IMG-LOGO
Shalat

Hukum Shalat Hadiah untuk Orang yang Sudah Meninggal

Sabtu 22 Desember 2018 17:30 WIB
Hukum Shalat Hadiah untuk Orang yang Sudah Meninggal
Ilustrasi (wikipedia)
Berkaitan dengan shalat, kadang kita temukan di masyarakat praktik shalat hadiah untuk orang yang sudah meninggal. Pelaksanaan shalat ini dimaksudkan untuk meringankan beban mayit di kuburan. Bagaimana hukum shalat hadiah dalam perspektif fiqih Islam?

Shalat sunnah secara garis besar terbagi menjadi tiga macam. Pertama, shalat sunnah yang dibatasi dengan waktu, seperti shalat sunnah rawatib dan shalat tarawih. Kedua, dibatasi dengan sebab, seperti shalat Istisqa’ (memohon hujan) dan shalat gerhana. Ketiga, shalat sunnah yang tidak dibatasi dengan waktu dan sebab, atau biasa disebut dengan shalat sunnah mutlak.

Shalat sunnah yang dibatasi dengan waktu, harus dilakukan sesuai aturan waktu yang telah ditentukan, semisal tarawih. Pelaksanaannya tertentu di bulan Ramadhan setelah shalat Isya’. Sedangkan shalat sunnah yang dibatasi dengan sebab, harus dilakukan saat sebabnya masih wujud, semisal shalat istisqa’, terbatas ketika kondisi kekurangan air. Sementara untuk shalat sunnah mutlak, kapan pun bisa dilakukan.

Jenis shalat sunnah pertama dan kedua, pelaksanaannya harus mengikuti anjuran khusus dari Nabi. Tidak boleh dibuat-buat sendiri. Sehingga menjadi tidak sah, bila seseorang membuat-buat shalat sunnah sendiri dengan dibatasi waktu atau sebab tertentu. Sesuai dengan kaidah fiqih:

العبادة حيث لم تطلب لم تنعقد

“Ibadah ketika tidak dituntut, tidak sah”.

Atas dasar kaidah itu, ulama menyatakan keharaman melaksanakan shalat raghaib, shalat Shafar, shalat Nishfu Sya’ban, dan lain sebagainya. Sebab shalat-shalat yang jenis demikian tidak berlandaskan dalil yang shahih.

Lain halnya dengan shalat sunnah mutlak, boleh dialksanakan kapan saja. Berapa pun rakaatnya, di mana pun tempatnya, ada sebab atau tidak ada sebab, kita boleh secara bebas melaksanakannya, asalkan tidak dilakukan di waktu-waktu terlarang.

Berkaitan dengan shalat hadiah, Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa shalat tersebut tidak memiliki landasan dalil yang dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga melaksanakannya adalah haram dan tidak sah.

Dalam himpunan fatwanya, Rais Akbar NU tersebut mengatakan:

اورا ويناع فيتواه اجاء اجاء لن علاكوني صلاة رابو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت اع سؤال كارنا صلاة لورو ايكو ماهو اورا انا اصلى في الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها كايا كتاب تقريب، المنهاج القويم، فتح المعين ، التحرير لن سافندوكور كايا كتاب النهاية المهذب لن احياء علوم الدين، كابيه ماهو أورا انا كاع نوتور صلاة كاع كاسبوت. الى ان قال وليس لأحد أن يستبدل بما صح عن رسول الله انه قال الصلاة خير موضوع فمن شاء فليستكثر ومن شاء فليستقلل، فإن ذلك مختص بصلاة مشروعة.

