IMG-LOGO
Trending Now:
Shalat

Terlanjur Shalat tanpa Menghadap Kiblat

Rabu 19 Desember 2018 11:0 WIB
Share:
Terlanjur Shalat tanpa Menghadap Kiblat
(Foto: @pinterest)
Saat Allah menyerukan perintah shalat dalam firman-Nya, “Dan dirikanlah shalat”, maka Allah juga memerintahkan syarat-syaratnya. Hal ini sesuai dengan kaidah ushul fiqih:

الأمر بالشيء أمر به وبما لا يتم الفعل إلا به

Artinya, “Memerintahkan perkara juga memerintahkan perkara yang menjadi penyempurnanya.”

Dalam konteks perintah shalat, yang dimaksud penyempurnanya adalah syarat-syarat shalat. Salah satu yang menjadi syarat sah shalat adalah menghadap kiblat. Menghadap kiblat disyaratkan bagi orang yang mampu menghadapnya. Kewajiban ini berdasarkan firman Allah:

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Artinya, “Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram,” (Surat Al-Baqarah ayat 144).

Demikian pula sabda Nabi kepada Khallad bin Rafi’ al-Anshari yang memperburuk shalatnya:

إذا قمت إلى الصلاة فأسبغ الوضوء ثم استقبل القبلة

Artinya, “Bila engkau hendak menjalankan shalat, maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah kiblat,” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dalil lainnya adalah Ijma’ (konsensus) ulama bahwa shalat tidak sah tanpa menghadap kiblat.

Menghadap kiblat bisa dihasilkan dengan yaqin atau zhann (dugaan). Menghadap secara yakin berlaku untuk orang yang dekat dengan ka’bah, misalkan orang yang berada di sekitar Masjidil Haram. Sedangkan untuk orang yang jauh dari ka’bah standarnya adalah zhann (dugaan) bahwa ia telah menghadap kiblat. 

Ada beberapa hal yang dapat menjadi pijakan dalam menentukan arah kiblat, misalkan berlandaskan kepada mihrab masjid yang teruji tanpa ada yang mencelanya, berita dari orang terpercaya yang melihat kiblat secara langsung, berita dari banyak orang yang mencapai taraf khabar mutawatir (diyakini kebenarannya), bait al-ibrah (kompas) dan lain sebagainya. Dalam konteks kekinian, bait al-ibrah yang dijelaskan di beberapa kitab turats saat ini bisa digantikan dengan aplikasi sejenis google maps.

Saat kondisi tidak memungkinkan, misalkan di tengah jalan tanpa menemukan petunjuk apapun, maka seseorang diwajibkan untuk berijitihad (berusaha) dalam menentukan arah kiblat. Misalkan dengan cara meneliti arah mata angin atau arah matahari. Bila tidak memungkinkan untuk berijtihad, maka bertanya kepada orang lain.

Dalam menentukan arah kiblat, seseorang tidak boleh ngawur, tidak boleh melakukan shalat dengan asal menghadap tanpa dasar. Meski pada kenyataannya arahnya tepat, shalatnya tetap tidak sah. Shalat yang terlanjur dilakukan dengan menghadap kiblat tanpa ada dasar, maka ulama sepakat wajib diulangi.

Ketika sudah menghadap berdasarkan petunjuk yang didapat dari hasil ijtihadnya, namun setelahnya diyakini keliru, maka menurut pendapat al-azhhar (pendapat kuat), shalatnya tidak sah. Shalat yang terlanjur dilakukan tanpa menghadap kiblat, wajib diulangi. Saat kekeliruan terjadi di tengah-tengah shalat, maka shalat wajib diulang dari awal dan menghadap arah yang benar.

Pendapat pertama ini berargumen bahwa permasalahan kekeliruan menghadap kiblat bagi orang telah berusaha menemukan arah kiblat dianalogikan dengan kasus seorang hakim yang memutuskan persoalan berdasarkan ijtihadnya, kemudia ia menemukan dalil nash yang menyelesihi hasil ijtihadnya. Dalam kondisi tersebut, hakim wajib mencabut pendapatnya dan kembali kepada dalil nash.

Sementara menurut pendapat kedua, shalatnya tetap sah. Sebab ia meninggalkan kiblat disebabkan udzur, sehingga sama dengan persoalan meninggalkan kiblat saat kondisi perang.

