IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Hukum Penggunaan Pakaian Berlafal Tauhid

Selasa 25 Desember 2018 3:0 WIB
Share:
Hukum Penggunaan Pakaian Berlafal Tauhid
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, pakaian berlafal tauhid belakangan marak. Pakaian berlafal tauhid di kaos, topi, cincin, ikat kepala, dan atribut lain yang melekat di tubuh mudah ditemukan di jalan-jalan dan ruang publik. Bagaimana kalau pakaian tersebut menempel dengan keringat atau saat dicuci dicampur dengan pakaian kotor lainnya? Mohon penjelasan perihal ini. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Rizal/Tangerang)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Belakangan ini setidaknya 2 tahun terakhir pakaian dan aneka atribut berlafal tauhid marak digunakan. Pemandangan orang mengenakan pakaian berlafal tauhid di jalan-jalan tampak biasa.

Penggunaan pakaian yang mengandung lafal-lafal mulia yaitu kalimat tauhid dan lafal sejenis sempat mengemuka pada Muktamar Ke-25 NU di Surabaya pada 20-25 Desember 1971 M.

Para kiai peserta muktamar ketika itu dihadapkan pada masalah pembuatan sajadah dengan bertuliskan kalimat tauhid. “Dapatkah dibenarkan pembuatan sajadah yang dijual kepada umum dengan bertuliskan kalimat tauhid dan sesamanya?”

Setelah melalui kajian mendalam, para kiai memutuskan bahwa “Membuat/menjual sajadah yang bertuliskan kalimat tauhid dan sesamanya tidak bisa dibenarkan karena mumtahan (dihina), sebab sajadah itu disediakan untuk alas shalat.”

Para ulama juga membahas masalah terkait ini. Bagi mereka, lafal tauhid dan lafal mulia lain harus diperlakukan secara terhormat. Oleh karena itu, mereka mengharamkan seseorang menelan sesuatu yang mengandung kalimat dalam Al-Qur’an karena akan bercampur dengan cairan di dalam tubuh sekali pun itu tidak najis.

ويحرم بلع ما كتب عليه قران لملاقاته للنجاسة وقال سم لا يقال إن الملاقاة في الباطن لا تنجس لأنا نقول فيه امتهان وإن لم ينجس كما لو وضع القرآن على نجس جاف يحرم مع أنه لا ينجس

Artinya, “(Seseorang) diharamkan menelan catatan mengandung Al-Qur’an karena akan bercampur dengan najis. Sulaiman Bujairimi mengatakan, tidak bisa dikatakan bahwa pertemuan tulisan itu di dalam perut membuatnya najis karena kami mengatakan bahwa demikian itu terkandung penghinaan sekalipun tidak menjadi najis. Hal ini serupa dengan peletakan Al-Qur’an di atas benda najis yang telah kering sebagai tindakan haram meski tidak membuat Al-Qur’an menjadi najis,” (Lihat Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, [tanpa catatan kota, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 69).

Sementara ulama lainnya membolehkan tindakan tersebut dengan asumsi bahwa bentuk lafal tauhid atau lafal mulia lainnya pada benda yang ditelan tersebut telah berubah sehingga tidak bisa lagi disebut sebagai lafal tauhid.

وقال في النهاية وإنما جوزنا أكله لأنه لا يصل إلى الجوف إلا وقد زالت صورة الكتابة اه ومثله في التحفة وزاد فيها ولا تضر ملاقاته للريق لأنه ما دام بمعدنه غير مستقذر

Artinya, “Di dalam An-Nihayah Syekh Ar-Ramli mengatakan, kami membolehkan menelannya karena tulisan Al-Qur’an itu takkan sampai ke dalam perut kecuali bentuk tulisannya telah hilang. Selesai. Serupa dengan pandangan ini adalah komentar Syekh Ibnu Hajar di Tuhfah. Ia menambahkan di dalamnya, pertemuan tulisan Al-Qur’an dan air liur tidak masalah karena air liur itu selama berada di dalam tubuh bukan barang kotor,” (Lihat Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, [tanpa catatan kota, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 69).

