IMG-LOGO
Hikmah

Saat Utsman bin Affan Membeli ‘Sumur Yahudi’ untuk Umat Islam

Ahad 23 Desember 2018 18:45 WIB
Share:
Saat Utsman bin Affan Membeli ‘Sumur Yahudi’ untuk Umat Islam
Sumur Raumah. Foto: SPA
Ustman bin Affan ra. adalah salah satu sahabat Nabi yang kaya dan juga dermawan. Ia banyak menyumbangkan harta bendanya untuk tegaknya panji-panji Islam. misalnya pada saat Perang Tabuk melawan Romawi, Ustman menyediakan 300 ekor unta dan 1000 dinar dari kantong pribadinya untuk bekal perang.

Pun untuk kemaslahatan umat Islam. Utsman ra. juga tidak segan mengeluarkan hartanya untuk kebaikan umat Islam. Banyak cerita tentang hal ini. Salah satunya adalah ketika Utsman bin Affan ra. membeli sebuah sumur milik orang Yahudi di Madinah untuk umat Islam. 

Dalam buku Usman bin Affan (Muhammad Husein Haikal, 2002), pada saat itu di Madinah hanya ada sumur yang mengeluarkan air. Sumur tersebut dimiliki seorang Yahudi. Seorang Yahudi tersebut menjual airnya kepada umat Islam dengan harga yang cukup tinggi. Tentu saja umat Islam menjadi resah dengan persoalan ini.

Kabar ini akhirnya sampai kepada Rasulullah. Rasulullah lantas menyeru kepada para sahabatnya untuk menyelesaikan persoalan air dan sumur tersebut. Beliau menjanjikan siapapun yang  membeli sumur miliki Yahudi itu dan mewakafkannya untuk umat Islam, maka kelak ia akan mendapatkan minuman di surga, sebanyak air dalam sumur tersebut.

Utsman bin Affan ra. langsung mendatangi seorang Yahudi pemilik sumur tersebut usai mendengar seruan Rasulullah itu. Ia bernegosiasi dengan Yahudi pemilik sumur. Setelah terjadi diskusi yang alot, akhirnya pihak Yahudi bersedia menjual sumurnya dengan harga 12.000 dirham. Namun harga itu tidak untuk semuanya, tapi hanya separuh saja. Maksudnya kepemilikan sumur bergantian; sehari miliki Utsman ra. sehingga umat Islam bebas mengambil air pada hari itu, sementara hari berikutnya untuk Yahudi itu. Dan begitu dengan hari-hari selanjutnya. 

Kondisi seperti itu berjalan beberapa saat. Hingga akhirnya seorang Yahudi pemilik sumur tersebut menawarkan kepada Utsman ra. untuk membeli secara penuh. Utsman ra. mengeluarkan 8.000 dirham dari kantongnya untuk melunasi harga sumur. Dengan demikian, sumur sudah dimiliki Utsman ra. secara penuh. Sumur ini lantas diwakafkan sehingga umat Islam bebas mengambil air kapan pun mereka butuh. 

Sumur tersebut dikenal dengan nama sumur Raumah. Sampai hari ini, sumur wakaf Utsman ra. itu masih mengalir. Dan itu menjadi satu-satunya sumur pada zaman Rasulullah yang masih mengeluarkan air hingga hari ini, selain sumur zamzam tentunya. Kini, sumur Raumah dimanfaatkan Kementerian dimanfaatkan oleh Kementerian Arab Saudi untuk mengairi perkebunan dan ladang kurma yang ada di sekitarnya. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Jumat 21 Desember 2018 20:40 WIB
BULAN GUS DUR
Saat Gus Dur Temui Mbah Dullah Kajen dalam Senyap
Saat Gus Dur Temui Mbah Dullah Kajen dalam Senyap
Gus Dur dan Mbah Dullah Salam (istimewa)
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memilih untuk terus mengikuti petuah-petuah dan nasihat sejumlah kiai dengan segala keistimewaannya, di antara petuah KH Abdullah Zen bin Salam dari Kajen, Pati, Jawa Tengah atau yang familiar disapa Mbah Dullah. Gus Dur tidak ingin jauh-jauh dari petuah Mbah Dullah termasuk ketika dirinya baru terpilih menjadi Presiden RI pada 1999.