“Tidak boleh berfatwa, mengajak dan melakukan shalat Rabu Wekasan dan shalat hadiah yang disebutkan dalam pertanyaan, karena dua shalat tersebut tidak ada dasarnya dalam syari’at. Tendensinya adalah bahwa kitab-kitab yang bisa dibuat pijakan tidak menyebutkannya, seperti kitab al-Taqrib, al-Minhaj al-Qawim, Fath al-Mu’in, al-Tahrir dan kitab seatasnya seperti al-Nihayah, al-Muhadzab dan Ihya’ Ulum al-Din. Semua kitab-kitab tersebut tidak ada yang menyebutkannya. Bagi siapapun tidak boleh berdalih kebolehan melakukan kedua shalat tersebut dengan hadits shahih bahwa Nabi bersabda, shalat adalah sebaik-baiknya tempat, perbanyaklah atau sedikitkanlah, karena sesungguhnya hadits tersebut hanya mengarah kepada shalat-shalat yang disyari’atkan”. (KH. Hasyim Asy’ari sebagaimana dikutip kumpulan Hasil Bahts al-Masail PWNU Jawa Timur).

Namun, bila yang dimaksud adalah melaksanakan shalat sunnah mutlak, kemudian pahalanya dihadiahkan untuk mayit, maka diperbolehkan. Pahala shalat yang dihadiahkan menurut pendapat Hanabilah (mazhab Hanbali) dan mayortitas ulama bisa sampai kepada mayit. 

Keterangan ini sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Isma’il Zain sebagai berikut:

حكم صلاة الهدية سؤال:ما حكم  صلاةالهدية للميت التي يصليها الإنسان بين العشائين فهل هي صحيحة ومحصلة لما نواه أولا؟
الجواب: والله الموفق للصواب أن الإنسان إذا صلى شيئا من النوافل ثم وهب للميت وأهداه له فإن ذلك الثواب يصل إلى الميت بإذن الله وهو مذهب الحنابلة وجمهور العلماء والله سبحانه وتعالى اعلم

“Hukum shalat hadiah. Pertanyaan: apa hukumnya shalat hadiah untuk mayit, yang dilakukan oleh seseorang di antara Maghrib dan Isya’, apakah sah dan dapat menghasilkan apa yang ia niati? Jawaban: Semoga Allah memberi pertolongan. Sesungguhnya apabila seseorang melaksanakan shalat sunnah, kemudian ia berikan dan hadiahkan untuk mayit, maka pahala shalat tersebut sampai kepada mayit dengan izin Allah. Ini adalah pendapat Hanabilah dan mayoritas ulama. Dan Allah Subahanhu wa Ta’ala maha mengetahui.” (Syekh Isma’il Zain, Qurrat al-‘Ain, hal. 59)

Persoalan shalat hadiah ini juga disinggung oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayah al-Zain, hal. 107. Beliau menyebutnya dengan shalat lil unsi fi al-qabri (shalat untuk menghibur mayat di kuburan). Di kitab tersebut juga disampaikan tata cara dan doa-doanya. Syekh Nawawi mengutip dari sebagian ulama, bahwa orang yang rutin melakukannya di setiap malam dan menghadiahkan pahalanya untuk setiap mayat dari kaum muslimin, ia mendapat pahala yang besar dan menjadi orang yang sangat beruntung. 

Penjelasan Syekh Nawawi ini harus dipahami dalam konteks shalat sunnah mutlak. Shalat sunnah yang beliau paparkan tetap tidak keluar dari kedudukannya sebagai shalat sunnah mutlak. Sebab, tidak ada dalil secara khusus tentang anjuran shalat hadiah sebagaimana ditegaskan oleh KH Hasyim Asy’ari di atas.

Mengarahkan referensi yang ada dalam Nihayah al-Zain sebagaimana di atas, bisa kita ilhaq-kan dengan referensi yang ditegaskan oleh Syekh Abdul Hamid Quds al-Makki mengenai shalat Shafar, Shalat Raghaib dan yang sejenisnya. Menurut beliau, bila shalat-shalat tersebut diniati secara khusus, maka haram dan tidak sah, sebagaimana banyak ditemukan dalam kitab-kitab turats. Namun, bila diniati dengan shalat sunnah mutlak, maka boleh dan sah.