Lalu bagaimana dengan lafal tauhid dan lafal mulia lain yang melekat pada pakaian? Sementara tubuh seseorang itu mengeluarkan keringat. Bagaimana juga ketika pakaian berlafal tauhid itu kotor dan dicampur dengan pakaian kotor lainnya?

Keterangan terakhir dari Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi di atas sudah menjawab kedua pertanyaan ini sekaligus. Air liur dan cairan lain selama berada di dalam tubuh tidak terbilang sebagai benda kotor.

Sebaliknya, ketika berada di luar tubuh, maka cairan tersebut yaitu air liur, riak, keringat terbilang benda kotor (meski tidak najis) yang haram melekat dengan lafal tauhid dan lafal mulia lainnya.

Kami menyarankan sebaiknya kita menghindari sajadah dan pakaian yang mengandung lafal tauhid atau lafal mulia lainnya agar kita tetap dapat menjaga kehormatan lafal tersebut.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Share:
Senin 24 Desember 2018 14:0 WIB
Cara Shalat di Bus ketika Seluruh Waktu Shalat Habis di Perjalanan
Cara Shalat di Bus ketika Seluruh Waktu Shalat Habis di Perjalanan
Ilustrasi (pu.go.id)
Assalamualaikum Ustadz, Saya mau tanya. Bagaimana cara mengerjakan shalat ashar di waktu maghrib bagi musafir. Sedangkan shalat tidak bisa dijamak dengan maghrib. Padahal jadwal keberangkatan bus yang saya naiki jam dua siang, antara waktu dhuhur dan ashar. Bagaimana solusinya ustadz? Terima kasih. (Abrori S)

Jawaban
Wa’alaikumussalam warahamtullahi wabarakatuh, penanya yang budiman, semoga senantiasa dirahmati oleh Allah subhanahu wata’ala.

Permasalahan yang Anda tanyakan lebih fokus pada persoalan bagaimana melaksanakan shalat ashar ketika seseorang berada di perjalanan pada seluruh waktu shalat ashar, mulai awal hingga akhir. Sehingga tidak dimungkinkan baginya untuk melaksanakan shalat ashar secara sempurna.

Dalam menyikapi pertanyaan Anda, patut dipahami bahwa Anda harus tetap melaksanakan shalat ashar pada saat waktu shalat ashar sedang berlangsung meskipun dengan cara yang tidak sempurna, shalat ini biasa disebut dengan shalat li hurmatil waqti (untuk menghormati waktu shalat).  

Salah satu ketentuan dalam pelaksanaan shalat li hurmatil waqti yaitu wajib bagi seseorang untuk melaksanakan rukun dan syarat-syarat shalat yang mampu ia lakukan, sedangkan untuk syarat atau rukun yang tidak mampu ia lakukan, syara' menoleransi hal ini karena sudah bukan termasuk hal yang dapat ia jangkau dan shalatnya wajib untuk diulang kembali (i'adah) dalam keadaan sempurna ketika telah sampai di tempat tujuan. 

Dalam praktik shalat li hurmatil waqti di bus, sulit utuk melaksanakan beberapa rukun-rukun dan syarat-syarat shalat dengan sempurna, seperti tidak dapat menghadap kiblat, menyempurnakan ruku’ dan sujud, serta rukun-rukun lain yang sulit untuk dilakukan. Sehingga cara shalat yang realistis dilakukan bagi orang dalam perjalanan bus adalah dengan duduk di kursi (jika tidak memungkinkan berdiri) dengan menghadap arah tujuan (jika tidak memungkinkan menghadap arah kiblat), lalu ketika hendak ruku’ dan sujud ia membungkuk sebagai isyarat tanda perpindahan rukun—dengan ketentuan membungkuk untuk sujud dilakukan dengan cara lebih rendah daripada membungkuk untuk ruku’. Gerakan-gerakan demikian dilakukan sampai dengan akhir rakaat dan diakhiri dengan salam. 

Sedangkan dalam hal kewajiban melakukan wudhu, baiknya seseorang melakukan wudhu sebelum perjalanan. Namun ketika naik di bus dalam keadaan tidak memiliki wudhu, atau di tengah perjalanan wudhu-nya batal,  maka ia baiknya menunggu barangkali bus berhenti di tempat pemberhentian (seperti SPBU, rest area, terminal, dll) yang sekiranya waktu pemberhentian bus cukup untuk dibuat melaksanakan wudhu, agar ia dapat melaksanakan wudhu sebelum melaksanakan shalatnya. 

