IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Mukhairiq, Seorang Yahudi yang Mewariskan Semua Hartanya untuk Rasulullah

Senin 24 Desember 2018 19:0 WIB
Share:
Mukhairiq, Seorang Yahudi yang Mewariskan Semua Hartanya untuk Rasulullah
Rasulullah berkawan baik dengan Mukhairiq dari Kabilah Qainuqa’, seorang pendeta Yahudi yang alim dan kaya raya. Dia memiliki banyak perkebunan kurma yang terbentang luas di Madinah. Meski berbeda agama, Mukhairiq tidak segan-segan membantu dan menolong Rasulullah. Baik dalam hal moril atau pun materiil.

Bahkan, ia membela umat Islam ketika orang-orang Yahudi menentang dan melanggar Piagam Madinah. Sebuah perjanjian bersama lintas iman, lintas suku, dan lintas kelompok di Madinah. Ia berada di barisan Rasulullah ketika terjadi terjadi peperangan antara kelompok umat Islam dengan kelompok Yahudi, maupun dengan kafir Quraisy Makkah.

“Karena orang-orang Yahudi telah melanggar Piagam Madinah,” kata Mukhairiq ketika ditanya mengapa ia berperang bersama Rasulullah, sebagaimana dikutip dari buku Membela Kebebasan Beragama Buku 1 (Budhy Munawar-Rachman, 2011).

Mukhairiq memandang Piagam Madinah harus dipegang erat, karena itu adalah perjanjian bersama. Salah satu isi dari piagam tersebut adalah semua warga Madinah harus bersatu, saling mendukung, dan saling melindungi ketika ada serangan dari luar. Namun sekelompok Yahudi malah bersekutu dengan kafir Quraisy untuk menyerang Rasulullah dan umat Islam. Inilah yang membuat Mukhairiq mendukung Rasulullah dan melawan saudara Yahudinya sendiri. Ia tahu, dalam hal ini Rasulullah dan umat Islam adalah kubu yang benar.

Mukhairiq juga menolong Rasulullah dan pasukan umat Islam ketika Perang Uhud. Ia memutuskan untuk ikut berperang bersama Rasulullah dan umat Islam melawan kafir Quraisy. Tidak hanya itu, Mukhairiq juga menyerukan dan mengajak Yahudi Madinah untuk berperang bersama Rasulullah melawan kafir Quraisy. Yahudi Madinah menolak karena pada saat itu Hari Sabat, salah satu hari raya umat Yahudi.

“Tidak ada perayaan Hari Sabat bagi kalian!” kata Mukhairiq, sebagaimana yang terekam dalam kitab Sirah Nabawiyyah (Ibn Hisyam al-Mu’afiri,1994). 

Sebelum berangkat ke medan Perang Tabuk, Mukhairiq membuat sebuah pengumuman penting. Sebuah pengumuman yang menegaskan bahwa dirinya sangat mendukung sahabatnya, Rasulullah. Ia mengumumkan bahwa hartanya agar diberikan kepada Rasulullah manakala ia meninggal dalam Perang Tabuk. 

Benar saja, Mukhairiq meninggal setelah terkena luka parah dalam Perang Uhud. Semua hartanya pun diterima Rasulullah. Nantinya, harta pemberian Mukhairiq ini digunakan Rasulullah untuk membiayai umat Islam di Madinah. Baik untuk biaya perang maupun biaya kehidupan sehari-hari.

Pada saat mengetahui Mukhairiq meninggal, Rasulullah mengeluarkan sebuah komentar yang cukup menarik. Kata Rasulullah, Mukhairiq adalah sebaik-baik orang Yahudi (Mukhairiq khairul yahud).

