IMG-LOGO
Khutbah

Khutbah Jumat: Jangan Panggil Saudaramu ‘Cebong’ atau ‘Kampret’

Kamis 20 Desember 2018 7:30 WIB
Share:
Khutbah Jumat: Jangan Panggil Saudaramu ‘Cebong’ atau ‘Kampret’
null
Khutbah I
 
اَلْحَمْدُ للهْ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتْ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اَلْآِمِر بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّاهِىْ عَنْ جَمِيْعِ الْمَعَاصِيْ وَالْمُنْكَرَاتِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ ﷺ صَاحِبِ الْأَنْوَارِ وَالْمُعْجِزَاتْ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ ﷺ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ في أَحْوَالِ الْجَلِيَّاتِ وَالْخَلْوَاتْ. أما بعد 
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْنِىْ نَفْسِيْ وَاِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى في كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ 
 
Hadirin jamaah jumah hafidhâkumullâh,
 
Dalam kesempatan Jumat kali ini, kami berwasiat kepada pribadi kami sendiri dan para hadirin sekalian, marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah subhânahû wa ta’âlâ seraya menunaikan semua perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Semoga dengan ketakwaan kita tersebut, kita semakin dekat kepada Allah, selalu mendapatkan naungan ridha Allah subhânahû wa ta’âlâ, amin. 
 
Ma’asyiral hâdlirin, jamaah Jumat hafidhâkumullâh,
 
Pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) yang tinggal sebentar lagi ini masih diwarnai dengan ekspresi kebencian oleh antar-pendukung calon pemimpin. Satu pihak memanggil orang yang berlainan dukungan dengan “kecebong” yang berarti jenis amfibia yang masih dalam bentuk larva. Sedang pihak lain lagi memanggil lawannya dengan panggilan “kampret”. Kampret dalam bahasa Jawa mempunyai arti anak kelelawar. 
 
Bagaimana fiqih memandang hal demikian?
 
Imam Nawawi dalam kitabnya Syarah al-Muhadzab menyebutkan panggilan-panggilan kepada orang lain dengan panggilan yang buruk seperti memanggil dengan nama hewan anjing, keledai, bisa mengakibatkan pelakunya mendapatkan ta’zir atau hukuman dari pemerintah. Hal ini menunjukkan, pemanggilan tidak baik kepada orang lain merupakan sikap yang dilarang agama.
 
وَمِنَ الْأَلْفَاظِ الْمُوْجِبَةِ لِلتَّعْزِيْرِ قَوْلُهُ لِغَيْرِهِ يَا فَاسِقُ يَا كَافِرُ يَا فَاجِرُ يَا شَقِيُّ يَا كَلْبُ يَا حِمَارُ يَا تَيْسُ يَا رَافِضِيُّ يَا خَبِيْثُ يَا كَذَّابُ يَاخَائِنُ يَا قِرْنَانُ يَا قَوَادُ يَا دَيُّوْثُ يَا عَلقُ.
 
Artinya: “Di antara kata-kata yang mengakibatkan pelakunya mendapatkan hukuman ta’zir adalah ketika ada satu orang memanggil orang lain dengan panggilan ‘Hai kafir, hai orang yang durhaka, hai orang yang celaka, hai anjing, hai keledai, hai kambing jantan, hai orang syi’ah râfidlah, hai orang jelek, hai penipu, hai orang yang berkhianat, hai orang yang mempunyai dua tanduk, hai orang yang tidak mempunyai gairah sama keluarganya dan hai segumpal darah.” (An-Nawawi, Syarah al-Majmu’, [Dârul Fikr], juz 20, halaman 125). 
 
Dengan demikian, jika ada yang memanggil orang lain dengan panggilan nama hewan seperti anjing, keledai dan kambing hitam berhak dihukum pemerintah, maka begitu pula jika ada yang memanggil orang lain dengan sebutan kecebong atau pun kampret, masing-masing adalah nama hewan, bukan nama manusia sebenarnya. Pelakunya bisa dita’zir
 
Ta’zir adalah sebuah hukuman dari syari’at yang tidak diatur aturan bakunya dalam agama. Tidak seperti had dan qishas. Keduanya mempunyai aturan-aturan teknis yang mengatur. 
 
وَرُوِيَ: أَنَّ عَلِيّاً سُئِلَ عَنْ قَوْلِ الرَّجُلِ لِلرَّجُلِ: يَا فَاسِقُ، يَا خَبِيْثُ 
 
“Diriwayatkan, sesungguhnya Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang perkataan seorang laki-laki yang memanggil laki-laki lain dengan panggilan ‘hai fasiq, orang yang buruk’.”
 
فَقَالَ: هُنَّ فَوَاحِشُ، فِيْهِنَّ تَعزِيْرٌ، وَلَيْسَ فِيْهِنَّ حَدٌّ
 
“Ali menjawab, ‘Kalimat-kalimat itu adalah perkataan sangat kotor. Yang menyampaikan kalimat demikian berhak mendapatkan ta’zir, tidak had’.”
 
إِذَا ثَبَتَ هَذَا: فَإِنَّ التَّعزِيْرَ غَيْرُ مُقَدَّرٍ، بَلْ إِنْ رَأَى الْإِمَامُ أَنْ يَحْبِسَهُ.. حَبِسَهُ. وَإِنْ رَأَى أَنْ يَجْلِدَهُ.. جَلَدَهُ. وَلَا يَبْلُغُ بِهِ أَدْنَى الْحُدُوْدِ؛ 
 
"Kalau begitu, ta’zir adalah hukuman yang tidak diukur oleh syara’. Seumpama pemerintah memandang perlu memenjarakan, boleh. Seumpama kebijakan pemerintah adalah dengan dicambuk pelakunya, juga boleh. Yang penting tidak sampai batas minimal had.”
 