Baca juga:
Ada’, Qadha' dan I’adah dalam Shalat
Kapan Orang dengan Luka Diperban Wajib Mengulang Shalatnya?
Namun ketika ia menduga kuat bus tidak berhenti pada saat waktu ashar, atau berhenti namun waktunya tidak memungkinkan untuk melakukan wudhu, maka ia tetap wajib melaksanakan shalat ashar li hurmatil waqti, meskipun tanpa wudhu. Sebab melaksanakan wudhu baginya adalah sesuatu yang bukan jangkauannya, sehingga tidak wajib untuk dilakukan.

Setelah melaksanakan shalat ashar di bus dengan cara yang dijelaskan di atas, ia dianggap telah melaksanakan kewajiban berupa menghormati datangnya waktu shalat dengan melaksanakan shalat semampunya, namun bukan berarti kewajiban shalat ashar telah gugur baginya, sebab ia masih wajib mengulangi shalat ashar tersebut (secara lebih sempurna) ketika telah sampai di tempat tujuan. 

Ketentuan di atas adalah pandangan mayoritas ulama mazhab Syafi’iyah yang mewajibkan melaksanakan shalat li hurmatil waqti pada saat perjalanan. Namun ada pula pendapat lain dalam mazhab Syafi’i yang berpandangan bahwa tidak wajib melaksanakan shalat yang nantinya akan diulang kembali (di-qadha). Pedapat ini seperti yang ditegaskan dalam Hasyiyah Ibnu Qasim 'ala al-Ghurar al-Bahiyah:

وَنَقَلَ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَالْغَزَالِيُّ أَنَّ لِلشَّافِعِيِّ قَوْلًا أَنَّ كُلَّ صَلَاةٍ تَفْتَقِرُ إلَى الْقَضَاءِ لَا يَجِبُ فِعْلُهَا فِي الْوَقْتِ وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ

"Imam Haramain dan Imam Ghazali menukil bahwa dalam mazhab Syafi'i terdapat pendapat bahwa sesungguhnya setiap shalat yang butuh (bisa) untuk di-qadha tidak wajib melaksanakannya pada waktunya, pendapat ini juģa merupakan pendapat yang diutarakan Imam Abu Hanifah." (Ibnu Qasim, Hasyiyah Ibnu Qasim 'ala al-Ghurar al-Bahiyah, Juz 1, Hal. 207)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bagi anda, penanya yang budiman, dapat melaksanakan dua cara dalam merespons kewajiban shalat ashar. Pertama, melaksanakan shalat ashar li hurmatil waqti semampunya, dan mengulangi shalat ashar secara lebih sempurna ketika sampai di tempat tujuan. Kedua, tidak melaksanakan shalat ashar sama sekali dengan niatan nantinya ketika sampai di tempat tujuan akan mengqadha shalat ashar yang telah tertinggal serta niat mengikuti (taqlid)pada ulama yang berpandangan demikian. Hal yang lebih utama bagi penanya adalah memilih opsi pertama sebab merupakan pendapat mayoritas ulama. Wallahu a’lam.

(Ustadz  Ali Zainal Abidin)

Jumat 21 Desember 2018 19:0 WIB
Hukum Memancing Ikan di Kolam Pemancingan
Hukum Memancing Ikan di Kolam Pemancingan
(Foto: @harianmerdekabisnis)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, banyak tetangga dan teman saya pergi mengail ikan di kolam pemancingan. Mereka datang lalu membayar sejumlah uang kepada pengelola pemancingan. Setelah membayar, sejumlah kilogram ikan dilepas ke dalam kolam. Mereka lalu mencari tempat duduk di sudut kolam untuk memancingnya. Mohon penjelasan perihal ini. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Syafi‘i/Sawangan-Depok)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Sebagian masyarakat mengisi waktunya untuk memancing ikan di kolam pemancingan atau di laut karena hobi, sekadar pengisi waktu akhir pekan, atau sebab lain.

