IMG-LOGO
Trending Now:
Shalat

Dzikir sesudah Shalat bagi Mereka yang Terburu-buru

Selasa 18 Desember 2018 16:0 WIB
Share:
Dzikir sesudah Shalat bagi Mereka yang Terburu-buru
Sudah maklum sekali bahwa setelah melaksanakan shalat disunnahkan bagi seseorang untuk membaca dzikir-dzikir serta doa-doa. Jenis dzikir dan doa ini masing orang bisa berbeda sesuai dengan riwayat yang didapatkan oleh seseorang dari guru atau orang lain yang mengajarkan kepadanya. 

Mengistiqamahkan suatu dzikir adalah sebuah perintah yang sangat dianjurkan oleh syara’, hal ini misalnya seperti yang ditegaskan dalam Al-Qur’an:

وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقاً

“Dan bahwasannya jika mereka tetap berjalan lurus (istiqamah) di atas jalan itu, maka sungguh kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).” (QS. Al-Jin: 16)

Namun keinginan seseorang untuk mengistiqamahkan bacaan dzikir dan doa tertentu untuk dilafalkan dalam shalatnya terkedang berbanding terbalik dengan realitas di lapangan. Seringkali seseorang saat hendak melantunkan dzikir setelah shalat, waktunya berbenturan dengan kesibukan yang meliputinya, seperti tugas kantor, perintah orang tua, kejar deadline, dan lain sebagainya yang membuat dirinya menjadi tidak bisa membaca dzikir yang biasa ia baca secara sempurna. 

Dalam keadaan demikian, manakah yang mesti ia pilih, apakah melanjutkan dzikir yang biasa dibacanya sampai selesai, atau beralih dan bergegas menuju kesibukan yang harus segera ia lakukan?

Konsep yang berlaku dalam dzikir adalah bahwa melaksanakan dzikir memang dianjurkan untuk dilakukan pada waktu-waktu tertentu sekiranya seseorang bisa istiqamah untuk membacanya—setelah shalat, misalnya. Namun dzikir ini menjadi boleh untuk di-qadha ketika waktu yang biasa digunakan untuk membaca dzikir ternyata berbenturan dengan aktivitas lain yang dipandang lebih penting untuk dilakukan.

Baca juga:
Anjuran Meng-qadha Wirid yang Terlewat
Susunan Bacaan Wirid Sesudah Shalat Lima Waktu
Hal ini dikarenakan pada aktivitas-aktivitas tertentu terkadang hanya bisa dilaksanakan pada saat itu saja dan ketika ditunda hasilnya menjadi tidak sempurna.  Berbeda halnya dengan dzikir yang masih terdapat opsi untuk dilaksanakan di waktu yang lain dengan cara qadha’, yaitu membaca dzikir di waktu yang lain ketika dipandang aktivitasnya sudah lengang.  

Aktivitas yang dapat membuat dzikir menjadi dianjurkan untuk di qadha’ misalnya seperti menerima tamu, bertemu dengan orang shalih, bertemu dengan keluarga serta aktivitas-aktivitas lain yang dipandang maslahatnya lebih besar untuk dilakukan seketika itu juga (setelah shalat) dibandingkan melanjutkan dzikir yang biasa ia baca setelah shalat. 

Hal ini seperti yang ditegaskan dalam kitab al-Futuhat ar-Rabbaniyyat ala al-Adzkar an-Nawawiyyat:

ـ (فصل في أحوال تعرض للذاكر يستحب له قطع الذكر بسببها ثم يعود إليه بعد زوالها) منها إذا سلَّم عليه ردّ السلام ثمّ عاد إلى الذكر. 

“Pasal menjelaskan tentang keadaan yang baru datang  bagi orang yang berdzikir. Disunnahkan bagi orang yang berdzikir untuk memutus dzikirnya dengan sebab datangnya keadaan-keadaan tertentu lalu kembali melanjutkan dzikirnya setelah selesainya. Keadaan-keadaan itu seperti ketika ada orang salam maka ia dianjurkan mendahulukan menjawab salam lalu kembali melanjutkan dzikir.