فَإِنْ كَانَ حُرًّا.. لَمْ يَبْلُغْ بِهِ أَرْبَعِيْنَ جَلْدَةً، بَلْ يَنْقُصُ مِنْهَا وَلَوْ جَلْدَةً. وَإِنْ كَانَ عَبْدًا.. لَمْ يَبْلُغْ بِهِ عِشْرِيْنَ جَلْدَةً. وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمُحَمَّدْ
 
Kalau pelakunya merdeka, ia boleh dicambuk namun tidak sampai 40 cambukan, boleh kurang walaupun hanya kurang satu saja. Apabila hamba sahaya, tidak boleh sampai 20 cambukan. Demikian dikatakan oleh Abu Hanifah dan Muhammad bin Idris.” (Yahya bin Abil Khair bin Salim al-Umrani, Al-Bayân, [Dârul Minhâj, Jedah, 2000), juz 12, halaman 533) 
 
Nama merupakan doa. Rasulullah ﷺ lebih suka memberikan nama dengan kata yang mengandung harapan-harapan baik. Karena Rasulullah Muhammad adalah orang baik, nama-nama yang diberikan pun selalu baik. Beliau tidak pernah membuat nama yang mempunyai akar kata buruk atau sial. Sebagaimana dahulu Rasul mengganti nama Burrah menjadi Zainab. Burrah adalah lubangan hidung unta bagian samping. Karena dirasa kurang baik, Rasul pun akhirnya menggantinya. Banyak kisah-kisah demikian dari Rasulullah. 
 
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Umar, diceritakan bahwa dahulu nama putri dari Sayyidina Umar adalah ‘Âshiyah yang mempunyai arti wanita durhaka. Oleh Baginda Nabi kemudian diganti menjadi Jamîlah yang mempunyai arti wanita cantik. (Lihat: Tarbiyatul Awlâd, juz 1, halaman 78). 
 
Dalam kitab Al-Muwatha’ susunan Imam Malik diceritakan dari Yahya bin Sa’id. Suatu ketika Umar bin Khattab bertanya pada seorang laki-laki. 
 
“Siapa namamu?” tanya Sayyidina Umar 
 
Jamrah,” jawab laki-laki itu. Jamrah mempunyai arti bara api. 
 
Umar melanjutkan pertanyaan kedua, “Siapa nama ayahmu?”
 
Syihab (artinya nyala api).”
 
“Dari mana kamu?”
 
“Dari huruqah (artinya panas).” 
 
“Lha kamu tinggalnya di mana?” 
 
Di hurratun nâr  (artinya panasnya bara api).” 
 
“Daerah mana itu?”
 
Dzi Ladhâ (artinya api yang menyala-nyala).”
 
Mendengar jawaban yang bertubi-tubi dari pria tersebut dengan segala namanya yang berkonotasi pada api dan membara, Sayyidina Umar kemudian berpesan pada pria itu. 
 
“Kasih tahu wargamu. Mereka semua akan binasa dan kebakaran!” 
 
Dan benar apa yang dikatakan Umar. Mereka binasa dan terkena kebakaran. (Lihat: Malik bin Anas, Syarah al-Muwatha’lil Abdil Karim Khadlir, Bab Mâ yukrahu minal Asmâ’
 
Ma’asyiral hâdlirin, jamaah Jumat hafidhâkumullâh,
 
Panggilan cebong kampret jelas bukan panggilan pujian. Panggilan tersebut berkonotasi ejekan. Kita dilarang Allah sebagaiamana dalam Al-Quran untuk tidak saling mengejek kepada orang lain. Barangkali orang yang kita ejek itu lebih mulia di mata Allah subhanahu wa ta’ala. Maka kita harus menghindari. 
 
Buktikan kalua kita itu orang baik, hanya akan melakukan hal yang baik. Jika ada orang menghina kita, itu urusan mereka. Tugas kita sebagai orang baik hanya dengan membalas dengan kebaikan. Karena kita hanya mempunyai stok kebaikan dalam tubuh kita. 
 
Kita tidak mempunyai stok perilaku buruk. Ibarat teko, tidak akan menuangkan isi yang tidak ada di dalamnya. Kalau dalamnya kopi, akan tertuang darinya kopi. Kalau isinya teh, akan keluar teh. Apabila kita ingin meniru Rasulullah yang baik, seharusnya kita menunjukkan isi pribadi kita, otak kita hanya berisi hal baik. Kita tidak perlu memanggil lawan politik dengan cebong kampret. Ini bukan tuntunan Rasulullah ﷺ. 
 
Rasulullah suka memberi nama kunyah yang baik-baik, bukan memberika laqab yang buruk. Dalam Al-Qur’an dikatakan: 
 
وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ 
 
Artinya: “Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasiq) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (QS Al Hujurât: 11) 
 
Kalau kita kemarin sudah terlanjur memanggil cebong kampret, sunnahnya kita menggantinya dengan yang baik.
 
وَيُسْتَحَبُّ لِمَنْ سُمِيَ أَوْ لُقِبَ باِسْمٍ قَبِيْحٍ أَنْ يُبَدِّلَهْ
 
Artinya: “Disunnahkan bagi orang yang dikasih nama atau diberi panggilan yang buruk, untuk diganti dengan yang lain.” (Muhammad bin Ahmad Asy-Syâthiri, Syarah al-Yâqût an-Nafîs, [Dârul Hâwi], juz 3, halaman 387)
 
Hadirin, 
 
Semoga kita senantiasa diberi pertolongan oleh Allah untuk bisa berbuat baik kepada sesama, tanpa menyakiti siapapun di muka bumi ini. Semoga kita bisa meniru akhlak Rasulullah ﷺ, bisa membahagiakan hati Rasulullah ﷺ. Semoga kita kelak mendapatkan syafa’at Rasulullah ﷺ, amin. 
 
