IMG-LOGO
Thaharah

Bisakah Sabun Menggantikan Debu untuk Menyucikan Najis Anjing?

Senin 17 Desember 2018 17:0 WIB
Share:
Bisakah Sabun Menggantikan Debu untuk Menyucikan Najis Anjing?
Ilustrasi (Freepik)
Sebagaimana sudah maklum, najis terbagi menjadi tiga, yakni najis mughalladhah, yaitu najisnya anjing dan babi; najis mutawassithah atau najis standar yang jamak terjadi; dan terakhir najis mukhaffafah, najisnya anak laki-laki yang belum sampai berumur dua tahun dan baru meminum air susu ibu sebagai sumber makanan tunggal.

Baca: Tiga Macam Najis dan Cara Menyucikannya

Status kenajisan anjing ini pernah disinggung dalam sabda Rasulullah ﷺ: 

طُهُوْرُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُوْلَاهُنَّ بِالتُّرَابِ

Artinya: “Sucinya wadah salah satu di antara kalian ketika dijilat anjing adalah dengan cara dicuci sebanyak tujuh kali. Salah satunya dicampuri dengan debu.” (HR Muslim, Ahmad) 

Dari hadits di atas, menurut mazhab Syafi’i dan Hanbali, najis dari anjing bukan hanya berasal dari jilatan atau air liurnya saja, namun seluruh bagian hewan tersebut adalah najis mughalladhah, sebab mulut adalah anggota badan paling bersih. Apabila anggota badan yang paling bersih saja dianggap najis apalagi anggota lain, terlebih kotorannya. Oleh karena itu, sebagaimana kaidah dalam qiyas aulawiy, menurut kedua mazhab tersebut, baik air liur, kotoran, bulu, kulit dan bahkan keturunan hewan keduanya adalah najis mughalladhah.

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ad-Dâru Quthni dan al-Hâkim mengisahkan, Rasulullah pernah diundang untuk mendatangi satu rumah di sebuah kompleks masyarakat, beliau datang. Kemudian pada waktu lain, beliau diundang lagi di rumah yang lain, tapi Rasulullah tidak mendatangi undangan tersebut. Kata Rasul, “Rumahnya si Fulan ada anjingnya.” Lalu ada sahabat yang berkata pada Nabi, “Lha itu di rumahnya si Fulan yang ini ada kucingnya, Ya Rasul.” Rasul pun menjawab, “Sesungguhnya kucing tidak najis.” 

Dari cerita ini memberikan pemahaman bahwa anjing secara keseluruhan adalah najis. Antara air liur, daging, kencing dan lain sebagainya mempunyai tingkatan najis yang sama yaitu najis mughalladhah

Perihal cara menyucikan najis mughalladhah, sebagaimana bunyi tekstual hadits, najis anjing atau babi hanya bisa suci dengan cara dicuci sebanyak tujuh kali. Salah satu dari air yang dibuat untuk mencuci tersebut, harus dicampur dengan debu.

Berbagai literatur klasik menyebutkan, sebenarnya ada perbedaan apakah sabun atau sejenisnya bisa menggantikan debu ataukah tidak? 

Setidaknya hal ini dibahas oleh Syekh Jalaluddin al-Mahalli dalam kitabnya al-Mahalli, Syekh Ahmad al-Hijâzi di dalam kitabnya Tuhfatul Habib, Syekh Taqiyuddin Abu Bakar dalam Kifayatul Akhyar, Imam Nawawi dalam kitab Raudhatuth Thâlibîn, Syekh Abdul Karim bin Muhammad ar-Râfi’I dalam kitab Fathul Aziz. Apa penjelasan mereka soal bisa tidaknya sabun menggantikan fungsi debu dalam hadits di atas? 

Pertama, ada ulama yang menyatakan tidak bisa menggantikan. Artinya, salah satu dari air yang dibuat mencuci harus memakai campuran debu. Sebab, alat yang bisa digunakan untuk bersuci hanya terdiri dari dua unsur, yakni air dan debu. Orang wudhu untuk menghilangkan hadats harus menggunakan air. Jika tidak ditemukan air, maka debu sebagai gantinya. Debu di sini tidak bisa digantikan dengan pasir atau tepung. Pendapat demikian merupakan pendapat al-adh-har

Kedua, ada ulama yang menyamakan penggunaan debu bisa diganti dengan sabun dengan alasan sebagaimana orang yang menyamak kulit. 