وكذا إذا عطش عنده عاطس شمّته ثمّ عاد إلى الذكر وكذا إذا سمع الخطيب وكذا إذا سمع المؤذن أجابه في كلمات الأذان والإقامة ثمّ عاد إلى الذكر وكذا إذا رأى منكرا أزاله أومعروفا أرشد إليه أو مسترشدا أجابه ثمّ عاد إلى الذكر كذا إذا غلبه النعاس أو نحوه وما أشبه هذا كلّه.

“Begitu juga ketika mendengar orang yang bersin maka ia mesti membaca Yarhamukallah terlebih dahulu lalu melanjutkan dzikirnya, ketika mendengar orang yang khutbah, ketika mendengar orang yang azan maka ia menjawab azan dan iqamah terlebih dahulu lalu melanjutkan dzikirnya, ketika melihat perkara munkar maka ia hilangkan terlebih dahulu kemungkaran tersebut atau melihat terdapat perkara yang bagus (Amar Makruf) maka ia tunjukkan jalan menuju perkara yang bagus ini, atau ada orang yang minta petunjuk maka jawablah pertanyaannya lalu kembalilah melanjutkan dzikir. Begitu juga ketika dalam keadaan ngantuk berat atau hal yang sama dan dalam keadaan-keadaan yang menyerupai semua kondisi-kondisi di atas.”

ـ (قوله وما أشبه هذا كلّه) أي من كلّ أمر مهمّ عرض والإشتغال به يمنع من الذكر الأهمية فيه إمّا لكونه يفوت أو لعظيم فائدته وكثرة مصلحته كالأمر بالمعروف ونحوه على أن القصد من الذكر إنما هو عمارة الجنان بذكر الرحمن والقائم بأوامره من أرباب هذا المقام 

“Maksud dari keadaan-keadaan yang menyerupai kondisi-kondisi di atas adalah setiap perbuatan penting yang baru datang sedangkan melaksanakan perbuatan ini akan mencegah untuk melanjutkan dzikir-dzikir yang penting. Adakalanya karena perbuatan ini akan hilang seiring berjalannya waktu atau karena besarnya dari faidah perbuatan ini dan banyaknya kemaslahatan yang terdapat di dalamnya seperti perbuatan amar ma'ruf nahi munkar  dan perbuatan-perbuatan yang sama. Hal ini (memutus dzikir) berdasarkan bahwa sesungguhnya tujuan dzikir adalah membangun hati dengan menyebut Allah yang maha pengasih. Sedangkan menjalankan perintah-perintah-Nya merupakan sebagian dari maqam ini.” 

–إلى أن قال- فإذا كان الفضل الشرعي في الصلاة مثلا صلّى وإذا كان في مجالسة العلماء والصالحين والضيفان والعيال وقضاء حاجة مسلم وجبر قلب مكسورونحو ذلك فعل ذلك الأفضل وترك عادته

“Maka ketika keutamaan syara’ lebih mendahulukan melaksanakan shalat, hendaknya ia melakukan shalat dan ketika keutamaan syara’ lebih mendahulukan berkumpul dengan para ulama’, orang-orang shalih, para tamu, keluarga dan memenuhi kebutuhan orang muslim dan mengobati hati orang yang putus asa atau hal yang sesamanya maka hendaknya ia melaksanakan hal yang lebih diutamakan di atas dan meninggalkan kebiasaan (wirid)-nya.” (Muhammad bin ‘Alan, al-Futuhat ar-Rabbaniyyat ala al-Adzkar an-Nawawiyyat, Hal. 154-155)