Penjelasan di atas sebagaimana keterangan yang disampaikan dalam referensi berikut ini:

قوله (ومن صلى بالاجتهاد) منه أو من مقلده (فتيقن الخطأ) في جهة أو تيامن أو تياسر معينا قبل الوقت أو فيه أعاد أو بعده (قضى) وجوبا (في الأظهر) وإن لم يظهر له الصواب لتيقنه الخطأ فيما يؤمن مثله في العادة كالحاكم يحكم باجتهاده ثم يجد النص بخلافه  

Artinya, “Orang yang shalat dengan ijtihad dari dirinya sendiri atau orang yang dia ikuti, kemudian yakin keliru di dalam arah kiblat, arah kanan atau kiri kiblat secara tertentu, sebelum masuk waktu atau di dalamnya, maka ia wajib mengulangi shalat. Atau apabila terjadi setelah shalat, maka wajib mengqadla’ menurut pendapat al-Azhhar, meski tidak jelas baginya kebenaran. Sebab kayakinannya akan sebuah kekeliruan dalam persoalan yang secara adat terjamin dari kekeliruan, sebagaimana seorang hakim yang menghukumi berdasarkan ijtihad kemudian ia menemukan dalil nash yang menyelisihinya”.

والثاني لا يقضي لأنه ترك القبلة بعذر فأشبه تركها في حال القتال ونقله الترمذي عن أكثر أهل العلم واختاره المزني  وخرج بتيقن الخطأ ظنه
 
Artinya, “Menurut pendapat kedua, tidak wajib mengqadha’. Sebab ia meninggalkan kiblat disebabkan uzur, maka serupa dengan kasus meninggalkan kiblat dalam kondisi perang. Pendapat ini dikutip oleh At-Tirmidzi dari mayoritas ahli ilmu dan dipilih oleh Imam Al-Muzni. Dikecualikan dengan ungkapan yakin keliru, dugaan akan kekeliruan.”

قوله (فلو تيقنه فيها) أي الصلاة (وجب استئنافها) بناء على وجوب القضاء بعد الفراغ لعدم الاعتداد بما مضى

Artinya,“Bila yakin keliru di dalam shalat, maka wajib memulai shalat dari awal, berpijak dari pendapat yang mewajibkan mengqadla’ setelah selesai shalat, sebab tidak dianggapnya shalat yang telah dikerjakan,” (Lihat Syekh Al-Khathib Al-Syarbini, Mughnil Muhtaj, juz I halaman 147).

Demikian penjelasan mengenai hukum seseorang yang terlanjur keliru dalam menghadap kiblat. Ikhtilaf ulama di atas hendaknya tidak menjadi bahan untuk saling menghujat, namun sebagai bahan untuk menghormati perbedaan. Bila mempertimbangkan kehati-hatian, maka hendaknya mengikuti pendapat yang tidak mengesahkan, terlebih pendapat itu adalah pendapat yang kuat dalam mazhab Syafi’i. Semoga bermanfaat. Wallahu a‘lam. (Ustadz M Mubasysyarum Bih)
Share:
Rabu 19 Desember 2018 17:30 WIB
Memahami Shalat Lahir dan Batin
Memahami Shalat Lahir dan Batin
Memahami Shalat Zahir dan Batin
Seluruh Muslim di dunia ini sepakat tanpa ada perbedaan mengenai kewajiban shalat. Sejak kecil orang tua telah mengajarkan anak-anaknya untuk mendirikan shalat. “Wa aqîmus shalata, dan dirikanlah shalat” sudah lekat di otak kita masing-masing, lantas mengapa Allah SWT menggunakan lafaz aqîmû (dirikanlah) bukan shallû (shalatlah)?

Imam Al-Muhasibi mengingatkan kita semua dalam kitabnya Risalatul Mustarsyidin:

وَقُمْ بَيْنَ يَدَيْه فِي صَلَاتِكَ جُمْلَةً

Artinya, “Dirikanlah shalat di hadapan Allah SWT dengan seluruhnya,” (Lihat Al-Harits Al-Muhasibi, Risâlatul Mustarsyidin, [Darus Salam], halaman 132).

Abdul Fattah Abu Guddah memberi penjabaran mengenai nasihat Al-Harits Al-Muhasibi di atas, bahwa yang dimaksud dengan mendirikan shalat seluruhnya adalah, engkau mendirikan shalat dengan seluruh jiwa ragamu yang terdiri dari jiwa, hati dan akal seraya menyempurnakan bentuk dan adab dalam shalat, maka makna inilah yang dimaksud dari mendirikan shalat.