Kulit bangkai hewan seperti macan, jerapah dan lain sebagainya bisa menjadi suci dengan cara disamak. Setelah suci dapat digunakan untuk baju, shalat dan sebagainya Menyamak bisa dilakukan dengan cara membersikan kulit dari sisa daging, kotoran dan lain sebagainya lalu dicuci menggunakan air, dikasih tawas atau daun yang biasa untuk menghilangkan sisa-sisa kotoran, daging dan sejenisnya. Pada kasus menyamak ini, ulama memperbolehkan bahan penghilang kotoran tidak harus dengan tawas, namun bisa dengan sabun.

Jika pada masalah menyamak ini sabun bisa menduduki pengganti bahan baku yang telah disebut syara’, maka pada bab pencucian najis mughalladhah mestinya sabun bisa menduduki posisi yang sama dengan debu. 

Begitu pula saat orang istinja’. Dalam hadits yang disebutkan media yang bisa dibuat untuk istinja’ ada dua, yakni air dan batu. Namun para ulama sangat banyak yang memperbolehkan istinja’ menggunakan tisu atau apa pun bentuknya yang penting kasar, kesat, sebagai pengganti batu. Pendapat kedua dengan analogi seperti ini, oleh para ulama dikategorikan pendapat adh-har

Baca juga:
Gus Mus: Bersuci dari Najis 'Mughalladhah' dengan Debu Bisa Diganti Sabun
Kiai Sahal Mahfudh soal Hukum Bersuci dengan Tisu
Ketiga, sabun tidak bisa mengganti debu kecuali dalam keadaan darurat. Misalnya, ada orang Muslim tinggal di Hongkong, tempat domisilinya di apartemen lantai 35. Di sana adanya sabun, tidak ada debu. Andaipun ia turun ke lantai bawah, adanya hanya keramik atau bebatuan. Pada kondisi tersebut, orang baru boleh memakai sabun sebagai pengganti debu. 

هل يقوم الصابون والاشنان مقام التراب فيه ثلاثة أقوال أظهرها لا: لظاهر الخبر ولانها طهارة متعلقة فلا يقوم غيره مقامه كالتيمم والثاني نعم كالدباغ يقوم فيه غير الشب والقرظ مقامهما وكالاستنجاء يقوم فيه غير الحجارة مقامها. الثالث أن وجد التراب لم يعدل إلى غيره وان لم يجده جاز اقامة غيره مقامه للضرورة ومنهم من قال يجوز اقامة غير التراب مقامه فيما يفسد باستعمال التراب فيه كالثياب ولا يجوز فيما لا يفسد كالاواني

Artinya: “Apakah sabun dan kayu penghilang kotoran itu bisa menduduki posisi debu?. Di sini ada tiga pendapat. Pendapat al-adh-har adalah tidak bisa sebagaimana bunyi tekstual hadits dan karena ini berkaitan dengan aturan mencuci, maka sabun tidak bisa menggantikan debu sebagaimana tayammum. Kedua, iya, bisa. Hal ini sebagaimana menyamak. Selain tawas dan daun penghilang kotoran bisa digantikan yang lain. Pada saat istinja’, batu bisa digantikan dengan yang lain. Pendapat ketiga, selama masih ada debu tidak bisa digantikan apa pun. Namun apabila tidak ada debu, boleh. Karena darurat. Ada pula pendapat yang menyatakan, selain debu boleh digunakan asalkan seumpama memakai debu bisa merusak objek seperti pakaian. Kalau dengan debu tersebut tidak sampai bisa merusak objek, seperti pada wadah, maka debu tidak bisa digantikan sama sekali. (Abdul Karim bin Muhammad ar-Râfi’I, Fathul Azîz syarah al-Wajîz, [Dârul Fikr], juz 1, halaman 264)

Bagaimana menggunakan pendapat yang kedua, yaitu memperbolehkan sabun sebagai ganti debu?

Jika kita menggali lebih dalam pemakaian istilah al-adh-har pada pendapat yang pertama, maka pendapat dhahir maupun al-adh-har masing-masing merupakan pendapat mazhab Syafi’i, namun karena ada perbedaan pandangan yang tajam, maka yang kuat diistilahkan dengan al-adh-har, sedangkan lawan katanya adalah dhahir. 

Selama kita mampu, mari kita gunakan pendapat al-adh-har, namun jika mengalami kesusahan, kita bisa memilih pendapat dhahir. Menurut para ulama, menggunakan pendapat dhahir masih pada batas toleransi diperbolehkan. 