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa bagi orang yang terburu-buru untuk melaksanakan aktivitas lain yang dipandang lebih penting, maka setelah melaksanakan shalat, ia dianjurkan untuk langsung melanjutkan aktivitasnya dan meninggalkan dzikir yang biasa ia baca, dengan niatan nantinya ketika kesibukannya telah mulai lengang maka ia mengqadha bacaan dzikir yang biasa ia baca setelah shalat, sehingga ia tetap bisa istiqamah membaca dzikir setelah shalat, meskipun di waktu yang berbeda. Wallahu a’lam

(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Tags:
Share:
Senin 17 Desember 2018 15:0 WIB
Azan Berkumandang ketika Pertengahan Belajar Mengajar
Azan Berkumandang ketika Pertengahan Belajar Mengajar
Ilustrasi (Tebuireng Online)
Menjawab azan merupakan sebuah kesunahan bagi umat Muslim ketika mendengarnya. Perintah ini terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ مسلم

“Ketika kalian mendengarkan orang yang azan, maka jawablah seperti halnya kalimat yang dikumandangkan olehnya.” (HR. Muslim)

Sehingga ketika seseorang sedang beraktivitas yang ada kaitannya dengan pembicaraan, sebaiknya untuk menghentikan pembicaraan sejenak demi mendengarkan dan menjawab azan yang sedang berkumandang. 

Lalu bagaimana jika aktivitas yang sedang dilakukan adalah belajar-mengajar, apakah dianjurkan diam lalu beralih menjawab azan, atau memilih untuk melanjutkan belajar-mengajar dengan mempertimbangkan jika pelajaran diputus maka konsentrasi secara otomatis akan berpindah?

Para ulama dalam hal ini berpandangan bahwa hal yang lebih diutamakan dalam keadaan demikian adalah berhenti dari aktivitas belajar mengajar guna mendengarkan dan menjawab azan. Pandangan demikian dilandasi karena kegiatan belajar mengajar adalah suatu ibadah yang dapat dilakukan kapan pun tanpa dibatasi oleh waktu, sedangkan menjawab azan adalah sebuah kesunnahan yang hanya berlaku ketika saat azan berkumandang saja. Sehingga, hal yang baik ketika dua hal ini terjadi secara bersamaan adalah memilih ibadah yang dilaksanakan berdasarkan batas waktu tertentu agar kesunnahan tidak menjadi hilang, dalam hal ini adalah menjawab azan. 

Pandangan di atas sesuai keterangan yang dijelaskan dalam kitab Busyra al-Karim:

ويسن (أن يقطع القراءة) ونحو الذكر كتدريس وإن كان واجبا لأنه لا يفوت بخلاف الإجابة

“Disunnahkan untuk memutus membaca Al-Qur’an dan dzikir seperti mengajar meskipun merupakan hal yang wajib. Sebab sesungguhnya (anjuran) mengajar itu tidak akan hilang, berbeda halnya dengan menjawab azan.” (Syekh Said bin Muhammad Ba’asyin, Busyra al-Karim, hal. 196)

Namun terdapat pandangan yang berbeda dalam mazhab hanafiyah bahwa yang baik untuk dilakukan adalah tetap melanjutkan belajar mengajar. Seperti yang dikutip dalam kitab Fathu al-‘Alam:

ورأيت بهامش كتاب الوسم للعلامة الحلواني نقلا عن الحنفية ما يفيد عدم قطع قراءة العلم الشرعي لأجل الإجابة. ونصه قال الحنفية: ويجيب من سمع المؤذن ولو جنبا لا حائضا ونفساء وسامع خطبة ومن في صلاة ولو جنازة، وجماع وبيت خلاء وأكل وتعليم علم شرعي وتعلمه، بخلاف قرآن لأنه لا يفوت بالإجابة بخلاف التعلم. فعلى هذا لو يقرأ تعليما وتعلما لا يقطع كما قاله السائحاني