Demikian kisah Rasulullah dengan Mukhairiq, sahabatnya yang Yahudi. Perbedaan keyakinan dan latar belakang tidak membuat mereka saling bermusuhan. Mereka tetap menghormati satu sama lain dan menjalin persahabatan, meski Mukhairiq tidak memeluk Islam hingga akhir hayatnya. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Senin 24 Desember 2018 7:30 WIB
Abdul Quddus, Pemuda Yahudi Pelayan Rasulullah
Abdul Quddus, Pemuda Yahudi Pelayan Rasulullah
Salah satu pelayan atau budak Rasulullah adalah Abdul Quddus. Dia adalah seorang pemuda Yahudi yang membantu Rasulullah dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Abdul Quddus bertugas untuk menyisir rambut Rasulullah. 

Posisi Abdul Quddus itu –sebagai tukang sisir Rasulullah- pernah dimanfaatkan oleh sekelompok Yahudi yang tidak senang dengan Rasulullah. Mereka meminta Abdul Quddus rambut Rasulullah yang rontok. Abdul Quddus yang saat itu masih muda tidak menaruh curiga. Ia berikan saja rambut Rasulullah yang rontok kepada mereka. Tanpa ada kecurigaan sedikitpun bahwa itu akan dibuat untuk mencelakai majikannya. 

Betul saja, rambut Rasulullah tersebut ternyata dijadikan sebagai perantara untuk menyantetnya. Adalah Labid bin al-A’sham yang melakukan itu. Namun sayang, usahanya gagal. Santet yang dikirimkannya tidak mempan karena Rasulullah dijaga langsung oleh Allah.       

Abdul Quddus begitu baik dan perhatian kepada Rasulullah. Ia sehari-harinya selalu melayani Rasulullah dalam menjalankan aktivitasnya. Perbedaan agama dan suku tidak menjadikan Abdul Quddus benci terhadap Rasulullah. Abdul Quddus memberikan pelayanan kepada Rasulullah dengan tulus dan ikhlas.

Begitu pun sebaliknya. Rasulullah sangat perhatian kepada pembantunya, termasuk kepada Abdul Quddus. Merujuk buku Bilik-bilik Cinta Muhammad: Kisah Sehari-hari Rumah Tangga Nabi (Nizar Abazhah, 2018), Rasulullah meluangkan waktunya untuk membesuk Abdul Quddus ketika pembantunya itu jatuh sakit. 

Rasulullah duduk tepat di atas kepala Abdul Quddus yang terbaring lemas. Rasulullah kasihan dengan melihat kondisi Abdul Quddus karena pada saat itu pembantunya itu tengah sekarat. Beliau kemudian menyeru agar Abdul Quddus memeluk Islam. Abdul Quddus tidak langsung meng-iya-kan. Ia meminta izin kepada bapaknya yang saat itu juga berada dalam satu ruangan. 

“Silakan kamu mengikuti ajaran Abul Qasim, (Muhammad) (ayah rela kamu masuk Islam),” jawab ayah pemuda Yahudi itu, sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari. Maka Abdul Quddus akhirnya masuk Islam.    

Rasulullah yang mengajak Abdul Quddus tanpa paksaan itu gembira setelah Abdul memeluk Islam. Rasulullah berdoa agar Abdul Quddus terbebas dari siksa api neraka.

Demikian lah Rasulullah bersikap kepada para pembantu atau budaknya. Beliau tidak membeda-bedakan pembantu atau budaknya berdasarkan agama atau sukunya. Tidak pula memaksa pembantunya untuk masuk Islam. Melainkan Rasulullah hanya menawarkan kepada pembantunya yang non-Muslim untuk memeluk Islam. Beliau memperlakukan semua pembantunya dengan baik dan setara. Karena bagi Rasulullah, budak atau pembantu seperti saudara sendiri. Maka dari itu, Rasulullah memberi makan dan pakaian untuk para pembantunya seperti yang dia makan dan ia pakai. Tidak beda. Begitu pun dengan Abdul Quddus, pelayannya yang seorang Yahudi.

