IMG-LOGO
Trending Now:
Thaharah

Batas Usia Anak Kecil yang Membatalkan Wudhu ketika Disentuh

Jumat 21 Desember 2018 20:30 WIB
Share:
Batas Usia Anak Kecil yang Membatalkan Wudhu ketika Disentuh
Sudah maklum bahwa menyentuh orang lain jenis yang bukan mahram dalam mazhab Syafi’i merupakan salah satu hal yang dapat membatalkan wudhu. Hal ini berdasarkan ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai dengan siku dan usaplah (rambut) kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh wanita, lalu kamu tidak memperoleh air maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih).” (QS Al-Ma’idah Ayat 6)

Namun para ulama mengecualikan dari batalnya menyentuh orang lain yang bukan mahram, yaitu anak yang masih kecil dan belum sampai pada usia yang bisa menimbulkan syahwat. Berbeda halnya orang berlainan jenis kelamin bukan mahram yang telah sampai pada usia yang bisa menimbulkan syahwat, maka menyentuhnya dapat membatalkan wudhu meskipun orang yang punya wudhu tidak bersyahwat pada wanita atau laki-laki yang disentuhnya. 

Baca juga:
Siapa Saja Mahram, Orang yang Haram Dinikahi itu?
Empat Hal yang Membatalkan Wudhu
Tentang batasan usia anak kecil yang tidak membatalkan wudhu ini para ulama memberikan pandangan bahwa yang menjadi pijakan adalah ‘urf (kebiasaan masyarakat setempat). Sehingga tidak ada ketentuan usia khusus yang menjadi patokan dalam menentukan batas usia anak kecil yang tidak membatalkan wudhu ini. 

Namun sebagian ulama lain ada yang menjadikan patokan khusus dalam menentukan usia anak yang sudah tidak masuk dalam kategori ini. Salah satunya adalah yang diungkapkan oleh Syekh Yusuf as-Sanbalawini bahwa usia tujuh tahun adalah batas akhir dari anak yang tidak menimbulkan syahwat, sehingga ketika anak sudah berusia tujuh tahun maka menyentuhnya dapat membatalkan wudhu. Sedangkan anak yang dianggap masih dalam tahapan tidak disyahwati adalah anak yang masih berusia lima tahun ke bawah, sehingga menyentuhnya tidak membatalkan. Sedangkan anak yang berusia enam tahun, dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama antara yang berpendapat membatalkan dan tidak membatalkan.

Ketentuan demikian seperti yang terdapat dalam kitab Mirqah Shu’ud at-Tashdiq:

ـ (ولمس بشرة الأجنبية مع كبر) يقينا فلا تنقض صغيرة لا تشتهى لأنها ليست في مظنة الشهوة. والمرجع في المشتهاة وغيرها إلى العرف على الصحيح. قال الشيخ أبو حامد: التي لا تشتهى من لها أربع سنين فما دونها أفاد ذلك الدميري. وقال شيخنا يوسف السنبلاويني: فإذا بلغ الولد سبع سنين فإنه ينقض باتفاق ذكرا كان أوأنثى وإذا بلغ خمس سنين فلا ينقض باتفاق.  وأما إذا بلغ ستّ سنين ففيه خلاف فقيل ينقض وقيل لا. وهذا يرجع إلى طباع الناس حتّى أنّ الولد الذي بلغ خمس سنين فقط ينقض لمن يشتهيها ولا ينقض لغيره

“Dan (di antara hal yang membatalkan wudhu) menyentuh kulit wanita lain (bukan mahram) yang telah besar secara yakin. Maka tidak batal menyentuh gadis masih kecil yang tidak menimbulkan syahwat, sebab ia bukanlah orang yang layak untuk dijadikan sebagai madzinnah as-syahwat (objek yang diduga kuat akan menimbulkan syahwat). Parameter dalam penentuan wanita yang disyahwati dan yang tidak disyahwati adalah urf (kebiasaan manusia  setempat) menurut pendapat yang sahih. 