Berbeda kalau pendapat yang A menyatakan shahîh, maka lawan katanya adalah dlaîf. Mengikuti pendapat dlaif yang semacam ini tidak diperbolehkan.

(Ustadz Ahmad Mundzir)

Tags:
Share:
Jumat 14 Desember 2018 7:45 WIB
Cara Keluarkan Setan saat Bangun Tidur
Cara Keluarkan Setan saat Bangun Tidur
(Foto: @forbes)
Di antara sunnah yang perlu dilaksanakan sebelum mulai wudhu adalah membaca basmalah, cuci tangan, berkumur, dan istinsyâq.

Istinsyâq adalah menghisap air ke dalam hidung hingga sampai atas (insang/khaisyûm). Untuk mengantarkan air supaya bisa sampai masuk ke hidung, kita dapat menggunakan bantuan tangan sebagai media gayung atau bisa juga tanpa menggunakan bantuan tangan.

Namun sunnahnya adalah menggunakan tangan sebagai alat bantu. Sebab, seumpama hidung turun ke kulah untuk menyedot air, nanti akan mirip dengan hewan seperti kerbau, sapi dan sejenisnya. Ini perlu dihindari.

Sunnahnya lagi, Selain itu, gunakan tangan kiri saat mengambil air. Jika mampu, saat mengambil air dari pancuran atau kulah, ambillah dengan sekali ambil air. Sebagian masuk mulut. Sebagian lagi masuk hidung. Hal itu diulangi sebanyak tiga kali.

Hukum hirup air ke dalam hidung sebagaimana perintah Rasulullah dalam sebuah hadits, menurut madzhab Syafi’I, bukan menjadi wajib, tetapi sunnah. Sebab tidak ada petunjuk jika ada orang meninggalkan menghirup air ke hidung, lalu disuruh mengulanginya lagi. Ini menunjukkan bahwa menghisap air ke hidung itu tidak wajib.

Meski begitu, sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Bathal, ada sebagian pendapat ulama yang menyatakan istinsyâq hukumnya wajib.

Setelah orang menghirup air ke pangkal hidung, sebagai penyempuna, kemudian orang menyemprotkan air dari bagian depan kepala tersebut untuk kemudian dikeluarkan dengan dorongan semprotan yang cukup kuat.

Salah satu hikmahnya selain membuat hidung menjadi bersih adalah berfungsi untuk mengeluarkan setan bagi orang yang baru bangun dari tidur.

Sabda Rasulullah bersabda sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah RA:

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيَاشِيمِهِ 

Artinya “Jika salah satu dari kalian bangun dari tidurnya, maka keluarkan air dari pangkal hidung sebanyak tiga kali. Sungguh setan itu menginap pada masing-masing pangkal hidung seseorang,” (Muttafaq alaih).

Hadits di atas, setidaknya ulama terbagi pada dua pendapat. 

Pertama, orang yang pangkal hidungnya ada setan saat tidur sebagaimana yang diisyaratkan pada hadits di atas adalah orang yang sebelum tidurnya tidak membaca-bacaan doa terlebih dahulu.

Kalau baca doa, tidak akan ada setan numpang menginap di dalam tubuh. Maka bagi orang yang hidungnya dibuat menginap setan, supaya setan tersebut keluar, dengan cara mengisap air ke hidung, lalu menyemprotkannya kembali. Setan akan ikut keluar.

Ada ulama yang memandang lain. Orang yang sebelum tidur membaca doa semacam ayat kursi misalnya, hatinya tidak akan sampai kemasukan setan. Tapi setan hanya akan berhenti di pangkal hidung saat ia mencoba masuk ke dalam tubuh. Wallâhu a’lam. (Ustadz Ahmad Mundzir)
Kamis 6 Desember 2018 21:0 WIB
Hukum Memegang Mushaf Al-Qur'an oleh Anak-anak
Hukum Memegang Mushaf Al-Qur'an oleh Anak-anak
(Foto: @thenational.ae)
Al-Quran merupakan rujukan utama umat Islam. Setiap anak perlu dikenalkan dengan Al-Quran sejak usia dini. Mulai belajar huruf-huruf hijaiyyah, harakat, menyambung dan seterusnya hingga tingkatan mereka bisa membaca Al-Quran atau menghafalkannya dengan fasih.

Mengajarkan Al-Quran kepada anak merupakan kewajiban orang tua masing-masing. Apabila orang tua tidak mampu, mereka bisa meminta tolong kepada guru-guru yang kredibel dan kompeten di bidangnya. Meski demikian, kewajiban dasar mengajar tetap tetap dipikul orang tua masing-masing. Guru hanya sebagai pembantu.

Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas:

مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَلْيُحْسِنِ اسْمَهُ وَأَدَبَهُ، فَإِذَا بَلَغَ فَلْيُزَوِّجْهُ فَإِنْ بَلَغَ وَلَمْ يُزَوِّجْهُ فَأَصَابَ إِثْمًا، فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى أَبِيهِ

Artinya, “Barang siapa yang dikaruniai anak, maka berilah nama yang bagus. Perbaiki pula sikapnya. Jika ia sudah mencapai umur baligh (dewasa), nikahkan. Apabila sudah baligh tidak segera dinikahkan lalu mereka terjerumus melakukan dosa, maka dosa ditanggung ayahnya,” (Lihat Al-Baihaqi, Syu’abul Îmân, [Riyadh, Maktabah Ar-Rusyd: 2003], juz XI, halaman 138).

Mengajarkan Al-Quran kepada anak yang masih kecil namun sudah cukup tahu (tamyiz) sekira anak sudah mulai sekitar usia 4 tahun atau usia belajar tidak bisa lepas dengan sentuhan mereka pada kitab suci Al-Quran. Bagaimana ulama memandang hukum anak-anak yang menyentuh Al-Quran?

Bagi anak-anak yang sudah mulai pada fase usia belajar (tamyiz), memegang Al-Quran dengan tanpa mempunyai wudhu menurut pendapat pertama yaitu yang lebih shahih, hukumnya diperbolehkan asalkan mereka menyentuh atau membawa Al-Quran tersebut dengan tujuan untuk belajar, bukan semata-mata mendaras Al-Quran sebagai sarana ibadah sebagaimana orang dewasa yang sedang mengaji pada umumnya. 

Kebolehan menyentuh dengan hadats tersebut hanya berlaku bagi anak-anak yang cukup umur. Hal ini disebabkan susahnya menjaga mereka untuk melanggengkan wudlu secara total, sedangkan mengajari mereka pada naskah-naskah suci Al-Quran sangat penting untuk dipersiapkan. Memaksa mereka untuk selalu suci dari hadats sangat memberatkan. 

Adapun anak yang masih terlalu kecil, belum bisa mengenali huruf, belum fase belajar Al-Quran, sekira umur satu tahun misalnya, mereka baru hanya murni menyentuh saja, mereka belum bisa belajar, hukumnya tidak boleh.

Begitu pula bagi anak-anak yang sudah baligh. Walaupun baru kelas 4 SD, umurnya 10 tahun, namun sudah baligh misalnya, dia sudah tidak boleh lagi menyentuh Al-Quran dengan tanpa wudlu. Jika kedapatan demikian, bagi wali, atau orang dewasa yang melihat harus melarang.

Jadi yang diperbolehkan menyentuh adalah anak tamyiz namun belum baligh. Sedangkan anak yang masih terlalu dini usianya atau bahkan sudah baligh tetap dilarang menyentuh dengan tanpa wudhu meskipun dengan tujuan belajar.

Bagi guru yang mengajar Al-Quran berlaku hukum sebagaimana orang dewasa pada umumnya yaitu harus suci dari hadas kecil dan besar.

Pendapat kedua menyatakan haram menyentuh secara mutlak.

الْأَصَحُّ (أَنَّ الصَّبِيَّ الْمُحْدِثَ لَا يُمْنَعُ) مِنْ مَسِّ الْمُصْحَفِ وَاللَّوْحِ وَحَمْلِهِمَا لِحَاجَةِ تَعَلُّمِهِ مِنْهُمَا وَمَشَقَّةِ اسْتِمْرَارِهِ عَلَى الطَّهَارَةِ. وَالثَّانِي عَلَى الْوَلِيِّ وَالْمُعَلِّمِ مَنْعُهُ مِنْ ذَلِكَ. قوله: (أَنَّ الصَّبِيَّ) أَيْ الْمُمَيِّزَ وَإِلَّا فَيَحْرُمُ تَمْكِينُهُ مِنْهُ لِفَقْدِ تَعَلُّمِهِ وَخَرَجَ بِالصَّبِيِّ الْبَالِغُ وَإِنْ شَقَّ عَلَيْهِ دَوَامُ الطَّهَارَةِ كَمُؤَدِّبِ الْأَطْفَالِ، وَمَا نُقِلَ عَنْ الشَّيْخِ ابْنِ حَجَرٍ مِنْ جَوَازِ الْمَسِّ وَالْحَمْلِ لَهُ مَعَ التَّيَمُّمِ غَيْرُ مُعْتَمَدٍ عِنْدَ شَيْخِنَا