Sebetulnya pelayan atau budak Rasulullah ada banyak, tidak hanya Abdul Quddus. Namun semua budak atau pelayan Rasulullah itu dimerdekakan di kemudian hari. (A Muchlishon Rochmat)
Sabtu 22 Desember 2018 13:0 WIB
Kebersamaan Nabi Muhammad dengan Ibundanya
Kebersamaan Nabi Muhammad dengan Ibundanya
Keluarga Arab kota memiliki kebiasaan untuk menitipkan anak mereka yang baru lahir kepada perempuan desa atau gurun untuk disusui. Hal ini dilakukan agar anak mereka terhindar dari penyakit yang ada di wilayah perkotaan, agar anaknya memiliki tubuh yang sehat, dan agar anak-anak mereka fasih dalam berbahasa Arab.

Begitu pun dengan Sayyidah Aminah. Ia menitipkan anaknya, Nabi Muhammad, kepada Halimah as-Sa’diyah beberapa saat setelah melahirkannya. Maka sejak saat itu, Nabi Muhammad tinggal bersama keluarga Halimah di perkemahan daerah Bani Sa’ad. Ia tumbuh di daerah tersebut dan jauh dari ibunya yang berada di Makkah.

Sebetulnya Halimah ingin agar Nabi Muhammad tinggal bersamanya. Alasannya, Halimah mengalami kehidupan yang lebih baik selama merawat Nabi Muhammad. Hewan ternaknya menjadi gemuk-gemuk dan penuh dengan susu. Ia merasa Nabi Muhammad adalah pembawa berkah bagi keluarganya. Sehingga ia meminta izin kepada Sayyidah Aminah agar memperpanjang masa kebersamaannya dengan Nabi Muhammad.

Namun keinginan Halimah itu sirna setelah mendengar cerita tentang ‘kejadian aneh’ yang menimpa anak asuhnya itu seperti Nabi Muhammad dibelah dadanya. Ia khawatir dan tidak ingin anak asuhnya itu kenapa-kenapa, maka akhirnya Halimah menyerahkan kembali Nabi Muhammad kepada Sayyidah Aminah. Jadilah sejak saat ini Nabi Muhammad melalui hari-harinya bersama ibundanya, Sayyidah Aminah.  

Merujuk buku Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik (Martin Lings, 2012), Rasulullah hidup bersama ibunya selama tiga tahun, atau hingga dia berusia enam tahun. Selain mendapatkan perhatian penuh dari ibundanya, Rasulullah juga mendapatkan perhatian dari kakek, paman, bibi, dan sepupu-sepupunya. 

Meski sudah dikaruniai seorang anak yang begitu cemerlang, Sayyidah masih saja terkenang dengan almarhum suaminya, Sayyid Abdullah bin Abdul Muthalib. Maka ketika Nabi Muhammad berusia enam tahun, Aminah mengajak puteranya itu untuk berziarah ke makam  Sayyid Abdullah di Yatsrib (Madinah). 

Sayyidah Aminah mengajak serta Ummu Aiman atau Barakah –budak warisan dari suaminya- untuk menemani perjalanannya ke Yatsrib. Mereka ikut serta bersama dengan sebuah kafilah untuk sampai di Yastrib. Sayyidah Aminah menaiki untanya sendiri, sementara Ummu Aiman bersama Nabi Muhammad menaiki unta yang satunya lagi. 

Nabi Muhammad tampak sedih ketika sampai di kuburan ayahandanya. Tidak hanya itu, selama di Yatsrib Sayyidah Aminah juga mengenalkan Nabi Muhammad dengan paman-pamannya dari Bani Adi bin Najjar. Sebagaimana keterangan buku Sirah Nabawiyah (Syekh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, 2012), Sayyidah Aminah dan Nabi Muhammad berada di Yatsrib selama sebulan.

Kunjungan yang tidak terlalu lama itu ternyata membuat Nabi Muhammad cukup terkesan. Seperti diuraikan buku Sahabat-sahabat Cilik Rasulullah (Nizar Abazhah, 2011), Nabi Muhammad melakukan banyak kegiatan selama di Yatsrib. Mulai dari berenang di kolam Adi –sebuah kolam terindah di kawasan Yatsrib pada saat itu, bermain-main di kebun-kebun, menerbangkan layang-layang, dan mencabut rumput di jalan-jalan.