“Aku melihat di hamisy (pinggir) kitab al-Wasm milik Imam Allamah al-Halwani menukil dari pendapat Hanafiyah, berupa keterangan tidak dianjurkan memutus membaca ilmu syar’i karena tujuan menjawab azan. Berikut redaksinya: Berkata para ulama Hanafiyah bahwa dianjurkan menjawab orang yang azan meskipun dalam keadaan junub, tidak (dianjurkan menjawab) bagi orang yang haid, nifas, orang yang sedang mendengarkan khutbah dan orang yang sedang melaksanakan shalat walaupun berupa shalat janazah, orang yang sedang bersetubuh, orang yang berada di WC, orang yang sedang makan dan orang yang sedang mengajarkan ilmu atau sedang mempelajari ilmu. 

Berbeda halnya bagi orang yang sedang membaca Al-Qur’an sebab (anjuran) membaca Al-Qur’an tidak akan hilang dengan sebab menjawab azan, tak seperti mempelajari ilmu. Berpijak pada hal ini, orang yang sedang mengajarkan ilmu atau mempelajari ilmu tidak dianjurkan untuk memutusnya (untuk menjawab azan) seperti halnya pendapat yang dikemukakan imam as-Saihani.” (Muhammad bin Abdullah Al-Jurdani, Fathu al-‘Alam bi Syarh Mursyid al-Anam, Juz 2, Hal. 110)

Berdasarkan perbedaan pandangan dalam menyikapi permasalahan ini, kita lebih mengerti bahwa perbedaan tradisi yang terdapat di pesantren-pesantren yang dilakukan oleh para kiai ketika sedang mengajar, terkadang ada kiai yang memilih untuk melanjutkan mengajar, kadang ada pula yang memilih untuk berdiam dan beralih menjawab azan. Pilihan sikap tersebut memiliki dalilnya masing-masing sehingga tidak perlu bagi kita untuk berprasangka buruk pada kiai yang melanjutkan mengajar meski azan sedang berkumandang.

Begitu juga bagi siapa pun yang merasa dilematis pada saat belajar ataupun mengajar, lalu di pertengahan aktivitasnya ia mendengar azan, maka boleh baginya untuk memilih melanjutkan ataupun diam dan menjawab azan, meski hal yang lebih baik adalah diam dan menjawab azan sebab pendapat ini merupakan pendapat yang dijadikan pijakan oleh mayoritas ulama. 

Hal yang dianggap tidak baik adalah berhenti dari aktivitas belajar mengajar namun tidak untuk menjawab azan, tapi justru beralih pada aktivitas lain yang tidak bermanfaat, seperti mengobrol sesuatu yang tidak penting hingga ia lalai dalam menjawab azan yang sedang berkumandang. Wallahu a’lam.


(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Ahad 16 Desember 2018 20:0 WIB
Tidak Shalat Selama Bertahun-tahun, Apakah Wajib Qadha?
Tidak Shalat Selama Bertahun-tahun, Apakah Wajib Qadha?
Seorang Muslim dalam menjalani dinamika kehidupannya pasti tidak lepas dengan pasang surut dalam hal ketaatannya menjalankan kewajiban agama. Terlebih bagi orang awam yang hidup jauh dari pengayoman ulama atau sebenarnya berada dalam lingkungan yang islami, hanya saja ia merasa belum mendapatkan hidayah untuk taat melaksanakan kewajiban agama, hingga akhirnya dalam menjalani kesehariannya selama bertahun-tahun ia tidak melaksanakan shalat.

Seiring lewatnya tahun demi tahun, ia mulai tersadar dan merasa menyesal tidak melaksanakan kewajiban shalat, hingga akhirnya ia berinisiatif mulai sejak saat itu akan taat menjalankan kewajiban agamanya yang berupa shalat. Namun dalam hati kecilnya ia sempat bertanya-tanya, tentang bagaimana shalat yang ia tinggalkan selama bertahun-tahun, apakah tetap wajib untuk diqadha seluruhnya? Mengingat jumlahnya yang begitu banyak dan amat sulit diketahui berapa jumlah pasti shalat yang telah ia tinggalkan.