Kisah yang diungkap oleh Munawir Aziz dalam salah satu artikelnya Teladan Kebangsaan Gus Dur dalam buku Merawat Kebinekaan: Pancasila, Agama dan Renungan Perdamaian (2017) menjelaskan bahwa tiga hari setelah dilantik menjadi Presiden RI, Gus Dur sowan ke kediaman Mbah Dullah di Kajen.

Lazimnya seorang pemimpin negara, Gus Dur mendapat pengawalan cukup ketat dari barisan Paspampres. Aparat keamanan juga melakukan tugasnya dengan rapi kala itu. Namun tak disangka, Gus Dur lebih memilih meninggalkan kawalan. Ia berjalan sendirian masuk ke rumah Mbah Dullah dari pintu belakang.

Sebelum meraih pintu belakang rumah Mbah Dullah, Gus Dur melewati pekarangan belakang rumah KH Sahal Mahfudh, kemudian melewati tempat jemuran para santri, dan gang-gang sempit di antara kamar-kamar pesantren. Gus Dur memilih jalan senyap tersebut dari pengawalan maupun pemberitaan media nasional yang saat itu juga turut memburu kabarnya.

Setelah mencapai Mbah Dullah, Gus Dur ndeprok, duduk lesehan di hadapan Mbah Dullah. Gus Dur mengucap salam yang kemudian diteruskan mengecum tangan lembut Mbah Dullah yang dikenal sebagai kiai sepuh dengan wajah yang bersinar, senyumnya menjernihkan, dan mauidzha hasanahnya menyejukkan.

Mbah Dullah merupakan ulama yang hafal Al-Qur’an, bahkan Hamilul Qur’an (hafal teksnya, paham isinya, dan mengamalkan). Lalu, kenapa Gus Dur memilih jalan senyap dalam menemui Mbah Dullah? Hal ini dilakukan Gus Dur karena Mbah Dullah juga seorang kiai yang memilih jalan sunyi.

Bagi Gus Dur, Mbah Dullah merupakan salah satu ‘kiai langit’ yang menjadi tempat jujugannya. Petuahnya sangat penting mengenai hal-hal prinsip. Mbah Dullah bagi Gus Dur juga seorang ulama yang mampu memberikan ketenangan dan pencerahan di tengah pilihan-pilihan sulit.

Kaitannya dengan Mbah Dullah, Gus Dur seperti yang diceritakan KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam buku Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus (2015) juga memiliki ‘kisah kewalian’ saat hendak berkunjung menemui Mbah Mutamakkin dan Mbah Dullah di Kajen.

Bedanya, Gus Dur ingin bertemu Mbah Dullah di rumahnya, sedangkan Mbah Mutamakkin ingin ditemui Gus Dur di makamnya yang memang tidak pernah sepi peziarah.

Hal itu Gus Mus ungkapkan ketika sedang berbincang santai dengan KH Husein Muhammad. Ketika itu, Gus Mus langsung meminta Kiai Husein untuk menyampaikan keinginan Gus Dur tersebut ke Mbah Dullah.

Kiai Husein langsung menuju Kajen, Margoyoso untuk menemui kiai kharismatik yang lahir 1917 (informasi dari KH Ma’mun Muzayyin, menantu Mbah Dullah) ini. Kiai Husein langsung menyampaikan tujuannya menemui Mbah Dullah.

“Wah, Gus Dur tidak akan bertemu dengan Mbah Mutamakkin, beliau sedang keluar,” tutur Mbah Dullah kepada Kiai Husein.

Kiai Husein sendiri sudah mafhum apa yang dimaksud Mbah Mutamakkin sedang keluar seperti yang diungkapkan oleh Mbah Dullah. Orang-orang sholeh memang kerap mempunyai cara tersendiri dalam berkomunikasi meskipun secara jasad sudah meninggal. Hal ini tentu di luar batas nalar manusia pada umumnya, sebab ulama mempunyai keistimewaan yang disebut karomah.