Syekh Abdul Hamid Quds al-Makki menegaskan:

قلت ومثله صلاة صفر فمن أراد الصلاة فى وقت هذه الأوقات فلينو النفل المطلق فرادى من غير عدد معين وهو ما لا يتقيد بوقت ولا سبب ولا حصر له . انتهى

“Aku berpendapat, termasuk yang diharamkan adalah shalat Shafar (Rabu Wekasan), maka barang siapa menghendaki shalat di waktu-waktu terlarang tersebut, maka hendaknya diniati shalat sunnah mutlak dengan sendirian tanpa bilangan rakaat tertentu. Shalat sunnah mutlak adalah shalat yang tidak dibatasi dengan waktu dan sebab tertentu dan tidak ada batas rakaatnya”. (Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki, Kanz al-Najah wa al-Surur, hal. 22)

Demikian penjelasan mengenai hukum shalat hadiah. Semoga dapat dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima kritik dan saran. Wallahu a’lam.

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)


Tags:
Jumat 21 Desember 2018 8:0 WIB
Apakah Posisi Anak-anak di Shaf Pertama Hilangkan Keutamaan Shalat Jamaah?
Apakah Posisi Anak-anak di Shaf Pertama Hilangkan Keutamaan Shalat Jamaah?
(Foto: @reuters)
Dalam ritual shalat jamaah, tak jarang kita temukan orang tua mengajak anak-anaknya yang masih kecil untuk berangkat ke masjid agar mengikuti shalat jamaah. Orang tua mengajak anaknya ini tak lain bertujuan agar anaknya dapat terbiasa menjalankan shalat jamaah kelak ketika sudah dewasa.

Banyak juga anak-anak kecil yang berangkat ke masjid sendirian tanpa bersama dengan orang tuanya. Mereka bersemangat berangkat ke masjid biasanya karena teman-temannya yang seumuran juga ikut berangkat shalat berjamaah di masjid.

Realitas demikian adalah hal yang perlu ditradisikan, sebab sangat menunjang terhadap perilaku positif kepada anak-anak. Namun jangan sampai hal ini tidak disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh syara’ kepada anak kecil ketika shalat jamaah.

Sering kita lihat, anak kecil ketika shalat jamaah mereka menempati shaf yang paling awal. Padahal di belakangnya masih terdapat orang lain yang sudah baligh yang juga mengikuti shalat jamaah. Melihat realitas demikian terbesit sebuah pertanyaan, sudah benarkah ketentuan shalat jamaah ketika shaf awal terdapat anak kecil yang menempatinya?

Anjuran syara’ dalam hal penempatan para makmum dalam shalat jamaah adalah dengan cara menempatkan makmum laki-laki yang dewasa pada barisan paling depan (shaf awal), lalu barisan selanjutnya ditempati oleh anak-anak laki-laki yang belum baligh, lalu shaf selanjutnya ditempati oleh khuntsa (orang berkelamin ganda), lalu shaf selanjutnya ditempati oleh para wanita.

Ketentuan seperti inilah yang dianjurkan oleh syara’ agar pelaksanaan shalat jamaah menjadi sempurna. 

Ketentuan tidak bolehnya anak kecil menempati shaf paling depan dalam penjelasan di atas mengecualikan ketika anak kecil memang datang terlebih dahulu dibandingkan dengan orang-orang yang telah baligh, maka dalam hal ini anak kecil diperkenankan untuk menempati shaf depan. Pasalnya, mereka masih dianggap satu jenis dengan laki-laki yang telah baligh.