Shalat adalah salah satu kewajiban bagi seorang muslim semenjak ia sudah beranjak akil baligh maka wajib bagi orang yang sudah baligh untuk melaksanakan shalat dan mengqadha shalat yang pernah ditinggalkan, walaupun penyebab meninggalkan shalat ini dikarenakan adanya udzur, seperti yang dijelaskan dalam hadits:

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا


“Barangsiapa lupa shalat atau tertidur hingga meninggalkan shalat maka tebusannya adalah melaksanakan shalat tersebut ketika ia ingat.” (HR. Muslim)

Jika meninggalkan shalat karena udzur saja wajib untuk mengqadha maka shalat yang ditinggalkan dengan kesengajaan jelas lebih wajib untuk diqadha. Bahkan mengqadha shalat ini sudah menjadi konsensus (ijma’) para ulama dari empat mazhab fiqih. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Fiqh al-Manhaji:

وقد اتفق جمهور العلماء من مختلف المذاهب على أن تارك الصلاة يكلف بقضائها، سواء تركها نسياناً أم عمداً، مع الفارق التالي: وهو أن التارك لها بعذر كنسيان أونوم لايأثم، ولا يجب عليه المبادرة إلى قضائها فوراً، أما التارك لها بغيرعذر- أي عمداً - فيجب عليه – مع حصول الإثم – المبادرة إلى قضائها

“Mayoritas ulama dari berbagai madzhab sepakat bahwa seseorang yang meninggalkan shalat dituntut untuk mengqadla-nya, baik meninggalkan shalat karena lupa ataupun sengaja, perbedaanya adalah: jika orang yang meninggalkan shalat karena udzur, seperti karena faktor lupa atau tertidur maka ia tidak berdosa, dan ia tidak diwajibkan mengqadla-nya sesegera mungkin, sedangkan bagi orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, maka ia terkena dosa dan dituntut segera mengqadla-nya.” (Mustafa al-Khin dan Musthafa al-Bugha, al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhabi Imam al-Syafi’i [Surabaya: Al-Fithrah, 2000], juz I, hal. 110)

Namun ditemukan ulama yang berpandangan bahwa mengqadha shalat bukanlah suatu kewajiban, bahkan mengqadha shalat adalah ibadah yang tidak sah jika dilakukan. Pendapat demikian adalah pendapat Imam Ibnu Hazm. Hal yang mestinya dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat, menurutnya, adalah bukan dengan cara mengqadhanya tapi dengan cara memperbanyak melaksanakan amal kebaikan, bertobat dan memperbanyak bacaan istighfar agar dosanya diampuni oleh Allah SWT. Namun pendapat Imam Ibnu Hazm ini tidak dapat diamalkan, dan dalil yang menjadi pijakannya adalah keliru, sebab pandangan ini berbeda dengan konsensus ulama. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzzab:

فرع- أَجْمَعَ الَّذِيْنَ يُعْتَدُّبِهِمْ أَنَّ مَنْ تَرَكَ صَلاَةً عَمْدًا لَزِمَهُ قَضَاؤُهَا وَخَالَفَهُمْ أَبُوْ مُحَمَّدٍ عَلِيُّا بْنُ حَزْمٍ قَالَ: لاَ يُقَدَّرُعَلَى قَضَائِهَا أَبَدًا وَلاَ يَصِحُّ فِعْلُهَا أَبَدًا قَالَ بَلْ يُكْثِرُمِنْ فِعْلِ الْخَيْرِ وَالتَّطَوُّعِ لِيَثْقُلَ مِيْزَانُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَسْتَغْفِرُ اللهَ تَعَالَى وَيَتُوْبُ وَهَذَا الَّذِيْ قَالَهُ مَعَ أَنَّهُ مُخَالِفٌ لِلْإِجْمَاعِ بَاطِلٌ مِنْ جِهَةِ الدَّلِيْلِ