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ العَظِيْمِ، وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَاَ فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمِ. أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشيطن الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، وَالْعَصْرِ، إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ .
 
Khutbah II
 
اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
 
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ. وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ، يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ وَعَلَى أَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ الْمُقَرّبِيْنَ، وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِيٍ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
 
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزِّ اْلإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنْ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَاصَّةً، وَعَنْ سَائِرِ اْلبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُر بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
 
 
 
Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang 
 
Tags:
Share:
Kamis 13 Desember 2018 10:0 WIB
Khutbah Jumat: Membangun Optimisme Menjalani Hidup
Khutbah Jumat: Membangun Optimisme Menjalani Hidup
null
Khutbah I
 
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَناَ أَنْ نُصْلِحَ مَعِيْشَتَنَا لِنَيْلِ الرِّضَا وَالسَّعَادَةِ، وَنَقُوْمَ بِالْوَاجِبَاتِ فِيْ عِبَادَتِهِ وَتَقْوَاهْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمّا بَعْدُ 
فَيَا عِبَادَ الله، اُوْصِيْنِي نَفْسِي بِتَقْوَى الله، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يَا أَيُّهَا الّذين آمنوا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ 
 
Hadirin jamaah Jumat hafidhakumullah
 
Kami berwasiat kepada pribadi kami sendiri, juga kepada para hadirin sekalian, marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah subhânahu wa ta’âlâ dengan selalu menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. 
 
Hadirin… 
 
Di tengah krisis multidimensi yang menimpa bangsa kita ini, mulai dari krisis moral, krisis ideologi, krisis ekonomi, dan lain sebagainya, marilah renungkan firman Allah berikut ini:
 
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ، الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ 
 
Artinya: “Dan sungguh kami uji kalian dengan sedikit rasa ketakutan, lapar, kekurangan harta benda, jiwa, buah buahan. Dan berilah kabar gembira orang orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang ditimpa musibah, mereka mengatakan ‘Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya. Mereka itulah orang yang akan mendapatkan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang mendapatkan hidayah.” (QS Al-Baqarah: 155-157) 
 
Hadirin jamaah Jumat hafidhakumullah
 
Dari ayat tadi bisa kita telaah bahwa kehidupan manusia itu selalu berubah-ubah. Roda kehidupan selalu berputar, terkadang kita jumpai kemudahan dalam segala bidang, dan pada lain waktu, kita temukan kesulitan hidup. Di satu saat kita bisa bersedih, di saat lain kita bisa tiba-tiba menjadi gembira. Semua dinamika ini dinamakan sebagai ujian dari Allah subhânahu wa ta’âlâ agar iman kita bisa menjadi tebal, kedekatan kita kepada Allah akan selalu bertambah. 
 
Dalam kitab matan al-Kharidah al-Bahiyyah, Syekh Ahmad Dardir mendendangkan sebuah syair:
 
وَكُنْ عَلَى آلَائِهِ شَكُوْرًا، وَكُنْ عَلَى بَلاَئِهِ صَبُوْرًا
 
Artinya: “Dan bersyukurlah atas nikmat-nikmat Allah, dan bersabarlah atas cobaan-cobaan-Nya.”
 
Qasidah ini menjelaskan tentang tugas kita, agar pandai-pandai bersyukur atas karunia Allah. Anugerah yang diberikan tidak membuat kita lena tentang bagaimana cara menggunakan nikmat tersebut secara baik dan benar. Begitu pula sebaliknya. Pada waktu kita dikasih cobaan oleh Allah, tugas kita adalah bersabar. Kita harus selalu ber-husnudhan kepada Allah. Kita perlu yakin, Allah akan memberikan kemudahan kepada kita, mungkin saja nanti atau di kemudian hari. 
 
Allah berfirman: 
 
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ، إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا 
 
Artinya: Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan.” (QS As-Syarh: 5-6)
 
Di ayat ini, Allah mengulangi tentang kebersamaan antara kesulitan pasti akan ada kemudahan, itu pasti. Bahkan Allah mengulangi sampai dua kali. Kita tidak boleh meragukan firman Allah ini. 
 
Dalam sebuah hadits qudsi, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radliyallâhu anh, Allah berfirman:
 
خَلَقْتُ عُسْرًا وَاحِدًا وَخَلَقْتُ سَيْرَيْنِ
 
Artinya: “Allah bersabda, Aku ciptakan kesulitan satu, tetapi di situ pula aku ciptakan dua kemudahan.” 
 
Hadirin,
 
Sekarang ini, di antara kita mungkin sedang bertani, namun gagal panen. Atau panen sukses tapi harganya tidak sesuai harapan. Yang menjadi pelajar, nilai yang diperoleh kurang sesuai harapan. Yang kerja kantor, ada masalah di kantornya. Yang berdagang ditipu orang. Hal tersebut bisa saja menimpa kita. Di saat-saat demikian, kita tetap harus menata hati untuk memosisikan Allah pada dugaan yang selalu baik. 
 
Kata Allah dalam hadits qudsi menyebutkan:
 
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ
 
Artinya: “Aku itu berada pada posisi dugaan hamba-Ku kepada-KU.” 
 
Maksudnya, jika kita meyakini Allah tidak akan bisa menyelesaikan masalah kita, masalah kita pun tidak akan kelar. Apabila kita yakin bahwa Allah bisa menyelesaikan urusan kita yang menurut ukuran kita itu sangat rumit, Allah pun akan menyelesaikan problem tersebut dengan skenarionya yang indah.
 