As-syaikh Abu Hamid berkata: ‘perempuan yang tidak disyahwati adalah orang yang masih berusia empat tahun dan usia di bawahnya’ hal ini dikutip oleh Imam Ad-Damiri. Guruku, Yusuf As-Sanbalawini berkata, ‘ketika anak telah berusia tujuh tahun maka (menyentuhnya) dapat membatalakan wudhu menurut kesepakatan para ulama. Baik laki-laki maupun perempuan. Dan ketika berusia lima tahun maka (menyentuhnya) tidak membatalkan wudhu menurut kesepakatan para ulama. Sedangkan ketika berusia enam tahun maka terjadi perbedaan pendapat, ada yang berpendapat membatalkan ada pula yang berpendapat tidak membatalkan. Ketentuan ini berpijak pada perwatakan manusia, sampai seandainya anak yang berusia lima tahun saja (menyentuhnya) dapat membatalkan wudhu bagi orang yang merasa syahwat padanya dan tidak membatalkan bagi orang yang tidak syahwat padanya.” (Muhammad bin ’Umar Nawawi al-Bantani, Mirqah Shu’ud at-Tashdiq, hal. 44)

Berdasarkan penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa batas usia anak yang tidak membatalkan wudhu sebenarnya ditentukan oleh ‘urf atau common sense sehingga pijakannya bisa berbeda-beda sesuai dengan budaya umumnya masyarakat setempat. Namun sebagian ulama berpandangan bahwa batas usia akhir anak yang tidak membatalkan wudhu ketika disentuh adalah berusia tujuh tahun, sehingga dengan demikian baiknya bagi kita untuk menghindari menyentuh anak yang sudah berusia tujuh tahun walaupun sejatinya anak tersebut masih belum memunculkan rasa syahwat pada kita, hal ini dalam rangka mengambil jalan hati-hati (ihtiyath) atas menyikapi berbagai pandangan ulama dalam menyikapi hal ini. Wallahu a’lam.


(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Share:
Kamis 20 Desember 2018 15:0 WIB
Fiqih Thaharah: Tepatkah Ma’ul-Barad Diartikan ‘Air Embun’?
Fiqih Thaharah: Tepatkah Ma’ul-Barad Diartikan ‘Air Embun’?
Di dalam kitab Taqrib, sebuah kitab fiqh yang sangat populer di Indonesia, sang pengarang menjelaskan bahwa salah satu air yang boleh digunakan untuk bersuci adalah mâ’ al-barad (ماءالبرد). Beliau menulis:

المياهُ التي يجوزالتطهير بها سبعُ مِياه: ماءُ السماءِ وماء البحر وماءُالنهر وماء البئر، وماء العين، وماء الثلج، وماء البرد

“Air yang boleh (dan sah) digunakan untuk bersuci ada tujuh macam: air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air mata air, air salju dan air barad.”

Di berbagai pesantren di Indonesia, ماء البرد lazim diterjemahkan dengan makna air embun. Begitu pula di sebagian besar buku fiqih berbahasa Indonesia, sejumlah kamus Arab-Indonesia atau Indonesia-Arab dan di banyak situs web juga lazim diartikan dengan air embun. 

Salah satu buku fiqih paling populer di Indonesia, Risalah Tuntunan Shalat Lengkap (Penerbit CV Toha Putra, Semarang), pengarangnya Drs. Moh. Rifa'i setelah menguraikan tentang arti thaharah secara bahasa dan syara’, lalu ia mengutip penjelasan mengenai macam-macam air dari kitab Taqrib dan menerjemahkannya sebagai berikut:

“Air yang dapat dipakai bersuci ialah air yang bersih (suci dan menyucikan), yaitu air yang turun dari langit atau keluar dari bumi yang belum dipakai untuk bercuci. Air yang suci dan menyucikan ialah air hujan, air sumur, air laut, air sungai, air salju, air telaga dan air embun.”
Tulisan ini sama sekali tidak hendak mempermasalahkan apakah air embun dapat digunakan untuk bersuci ataukah tidak. Tulisan berikut ini sekadar ingin mendiskusikan ulang makna ماء البرد. Sudah tepatkah diterjemahkan dengan makna air embun?