Aktivitas mengail atau memancing ikan pada dasarnya boleh saja. Tetapi aktivitas mengail ikan di kolam pemancingan bergantung pada akad pemancing dan pengelola pemancingan. Pasalnya, transaksi pemancing dan pengelola pemancingan di lapangan terdiri atas sejumlah bentuk akad.

Salah satu bentuk akad yang dilarang adalah sewa kolam pemancingan untuk diambil ikannya. Hal ini pernah dibahas dalam Forum Muktamar Ke-9 NU di Banyuwangi pada 8 Muharram 1353 H/ 23 April 1934 M.

Pertanyaan yang mengemuka saat itu adalah, “Kalau menyewa tambak (balong) untuk mengambil ikannya dengan memancing atau menjaring, si penyewa kadang-kadang mendapat ikan banyak dan kadang-kadang tidak mendapat. Apakah menyewanya itu sah atau tidak?”

Forum muktamar saat itu menjawab, “Tidak sah menyewanya. Uang sewanya pun tidak halal karena barang itu tidak boleh menjadi hak milik dengan akad sewa.”

وَخَرَجَ بِغَيْرِ مُتَضَمِّنٍ لِاسْتِيْفَاءِ عَيْنٍ مَا تَضَمَّنَ اسْتِيْفَاؤُهَا أَيِ اسْتِئْجَارُ مَنْفَعَةٍ تَضَمَّنَ اسْتِيْفَاءَ عَيْنٍ كَاسْتِئْجَارِ الشَّاةِ لِلَبَنِهَا وَبِرْكَةٍ لِسَمَكِهَا وَشُمْعَةٍ لِوُقُوْدِهَا وَبُسْتَانٍ لِثَمْرَتِهِ فَكُلُّ ذَلِكَ لاَ يَصِحُّ. وَهَذَا مِمَّا تَعُمُّ بِهِ الْبَلْوَى وَيَقَعُ كَثِيْرًا. 

Artinya, “Dan dengan kalimat, ‘Tanpa berkonsekuensi mengambil barang’ tidak termasuk pemakaian manfaat barang sewaan yang berkonsekuensi mengambil barangnya, seperti menyewa kambing untuk diperah susunya, kolam untuk diambil ikannya, lilin untuk dinyalakan dan kebun untuk dipetik buahnya. Semua itu tidak sah. Hal seperti ini termasuk fitnah yang sudah mewabah dan banyak terjadi,” (Lihat Bakri Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, [Singapura, Sulaiman Mar’i: tanpa catatan tahun], jilid III, halaman 114).

Umumnya praktik yang terjadi di lapangan adalah pembayaran ikan sekian kilogram oleh pemancing kepada pengelola kolam pemancingan. Ikan tersebut kemudian dilepas dikolam untuk dipancing di mana pemancing yang membeli ikan tersebut tidak sendirian karena ada pemancing lain di kolam tersebut.

Dengan praktik demikian, para pemancing itu tidak menentu dalam mendapatkan hasil tersebut. Bisa jadi mereka mendapatkan sedikit, mungkin juga mendapatkan ikan lebih banyak dari yang mereka beli di samping ketidakjelasan ikan milik siapa yang mereka dapatkan. Praktik seperti ini mengandung gharar (sejenis transaksi produk gelap sifat, rupa, jumlahnya). (Lihat Abu Bakar Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 198 dan 202).

