rukun Islam sehingga Muslim yang menjalankannya sama dengan menenegakkan agama dan yang meninggalkannya sama dengan menghancurkan agama.

Pada hari kiamat kelak, shalat merupakan amal yang akan dihisab pada urutan pertama. Setiap Muslim yang melakukan shalat lima waktu pasti berharap shalatnya sempurna dan diterima sisi Allah SWT. Namun, kita tidak tahu apakah shalat yang kita kerjakan masuk dalam kategori sempurna atau tidak.

Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa Allah SWT menitahkan para malaikat untuk melihat bagaimana shalat para hamba-Nya, apakah sempurna atau justru malah sebaliknya. Ketika malaikat menemukan kekurangan shalat manusia, maka Allah memerintahkan mereka untuk melihat apakah hamba tersebut memiliki amalah ibadah shalat sunnah.

Jika ternyata ia memiliki amalan ibadah shalat sunnah, maka Allah meminta malaikat untuk mengambil amal ibadah shalat sunnahnya untuk menambal kekurangan sempurna shalat fardhunya. Demikian sebagaimana dikemukakan dalam riwayat Abu Dawud berikut ini:

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلَاةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلَائِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِي صَلَاةِ عَبْدِي أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِي فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ. ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

Artinya, “Dari Rasulullah SAW ia bersabda, ‘Sungguh kelak pada hari kiamat amal manusia yang dihisab pertama kali adalah shalat.’ Rasulullah SAW bersabda kembali, ‘Tuhan kami berfirman kepada para malaikat-Nya—dan Dia lebih mengetahui—; ‘Lihatlah shalat (fardhu, pent) hamba-Ku, apakah sempurna atau tidak?’ Jika shalatnya sempurna maka dicatat baginya kesempurnaan shalatnya. Bila kurang sedikit, maka ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amal ibadah shalat sunnah?’ jika ia punya maka, ‘Sempurnakanlah untuk hamba-Ku shalat fardhu yang kurang dengan amal ibadah shalat sunnahnya itu’. Kemudian amal ibadah shalat sunnah tersebut diambil untuk menambal kekurangan sempurnaan shalat fardhunya,” (HR Abu Dawud).

Muhammad Syamsul Haq sebagai pensyarah kitab Sunan Abi Dawud menuturkan komentar Zainuddin Al-‘Iraqi mengenai hadits tersebut. Menurut Al-Iraqi sebagaimana dikemukakan dalam Syarhi Sunan At-Tirmidzi, hadits tersebut merupakan hadits yang hadir sebagai penjelasan mengenai penyempurnaan kekurangan shalat fardhu.

قَالَ العِرَاقِيُّ فِي شَرْحِ التِّرْمِذِيِّ هَذَا الَّذِي وَرَدَ مِنْ إِكْمَالِ مَا يَنْتَقِصُ الْعَبْدُ مِنَ الْفَرِيضَةِ

Artinya, “Al-‘Iraqi di dalam anotasinya atas kitab Sunan At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hadir untuk menjelaskan tentang penyempurnaan kekurangan shalat fardhu seorang hamba,” (Lihat Muhammad Syamsul Haq Al-‘Azhim Abadi, ‘Aun al-Ma’bud Syarhu Sunani Abi Dawud, [Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah], 1415 H], juz II, halaman 82).

Sampai di sini tidak ada persoalan berarti, namun tidak bisa dielakkan munculnya pertanyaan apakah ada hal lain yang dapat menyempurnakan atau menambal ibadah shalat fardlu selain shalat sunnah? 

Para ulama setidaknya telah menjelaskan beberapa hal kesunahan yang terkait dengan shalat fardhu. Seperti bersemangat menjalan shalat ketika masuk waktu, khusyuk, dan berzikir serta berdoa secara pelan setelah shalat, tetapi diperbolehkan juga dilakukan dengan suara yang jelas (keras) untuk mengajarkan zikir dan doa kepada para jamaah atau selainnya.

وَ سُنَّ (ذِكْرٌ وَدُعَاءٌ سِرًّا عَقِبَهَا) أَيْ الصَّلَاةِ لَكِنْ يَجْهَرُ بِهِمَا مَنْ يُرِيدُ تَعْلِيمَ النَّاسِ مَأْمُومًا كَانَ أَوْ غَيْرَهُ

Artinya, “(Dan) disunnahkan (berdzikir dan berdoa secara pelan setelahnya) maksudnya adalah setelah shalat, akan tetapi boleh mengeraskanya bagi orang yang ingin megajarkan dzikir dan doa orang lain, baik orang lain sebagai makmum atau bukan”. (Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah: 1422 H/2002 M], cetakan pertama, halaman 76).