Abdul Fattah Abu Guddah menyebutkan dalam komentarnya atas Kitab Al-Muhasibi di atas:

وإقامة الصلاة معناها أداؤها كاملة الأركان والشروط الظاهرة والباطنة

Artinya, “Mendirikan shalat maknanya adalah melaksanakan secara sempurna rukun-rukun dan syarat-syarat yang lahir dan batin,” (Lihat Al-Harits Al-Muhasibi, Risâlatul Mustarsyidin, [Darul Salam], halaman 132).

Jika seseorang telah mendirikan shalat dengan makna seperti yang disebutkan di atas, maka shalatnya akan membuahkan hasil. Untuk mendapatkan hasil tersebut, seorang yang mendirikan shalat mesti melengkapi rukun dan syarat yang lahir dan yang batin.

Maka perkara lahir yang mesti disempurnakan adalah berupa ketenangan diri dan khusyu’ di dalam sujud dan ruku‘, serta berusaha memahami dan memperhatikan bacaan shalat yang berupa zikir, doa dan yang lainnya.

Adapun perkara batin yang harus disempurnakan yaitu menghadirkan rasa takut kepada Allah, dan menghadirkan sifat ihsan ketika shalat, artinya ia beribadah seakan-akan Allah melihatnya, jika tak bisa juga, maka sesungguhnya Allah melihatnya. Tatkala ia dapat menghadirkan rasa ini, kesibukan apapun takkan terlintas di benaknya, sebab keagungan Allah telah menyelimutinya.

Makna shalat inilah yang dimohon pertama kali oleh Nabi Ibrahim dari Allah SWT bagi keluarganya, Nabi Ibrahim berdoa:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Artinya, “Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, terimalah doaku,” (Surat Ibrahim ayat 40).

Begitu pula Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengajak keluarganya mendirikan shalat dengan makna seperti diatas, serta sabar menghadapi kesulitan dalam melaksanakannya, sebagaimana firman Allah SWT:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

Artinya, “Perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa,” (Surat Thaha ayat 132).

Sebagaimana disebutkan di atas, shalat yang sempurna akan membuahkan hasil. Di antara hasil shalat yang baik adalah tercegahnya seseorang dari kelakuan maksiat dan buruk. Allah menyebutkan dalam Al-Qur`an:

وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Artinya, “Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah-ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (Surat Al-Ankabut ayat 45).

Begitu pula, ia akan tahan dari cobaan yang menerpanya, serta menghalau segala masalah dengan hati yang tenang. Disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 153:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar,” (Surat Al-Baqarah ayat 153).

Dan masih banyak nilai berharga yang didapatkan dari shalat yang sempurna. Maka jangan heran jika banyak orang bertanya, “mengapa orang Islam shalat lima waktu namun tidak semua dari mereka baik perangai dan perbuatannya?” Jawabannya karena mereka melaksanakan shalat masih berupa amalan lahirnya, belum mendirikan shalat yang sesungguhnya sebagaimana yang dijelaskan di atas.

Semoga kita dapat mengamalkan “shalat” di setiap detik kehidupan kita. Agar ibadah lima waktu yang kita kerjakan setiap hari ini memiliki buah hasil yang bermanfaat bagi diri sendiri, maupun orang lain, di dunia maupun di akhirat. Amn. (Ustadz Amien Nurhakim)
Selasa 18 Desember 2018 16:0 WIB
Dzikir sesudah Shalat bagi Mereka yang Terburu-buru
Dzikir sesudah Shalat bagi Mereka yang Terburu-buru
Sudah maklum sekali bahwa setelah melaksanakan shalat disunnahkan bagi seseorang untuk membaca dzikir-dzikir serta doa-doa. Jenis dzikir dan doa ini masing orang bisa berbeda sesuai dengan riwayat yang didapatkan oleh seseorang dari guru atau orang lain yang mengajarkan kepadanya. 

Mengistiqamahkan suatu dzikir adalah sebuah perintah yang sangat dianjurkan oleh syara’, hal ini misalnya seperti yang ditegaskan dalam Al-Qur’an:

وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقاً

“Dan bahwasannya jika mereka tetap berjalan lurus (istiqamah) di atas jalan itu, maka sungguh kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).” (QS. Al-Jin: 16)

Namun keinginan seseorang untuk mengistiqamahkan bacaan dzikir dan doa tertentu untuk dilafalkan dalam shalatnya terkedang berbanding terbalik dengan realitas di lapangan. Seringkali seseorang saat hendak melantunkan dzikir setelah shalat, waktunya berbenturan dengan kesibukan yang meliputinya, seperti tugas kantor, perintah orang tua, kejar deadline, dan lain sebagainya yang membuat dirinya menjadi tidak bisa membaca dzikir yang biasa ia baca secara sempurna. 