Arti Embun

Kamus Besar Bahasa Indonesia menguraikan arti embun sebagai berikut:

“Em•bun n 1 titik-titik air yg jatuh dr udara (terutama pd malam hari); 2 uap yg menjadi titik-titik air; 3 Met endapan tetes air yg terdapat pd benda dekat atau di permukaan tanah yg terbentuk akibat pengembunan uap air dr udara di sekitarnya;spt -- di atas daun, pb selalu berubah (tt niat, maksud); spt -- di ujung rumput, pb lekas hilang (tt cinta kasih dsb);
-- asap embun halus spt asap pd malam hari; 
-- beku endapan berupa es berbentuk butiran, yg mengandung air...”
Wikipedia bahasa Indonesia menjelaskan:

“Embun adalah uap air yang mengalami proses pengembunan-proses berubahnya gas menjadi cairan. Embun biasanya muncul di pagi hari, di sela-sela kaca jendela atau di balik daun.”
Sedangkan padanan kata embun dalam bahasa Arab, salah satunya adalah الندى.

Perbedaan الندى (air embun) dan ماء البرد dalam Pandangan Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani

Dalam Qut al-Habib al-Gharib Tausyih ‘ala Fath al-Qarib al-Mujib (Penerbit Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah), hal. 17, Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani mengategorikan الندى (air embun) sebagai salah satu dari dua jenis ماء السماء (air yang turun dari langit) selain air hujan. Pengertian الندى (air embun) menurut beliau adalah:

والثاني الندى وهو الذي ينزل من آخر الليل ويقع على الزرع والحشيش الأخضر

“Jenis kedua (dari air yang turun dari langit) adalah embun. Ia adalah air yang turun di akhir malam dan jatuh pada tanaman dan rerumputan hijau.”

Sedangkan mengenai ماء البرد, beliau menjelaskan:

وهو النازل من السماء جامدا كالملح ثم ينماع على الأرض كما يوجد في مكة

“Ia adalah air yang turun dari langit dalam keadaan membeku seperti garam kemudian mencair di atas permukaan bumi sebagaimana yang ada di Makkah.”

Tampak jelas dalam penjelasan Syekh Nawawi al-Bantani bahwa yang dimaksud ماء البرد bukanlah air embun.

Makna ماء البرد dalam Kitab-kitab Mu’jam (Kamus), Fiqih dan Syarah Hadits

Al-Hafizh Murtadla az-Zabidi, seorang pakar bahasa dan hadits dalam karya mu’jam masterpiece-nya, Taj al-‘Arus min Jawahir al-Qamus (Penerbit Dar al-Hidayah, jilid 7, hlm. 413) mengatakan:

ـ (و) البَرَدُ (بِالتَّحْرِيك: حَبُّ الغَمَام) . وَعبَّرَه اللَّيثُ فَقَالَ: مَطَرٌ جامدٌ

Al-Barad dengan huruf ra’ yang difathah adalah biji atau butiran awan. Al-Laits menyebutnya air hujan yang beku.”

Al-Fayyumi dalam karyanya yang sangat populer, al-Mishbah al-Munir fi Gharib asy-Syarh al-Kabir (Penerbit Dar al-Hadits, hlm. 32) berkata:

وَالْبَرَدُ بِفَتْحَتَيْنِ شَيْءٌ يَنْزِلُ مِنْ السَّحَابِ يُشْبِهُ الْحَصَى وَيُسَمَّى حَبَّ الْغَمَامِ وَحَبَّ الْمُزْنِ

Al-Barad dengan huruf ba’ dan ra’ yang keduanya difathah adalah sesuatu yang turun dari awan, menyerupai kerikil, disebut sebagai butiran awan dan butiran mendung.”