Artinya, “Pendapat yang lebih shahîh, sesungguhnya anak kecil yang mempunyai hadats tidak dilarang menyentuh mushaf dan kayu (hiasan dinding yang ada tulisan Al-Qur’an) serta membawanya karena merupakan kebutuhan dia untuk mempelajarinya dan sulitnya menjaga mereka untuk selalu dalam keadaan suci. Pendapat kedua, wali atau pendidik harus melarang jika melihat anak menyentuh Al-Quran atau membawanya tanpa keadaan suci,” (Lihat Qulyubi dan Umairah, Hâsyiyah Qulyubi wa Umairah, [Beirut, Dârul Fikr: 1995), juz I, halaman 41-42).

Hal senada juga dikatakan Imam Nawawi Al-Jawi dalam Kitab Nihayatuz Zain dan Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyati dalam tulisannya I’anatuth Thâlibîn.

Masih dalam kitab yang sama dijelaskan, yang dimaksud dengan anak kecil adalah anak kecil yang sudah tamyîz (walau ia sudah hafal Al-Qur’an). Jika anak tersebut belum tamyiz, hukum membiarkan mereka menyentuh mushaf adalah haram sebab mereka bisa belajar sehingga belum membutuhkan menyentuh mushaf tersebut.

Orang dewasa yang menjadi pendidik bidang kajian Al-Quran, meski ia mengajar seharian penuh dengan tanpa jeda, ia tetap harus konsisten menjaga dirinya dari hadats. Apabila batal, harus wudhu lagi atau penghilang hadats sejenisnya. Wallâhu a’lam. (Ahmad Mundzir)
Selasa 27 November 2018 8:30 WIB
Hukum Nifas Perempuan setelah Operasi Sesar
Hukum Nifas Perempuan setelah Operasi Sesar
(Foto: @pinterest)
Perkembangan teknologi kedokteran ikut memudahkan teknik persalinan bagi ibu yang hendak melahirkan, salah satunya dengan operasi sesar. Operasi sesar adalah proses persalinan melalui pembedahan dengan melakukan irisan di perut dan rahim perempuan untuk mengeluarkan bayi.

Setelah melahirkan, ibu biasanya mengalami nifas, yakni darah yang keluar dari rahim usai melahirkan. Nifas terjadi karena plasenta keluar dan organ dalam rahim mengalami masa pemulihan untuk bisa kembali ke bentuk semula. Rahim bersifat elastis, saat mengandung, rahim bisa menampung bayi seberat 3 hingga 4 kg. 

Setelah melahirkan, rahim akan mengecil menjadi sekitar dua kepalan tangan laki-laki dewasa. Sekitar dua minggu kemudian, rahim akan  mengecil hingga satu kepalan tangan, kemudian menjadi seukuran telur ayam hingga akhirnya rata dan tak dapat diraba lagi melalui perut. Bila tidak terjadi masalah, proses pengecilan rahim terjadi selama 40 hari.

Lalu apakah perempuan yang melakukan operasi sesar juga menjalani masa nifas?

Operasi sesar berfungsi sebagai pengganti proses persalinan normal yang melalui farji. Meskipun prosesnya berbeda, namun tujuannya tetap sama, yakni untuk mengeluarkan bayi yang ada di kandungan. Oleh karena itu, nifas bagi ibu yang bersalin sesar tetap berlaku sebagaimana melahirkan normal. Hal ini berdasarkan kaidah fiqih

حُكْمُ البَدَلِ حُكْمُ المُبْدَلْ مِنْهُ

Artinya, “Hukum pengganti sama dengan hukum yang digantikan.”

Meskipun sebagian darah sudah keluar saat proses sesar, ibu yang melakukan persalinan sesar tetap akan mengalami nifas. Namun proses kesembuhan organ-organ bagian dalamnya akan sedikit berbeda dengan ibu yang bersalin normal. Pasalnya, saat menjalani sesar lapisan-lapisan perut dibuka, mulai dari otot perut, dinding perut, hingga dinding rahim.

Secara umum tidak ada perbedaan masa nifas antara ibu yang bersalin normal dan sesar. Ibu yang bersalin sesar bahkan memiliki kemungkinan menjalani masa nifas yang lebih sebentar karena sebagian darah sudah dikeluarkan saat pembedahan rahim. 