Penjelasan di atas tercantum dalam Kitab Mauhibatu Dzil Fadhal:

قوله (ويقف) ندبا فيما إذا تعددت أصناف المأمومين (خلفه الرجال) صفا (ثم) بعد الرجال إن كمل صفهم (الصبيان) صفا ثانيا وان تميزوا عن البالغين بعلم ونحوه هذا (إن لم يسبقوا) أي الصبيان (إلى الصف الأول فان سبقوا) إليه (فهم أحق به) من الرجال فلا ينحون عنه لهم لأنهم من الجنس بخلاف الخناثى والنساء ثم بعد الصبيان وان لم يكمل صفهم الخناثى (ثم بعدهم وان لم يكمل صفهم النساء) للخبر الصحيح ليلينى منكم أولوا الاحلام والنهى اى البالغون العاقلون ثم الذين يلونهم ثلاثا ومتى خولفا لترتيب المذكور كره وكذا كل مندوب يتعلق بالموقف فإنه يكره مخالفته وتفوت به فضيلة الجماعة كما قدمته فى كثير من ذلك

Artinya, “Lelaki (dewasa) disunnahkan untuk berdiri di shaf belakang imam (shaf pertama) ketika banyak makmum yang ikut berjamaah. Lalu setelah shaf lelaki penuh maka selanjutnya shaf yang di isi oleh anak-anak kecil. Termasuk dari anak kecil ini adalah anak (yang belum baligh) yang dapat dibedakan dari lelaki yang telah baligh dengan cara diketahui atau yang lainnya. Ketentuan ini ketika mereka (anak kecil) tidak mendahului mendapatkan shaf awal. Jika mereka mendahului pada shaf awal (dari orang baligh) maka mereka lebih berhak untuk menempati shaf awal dari lelaki yang telah baligh. Maka mereka tidak boleh diusir dari shaf awal karena mereka masih satu jenis (laki-laki). Berbeda halnya bagi khuntsa (orang yang berkelamin ganda) atau perempuan.”

Lalu yang menempati shaf di belakang anak kecil laki-laki, meskipun shaf mereka tidak penuh, adalah khuntsa, lalu setelah khuntsa adalah orang perempuan, meskipun shafnya khuntsa tidak penuh. Hal ini berdasarkan hadits shahih “Hendaknya mengiring-ngiringi barisan kalian (imam) orang-orang yang telah baligh, lalu setelah itu orang-orang yang mengiringi kalian,” (kata-kata ini diucapkan tiga kali oleh Rasulullah).

Ketika ketentuan tertibnya shaf di atas dilanggar, maka hukumnya makruh. Begitu juga kemakruhan ini juga berlaku pada melanggar segala kesunnahan yang berhubungan dengan tempat berdiri. Kemakruhan ini dapat menghilangkan fadhilah jama’ah, seperti yang telah saya (Mushannif) jelaskan dalam berbagai  keterangan yang berkaitan dengan hal ini. (Lihat Syekh Mahfudz At-Turmusi, Mauhibatu Dzil Fadhal Hasyiyah At-Turmusi, juz III, halaman 59-62).

Dalam memaknai hilangnya fadhilah jama’ah dalam permasalahan ini, terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli. Menurut Imam Ibnu Hajar, ketika ketentuan penempatan shaf di atas dilanggar oleh makmum, maka hal yang hilang adalah fadilah jama’ah bagi makmum.

Menurut Imam Ramli, perkara yang tidak di dapatkan makmum hanyalah fadhilah shaf sehingga fadilah shalat jamaah yang berupa keutamaan 27 derajat masih didapatkan oleh makmum. (Syekh Husein Abdullah, Itsmidul ‘Ainain, halaman 33).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa baiknya bagi anak kecil agar tidak ditempatkan pada shaf awal dalam shalat jama’ah, sebab hal demikian bertentangan dengan ketentuan yang telah ditetapkan syara’ dan akan menghiangkan fadilah jama’ah menurut Imam Ibnu Hajar dan menhilangkan fadilah shaf menurut Imam Ramli.

Berbeda halnya ketika anak kecil hadir di masjid terlebih dahulu dan menempati shaf yang awal, maka dalam keadaan demikian mereka menempati shaf awal menjadi tidak dipermasalahkan. Wallahu a’lam. (Ustadz Ali Zainal Abidin)
Rabu 19 Desember 2018 17:30 WIB
Memahami Shalat Lahir dan Batin
Memahami Shalat Lahir dan Batin
Memahami Shalat Zahir dan Batin
Seluruh Muslim di dunia ini sepakat tanpa ada perbedaan mengenai kewajiban shalat. Sejak kecil orang tua telah mengajarkan anak-anaknya untuk mendirikan shalat. “Wa aqîmus shalata, dan dirikanlah shalat” sudah lekat di otak kita masing-masing, lantas mengapa Allah SWT menggunakan lafaz aqîmû (dirikanlah) bukan shallû (shalatlah)?