Informasi dari Mbah Dullah tersebut disimpan oleh Kiai Husein dan akan dikabarkan ketika dirinya bertemu langsung dengan Gus Dur. Kiai Husein tidak mau orang lain salah paham ketika dirinya menyampaikan kabar dari salah seorang kiai sufi dan zahid (bersajaha, zuhud) tersebut.

Atas keinginannya untuk sowan kepada dua orang kiai Kajen tersebut, Gus Dur pun langsung meluncur ke Kajen dan ternyata langsung menuju rumah Mbah Dullah. Gus Dur sendiri tidak mampir ke rumah Kiai Husein. Kiai Husein pun tidak sempat mengabari Gus Dur mengenai penjelasan Mbah Dullah terkait kabar Mbah Mutamakkin.

Usai tiba di kajen, mestinya Gus Dur menemui Mbah Mutamakkin terlebih dahulu sebelum menuju rumah Mbah Dullah. 

Lah, jarene (katanya) menemui Mbah Mutamakkin dulu, kok ke sini (rumah Mbah Dullah) dulu?” Gus Dur menjawab singkat, “Mbah Mutamakkin ora ono, lagek metu (Mbah Mutamakkin tidak ada, sedang keluar).” (Fathoni)
Jumat 21 Desember 2018 6:0 WIB
Cara Umar bin Abdul Aziz Memilih Gubernur
Cara Umar bin Abdul Aziz Memilih Gubernur
Umar bin Abdul Azis dikenal sebagai Khalifah Dinasti Umayyah yang bijak, adil, hati-hati, dan sederhana. Dia sangat memperhatikan nasib rakyatnya. Ia juga tegas terhadap pejabatnya yang melakukan korupsi. Mereka langsung dipecat ketika ketahuan melakukan penyelewengan. Harta kekayaan mereka yang diperoleh secara tidak wajar juga dikembalikan ke kas negara.

Tidak hanya itu, Umar bin Abdul Azis juga sangat sangat selektif dan hati-hati ketika hendak mengangkat seorang menjadi gubernurnya. Ada dua syarat yang ditetapkan Umar untuk para gubernurnya. Yaitu mereka harus kompeten dan amanah dalam menjalankan tugasnya sehingga rakyat bisa sejahtera. Karena bagaimanapun, gubernur adalah ujung tombak dalam pelaksanaan kebijakan-kebijakan sang khalifah.

Untuk memastikan kualitasnya, Umar bin Abdul Azis turun tangan untuk mengawasi langsung proses wawancara untuk calon gubernurnya. Ia ingin memastikan apakah orang tersebut betul-betul kapabel dan amanah atau tidak. 

Dikisahkan, suatu ketika Bilal bin Abu Bardah termasuk salah satu calon gubernur yang akan diwawancarai. Ketika diwawancara, Bilal mengenakan pakaian tertentu sehingga ia tampak begitu agamis. Umar bin Abdul Azis lantas memerintahkan ajudannya, Muzahim, untuk mengetes Bilal bin Abu Burdah. Langsung saja Bilal dihujani berbagai macam pertanyaan. Ada satu pertanyaan menarik yang membuat Bilal jadi ketahuan sifat dan sikap aslinya, di balik dandanannya yang religius.

“Aku demi Allah menyukai kebaikan untuk diriku, apa untukku jika aku tugasi kamu daerah Irak?” tanya Muzahim mengetes Bilal, sebagaimana dikutip dari buku Umar bin Abdul Azis: Sosok Pemimpin Zuhud dan Khalifah Cerdas (Abdul Azis bin Abdullah al-Humaidi, 2015).

Bilal menjawab, ia akan menyediakan uang sebanyak 30-40 ribu dinar ketika Muzahim berkunjung ke wilayahnya itu.  Bilal juga memastikan bahwa semua keputusan Muzahim akan dijalankan di Irak, calon wilayah kekuasaannya. 

Muzahim langsung menghadap Umar bin Abdul Azis setelah selesai mewawancarai Bilal. Muzahim bilang, Bilal adalah orang yang pandai namun dia seorang pencuri dan tidak pantas menjadi seorang gubernur. Setelah mendengar penilaian itu, Umar bin Abdul Azis tidak akan memasukkan Bilal ke dalam jajaran pejabatnya. 