Dalam keadaan demikian, manakah yang mesti ia pilih, apakah melanjutkan dzikir yang biasa dibacanya sampai selesai, atau beralih dan bergegas menuju kesibukan yang harus segera ia lakukan?

Konsep yang berlaku dalam dzikir adalah bahwa melaksanakan dzikir memang dianjurkan untuk dilakukan pada waktu-waktu tertentu sekiranya seseorang bisa istiqamah untuk membacanya—setelah shalat, misalnya. Namun dzikir ini menjadi boleh untuk di-qadha ketika waktu yang biasa digunakan untuk membaca dzikir ternyata berbenturan dengan aktivitas lain yang dipandang lebih penting untuk dilakukan.

Baca juga:
Anjuran Meng-qadha Wirid yang Terlewat
Susunan Bacaan Wirid Sesudah Shalat Lima Waktu
Hal ini dikarenakan pada aktivitas-aktivitas tertentu terkadang hanya bisa dilaksanakan pada saat itu saja dan ketika ditunda hasilnya menjadi tidak sempurna.  Berbeda halnya dengan dzikir yang masih terdapat opsi untuk dilaksanakan di waktu yang lain dengan cara qadha’, yaitu membaca dzikir di waktu yang lain ketika dipandang aktivitasnya sudah lengang.  

Aktivitas yang dapat membuat dzikir menjadi dianjurkan untuk di qadha’ misalnya seperti menerima tamu, bertemu dengan orang shalih, bertemu dengan keluarga serta aktivitas-aktivitas lain yang dipandang maslahatnya lebih besar untuk dilakukan seketika itu juga (setelah shalat) dibandingkan melanjutkan dzikir yang biasa ia baca setelah shalat. 

Hal ini seperti yang ditegaskan dalam kitab al-Futuhat ar-Rabbaniyyat ala al-Adzkar an-Nawawiyyat:

ـ (فصل في أحوال تعرض للذاكر يستحب له قطع الذكر بسببها ثم يعود إليه بعد زوالها) منها إذا سلَّم عليه ردّ السلام ثمّ عاد إلى الذكر. 

“Pasal menjelaskan tentang keadaan yang baru datang  bagi orang yang berdzikir. Disunnahkan bagi orang yang berdzikir untuk memutus dzikirnya dengan sebab datangnya keadaan-keadaan tertentu lalu kembali melanjutkan dzikirnya setelah selesainya. Keadaan-keadaan itu seperti ketika ada orang salam maka ia dianjurkan mendahulukan menjawab salam lalu kembali melanjutkan dzikir.

وكذا إذا عطش عنده عاطس شمّته ثمّ عاد إلى الذكر وكذا إذا سمع الخطيب وكذا إذا سمع المؤذن أجابه في كلمات الأذان والإقامة ثمّ عاد إلى الذكر وكذا إذا رأى منكرا أزاله أومعروفا أرشد إليه أو مسترشدا أجابه ثمّ عاد إلى الذكر كذا إذا غلبه النعاس أو نحوه وما أشبه هذا كلّه.

“Begitu juga ketika mendengar orang yang bersin maka ia mesti membaca Yarhamukallah terlebih dahulu lalu melanjutkan dzikirnya, ketika mendengar orang yang khutbah, ketika mendengar orang yang azan maka ia menjawab azan dan iqamah terlebih dahulu lalu melanjutkan dzikirnya, ketika melihat perkara munkar maka ia hilangkan terlebih dahulu kemungkaran tersebut atau melihat terdapat perkara yang bagus (Amar Makruf) maka ia tunjukkan jalan menuju perkara yang bagus ini, atau ada orang yang minta petunjuk maka jawablah pertanyaannya lalu kembalilah melanjutkan dzikir. Begitu juga ketika dalam keadaan ngantuk berat atau hal yang sama dan dalam keadaan-keadaan yang menyerupai semua kondisi-kondisi di atas.”