Makna yang sama dikemukakan oleh Zainuddin ar-Razi dalam Mukhtar ash-Shahah, sebuah kitab mu’jam kecil yang sangat populer di berbagai belahan dunia Islam. Begitu juga oleh Al-Fairuzabadi dalam al-Qamus al-Muhith (Penerbit Mu’assasah ar-Risalah, hal. 371), sebuah kitab mu’jam yang sangat fenomenal sehingga setiap kitab mu’jam setelahnya disebut dengan term “Qamus”, mengikuti dan merujuk kepada judul kitab karyanya, al-Qamus al-Muhith.

Tidak hanya kitab-kitab mu’jam klasik, kitab-kitab mu’jam kontemporer juga mengemukakan makna yang sama. Al-Mu’jam al-Wasith, sebuah kitab mu’jam kontemporer menegaskan:

ـ (البَرَد) المَاء الجامد ينزل من السَّحَاب قطعا صغَارًا وَيُسمى حب الْغَمَام وَحب المزن

“Al-Barad adalah air beku yang turun dari awan berupa butiran-butiran kecil, disebut butiran awan dan butiran mendung.”

Dalam kitab-kitab fiqih pun, kita akan dengan mudah menemukan penjelasan yang sama. Syekh Ibrahim al-Bajuri dalam Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Syarh Ibn Qasim al-‘Izzi ‘ala Matn Abi Syuja’, juz 1, hal. 174 menjelaskan:

وقوله : (وماء البرَد) بفتح الراء وهو النازل من السماء جامدا كالملح ثم ينماع على الأرض 

“Perkataan pengarang: (وماء البرد) dengan huruf ra’ yang difathah, artinya adalah sesuatu yang turun dari langit dalam keadaan membeku seperti garam, kemudian mencair di atas permukaan bumi.”

Begitu pula di kitab-kitab syarah hadits yang mensyarahkan doa untuk mayit: واغسله بالماء والثلج والبرد , juga dikemukakan makna yang sama. Lihat misalkan penjelasan al-Qasthallani dalam Irsyad as-Sari li Syarh Shahih al-Bukhari dan al-Munawi dalam al-Faidl al-Qadir Syarh al-Jami’ ash-Shaghir.

Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa menerjemahkan ماء البرد dengan arti air embun tidaklah tepat. Mengacu kepada uraian dalam beberapa kitab di atas, البرد lebih tepat jika diartikan hujan es atau es yang berbentuk seperti kerikil yang turun dari langit. Dan yang bisa digunakan untuk bersuci adalah ماء البرد , yakni setelah البرد tersebut mencair menjadi air.

Sedangkan الثلج adalah salju, berbentuk seperti kristal lembut dan tidak berbentuk seperti kerikil. Yang bisa digunakan untuk bersuci adalah ماء الثلج, yakni setelah الثلج tersebut mencair menjadi air. 

Wallallahu A’lam.


Ustadz Nur Rohmad, Tim Peneliti/Pemateri Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, tinggal di Mojokerto

Senin 17 Desember 2018 17:0 WIB
Bisakah Sabun Menggantikan Debu untuk Menyucikan Najis Anjing?
Bisakah Sabun Menggantikan Debu untuk Menyucikan Najis Anjing?
Ilustrasi (Freepik)
Sebagaimana sudah maklum, najis terbagi menjadi tiga, yakni najis mughalladhah, yaitu najisnya anjing dan babi; najis mutawassithah atau najis standar yang jamak terjadi; dan terakhir najis mukhaffafah, najisnya anak laki-laki yang belum sampai berumur dua tahun dan baru meminum air susu ibu sebagai sumber makanan tunggal.