Umar bin Abdul Azis tidak ingin pejabatnya hanya kompeten saja, namun juga harus amanah. Amanah dalam mengemban tugasnya sehingga mendapatkan hak-haknya dengan baik. Kompeten dalam menjalankan tugasnya sehingga masa depan negerinya bisa lebih baik lagi. (A Muchlishon Rochmat)
Selasa 18 Desember 2018 21:5 WIB
Tiga Pesan Kemanusiaan Gus Dur
Tiga Pesan Kemanusiaan Gus Dur
Lukisan Gus Dur (Dok. istimewa)
Aspek kemanusiaan menjadi perhatian utama seorang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam setiap pemikiran, pandangan, dan gerak langkahnya. Maka dari itu, di dalam batu nisannya tertulis here rest a humanist, di sini istirahat seorang humanis. Sosok yang dekat siapa saja sekaligus mencintainya.

Gus Dur pernah berpesan singkat, namun mendalam dan penuh makna. Beliau mengatakan tiga substansi soal hubungan antar-manusia, “Mari kita wujudkan peradaban di mana manusia saling mencintai, saling mengerti, dan saling menghidupi”. Pesan tersebut termaktub dalam buku Fatwa dan Canda Gus Dur anggitan KH Maman Imanulhaq (2010).

Pesan tersebut disampaikan oleh Gus Dur ketika memberikan tanggapan atas kontroversi goyang ngebor yang dilakukan oleh pedangdut Inul Daratista. Tidak sedikit orang yang mengecam goyang tersebut karena menimbulkan dampak moral yang kurang baik untuk generasi muda sehingga apa yang dilakukan Inul perlu dihentikan dan diboikot.

Namun tidak dengan Gus Dur. Menurut Kiai Maman, Gus Dur menekankan bahwa dalam kehidupan yang banyak warna dan banyak wajah ini, manusia sebaiknya belajar memahami, mengerti, dan memaafkan orang lain. Hal ini bernagkat dari prinsip bahwa Allah SWT tidak bosan memaafkan hamba-hambanya yang sering bertindak salah dan melakukan dosa.

Dalam hal ini, Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran ayat 159 menjelaskan, “Karena Rahmat Allahlah kamu bersikap lunak kepada mereka. Sekiranya kamu keras dan kasar, niscaya mereka akan menjauhimu. Karena itu, maafkanlah dan mohonlah ampun bagi mereka. Ajaklah mereka bermusyawarah tentang suatu hal”. 

Al-Qur’an mengajak manusia untuk senantiasa bermusyawarah. Kalau pun berdebat tentang suatu hal, musyawarah dengan penuh kelapangan dada, besar hati, dan pikiran terbuka perlu untuk dikedepankan. Perbedaan dan persoalan yang timbul harus dihadapi dengan cara yang baik dan lembut, bukan dengan cara yang menghujat, mencaci maki, apalagi menggunakan cara-cara teror dan kekerasan.

Terkait kontroversi Inul ini, Gus Dur bercerita tentang seorang kiai yang datang ke Kantor PBNU Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat sambil marah-marah. Bagaimana mungkin seorang ulama sekelas Gus Dur dengan jutaan umat di belakangnya serta punya kredibilitas tinggi, membela penari bernama Inul?

Setelah puas melampiaskan amarahnya, kiai tersebut dipersilakan duduk dan minum air putih oleh Gus Dur. Setelah kiai tersebut duduk, Gus Dur mencoba memberikan beberapa pertanyaan singkat dan mudah dijawab.

“Emang kiai sudah lihat bagaimana ngebor-nya Inul?” tanya Gus Dur.

Kiai tersebut dengan menggebu-gebu bercerita bagaimana hebohnya goyangan Inul. Bukan hanya iman, nyawa pun akan melayang, jelas sang kiai.

“Oh, kalau aku belum pernah lihat. Dan tidak akan bisa lihat. Aku kan buta,” kata Gus Dur.

Mendengar tanggapan Gus Dur, sang kiai terdiam seribu bahasa dengan muka memerah. Ia memahami yang bahwa yang dibela Gus Dur murni dari sisi kemanusiaan. Karena Islam menganjurkan memelihara kasih sayang terhadap sesama manusia dalam kondisi apapun. (Fathoni)