Maka yang patut kita panjatkan kepada Allah bukan kalimat “Ya Allah, masalahku sungguh besar.” Bukan. Namun, dengan kalimat “Masalah! Allah-ku maha paling besar.” Seberapa besar masalah kita, Allah lebih agung daripada masalah kita. 
 
Hadirin,
 
Perihal kesulitan, dari Ibnu Mas’ud menyebutkan:
 
وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ كَانَ الْعُسْرُ فِيْ حُجْرٍ لَطَلَبَهُ الْيُسْرُ حَتَى يَدْخُلَ عَلَيْهِ وَلَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرًا
 
Artinya: “Demi Allah, seandainya kesulitan, keterpurukan, kegagalan itu berada dalam suatu lubang, pasti kemudahan akan mencarinya hingga bisa merangsek masuk. Dan kesulitan tidak akan bisa mengalahkan kemudahan. Dalam arti, kemudahan pasti akan menang.”
 
Hadirin hafidhakumullâh,
 
Solusi terbaik menghadapi hidup adalah optimism. 
 
اَلْيَقِيْنُ اَلْعِلْمُ كُلُّهْ
 
Artinya: “Optimisme merupakan sumber keilmuan, apa saja.”
 
Mari kita bangun optimisme, sembari sambil membenahi kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita, kita evaluasi sikap kita, kinerja kita, dengan tetap mengutamakan doa, munajat kepada Allah subhânahu wa ta’âlâ yang rajin, shalat malam, supaya masalah kita diselesaikan oleh Allah dengan cara-Nya yang indah, insyaallah kita akan diberikan jalan keluar dari aneka krisis tersebut. 
 
Rasulullah shallalâhu alaihi wa sallam bersabda :
 
أَفْضَلُ الْعِبَادَةِ إِنْتِظَارُ الْفَرَجِ
 
Artinya: “Sebaik-baik ibadah adalah menanti kegembiraan.”
 
Yang dimaksud Rasulullah shallalâhu alaihi wa sallam kira-kira adalah optimisme menyambut datangnya kebahagiaan itu merupakan ibadah yang agung. Bagaimana kalau tidak agung apabila semua umat muslim di muka bumi ini berputus asa, tidak ada yang mau berusaha. Padahal putus asa merupakan suatu hal yang harus kita hindari. Lawan kata putus asa adalah optimisme, keyakinan yang tangguh.
 
Pesan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya yang disebutkan dalam al-Quran: 
 
وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ 
 
Artinya: “Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang kafir.” (QS Yusuf: 87)
 
Dengan demikian, ada beberapa pelajaran yang perlu kita petik dari khutbah kali ini: Pertama, semua orang akan dipenuhi rasa jika tidak sedang bahagia, maka dia sedang berduka. Jika bahagia, sikapnya harus bersyukur, jika berduka harus bersabar. 
 
Kedua, berdoa  atau memohon kepada Allah dengan penuh optimisme itu sangat penting. 
 
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ  
 
Artinya: Jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku sangat dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. (QS Al-Baqarah: 186) 
 
Dalam cerita Nabi Yunus saat dia ditelan oleh ikan, berkat doa yang ia panjatkan, Allah kemudian mengabulkan. Dzin Nun atau yang terkenal dengan nama Nabi Yunus pun akhirnya bisa keluar dari perut ikan. Sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Said bin Abi Waqash adalah:  
 
دَعْوَةُ ذِي النُّوْنِ إِذَا دَعَا رَبَّهُ وَهُوَ فِيْ بَطْنِ الْحُوْتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَك َإِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ.  لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِيْ شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتُجِيْبَ لَهُ
 
Artinya: “Doa Nabi Yunus ketika berada di perut ikan yang besar adalah ‘Lâ ilâha illâ anta, subhânaka innî kuntu minadh dhâlimîn.’ Tidak ada seorang muslim satu pun yang berdoa memakai kalimat itu kecuali dikabulkan doanya.”
 
Ketiga, pentingnya berhusnudhan kepada Allah ta’âlâ. Berprasangka baik merupakan kunci kebahagiaan 
 
Keempat, bagi orang yang sedang dirundung duka, penuh cobaan hidup, hendaknya memperbanyak doa: 
 
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَك َإِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ  
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ العَظِيْمُ الحَلِيْمُ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ العَرْشِ العَظِيْمُ 
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ رَبُّ العَرْشِ العَظِيْمُ
 
Atau
 
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ
 
Atau
 
الله الله رَبِّي لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
 
Semoga kita tergolong orang-orang yang diberikan anugerah bisa mensyukuri aneka macam nikmat Allah. Andai saja kita diberi cobaan, semoga kita dianugerahi sabar dan optimisme serta pribadi yang selalu dekat kepada Allah baik dalam keadaan suka maupun duka. 
 
بارك الله لى ولكم فى القرأن العظيم، وجعلني واياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم. إنه هو البر التواب الرؤوف الرحيم. أعوذ بالله من الشيطن الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم، وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3) ـ 
وقل رب اغفر وارحم وأنت ارحم الراحمين
 
Khutbah II
 
الحمد للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
 
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
 
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
 
 
(KH. Ahmad Wazir Ali)
 
 
Jumat 7 Desember 2018 11:15 WIB
Khutbah Jumat: Pemuda yang Dinaungi Allah di Padang Mahsyar
Khutbah Jumat: Pemuda yang Dinaungi Allah di Padang Mahsyar
Ilustrasi (via incarosenaho.com)
Khutbah I
 
اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الذى هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لو لا أن هدانا الله. اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له، واشهد ان سيدنا ومولانا محمد صاحب هداة الامة، وعلى آله وصحبه الذين نالوا درجات العليا مع المغفرة. اللهم فصل وسلم على حبيبك ورسولك سيدنا محمد خير الرسل الكرام البررة. اما بعد
اُوْصِيْنِىْ نَفْسِيْ وَاِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِىْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. 
 