Imam Al-Muhasibi mengingatkan kita semua dalam kitabnya Risalatul Mustarsyidin:

وَقُمْ بَيْنَ يَدَيْه فِي صَلَاتِكَ جُمْلَةً

Artinya, “Dirikanlah shalat di hadapan Allah SWT dengan seluruhnya,” (Lihat Al-Harits Al-Muhasibi, Risâlatul Mustarsyidin, [Darus Salam], halaman 132).

Abdul Fattah Abu Guddah memberi penjabaran mengenai nasihat Al-Harits Al-Muhasibi di atas, bahwa yang dimaksud dengan mendirikan shalat seluruhnya adalah, engkau mendirikan shalat dengan seluruh jiwa ragamu yang terdiri dari jiwa, hati dan akal seraya menyempurnakan bentuk dan adab dalam shalat, maka makna inilah yang dimaksud dari mendirikan shalat.

Abdul Fattah Abu Guddah menyebutkan dalam komentarnya atas Kitab Al-Muhasibi di atas:

وإقامة الصلاة معناها أداؤها كاملة الأركان والشروط الظاهرة والباطنة

Artinya, “Mendirikan shalat maknanya adalah melaksanakan secara sempurna rukun-rukun dan syarat-syarat yang lahir dan batin,” (Lihat Al-Harits Al-Muhasibi, Risâlatul Mustarsyidin, [Darul Salam], halaman 132).

Jika seseorang telah mendirikan shalat dengan makna seperti yang disebutkan di atas, maka shalatnya akan membuahkan hasil. Untuk mendapatkan hasil tersebut, seorang yang mendirikan shalat mesti melengkapi rukun dan syarat yang lahir dan yang batin.

Maka perkara lahir yang mesti disempurnakan adalah berupa ketenangan diri dan khusyu’ di dalam sujud dan ruku‘, serta berusaha memahami dan memperhatikan bacaan shalat yang berupa zikir, doa dan yang lainnya.

Adapun perkara batin yang harus disempurnakan yaitu menghadirkan rasa takut kepada Allah, dan menghadirkan sifat ihsan ketika shalat, artinya ia beribadah seakan-akan Allah melihatnya, jika tak bisa juga, maka sesungguhnya Allah melihatnya. Tatkala ia dapat menghadirkan rasa ini, kesibukan apapun takkan terlintas di benaknya, sebab keagungan Allah telah menyelimutinya.

Makna shalat inilah yang dimohon pertama kali oleh Nabi Ibrahim dari Allah SWT bagi keluarganya, Nabi Ibrahim berdoa:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Artinya, “Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, terimalah doaku,” (Surat Ibrahim ayat 40).

Begitu pula Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengajak keluarganya mendirikan shalat dengan makna seperti diatas, serta sabar menghadapi kesulitan dalam melaksanakannya, sebagaimana firman Allah SWT:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

Artinya, “Perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa,” (Surat Thaha ayat 132).

Sebagaimana disebutkan di atas, shalat yang sempurna akan membuahkan hasil. Di antara hasil shalat yang baik adalah tercegahnya seseorang dari kelakuan maksiat dan buruk. Allah menyebutkan dalam Al-Qur`an:

وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Artinya, “Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah-ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (Surat Al-Ankabut ayat 45).

Begitu pula, ia akan tahan dari cobaan yang menerpanya, serta menghalau segala masalah dengan hati yang tenang. Disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 153:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar,” (Surat Al-Baqarah ayat 153).