Adapun praktik lain yang terjadi di lapangan adalah pemancing mendatangi kolam pemancingan, lalu mengail ikan. Setelah selesai, hasil pancingannya ditimbang untuk mengetahui bobotnya dan kemudian dibayarkan sesuai dengan jumlah kilogram ikan tersebut. Praktik seperti ini dibolehkan karena tidak lain adalah praktik jual-beli.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Sabtu 15 Desember 2018 17:35 WIB
Hukum Membaca Diam-diam Chatting Hp dan Akun Suami-Istri
Hukum Membaca Diam-diam Chatting Hp dan Akun Suami-Istri
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, akun media sosial membuat seseorang berjejaring dengan banyak pihak termasuk lawan jenis dan mereka yang sudah berkeluarga. Seseorang dapat melakukan chatting (percakapan) dengan siapa pun. Sebagian orang merasa khawatir terhadap suami atau istrinya. Pertanyaan saya kemudian, apakah seseorang berhak memeriksa chatting pasangannya tanpa izin? Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Suparni/Kalibata).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Upaya memeriksa diam-diam telepon genggam orang lain bisa diartikan sebagai tindakan untuk mencari tahu rahasia pribadi orang lain. Tindakan ini pada dasarnya merupakan praktik tercela yang dilarang sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Hujurat ayat 12.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan sangka (kecurigaan) karena sebagian dari sangka itu dosa. Jangan memata-matai orang lain…,” (Surat Al-Hujurat ayat 12).

Pada hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk menjauhi tindakan tercela, yaitu saling mengintai, mendengki, membenci, dan saling memutuskan ikatan persahabatan.

التَّحَسُّسُ هُوَ الاِسْتِمَاعُ إِلَى حَدِيثِ الْغَيْرِ، وَهُوَ مَنْهِيٌّ عَنْهُ لِقَوْل رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Artinya, “Tahasus (mencari tahu dengan pancaindra) salah satunya mendengarkan percakapan orang lain. Tahasus dilarang dalam agama berdasarkan hadits Rasulullah SAW, ‘Jangan kalian memata-matai, jangan menyalahgunakan pancaindra (untuk mencari tahu orang), jangan saling mendengki, jangan saling membenci, jangan memutuskan tali ikatan. Jadilah hamba Allah yang bersaudara,’ (HR Muslim),” (Lihat Wizaratul Awqaf was Syu`unul Islamiyyah, Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Safwah: 1997 M/1417 H], cetakan pertama, juz V, halaman 292).

Praktik pengintaian, “nguping”, dan tindakan yang digambarkan oleh orang sekarang ini dengan istilah “kepo” sejatinya dilarang oleh agama Islam kecuali ada kepentingan tertentu, yaitu kepentingan perang, pengadilan, dan kepentingan lainnya.

Oleh karena itu, ulama menyatakan tiga hukum pengintaian (tajasus) dan “nguping”, yaitu, haram sebagaimana keterangan Al-Qur’an dan hadits, wajib dalam situasi perang, dan mubah demi kepentingan pengadilan, (Lihat Wizaratul Awqaf was Syu`unul Islamiyyah, Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Safwah: 1997 M/1417 H], cetakan pertama, juz X, halaman 162).

Lalu bagaimana dengan pengintaian seorang suami atau istri dengan cara membaca secara mencuri chatting atau percakapan hp milik pasangannya?

Pertanyaan ini tidak mudah dijawab dengan haram, wajib, atau mubah seperti keterangan di atas. Pertanyaan ini menurut kami adalah persoalan pelik. Tetapi kami akan menjawab secara umum bahwa perkawinan seharusnya dibangun di atas dasar keterbukaan, kepercayaan, dan penghormatan sehingga tidak ada kecurigaan yang berujung pengintaian.

التراضي أساس في عقد الزواج

Artinya, “Sikap saling ridha merupakan asas dalam ikatan perkawinan,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, (Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun), juz X, halaman 548).

Dengan prinsip ridha, keterbukaan, kepercayaan, dan penghormatan, suami maupun istri seyogianya tidak perlu melakukan pengintaian atau kepo dengan memeriksa hape pasangan masing-masing. Keduanya seyogianya saling menghormati privasi pasangannya.

Meski demikian, dalam realitasnya prinsip-prinsip itu sulit dipraktikkan oleh masing-masing pasangan suami-istri. Prinsip-prinsip itu semakin sulit dipraktikkan dalam situasi yang pasangannya kedapatan pernah melakukan sejenis pengkhiatan atas ikatan perkawinan atau ada indikasi-indikasi ke arah itu.

Kami menyarankan suami-istri untuk menghormati privasi pasangannya, dan menjaga kepercayaan yang diberikan oleh pasangan masing-masing agar tercipta suasana kehidupan rumah tangga penuh ketenteraman, tanpa hantu kecurigaan.

Demikian jawaban kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)