Ma’âsayairal hâdlirîn, hafidhakumullâh
 
Di hari yang mulia, pada Jumat yang dijuluki sebagai sayyidul ayyam (rajanya hari) ini, marilah kita bersyukur atas nikmat tak terhitung dari Allah yang telah dilimpahkan kepada kita terutama nikmat iman dan kesehatan.
 
Melalui mimbar ini pula, kami ingin mengajak dan berwasiat khususnya kepada diri saya pribadi, marilah kita tingkatkan iman dan ketakwaan kita kepada Allah subhânahû wa ta’âlâ dengan cara menjaga dan melaksanakan semua perintah dan pada saat yang sama kita tinggalkan aneka macam larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya. 
 
Hanya dengan cara inilah insyaallah kita akan memperoleh ketenteraman dan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat kelak, amin. 
 
Hadlirin hafidhakumullâh,
 
Pada suatu ketika nanti, manusia akan menghadapi suasana yang sangat mencekam dan menakuntukan. Di saat itu, manusia dikumpulkan di padang mahsyar kelak pada hari kiamat. Jarak antara matahari dan manusia sangat dekat. Sehingga yang dirasakan adalah kepanasan luar biasa. Air keringat mereka bercucuran mengalir, tidak hanya membasahi sekujur tubuh, namun bisa sampai membanjiri tubuh masing-masing sesuai dengan amal masing-masing saat hidup di dunia. Ada yang membanjiri seseorang setinggi mata kaki. tapi tidak sedikit juga yang sampai menenggelamakaan mereka. Hal tersebut dikarenakan amal kejelekan yang dilakukan ketika hidup di dunia.
 
Pada situasi demikian, ada beberapa golongan yang memperoleh perlindungan dari Allah subhânahû wa ta’âlâ dari keadaan yang menakuntukan tersebut. Siapa mereka?
 
Tidak lain adalah mereka yang disabdakan oleh Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam:
 
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ اِلَّا ظِلُّهُ: اِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِيْ عِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسْجِدِ اِذَا خَرَجَ مِنْهُ حَتَى يَعُوْدَ، وَرَجُلَاِن تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَافْتَرَقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ فِيْ خَلْوَةٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ اِمْرَأَةٌ ذَات َمَنْصَبٍ وَجَمَالٍ اِلَى نَفْسِهَا فَقَالَ اِنِّي اَخَافُ اللهَ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهَ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ.  (رواه الشيخان) ـ
 
Artinya: “Ada tujuh golongan yang Allah akan menaungi mereka di dalam naungan Allah pada hari tidak ada naungan kecuali naungan Allah subhânahû wa ta’âlâ, yaitu: 
 
1. Pemimpin yang adil
 
2. Pemuda yang tumbuh dalam beribadah atau mengabdi kepada Allah.
 
3. Seseorang yang hatinya tergantung di dalam masjid ketika ia berada di luar masjid hingga ia kembali lagi ke masjid.   
 
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Berkumpul dan berpisah karena Allah.
 
5. Seseorang yang berdzikir atau ingat Allah dalam kesunyian lalu kedua matanya mengalirkan air mata.
 
6. Seorang laki-laki yang digoda oleh perempuan berkedudukan tinggi, berlimpah harta dan cantik jelita, lalu laki-laki itu menjawab, “Sesunguhnya aku takut kepada Allah.”.
 
7. Seseorang yang merahasiakan amalnya, sehingga seolah-olah tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.
 
Hadirin hafidhakumullâh,
 
Dengan keterbatasan waktu khutbah ini, kami tidak akan menguraikan satu persatu tentang tujuh golongan di atas. Kami hanya ingin sedikit fokus kepada golongan ketiga saja, yakni:
 
شَابٌّ نَشَأَ فِيْ عِبَادَةِ اللهِ
 
“Golongan pemuda yang hidupnya tumbuh dan berkembang untuk selalu beribadah, mengabdikan dirinya kepada Allah subhânahû wa ta’âlâ.”
 
Jamaah Jumat yang berbahagia, 
 
Di hari kiamat kelak, Allah akan memberikan apresiasi yang besar kepada para pemuda yang tekun beribadah. Kenapa? Karena banyak pemuda biasanya memang selalu  cenderung rawan menjauh dari  hal-hal positif yang bersifat mengabdi atau beribadah kepada Allah subhânahû wa ta’âlâ. Tidak sedikit daori mereka mengabdi atau mengikuti kesenangan hawa nafsunya sendiri. 
 
Hadirin,
 
Menjadi pemuda rajin beribadah yang kelak akan memperoleh naungan dari Allah subhânahû wa ta’âlâ tentu tidak mudah. Perlu tekad yang kuat dan didasari dengan keimanan yang kokoh kepada Allah subhânahû wa ta’âlâ. Sehingga beribadahnya menjadi lifestyle atau hobi, yaitu kesenangan yang pada gilirannya merasa menjadi kebutuhan. 
 
Jika seorang hamba dalam pengabdiannya kepada Allah merasa sebagai kebutuhan, maka kebutuhan hidupnya di dunia akan dipenuhi oleh Allah 'azza wa jalla
 
Sebagaimana Allah telah berfirman:
 
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا
 
Artinya: “Dan tidaklah ada makhluk yang melata di atas bumi ini kecuali Allah yang menanggung rezekinya.” 
 