Terdapat beberapa pendapat mengenai batas maksimal nifas. Adapun Imam Atha, As-Sya’bi, dan Aisyah berpendapat bahwa batas maksimal nifas 60 hari. Namun, mayoritas ulama mengatakan 40 hari. Ibnu Rusyd dalam Kitab Bidayatul Mujtahid menyatakan:

وأما أكثره فقال مالك مرة: هو ستون يوما، ثم رجع عن ذلك، فقال: يسأل عنذلك النساء، وأصحابه ثابتون على القول الأول، وبه قال الشافعي. وأكثر أهل العلم من الصحابة على أن أكثره أربعون يوما، وبه قال أبو حنيفة.

Artinya, “Batas maksimal nifas, Imam Malik suatu kali pernah mengatakan 60 hari, namun ia meralat perkataannya dan mengatakan “Tentang hal itu ditanyakan kembali pada para wanita.” Mayoritas pengikutnya mengikuti perkataan yang pertama, begitu pula yang dikatakan Imam As-Syafi‘i. Mayoritas ulama dari kalangan sahabat berpendapat maksimalnya 40 hari, begitu pula yang dikatakan Imam Abu Hanifah,” (Lihat Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, [Kairo, Darussalam: 2018 M), halaman 69).

Ulama yang menyatakan masa nifas 40 hari mendasari pendapatnya pada teks-teks hadits, salah satunya hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، قَالَتْ: كَانَتِ النُّفَسَاءُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَجْلِسُ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، وَكُنَّا نَطْلِي وُجُوهَنَا بِالْوَرْسِ مِنَ الْكَلَفِ

Artinya, “Dari Ummu Salamah ia berkata, ‘Pada masa Rasulullah SAW perempuan-perempuan yang nifas duduk berdiam diri (menunggu masa nifas) selama empat puluh hari, dan kami membersihkan wajah kami dari kotoran dengan wars (semacam tumbuhan yang wangi),’” (HR Ibnu Majah).

Ibnul Jarud dalam kitabnya, Al-Muntaqa minas Sunnanil Musnadah meriwayatkan sebagai berikut:

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ، أَنَّهُ كَانَ لَا يَقْرَبُ النِّسَاءَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا يَعْنِي فِي النِّفَاسِ

Artinya, “Dari Utsman bin Abil ‘Ash, ‘Sesungguhnya ia tidak mendekati (menjimak) perempuan (istrinya) selama 40 hari ketika masa nifas.’”

Dalam ilmu kesehatan, darah yang keluar dari rahim terbagi atas beberapa fase, yaitu:

Fase Lochia rubra (Cruenta), yakni tahap keluarnya darah berwarna merah segar, terjadi selama dua hari pascapersalinan.

Fase lochia sanguinolenta, yakni tahap keluarnya darah berwarna kecokelatan dan kekuningan, biasanya terjadi pada hari ketiga sampai ketujuh pascapersalinan.

Fase lochia serosa, tahap keluarnya darah berwarna kuning dan cairan ini tidak berdarah lagi pada hari ketujuh sampai keempat belas pascapersalinan.

Fase lochi alba, cairan putih kekuningan yang keluar setelah dua minggu.

Lochia purulenta, terjadi karena infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk, (Lihat Suherni dkk, Perawatan Masa Nifas [Yogyakarta, Fitramaya: 2009 M), halaman 78-79).

Darah yang keluar pada empat fase pertama merupakan darah nifas, normalnya ini terjadi selama 6 hingga 8 minggu (42 hingga 56 hari). Jika darah merah dan pekat keluar lagi setelah fase lochi alba selesai, maka darah itu termasuk darah infeksi atau disebut lochia purulenta. Faselochia puruleta inilah yang merupakan masa istihadah.

Meskipun kebanyakan perempuan mengalami nifas selama 40 hari, bukan berarti ini menjadi satu-satunya rujukan, karena siklus nifas semua perempuan tidak selalu sama, kadang kala ada yang mengalami lebih sebentar, ada pula yang mengalami lebih dari 40 hari. Bahkan Imam Malik menyatakan bahwa perihal itu ditanyakan lagi kepada perempuan. Namun apabila selama delapan minggu sang ibu masih mengeluarkan darah, hendaklah ia mengonsultasikannya kepada dokter, karena kemungkinan ia mengalami infeksi. Wallahu a’lam. (Fera Rahmatun Nazilah)