ـ (قوله وما أشبه هذا كلّه) أي من كلّ أمر مهمّ عرض والإشتغال به يمنع من الذكر الأهمية فيه إمّا لكونه يفوت أو لعظيم فائدته وكثرة مصلحته كالأمر بالمعروف ونحوه على أن القصد من الذكر إنما هو عمارة الجنان بذكر الرحمن والقائم بأوامره من أرباب هذا المقام 

“Maksud dari keadaan-keadaan yang menyerupai kondisi-kondisi di atas adalah setiap perbuatan penting yang baru datang sedangkan melaksanakan perbuatan ini akan mencegah untuk melanjutkan dzikir-dzikir yang penting. Adakalanya karena perbuatan ini akan hilang seiring berjalannya waktu atau karena besarnya dari faidah perbuatan ini dan banyaknya kemaslahatan yang terdapat di dalamnya seperti perbuatan amar ma'ruf nahi munkar  dan perbuatan-perbuatan yang sama. Hal ini (memutus dzikir) berdasarkan bahwa sesungguhnya tujuan dzikir adalah membangun hati dengan menyebut Allah yang maha pengasih. Sedangkan menjalankan perintah-perintah-Nya merupakan sebagian dari maqam ini.” 

–إلى أن قال- فإذا كان الفضل الشرعي في الصلاة مثلا صلّى وإذا كان في مجالسة العلماء والصالحين والضيفان والعيال وقضاء حاجة مسلم وجبر قلب مكسورونحو ذلك فعل ذلك الأفضل وترك عادته

“Maka ketika keutamaan syara’ lebih mendahulukan melaksanakan shalat, hendaknya ia melakukan shalat dan ketika keutamaan syara’ lebih mendahulukan berkumpul dengan para ulama’, orang-orang shalih, para tamu, keluarga dan memenuhi kebutuhan orang muslim dan mengobati hati orang yang putus asa atau hal yang sesamanya maka hendaknya ia melaksanakan hal yang lebih diutamakan di atas dan meninggalkan kebiasaan (wirid)-nya.” (Muhammad bin ‘Alan, al-Futuhat ar-Rabbaniyyat ala al-Adzkar an-Nawawiyyat, Hal. 154-155)

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa bagi orang yang terburu-buru untuk melaksanakan aktivitas lain yang dipandang lebih penting, maka setelah melaksanakan shalat, ia dianjurkan untuk langsung melanjutkan aktivitasnya dan meninggalkan dzikir yang biasa ia baca, dengan niatan nantinya ketika kesibukannya telah mulai lengang maka ia mengqadha bacaan dzikir yang biasa ia baca setelah shalat, sehingga ia tetap bisa istiqamah membaca dzikir setelah shalat, meskipun di waktu yang berbeda. Wallahu a’lam

(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Senin 17 Desember 2018 15:0 WIB
Azan Berkumandang ketika Pertengahan Belajar Mengajar
Azan Berkumandang ketika Pertengahan Belajar Mengajar
Ilustrasi (Tebuireng Online)
Menjawab azan merupakan sebuah kesunahan bagi umat Muslim ketika mendengarnya. Perintah ini terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ مسلم

“Ketika kalian mendengarkan orang yang azan, maka jawablah seperti halnya kalimat yang dikumandangkan olehnya.” (HR. Muslim)

Sehingga ketika seseorang sedang beraktivitas yang ada kaitannya dengan pembicaraan, sebaiknya untuk menghentikan pembicaraan sejenak demi mendengarkan dan menjawab azan yang sedang berkumandang. 

Lalu bagaimana jika aktivitas yang sedang dilakukan adalah belajar-mengajar, apakah dianjurkan diam lalu beralih menjawab azan, atau memilih untuk melanjutkan belajar-mengajar dengan mempertimbangkan jika pelajaran diputus maka konsentrasi secara otomatis akan berpindah?

Para ulama dalam hal ini berpandangan bahwa hal yang lebih diutamakan dalam keadaan demikian adalah berhenti dari aktivitas belajar mengajar guna mendengarkan dan menjawab azan. Pandangan demikian dilandasi karena kegiatan belajar mengajar adalah suatu ibadah yang dapat dilakukan kapan pun tanpa dibatasi oleh waktu, sedangkan menjawab azan adalah sebuah kesunnahan yang hanya berlaku ketika saat azan berkumandang saja. Sehingga, hal yang baik ketika dua hal ini terjadi secara bersamaan adalah memilih ibadah yang dilaksanakan berdasarkan batas waktu tertentu agar kesunnahan tidak menjadi hilang, dalam hal ini adalah menjawab azan. 