Hadirin yang berbahagia, 
 
Pemuda yang hidupnya tumbuh untuk beribadah sekaligus juga mempunyai kewajiban menjadi pemuda yang berakhlak mulia, rendah hati, tidak sombong, sabar, tidak serampangan, tidak mudah tersulut kemarahannya, jujur, tidak suka bohong, bisa dipercaya, tidak khianat, rajin, tidak menjadi pemuda yang pemalas, suka menolong, tidak individualis, peduli pada lingkungannya, dermawan, suka memaafkan, tidak pendendam, menghormati dan menghargai orang lain, tidak suka menghina serta sikap-sikap terpuji lainnya. 
 
Dengan demikian, jika ada pemuda ahli ibadah dan kehidupan kesehariannya bagus, Allah akan memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya. Ketika ia mati, kelak pada saat orang sedunia dikumpulkan menjadi satu dari generasi Nabi Adam hingga orang yang lahir besok saat mendekati kiamat, semua berkumpul dalam hiruk-pikuk yang agung. Pada saat tidak ada naungan sama sekali. Semua merasakan panas yang sangat terik. Pemuda yang ahli ibadah tadi mempunyai prioritas dari Allah. Ia akan mendapatkan naungan, sehingga ia tidak kepanasan. Pemuda itu adalah pemuda yang rajin beribadah dan sudah barang tentu sikap dan perilakunya baik terhadap sesama. 
 
Mudah-mudahan Allah subhânahû wa ta’âlâ senantiasa membimbing kita termasuk didalam tujuh golongan tadi, yang kelak kita akan mendapatkan naungan dan perlindungan Allah di padang mahsyar kelak. Semoga Allah menjauhkan lingkungan kita dari pemuda yang suka mabuk-mabukan, suka berjudi, mencuri, berpacaran membawa wanita bukan mahramnya ke sana-ke mari, semoga Allah menjauhkan mental remaja kita yang bobrok, semoga diselamatkan mereka, dientaskan menjadi remaja yang dekat kepada Allah, dekat kepada masjid, takwa kepada Allah subhânahû wa ta’âlâ, amin. 
 
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ العَظِيْمِ، وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ بِماَ فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمِ. أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشيطن الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ 
 
Khutbah II
 
الحمد للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
 
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
 
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
 
 
KH Hanief Isma'il, Rais Syuriyah PCNU Kota Semarang
 
Selasa 4 Desember 2018 17:0 WIB
Khutbah Jumat: Cara Kaisar Heraclius Memverifikasi Kenabian Muhammad
Khutbah Jumat: Cara Kaisar Heraclius Memverifikasi Kenabian Muhammad
null
Khutbah I
بسم الله الرحمن الرحيم
اَلْحَمْدُ للهْ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَدَّبَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا ﷺ  فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللُه وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الَّذِيْ جَعَلَ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا  ﷺ  صَفِيَّهُ وَحَبِيْبَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا ﷺ عَبْدُهُ  وَرَسُوْلُه الْمَبْعُوْثُ الْمَمْلُوْءُ بِالْهُدَى وَالرَّحْمَة، اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ  وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةْ. أما بعدَه:
فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ 
 
Hadirin hafidhakumullâh,
 
Dalam kesempatan Jumat kali ini, saya berpesan untuk pribadi saya sendiri dan para hadirin sekalian, mari kita tingkatkan takwa kita kepada Allah subhânahû wa ta’âlâ seraya menunaikan semua perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. 
 
Hadirin. 
 
Nabi Muhammad merupakan utusan Allah sebagai rahmat untuk seluruh alam. Beliau diutus tidak hanya disuruh berbuat baik kepada orang mukmin saja, bukan diutus hanya berbuat baik untuk orang muslim saja. Bukan. Namun Baginda Rasul diutus untuk semuanya, baik manusia secara keseluruhan, hewan, tumbuhan, semua yang ada di jagat raya ini. 
 
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ 
 
Artinya: “Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat untuk seluruh alam.” (QS Al-Anbiya’: 107)
 
Sikap Nabi Muhammad menjadi cerminan perilaku agung bagi seluruh umat manusia. Dalam kitab Ad-Dibaiy, Syekh Abdurrahman menceritakan, di antaranya:
 
إِنْ أُوْذِيَ يَعْفُ وَلَا يُعَاقِبْ، وَإِنْ خُوْصِمَ يَصْمُتْ وَلَا يُجَاوِبْ 
 
Artinya: “Jika disakiti, beliau mengampuni dan tidak kemudian membalas. Jika didebat, beliau memilih diam dan tidak melayani perdebatan itu.” 
 
Sayyid Ali bin Alwi Al-Habsyi, dalam maulid Simtud Durar mengisahkan:
 
إِذَا دَعَاهُ الْمِسْكِيْنُ أَجَابَهُ اِجَابَةً مُعَجَّلَةً، وَهُوَ الأاَبُ الشَّفِيْقُ بِالْيَتِيْمِ وَالْأَرْمَلَةِ 
 
Artinya: “Apabila Nabi Muhammad diundang oleh orang yang miskin, beliau akan mendatangi undangannya dengan segera. Beliau merupakan sosok ayah yang kasih sayangnya begitu besar kepada anak yatim dan para janda.”
 
Hadirin. 
 
Sangat banyak kisah akhlak Rasulullah yang diriwayatkan di berbagai buku sejarah. Tidak hanya kepada orang Islam yang iman saja kebaikan perilakunya diakui. Namun hingga yang tidak mau tunduk pada beliau pun ketika bicara jujur, mereka mengakui keagungan sikap Nabi Muhammad ﷺ.
 
Sebagai contoh, berikut ini adalah pengakuan jujur dari Abu Sufyan kepada Kaisar Heraclius sebagaimana diungkap dalam kitab Irsyâdus Sârî syarah Shahîh Bukhâri karya Syekh Ahmad bin Muhammad al-Qathalani juz 1, halaman 72. 
 