“Para ulama yang kompeten telah sepakat bahwa seseorang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, maka ia harus meng-qadha shalatnya. Pendapat mereka ini berbeda dengan pendapat Abu Muhammad Ali bin Hazm yang berkata: bahwa ia tidak perlu meng-qadha selamanya dan tidak sah melakukan qadha shalat selamanya, ia sebaiknya memperbanyak melakukan kebaikan dan shalat sunah agar timbangan (amal baiknya) menjadi berat pada hari kiamat, serta beristighfar kepada Allah dan bertobat. Pendapat ini bertentangan dengan consensus (ijma’) dan bathil berdasarkan dalil.” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzzab, Juz 3 Hal. 31)

Maka dari itu, mengqadha shalat berapa pun banyaknya adalah hal yang wajib, meskipun shalat yang ditinggalkan selama bertahun-tahun. Jika seandainya seseorang  tidak mengetahui jumlah shalat yang telah ia tinggalkan, maka ia dituntut untuk mengqadha shalat dengan jumlah yang ia yakini bahwa jumlah tersebut sebanyak bilangan shalat yang dulu telah ia tinggalkan, ketentuan ini berdasarkan kaidah al-akhdz bi al-mutayaqqan (berpijak pada sesuatu yang diyakini). Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Ahad 16 Desember 2018 15:0 WIB
Batasan Boleh Menjamak Shalat karena Hujan
Batasan Boleh Menjamak Shalat karena Hujan
Ilustrasi (Freepik)
Menjamak shalat merupakan bagian dari rukhsah (keringanan) yang diberikan oleh syara’ kepada umat Islam. Bentuk keringanan ini berupa diperbolehkannya melaksanakan shalat dalam satu waktu. Sebab diperbolehkannya menjamak shalat yang sering kita dengar dan diamalkan adalah ketika dalam keadaan perjalanan jauh. Namun ada pula sebab lain yang dapat memperbolehkan menjamak shalat, yaitu dalam keadaan hujan.

Rasulullah dalam salah satu haditsnya tercatat pernah menjamak shalat tanpa adanya hajat juga tidak dalam keadaan perjalanan. Imam Malik pun menafsiri bahwa shalat yang dilakukan Rasulullah ﷺ adalah dalam keadaan hujan. Hadits tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Ibnu Abbas radliyallahu 'anh:

صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا ، وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا فِى غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ سَفَرٍ قَالَ مَالِكٌ أُرَى ذَلِكَ كَانَ فِى مَطَرٍ

“Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat zuhur dan asar dengan cara jamak. Shalat maghrib dan isya’ dengan cara jamak tanpa adanya rasa takut dan tidak dalam keadaan perjalanan.” Imam Malik berkata, “Saya berpandangan bahwa Rasulullah melaksanakan shalat tersebut dalam keadaan hujan.” (HR. Baihaqi)

Hadits tersebut dijadikan sebagai landasan dalil bolehnya menjamak shalat dalam keadaan hujan. Dalam mazhab Syafi’i menjamak shalat ketika hujan hanya boleh dilaksanakan di waktu shalat pertama (jamak taqdim) serta harus memenuhi dua syarat yaitu:

1. Shalat harus dilakukan secara berjamaah di tempat yang secara umum dijadikan sebagai tempat berjamaah seperti masjid dan mushala. Sekiranya jika pada shalat pertama seseorang kembali ke rumah maka akan merasa kesulitan karena akan terkena cipratan air pakaiannya. 

2. Hujan masih berlangsung pada tiga keadaan, yaitu ketika takbiratul ihram shalat pertama, takbiratul ihram shalat kedua dan ketika salam dari shalat pertama. Shalat pertama yang dimaksud dalam syarat kedua ini adalah shalat zuhur atau maghrib. Sedangkan shalat kedua yang dimaksud adalah shalat ashar atau isya’. 