Setelah satu bulan berlalu, mereka akhirnya pulang kembali ke Makkah. Namun siapa sangka, Sayyidah Aminah jatuh sakit di tengah perjalanan ketika sampai Abwa’ –sebuah desa yang jaraknya sekitar 140 km dari Madinah ke Makkah. Ini menjadi momen kebersamaan Rasulullah dengan ibundanya yang terakhir. Karena beberapa saat setelah menahan rasa sakit, Sayyidah Aminah akhirnya wafat. 

Sesaat sebelum wafat, Sayyidah Aminah berpesan kepada Ummu Aiman –budakya yang ikut dalam perjalanan- untuk menjaga dan merawat Nabi Muhammad. ummu Aiman melaksanakan wasiat Sayyidah Aminah itu dengan baik, ia mengantarkan Nabi Muhammad ke Makkah dengan selamat. Ummu Aiman juga sangat sayang dan perhatian kepada Nabi Muhammad sehingga dikenal sebagai ibu kedua Nabi Muhammad. (A Muchlishon Rochmat)
Kamis 20 Desember 2018 13:0 WIB
Rasulullah, Sayyidah Aisyah, dan Seorang Tetangga Yahudi
Rasulullah, Sayyidah Aisyah, dan Seorang Tetangga Yahudi
“Jika engkau memasak sayuran, maka perbanyak lah kuahnya. Lalu lihat lah tetangga-tetanggamu dan bagi lah masakanmu buat mereka,” kata Rasulullah dalam hadits riwayat Ad-Darimi. 

Rasulullah tetap menjalin hubungan baik dengan non-Muslim selama mereka tidak mengganggu dakwah Islam. Rasulullah tetap berhubungan baik dengan mereka –dalam hal hubungan sosial- meski beda keyakinan. Rasulullah juga tidak segan untuk menerima atau memberikan sesuatu untuk mereka. Termasuk memberinya makanan.

Alkisah, suatu ketika Aisyah memasak daging kambing untuk acara hajatan. Sesuai dengan anjuran hadits di atas, Aisyah lantas membagikan masakannya yang sudah matang itu untuk para tetangga dekatnya. 

Semula tidak ada yang salah. Aisyah membagikan makanannya itu untuk tetangga-tetangganya dekatnya. Namun Rasulullah yang saat itu bersama Aisyah bertanya, apakah tetangganya yang bernama si A juga sudah diberi makanan.

“Belum, dia itu Yahudi  dan saya tidak akan mengiriminya masakan,” kata Aisyah tegas, sebagaimana dikutip dari buku Samudra Keteladanan Muhammad (Nurul H Maarif, 2017).

Mendengar jawaban istrinya yang seperti itu, Rasulullah ‘menegurnya’. Ia tetap menyuruh Aisyah untuk memberi makanan kepada tetangganya itu meski dia seorang Yahudi. Rasulullah menekankan bahwa seorang Muslim tidak seharusnya memilih dan memilah ketika hendak memberikan sesuatu kepada tetangganya berdasarkan agamanya.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah juga menegaskan bahwa orang yang beriman kepada Allah sudah semestinya berbuat kepada tetangganya. Apapun agama, suku, atau ras tetangganya itu. Bukan malah 'mendiskriminasinya' dengan tidak memberinya makanan, sementara yang sesama agama diberi. 

Tetangga memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam. Karena rumahnya yang dekat dengan rumah kita maka tetangga lebih mengetahui segala tingkah polah kita, dibandingkan keluarga sendiri yang tinggal berjauhan. Jika ada kesulitan, tentu mereka duluan yang akan membantu.

Oleh karenanya, mereka harus disayangi dan diperlakukan dengan baik. Begitu lah sikap Rasulullah kepada tetangganya. Beliau telah memberikan teladan kepada kita agar tidak mengabaikan tetangga berdasarkan agamanya ketika akan memberikan makanan atau pun sesuatu yang lainnya. (A Muchlishon Rochmat)