Hadirin. 
 
Heraclius atau dalam bahasa latinnya Flavius Heraclius Augustus merupakan Kaisar Bizantium (Romawi Timur) yang berkuasa selama 30 tahun yaitu sejak 5 Oktober 610 – 11 Februari 641 setelah ia mampu melengserkan Pochus. 
 
Kemungkinan, karena pengaruhnya yang besar disertai luas wilayah kekuasaannya, mendorong Nabi Muhammad untuk berkirim surat kepada Kaisar Romawi tersebut. Namun ada sedikit kendala. Kaisar belum mengetahui profil pengirim surat, sehingga ia perlu tahu dahulu siapa sebenarnya yang mengirimkan surat itu. 
 
Kebetulan, Abu Sufyan bin Harb bersama orang-orang kafir Quraisy sedang berdagang di Syam. Waktu itu Abu Sufyan belum masuk Islam. Ia merupakan ayah dari Muawiyah seorang pendiri Bani Umayyah. 
 
Abu Sufyan bersama rombongan diminta menghadap Kaisar Romawi. Di sekelilingnya, para punggawa-punggawa kerajaan siap mendengarkan apa isi risalah yang telah diterima Kaisar. 
 
Kaisar Heraclius mencoba bertanya kepada rombongan dengan Bahasa Romawi, rombongan dari Arab tidak ada yang paham. Sehingga perbincangan dibantu dengan translator (penerjemah) 
 
“Mana di antara kalian yang mempunyai hubungan kerabat paling dekat dengan orang yang merasa dirinya sebagai Nabi itu?” tanya Heraclius. 
 
“Saya. Saya keluarga paling dekat dengan orang yang anda maksud,” jawab Abu Sufyan.
 
Memang Abu Sufyan bin Harb termasuk keluarga dekat Rasulullah. Ia menjadi suami dari bibi Nabi yang bernama Shafiyyah binti Abdul Muthallib. Hanya saja ia belum mendapat hidayah masuk Islam kala itu. 
 
Setelah mengaku sebagai kerabat, Heraclius tentu yakin, Abu Sufyan banyak tahu kepribadian saudaranya sendiri. Ia meminta Abu Sufyan dibawa mendekat. “Bawa orang itu mendekat kemari sekaligus teman-temannya sekalian,” pinta Kaisar. 
 
Kaisar berpesan kepada penerjemahnya, “Katakan kepada mereka. Saya akan bertanya tentang profil laki-laki yang mengirim surat ini. Jika dia berbohong kepada saya, maka berbuat bohonglah kalian kepadanya! Demi Tuhan, kalau bukan karena malu, jika mereka membohongiku, saya akan membohonginya.”
 
Setelah bercerita tentang ancaman Kaisar, Abu Sufyan lalu berkisah. “Sayalah orang pertama yang dicecar aneka macam pertanyaan raja Romawi itu.” 
 
“Bagaimana nasab laki-laki ini?” tanya Kaisar. 
 
Saya jawab, “Dia orang yang mempunyai nasab terpandang.”
 
“Apakah ada orang lain yang pernah sekalipun mengaku, saya sebagai nabi sebelum dia?”
 
“Belum pernah ada.”
 
“Apakah ayah atau nenek moyang dia ada yang pernah jadi raja?”
 
“Tidak ada.”
 
“Siapa saja pengikut laki-laki itu? Orang-orang terpandang atau kaum lemah?”
 
“Orang-orang lemah.”
 
“Bagaimana pengikutnya? Semakin bertambah atau berkurang?”
 
“Semakin bertambah terus.”
 
“Dari pengikut-pengikutnya, setelah mereka bergabung apakah ada yang menyatakan diri keluar lagi dari komunitasnya disebabkan kebencian?”
 
“Tidak ada.”
 
“Apakah kalian pernah ragu atas kebenaran ucapannya saat ia akan berbicara.”
 
“Tidak. Kami tidak pernah meragukan perkataannya.”
 
“Apakah dia pernah menipu?”
 
“Tidak. Selama yang kami tahu, hingga sekarang, kami tidak pernah tahu dia melakukan penipuan.”
 
Kaisar menimpali “Saya tidak mampu menyampaikan kalimat apapun selain kalimat tersebut.”
 
Ia kembali bertanya “Apakah kalian memeranginya?”
 
“Ya.”
 
“Bagaimana cara perang di antara kalian?”
 
“Perang antara kami dengan dia (Muhammad) pasang surut. Terkadang dia yang menang terkadang juga kalah.”
 
“Apa yang dia perintahkan kepada kalian?”
 
“Dia (Muhammad) mengatakan ‘Sembahlah Allah yang Maha Esa. Janganlah kalian sekutukan Allah dengan apapun!. Tinggalkan apa saja yang pernah dikatakan oleh nenek moyang kalian.’ Dia juga menyuruh kami melaksanakan shalat, berperilaku jujur, menjaga diri dan selalu menjalin silaturrahim.”
 
Usai mendengarkan uraian Abu Sufyan yang demikian detail, Kaisar Heraclius menyuruh penerjemahnya sebagai penyambung lidah selanjutnya. 
 
Kaisar menjelaskan, “Yang pertama tadi saya tanya bagaimana nasabnya, kamu (Abu Sufyan) menjawab, ia mempunyai nasab, begitulah para rasul (utusan Allah) semuanya juga mempunyai nasab yang terpandang daripada kaumnya itu sendiri.”
 
“Saya tanyakan tadi, ‘apakah sebelumnya ada seseorang yang mengaku juga sebagai nabi sebelumnya?’ Kalau jawabannya ada yang mengaku, pastinya nabi yang mengaku sebelumnya itulah yang menjadi nabi.”
 