Dan masih banyak nilai berharga yang didapatkan dari shalat yang sempurna. Maka jangan heran jika banyak orang bertanya, “mengapa orang Islam shalat lima waktu namun tidak semua dari mereka baik perangai dan perbuatannya?” Jawabannya karena mereka melaksanakan shalat masih berupa amalan lahirnya, belum mendirikan shalat yang sesungguhnya sebagaimana yang dijelaskan di atas.

Semoga kita dapat mengamalkan “shalat” di setiap detik kehidupan kita. Agar ibadah lima waktu yang kita kerjakan setiap hari ini memiliki buah hasil yang bermanfaat bagi diri sendiri, maupun orang lain, di dunia maupun di akhirat. Amn. (Ustadz Amien Nurhakim)
Rabu 19 Desember 2018 11:0 WIB
Terlanjur Shalat tanpa Menghadap Kiblat
Terlanjur Shalat tanpa Menghadap Kiblat
(Foto: @pinterest)
Saat Allah menyerukan perintah shalat dalam firman-Nya, “Dan dirikanlah shalat”, maka Allah juga memerintahkan syarat-syaratnya. Hal ini sesuai dengan kaidah ushul fiqih:

الأمر بالشيء أمر به وبما لا يتم الفعل إلا به

Artinya, “Memerintahkan perkara juga memerintahkan perkara yang menjadi penyempurnanya.”

Dalam konteks perintah shalat, yang dimaksud penyempurnanya adalah syarat-syarat shalat. Salah satu yang menjadi syarat sah shalat adalah menghadap kiblat. Menghadap kiblat disyaratkan bagi orang yang mampu menghadapnya. Kewajiban ini berdasarkan firman Allah:

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Artinya, “Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram,” (Surat Al-Baqarah ayat 144).

Demikian pula sabda Nabi kepada Khallad bin Rafi’ al-Anshari yang memperburuk shalatnya:

إذا قمت إلى الصلاة فأسبغ الوضوء ثم استقبل القبلة

Artinya, “Bila engkau hendak menjalankan shalat, maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah kiblat,” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dalil lainnya adalah Ijma’ (konsensus) ulama bahwa shalat tidak sah tanpa menghadap kiblat.

Menghadap kiblat bisa dihasilkan dengan yaqin atau zhann (dugaan). Menghadap secara yakin berlaku untuk orang yang dekat dengan ka’bah, misalkan orang yang berada di sekitar Masjidil Haram. Sedangkan untuk orang yang jauh dari ka’bah standarnya adalah zhann (dugaan) bahwa ia telah menghadap kiblat. 

Ada beberapa hal yang dapat menjadi pijakan dalam menentukan arah kiblat, misalkan berlandaskan kepada mihrab masjid yang teruji tanpa ada yang mencelanya, berita dari orang terpercaya yang melihat kiblat secara langsung, berita dari banyak orang yang mencapai taraf khabar mutawatir (diyakini kebenarannya), bait al-ibrah (kompas) dan lain sebagainya. Dalam konteks kekinian, bait al-ibrah yang dijelaskan di beberapa kitab turats saat ini bisa digantikan dengan aplikasi sejenis google maps.

Saat kondisi tidak memungkinkan, misalkan di tengah jalan tanpa menemukan petunjuk apapun, maka seseorang diwajibkan untuk berijitihad (berusaha) dalam menentukan arah kiblat. Misalkan dengan cara meneliti arah mata angin atau arah matahari. Bila tidak memungkinkan untuk berijtihad, maka bertanya kepada orang lain.

Dalam menentukan arah kiblat, seseorang tidak boleh ngawur, tidak boleh melakukan shalat dengan asal menghadap tanpa dasar. Meski pada kenyataannya arahnya tepat, shalatnya tetap tidak sah. Shalat yang terlanjur dilakukan dengan menghadap kiblat tanpa ada dasar, maka ulama sepakat wajib diulangi.