Pandangan di atas sesuai keterangan yang dijelaskan dalam kitab Busyra al-Karim:

ويسن (أن يقطع القراءة) ونحو الذكر كتدريس وإن كان واجبا لأنه لا يفوت بخلاف الإجابة

“Disunnahkan untuk memutus membaca Al-Qur’an dan dzikir seperti mengajar meskipun merupakan hal yang wajib. Sebab sesungguhnya (anjuran) mengajar itu tidak akan hilang, berbeda halnya dengan menjawab azan.” (Syekh Said bin Muhammad Ba’asyin, Busyra al-Karim, hal. 196)

Namun terdapat pandangan yang berbeda dalam mazhab hanafiyah bahwa yang baik untuk dilakukan adalah tetap melanjutkan belajar mengajar. Seperti yang dikutip dalam kitab Fathu al-‘Alam:

ورأيت بهامش كتاب الوسم للعلامة الحلواني نقلا عن الحنفية ما يفيد عدم قطع قراءة العلم الشرعي لأجل الإجابة. ونصه قال الحنفية: ويجيب من سمع المؤذن ولو جنبا لا حائضا ونفساء وسامع خطبة ومن في صلاة ولو جنازة، وجماع وبيت خلاء وأكل وتعليم علم شرعي وتعلمه، بخلاف قرآن لأنه لا يفوت بالإجابة بخلاف التعلم. فعلى هذا لو يقرأ تعليما وتعلما لا يقطع كما قاله السائحاني

“Aku melihat di hamisy (pinggir) kitab al-Wasm milik Imam Allamah al-Halwani menukil dari pendapat Hanafiyah, berupa keterangan tidak dianjurkan memutus membaca ilmu syar’i karena tujuan menjawab azan. Berikut redaksinya: Berkata para ulama Hanafiyah bahwa dianjurkan menjawab orang yang azan meskipun dalam keadaan junub, tidak (dianjurkan menjawab) bagi orang yang haid, nifas, orang yang sedang mendengarkan khutbah dan orang yang sedang melaksanakan shalat walaupun berupa shalat janazah, orang yang sedang bersetubuh, orang yang berada di WC, orang yang sedang makan dan orang yang sedang mengajarkan ilmu atau sedang mempelajari ilmu. 

Berbeda halnya bagi orang yang sedang membaca Al-Qur’an sebab (anjuran) membaca Al-Qur’an tidak akan hilang dengan sebab menjawab azan, tak seperti mempelajari ilmu. Berpijak pada hal ini, orang yang sedang mengajarkan ilmu atau mempelajari ilmu tidak dianjurkan untuk memutusnya (untuk menjawab azan) seperti halnya pendapat yang dikemukakan imam as-Saihani.” (Muhammad bin Abdullah Al-Jurdani, Fathu al-‘Alam bi Syarh Mursyid al-Anam, Juz 2, Hal. 110)

Berdasarkan perbedaan pandangan dalam menyikapi permasalahan ini, kita lebih mengerti bahwa perbedaan tradisi yang terdapat di pesantren-pesantren yang dilakukan oleh para kiai ketika sedang mengajar, terkadang ada kiai yang memilih untuk melanjutkan mengajar, kadang ada pula yang memilih untuk berdiam dan beralih menjawab azan. Pilihan sikap tersebut memiliki dalilnya masing-masing sehingga tidak perlu bagi kita untuk berprasangka buruk pada kiai yang melanjutkan mengajar meski azan sedang berkumandang.

Begitu juga bagi siapa pun yang merasa dilematis pada saat belajar ataupun mengajar, lalu di pertengahan aktivitasnya ia mendengar azan, maka boleh baginya untuk memilih melanjutkan ataupun diam dan menjawab azan, meski hal yang lebih baik adalah diam dan menjawab azan sebab pendapat ini merupakan pendapat yang dijadikan pijakan oleh mayoritas ulama. 

Hal yang dianggap tidak baik adalah berhenti dari aktivitas belajar mengajar namun tidak untuk menjawab azan, tapi justru beralih pada aktivitas lain yang tidak bermanfaat, seperti mengobrol sesuatu yang tidak penting hingga ia lalai dalam menjawab azan yang sedang berkumandang. Wallahu a’lam.


(Ustadz Ali Zainal Abidin)