Baca: Tiga Macam Najis dan Cara Menyucikannya

Status kenajisan anjing ini pernah disinggung dalam sabda Rasulullah ﷺ: 

طُهُوْرُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُوْلَاهُنَّ بِالتُّرَابِ

Artinya: “Sucinya wadah salah satu di antara kalian ketika dijilat anjing adalah dengan cara dicuci sebanyak tujuh kali. Salah satunya dicampuri dengan debu.” (HR Muslim, Ahmad) 

Dari hadits di atas, menurut mazhab Syafi’i dan Hanbali, najis dari anjing bukan hanya berasal dari jilatan atau air liurnya saja, namun seluruh bagian hewan tersebut adalah najis mughalladhah, sebab mulut adalah anggota badan paling bersih. Apabila anggota badan yang paling bersih saja dianggap najis apalagi anggota lain, terlebih kotorannya. Oleh karena itu, sebagaimana kaidah dalam qiyas aulawiy, menurut kedua mazhab tersebut, baik air liur, kotoran, bulu, kulit dan bahkan keturunan hewan keduanya adalah najis mughalladhah.

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ad-Dâru Quthni dan al-Hâkim mengisahkan, Rasulullah pernah diundang untuk mendatangi satu rumah di sebuah kompleks masyarakat, beliau datang. Kemudian pada waktu lain, beliau diundang lagi di rumah yang lain, tapi Rasulullah tidak mendatangi undangan tersebut. Kata Rasul, “Rumahnya si Fulan ada anjingnya.” Lalu ada sahabat yang berkata pada Nabi, “Lha itu di rumahnya si Fulan yang ini ada kucingnya, Ya Rasul.” Rasul pun menjawab, “Sesungguhnya kucing tidak najis.” 

Dari cerita ini memberikan pemahaman bahwa anjing secara keseluruhan adalah najis. Antara air liur, daging, kencing dan lain sebagainya mempunyai tingkatan najis yang sama yaitu najis mughalladhah

Perihal cara menyucikan najis mughalladhah, sebagaimana bunyi tekstual hadits, najis anjing atau babi hanya bisa suci dengan cara dicuci sebanyak tujuh kali. Salah satu dari air yang dibuat untuk mencuci tersebut, harus dicampur dengan debu.

Berbagai literatur klasik menyebutkan, sebenarnya ada perbedaan apakah sabun atau sejenisnya bisa menggantikan debu ataukah tidak? 

Setidaknya hal ini dibahas oleh Syekh Jalaluddin al-Mahalli dalam kitabnya al-Mahalli, Syekh Ahmad al-Hijâzi di dalam kitabnya Tuhfatul Habib, Syekh Taqiyuddin Abu Bakar dalam Kifayatul Akhyar, Imam Nawawi dalam kitab Raudhatuth Thâlibîn, Syekh Abdul Karim bin Muhammad ar-Râfi’I dalam kitab Fathul Aziz. Apa penjelasan mereka soal bisa tidaknya sabun menggantikan fungsi debu dalam hadits di atas? 

Pertama, ada ulama yang menyatakan tidak bisa menggantikan. Artinya, salah satu dari air yang dibuat mencuci harus memakai campuran debu. Sebab, alat yang bisa digunakan untuk bersuci hanya terdiri dari dua unsur, yakni air dan debu. Orang wudhu untuk menghilangkan hadats harus menggunakan air. Jika tidak ditemukan air, maka debu sebagai gantinya. Debu di sini tidak bisa digantikan dengan pasir atau tepung. Pendapat demikian merupakan pendapat al-adh-har

Kedua, ada ulama yang menyamakan penggunaan debu bisa diganti dengan sabun dengan alasan sebagaimana orang yang menyamak kulit. 

Kulit bangkai hewan seperti macan, jerapah dan lain sebagainya bisa menjadi suci dengan cara disamak. Setelah suci dapat digunakan untuk baju, shalat dan sebagainya Menyamak bisa dilakukan dengan cara membersikan kulit dari sisa daging, kotoran dan lain sebagainya lalu dicuci menggunakan air, dikasih tawas atau daun yang biasa untuk menghilangkan sisa-sisa kotoran, daging dan sejenisnya. Pada kasus menyamak ini, ulama memperbolehkan bahan penghilang kotoran tidak harus dengan tawas, namun bisa dengan sabun.