“Lalu, saya tanyakan apakah di antara bapak dan nenek moyangnya terdapat orang yang mempunyai pangkat sebagai raja? Kamu menjawab ‘tak ada satupun’. Saya sampaikan, andai saja dia keturunan raja, saya meyakini dia sedang berusaha meraih jabatan yang pernah diraih kakek, nenek moyangnya.”
 
“Saya tanyakan, ‘apakah kalian pernah menduga ia melakukan sebuah kebohongan sebelum ia menyampaikan kata-katanya?’ Kamu menjawab ‘tak pernah’. Perlu saya jelaskan lagi, ‘saya yakin, kalau orang itu tidak pernah membiarkan dirinya berbohong kepada manusia, pasti ia tidak akan pernah berbohong kepada Allah.”
 
“Tadi saya juga menanyakan, ‘pengikutnya terdiri dari orang-orang terpandang atau kaum lemah?’ Kamu katakan pengikutnya adalah orang lemah. Begitulah pengikut-pengikut para rasul sepanjang sejarah.” Pengikutnya adalah orang-orang lemah. 
 
“Saya tadi minta klarifikasi, ‘apakah pengikutnya terus bertambah atau berkurang?’ Kamu jawab ‘bertambah’. Ya begitulah keadaan orang yang beriman. Orang beriman itu akan selalu meningkat, terus meningkat hingga mencapai kesempurnaan imannya.”
 
“Di antara mereka yang beriman adakah yang murtad karena benci kepada agamanya itu?’ Kamu jawab ‘tidak ada’. Begitulah iman. Saat manisnya sudah bercampur menjadi satu dengan hati tidak akan bisa lekang.”
 
“Saya tanya, ‘apakah dia pernah menipu?’ Kamu jawab ‘tidak’. Begitulah ihwal para utusan. Ia tak pernah menjadi penipu.”
 
“Saya tanyakan lagi, ‘apa yang dia perintahkan kepada kalian?’ Kamu menjawab ‘dia memerintahkan –sembahlah Allah, jangan sekutukan Dia dengan apapun. Dia mencegah kalian dari menyembah berhala. Memerintahkan kalian melakukan shalat, jujur dan menjaga diri dari kemaksiatan.- Apabila yang kamu katakan itu sungguh-sungguh benar, maka orang itu pasti kelak akan menguasai negeri yang kita injak dengan kedua kaki kita saat ini. Saya yakin, orang itu sekarang sudah lahir. Sedianya, saya mengira nabi itu tidak akan lahir dari komunitas kalian, tapi tidak. Ia ternyata lahir dari golongan kalian. Andai saja saya tahu, sungguh saya sangat berkeinginan untuk menemuinya. Apabila saya berada di sisinya, pasti saya akan membasuh kedua telapak kakinya.” 
 
Setelah menjelaskan demikian panjang lebar, Heraclius meminta dihadirkan surat yang kemudian dibacaan di hadapan Kaisar Romawi tersebut. Berikut isinya: 
 
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 
مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ. سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى، أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الإِسْلاَمِ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ. فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الأَرِيسِيِّينَ وَ {يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لاَ نَعْبُدَ إِلاَّ اللَّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ}.
 
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang maha kasih dan pengasih. Dari Muhammad, hamba Allah dan utusan-Nya kepada Heraclius pemuka Romawi. Keselamatan semoga selalu tercurahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk Tuhan. 
 
Berikutnya, saya ajak anda dengan seruan masuk Islam (syahadat). Peluklah Islam, Allah akan memberikan anda pahala berlipat ganda. Jika anda tidak berkenan, anda akan memikul dosa Arisiyyin (dosa semua keluarga kerajaan. Sebab dalam beragama, keluarga pasti akan ikut Heraclius), 
 
Hai para ahli kitab, marilah berpegang kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). 
 
Abu Sufyan kembali melanjutkan kisah pertemuannya dengan Heraclius. “Setelah Kaisar berbicara banyak dan dibacakan surat dari Nabi Muhammad, suasana tiba-tiba gaduh. Suara-suara semakin menguat. Kami kemudian dikeluarkan dari lokasi pertemuan.”
 
Dalam satu riwayat, hati Kaisar Heraclius sudah mantap bahwa Nabi Muhammad memang benar-benar hadir. Atas komentarnya yang mengarah condong kepada Nabi Muhammad, setelah Abu Sufyan keluar, Heraclius menyuruh orang-orang mengikuti Abu Sufyan itu. Namun tiba-tiba ia merasa keberatan jika terjadi kegaduhan lebih lanjut. Oleh karena itu, ia kemudian mengatakan “Ini tadi saya menyuruh kalian mengikuti orang-orang tadi hanya sebagai ujian saja. Saya mau menguji seberapa patuh kalian kepadaku.” 
 
Hadirin jamaah Jumat hafidhakumullah
 
Abu Sufyan yang belum masuk Islam, Kaisar Heraclius yang tidak Islam, mau-tidak mau secara jujur ia mengakui akhlak dan keshahihan perkataan Nabi Muhammad. Apalagi kita yang menjadi seorang muslim. Sudah menjadi kewajiban kita, acuan adab kita adalah Nabi Muhammad, bukan artis tv, bukan pula budaya yang jauh dari nilai Islam, mabuk-mabukan, meninggalkan shalat, suka menggunjing, adu domba dan lain sebagainnya. 
 
Semoga kita diberi pertolongan oleh Allah subhânahu wa ta’âlâ untuk meniru sikap Nabi Muhamamd ﷺ, amin. 
 
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ العَظِيْمِ، وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ بِماَ فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمِ. أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشيطن الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
 
Khutbah II
 
الحمد للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
 
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
 
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
 
(Ahmad Mundzir)