Dari penjelasan ini maka dapat dipahami bahwa shalat sunnah yang kita lakukan termasuk di dalamnya adalah shalat Dhuha dapat menutupi kekurangan yang bisa terjadi dalam ibadah shalat fardhu kita. Begitu juga dengan zikir yang dilakukan setelah shalat fardhu karenanya status hukumnya adalah sunnah sebagaimana juga status hukum shalat sunnah.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul Muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.


(Ustadz H Mahbub Maafi Ramdlan)
Senin 10 Desember 2018 19:30 WIB
Hukum Kirim (Baca) Surat Al-Fatihah untuk Nabi Muhammad
Hukum Kirim (Baca) Surat Al-Fatihah untuk Nabi Muhammad
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, di awal doa yang mengawali sebuah acara atau semata berdoa masyarakat di daerah kami biasanya mengirimkan Al-Fatihah untuk Rasulullah SAW, seperti lafal "ila hadhratin nabi, Al-Fatihah". Hal ini diniatkan untuk membuka kunci pintu keberkahan atau kelancaran segala hajat. Apakah hal ini diperbolehkan dalam agama. Mohon keterangannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Syahid/Palembang)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Shalawat, surat Al-Fatihah, atau surat apa pun yang dibaca untuk Nabi Muhammad SAW biasanya diniatkan sebagai tawasul atau semacam kunci pembuka pintu ghaib.

Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki menyebutkan dengan rinci hal-hal terkait tawasul yang perlu diketahui agar tidak salah dalam memahami praktik tawasul yang kerap diamalkan di kalangan masyarakat berpaham Ahlussunah wal Jamaah sebagai berikut:

أولا: أن التوسل هو أحد طرق الدعاء وباب من أبواب التوجه إلى الله سبحانه وتعالى، فالمقصود الأصلي الحقيقي هو الله سبحانه وتعالى، والمتوسَّل به إنما هي واسطة ووسيلة للتقرب إلى الله سبحانه وتعالى، ومن اعتقد غير ذلك فقد أشرك

Artinya, “Pertama, tawasul adalah salah satu cara doa dan salah satu pintu tawajuh kepada Allah SWT. Tujuan hakikinya itu adalah Allah. Sedangkan sesuatu yang dijadikan tawasul hanya bermakna jembatan dan wasilah untuk taqarrub kepada-Nya. Siapa saja yang meyakini di luar pengertian ini tentu jatuh dalam kemusyrikan,” (Lihat Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Hasani Al-Maliki, Mafahim Yajibu an Tushahhah, Surabaya, Haiatus Shafwah Al-Malikiyyah, tanpa catatan tahun, halaman 123-124).

Adapun perihal hukum pembacaan atau pengiriman Surat Al-Fatihah untuk Nabi Muhammad SAW, ulama berbeda pendapat, yakni ulama Mazhab Maliki dan ulama Mazhab Syafi‘i. Perbedaan pandangan ini diangkat oleh Syekh Ihsan M Dahlan Jampes asala Kediri sebagai berikut:

فائدة: هل تجوز قراءة الفاتحة للنبي صلى الله عليه وسلم أولا؟ قال الأجهوري: لا نص في هذه المسئلة عندنا: أي معاشر المالكية، والمعتمد عند الشافعية جواز ذلك فنرجع لمذهبهم فلا يحرم عندنا والكامل يقبل زيادة الكمال قاله الشيخ أحمد تركي في حاشية الخرشي

Artinya, “Informasi: Apakah boleh atau tidak membaca (mengirim) Surat Al-Fatihah untuk Nabi Muhammad SAW? Al-Ajhuri mengatakan, masalah ini menurut kami (kalangan Malikiyah) tidak ada nashnya. Sementara pendapat yang muktamad di kalangan Syafi‘iyah membolehkannya (kirim Surat Al-Fatihah untuk Nabi Muhammad SAW). Kami merujuk ke mazhab mereka sehingga hal itu tidak haram bagi kami. Orang sempurna tetap menerima peningkatan kesempurnaan sebagaimana dikatakan Syekh Ahmad Tarki dalam Hasyiyah Al-Kharasyi,” (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 14).

Dari keterangan ini, kita dapat memahami bahwa ulama Ahlussunnah wal Jamaah pada prinsipnya meyakini praktik tawasul sebagai doa yang diikhtiarkan. Dengan pemahaman seperti itu, masyarakat dapat mengamalkan ‘kirim’ Surat Al-Fatihah, shalawat, atau surat-surat lainnya dalam Al-Quran untuk Nabi Muhammad SAW.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)