Jika pada masalah menyamak ini sabun bisa menduduki pengganti bahan baku yang telah disebut syara’, maka pada bab pencucian najis mughalladhah mestinya sabun bisa menduduki posisi yang sama dengan debu. 

Begitu pula saat orang istinja’. Dalam hadits yang disebutkan media yang bisa dibuat untuk istinja’ ada dua, yakni air dan batu. Namun para ulama sangat banyak yang memperbolehkan istinja’ menggunakan tisu atau apa pun bentuknya yang penting kasar, kesat, sebagai pengganti batu. Pendapat kedua dengan analogi seperti ini, oleh para ulama dikategorikan pendapat adh-har

Baca juga:
Gus Mus: Bersuci dari Najis 'Mughalladhah' dengan Debu Bisa Diganti Sabun
Kiai Sahal Mahfudh soal Hukum Bersuci dengan Tisu
Ketiga, sabun tidak bisa mengganti debu kecuali dalam keadaan darurat. Misalnya, ada orang Muslim tinggal di Hongkong, tempat domisilinya di apartemen lantai 35. Di sana adanya sabun, tidak ada debu. Andaipun ia turun ke lantai bawah, adanya hanya keramik atau bebatuan. Pada kondisi tersebut, orang baru boleh memakai sabun sebagai pengganti debu. 

هل يقوم الصابون والاشنان مقام التراب فيه ثلاثة أقوال أظهرها لا: لظاهر الخبر ولانها طهارة متعلقة فلا يقوم غيره مقامه كالتيمم والثاني نعم كالدباغ يقوم فيه غير الشب والقرظ مقامهما وكالاستنجاء يقوم فيه غير الحجارة مقامها. الثالث أن وجد التراب لم يعدل إلى غيره وان لم يجده جاز اقامة غيره مقامه للضرورة ومنهم من قال يجوز اقامة غير التراب مقامه فيما يفسد باستعمال التراب فيه كالثياب ولا يجوز فيما لا يفسد كالاواني

Artinya: “Apakah sabun dan kayu penghilang kotoran itu bisa menduduki posisi debu?. Di sini ada tiga pendapat. Pendapat al-adh-har adalah tidak bisa sebagaimana bunyi tekstual hadits dan karena ini berkaitan dengan aturan mencuci, maka sabun tidak bisa menggantikan debu sebagaimana tayammum. Kedua, iya, bisa. Hal ini sebagaimana menyamak. Selain tawas dan daun penghilang kotoran bisa digantikan yang lain. Pada saat istinja’, batu bisa digantikan dengan yang lain. Pendapat ketiga, selama masih ada debu tidak bisa digantikan apa pun. Namun apabila tidak ada debu, boleh. Karena darurat. Ada pula pendapat yang menyatakan, selain debu boleh digunakan asalkan seumpama memakai debu bisa merusak objek seperti pakaian. Kalau dengan debu tersebut tidak sampai bisa merusak objek, seperti pada wadah, maka debu tidak bisa digantikan sama sekali. (Abdul Karim bin Muhammad ar-Râfi’I, Fathul Azîz syarah al-Wajîz, [Dârul Fikr], juz 1, halaman 264)

Bagaimana menggunakan pendapat yang kedua, yaitu memperbolehkan sabun sebagai ganti debu?

Jika kita menggali lebih dalam pemakaian istilah al-adh-har pada pendapat yang pertama, maka pendapat dhahir maupun al-adh-har masing-masing merupakan pendapat mazhab Syafi’i, namun karena ada perbedaan pandangan yang tajam, maka yang kuat diistilahkan dengan al-adh-har, sedangkan lawan katanya adalah dhahir. 