Perincian tentang ketentuan menjamak shalat disebabkan hujan di atas seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji:

ولا يجوز جمعهما في وقت الثانية، لأنه ربما انقطع المطر، فيكون أخرج الصلاة عن وقتها بغير عذر ويشترط لهذا الجمع الشروط التالية: (١) أن تكون الصلاة جماعة بمسجد بعيد عرفا، يتأذى المسلم بالمطر في طريقه إليه، (٢) استدامة المطر أول الصلاتين، وعند السلام من الأولى

“Tidak diperbolehkan menjamak kedua shalat (dalam keadaan hujan) pada waktu kedua, karena hujan terkadang akan reda (di waktu kedua) maka hal ini menyebabkan seseorang tidak melaksanakan shalat pada waktunya dengan tanpa uzur. Dan disyaratkan dalam melaksanakan jamak ini beberapa syarat yaitu: (1) shalat dilaksanakan dengan berjamaah di masjid yang jaraknya jauh menurut standar umum (‘urf), yang sekiranya bakal merepotkan seseorang ketika berjalan menuju masjid; (2) hujan berlangsung di awal dari dua shalat dan ketika salamnya shalat pertama.” (Mustafa al-Khin dan Musthafa al-Bugha, al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhabi Imam al-Syafi’i, juz I, hal. 127)

Dari kedua syarat di atas yang perlu diperjelas adalah syarat pertama. Maksud dari syarat tersebut adalah bahwa menjamak shalat saat hujan hanya diperbolehkan bagi orang yang melaksanakan shalat jamaah di tempat yang biasa digunakan untuk berjamaah dan ketika perjalanan menuju tempat tersebut ia mendapati kesulitan karena pakaiannya terkena tetesan hujan.

Berdasarkan syarat tersebut maka menjamak shalat karena hujan tidak berlaku bagi orang yang melaksanakan shalat jamaah di rumah ketika sedang hujan, atau melaksanakan shalat di masjid namun ketika perjalanan ia tak mengalami kesulitan atau tidak terkena tetesan hujan karena ternaungi oleh atap yang mencegahnya dari tetesan hujan. Maka dalam keadaan demikian ia tidak diperbolehkan menjamak shalat karena tidak memenuhi syarat pertama. Seperti yang dijelaskan dalam kitab  al-Raudah at-Thalibin:

ثم هذه الرخصة لمن يصلي جماعة في مسجد يأتيه من بعد، ويتأذى بالمطر في إتيانه. فأما من يصلي في بيته منفردا، أو في جماعة، أو مشى إلى المسجد في كن، أو كان المسجد في باب داره، أو صلى النساء في بيوتهن جماعة، أو حضر جميع الرجال في المسجد، وصلوا أفرادا، فلا يجوز الجمع على الاصح.

“Keringanan (menjamak shalat karena hujan) ini bagi orang yang shalat jamaah di masjid yang datang dari jarak jauh dan merasa kesulitan karena terkena hujan pada saat berangkatnya. Adapun orang yang shalat di rumahnya sendirian atau dengan jamaah atau perjalanan menuju masjid dalam keadaan teduh (tidak terkena hujan) atau masjid berada di samping pintu rumahnya atau para wanita shalat di rumah mereka dengan berjamaah, atau semua laki-laki hadir di masjid namun mereka shalat sendirian maka tidak diperbolehkan menjamak shalat dalam keadaan-keadaan di atas menurut qaul ashoh (pendapat yang kuat).” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Raudah at-Thalibin, juz 1, hal. 502)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menjamak shalat saat hujan adalah salah satu rukhshah yang bisa dilaksanakan dalam keadaan-keadaan tertentu, tidak setiap hujan dapat membuat seseorang menjadi boleh untuk menjamak shalat, namun harus memenuhi syarat-syarat yang telah dijelaskan dalam penjelasan di atas. Wallahu a’lam.

(Ustadz  Ali Zainal Abidin)