Ketika sudah menghadap berdasarkan petunjuk yang didapat dari hasil ijtihadnya, namun setelahnya diyakini keliru, maka menurut pendapat al-azhhar (pendapat kuat), shalatnya tidak sah. Shalat yang terlanjur dilakukan tanpa menghadap kiblat, wajib diulangi. Saat kekeliruan terjadi di tengah-tengah shalat, maka shalat wajib diulang dari awal dan menghadap arah yang benar.

Pendapat pertama ini berargumen bahwa permasalahan kekeliruan menghadap kiblat bagi orang telah berusaha menemukan arah kiblat dianalogikan dengan kasus seorang hakim yang memutuskan persoalan berdasarkan ijtihadnya, kemudia ia menemukan dalil nash yang menyelesihi hasil ijtihadnya. Dalam kondisi tersebut, hakim wajib mencabut pendapatnya dan kembali kepada dalil nash.

Sementara menurut pendapat kedua, shalatnya tetap sah. Sebab ia meninggalkan kiblat disebabkan udzur, sehingga sama dengan persoalan meninggalkan kiblat saat kondisi perang.

Penjelasan di atas sebagaimana keterangan yang disampaikan dalam referensi berikut ini:

قوله (ومن صلى بالاجتهاد) منه أو من مقلده (فتيقن الخطأ) في جهة أو تيامن أو تياسر معينا قبل الوقت أو فيه أعاد أو بعده (قضى) وجوبا (في الأظهر) وإن لم يظهر له الصواب لتيقنه الخطأ فيما يؤمن مثله في العادة كالحاكم يحكم باجتهاده ثم يجد النص بخلافه  

Artinya, “Orang yang shalat dengan ijtihad dari dirinya sendiri atau orang yang dia ikuti, kemudian yakin keliru di dalam arah kiblat, arah kanan atau kiri kiblat secara tertentu, sebelum masuk waktu atau di dalamnya, maka ia wajib mengulangi shalat. Atau apabila terjadi setelah shalat, maka wajib mengqadla’ menurut pendapat al-Azhhar, meski tidak jelas baginya kebenaran. Sebab kayakinannya akan sebuah kekeliruan dalam persoalan yang secara adat terjamin dari kekeliruan, sebagaimana seorang hakim yang menghukumi berdasarkan ijtihad kemudian ia menemukan dalil nash yang menyelisihinya”.

والثاني لا يقضي لأنه ترك القبلة بعذر فأشبه تركها في حال القتال ونقله الترمذي عن أكثر أهل العلم واختاره المزني  وخرج بتيقن الخطأ ظنه
 
Artinya, “Menurut pendapat kedua, tidak wajib mengqadha’. Sebab ia meninggalkan kiblat disebabkan uzur, maka serupa dengan kasus meninggalkan kiblat dalam kondisi perang. Pendapat ini dikutip oleh At-Tirmidzi dari mayoritas ahli ilmu dan dipilih oleh Imam Al-Muzni. Dikecualikan dengan ungkapan yakin keliru, dugaan akan kekeliruan.”

قوله (فلو تيقنه فيها) أي الصلاة (وجب استئنافها) بناء على وجوب القضاء بعد الفراغ لعدم الاعتداد بما مضى

Artinya,“Bila yakin keliru di dalam shalat, maka wajib memulai shalat dari awal, berpijak dari pendapat yang mewajibkan mengqadla’ setelah selesai shalat, sebab tidak dianggapnya shalat yang telah dikerjakan,” (Lihat Syekh Al-Khathib Al-Syarbini, Mughnil Muhtaj, juz I halaman 147).

Demikian penjelasan mengenai hukum seseorang yang terlanjur keliru dalam menghadap kiblat. Ikhtilaf ulama di atas hendaknya tidak menjadi bahan untuk saling menghujat, namun sebagai bahan untuk menghormati perbedaan. Bila mempertimbangkan kehati-hatian, maka hendaknya mengikuti pendapat yang tidak mengesahkan, terlebih pendapat itu adalah pendapat yang kuat dalam mazhab Syafi’i. Semoga bermanfaat. Wallahu a‘lam. (Ustadz M Mubasysyarum Bih)