Selama kita mampu, mari kita gunakan pendapat al-adh-har, namun jika mengalami kesusahan, kita bisa memilih pendapat dhahir. Menurut para ulama, menggunakan pendapat dhahir masih pada batas toleransi diperbolehkan. 

Berbeda kalau pendapat yang A menyatakan shahîh, maka lawan katanya adalah dlaîf. Mengikuti pendapat dlaif yang semacam ini tidak diperbolehkan.

(Ustadz Ahmad Mundzir)

Jumat 14 Desember 2018 7:45 WIB
Cara Keluarkan Setan saat Bangun Tidur
Cara Keluarkan Setan saat Bangun Tidur
(Foto: @forbes)
Di antara sunnah yang perlu dilaksanakan sebelum mulai wudhu adalah membaca basmalah, cuci tangan, berkumur, dan istinsyâq.

Istinsyâq adalah menghisap air ke dalam hidung hingga sampai atas (insang/khaisyûm). Untuk mengantarkan air supaya bisa sampai masuk ke hidung, kita dapat menggunakan bantuan tangan sebagai media gayung atau bisa juga tanpa menggunakan bantuan tangan.

Namun sunnahnya adalah menggunakan tangan sebagai alat bantu. Sebab, seumpama hidung turun ke kulah untuk menyedot air, nanti akan mirip dengan hewan seperti kerbau, sapi dan sejenisnya. Ini perlu dihindari.

Sunnahnya lagi, Selain itu, gunakan tangan kiri saat mengambil air. Jika mampu, saat mengambil air dari pancuran atau kulah, ambillah dengan sekali ambil air. Sebagian masuk mulut. Sebagian lagi masuk hidung. Hal itu diulangi sebanyak tiga kali.

Hukum hirup air ke dalam hidung sebagaimana perintah Rasulullah dalam sebuah hadits, menurut madzhab Syafi’I, bukan menjadi wajib, tetapi sunnah. Sebab tidak ada petunjuk jika ada orang meninggalkan menghirup air ke hidung, lalu disuruh mengulanginya lagi. Ini menunjukkan bahwa menghisap air ke hidung itu tidak wajib.

Meski begitu, sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Bathal, ada sebagian pendapat ulama yang menyatakan istinsyâq hukumnya wajib.

Setelah orang menghirup air ke pangkal hidung, sebagai penyempuna, kemudian orang menyemprotkan air dari bagian depan kepala tersebut untuk kemudian dikeluarkan dengan dorongan semprotan yang cukup kuat.

Salah satu hikmahnya selain membuat hidung menjadi bersih adalah berfungsi untuk mengeluarkan setan bagi orang yang baru bangun dari tidur.

Sabda Rasulullah bersabda sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah RA:

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيَاشِيمِهِ 

Artinya “Jika salah satu dari kalian bangun dari tidurnya, maka keluarkan air dari pangkal hidung sebanyak tiga kali. Sungguh setan itu menginap pada masing-masing pangkal hidung seseorang,” (Muttafaq alaih).

Hadits di atas, setidaknya ulama terbagi pada dua pendapat. 

Pertama, orang yang pangkal hidungnya ada setan saat tidur sebagaimana yang diisyaratkan pada hadits di atas adalah orang yang sebelum tidurnya tidak membaca-bacaan doa terlebih dahulu.

Kalau baca doa, tidak akan ada setan numpang menginap di dalam tubuh. Maka bagi orang yang hidungnya dibuat menginap setan, supaya setan tersebut keluar, dengan cara mengisap air ke hidung, lalu menyemprotkannya kembali. Setan akan ikut keluar.

Ada ulama yang memandang lain. Orang yang sebelum tidur membaca doa semacam ayat kursi misalnya, hatinya tidak akan sampai kemasukan setan. Tapi setan hanya akan berhenti di pangkal hidung saat ia mencoba masuk ke dalam tubuh. Wallâhu a’lam. (Ustadz Ahmad Mundzir)