IMG-LOGO
Shalat

Kapan Makmum Masbuq Disunnahkan Mengangkat Kedua Tangan?

Rabu 26 Desember 2018 18:0 WIB
Share:
Kapan Makmum Masbuq Disunnahkan Mengangkat Kedua Tangan?
Ilustrasi (wikipedia)
Kesunnahan dalam shalat secara umum terbagi menjadi dua, yaitu sunnah ab’ad dan sunnah hai’at. Sunnah ab’ad adalah kesunnahan yang jika tidak dilakukan maka disunnahkan menggantinya dengan sujud sahwi. Sedangkan sunnah hai’at sebaliknya, kesunnahan yang jika tidak dilakukan maka tidak disunnahkan sujud sahwi. Salah satu bagian dari sunnah ab’ad adalah kesunnahan mengangkat tangan pada saat takbir dalam rukun-rukun tertentu. 

Mengangkat tangan disunnahkan dalam beberapa tempat, yaitu ketika takbiratul ihram, ruku’, i’tidal dan ketika bangkit dari rakaat kedua atau ketika setelah selesai tasyahud awal. Kesunnahan mengangkat tangan ini salah satunya dijelaskan dalam hadits:

كان إذا دخل في الصلاة كبّر ورفع يديه وإذا ركع رفع يديه، وإذا قال: سمع الله لمن حمده رفع يديه، وإذا قام من الركعتين رفع يديه

“Rasulullah ketika melaksanakan shalat, bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Dan ketika hendak ruku’, beliau mengangkat kedua tangannya. Dan ketika mengucapkan ‘Sami‘allâhu li man hamidahu’ mengangkat kedua tangannya. Dan ketika bangkit dari dua rakaat, beliau mengangkat kedua tangannya.” (HR. Bukhari)

Sedangkan cara melaksanakan kesunnahan mengangkat tangan yang paling sempurna adalah dengan cara menyejajarkan ujung jari-jari dengan bagian telinga yang paling atas, kedua jempol sejajar dengan janur telinga dan kedua telapak tangan sejajar dengan kedua pundak, seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Fiqhu ala al-Madzahib al-Arba’ah:

الشافعية قالوا: الأكمل في السنة هو رفع اليدين عند تكبيرة الإحرام والركوع والرفع منه وعند القيام من التشهد الأول حتى تحاذي أطراف أصابعه أعلى أذنيه وتحاذي إبهاماه شحمتي أذنيه, وتحاذي راحتاه منكبيه للرجل والمرأة, أمّا أصل السنة فتحصل ببعض ذلك.

“Mazhab Syafi’iyah berpandangan bahwa kesunnahan yang paling sempurna adalah dengan cara mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram, ruku’, bangkit dari ruku’ (i’tidal), dan ketika berdiri dari tasyahud pertama. Mengangkat tangan ini sekiranya ujung jari-jari tangan sejajar dengan bagian telinga yang paling atas, kedua jempol sejajar dengan janur telinga dan kedua telapak tangan sejajar dengan dua pundak. Baik bagi laki-laki ataupun perempuan. Adapun asal kesunnahan maka sudah cukup dengan melaksanakan sebagian dari ketentuan tersebut. (Syekh Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqhu ala al-Madzahib al-Arba’ah, Juz 1, hal. 224)

Namun kesunnahan mengangkat tangan setelah tasyahud awal dalam permasalahan di atas, hanya berlaku bagi orang yang memang berada pada rakaat kedua baik ketika shalat sendirian atau dalam keadaan bermakmum pada imam sejak rakaat pertama. Lalu bagaimana dengan makmum masbuq (telat)?

Dalam hal ini, makmum masbuq yang mendapati imam tidak pada rakaat pertama tidak disunnahkan mengangkat kedua tangannya, meskipun tetap disunnahkan baginya melafalkan takbir intiqal (takbir perpindahan rukun) sebab hitungan rakaat kedua hanya berlaku bagi imam, tidak bagi dirinya. Hal ini ditegaskan dalam kitab Tuhfah al-Habib ala Syarh al-Khatib

ـ (وعند القيام إلى الثالثة من التشهد الأول) لعلّ المراد التشهد الأول بالنسبة للمصلّي. فلا يرفع إذا أدرك الإمام في الثانية

“Dan (disunnahkan mengangkat tangan) ketika berdiri menuju rakaat ketiga dari tasyahud awal. Mungkin hal yang dikehendaki (pengarang kitab) adalah tasyahud awal ketika dinisbatkan pada orang yang shalat. Maka tidak disunnahkan mengangkat tangan bagi orang yang shalat ketika bermakmum pada imam pada rakaat kedua.” (Syekh Sulaiman al-Bujairami, Tuhfah al-Habib ala Syarh al-Khatib, Juz 2, hal. 211)

Maka dengan demikian, makmum masbuq hanya disunnahkan mengangkat tangan pada saat takbiratul ihram, ruku’, i’tidal dan ketika bangkit dari tasyahud awal yang dinisbatkan pada dirinya sendiri bukan tasyahud awal yang dinisbatan pada imam, seperti ia mendapati imam pada shalat maghrib di rakaat kedua, maka setelah rakaat ketiga imam, ia disunnahkan takbir intiqal sekaligus mengangkat kedua tangannya, sebab dalam hal ini, tasyahud akhir dari imam merupakan tasyahud awal bagi makmum masbuq tersebut. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Tags:
Share:
Selasa 25 Desember 2018 15:0 WIB
Yakin Punya Utang Shalat tapi Lupa Shalat Apa, Bagaimana?
Yakin Punya Utang Shalat tapi Lupa Shalat Apa, Bagaimana?
Shalat merupakan salah satu ibadah yang sangat ditekankan agama. Berulang kali kata shalat disebutkan dalam ayat Al-Qur’an. Kewajiban shalat lima waktu diterima langsung Rasulullah dari Allah saat peristiwa Isra’ Mi’raj, tanpa perantara malaikat Jibril, tidak seperti kewajiban lainnya. Yang demikian menunjukan begitu besarnya urusan shalat. 

Seseorang yang meninggalkan shalat, baik lupa, tertidur, disengaja atau faktor lainnya, wajib mengqadhanya (menggantinya). Sebagaimana ditegaskan oleh Nabi:

من نسي صلاة أو نام عنها فكفارتها أن يصليها إذا ذكرها

“Barangsiapa lupa shalat atau tertidur, maka gantinya adalah melakukan shalat tersebut ketika ia ingat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kewajiban mengqadha shalat yang ditinggalkan karena sengaja dianalogikan dengan meninggalkan shalat karena lupa atau tertidur dengan pola qiyas aulawi (analogi “apalagi”). Jika meninggalkan shalat secara tidak sengaja saja wajib mengqadha, apalagi meninggalkan shalat secara sengaja.

Persoalan muncul ketika seseorang yakin memiliki tanggungan shalat, namun ia tidak ingat secara persis jenis shalatnya, apakah Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’, atau Subuh. Bagaimana cara mengqadhanya?

Seseorang yang yakin meninggalkan shalat fardhu, namun ia tidak mengetahui persis jenis shalatnya, maka ia wajib melaksanakan lima shalat fardhu. Hal ini dilakukan agar tanggungan qadha shalatnya bisa gugur secara yakin. Sebab tidak mungkin tanggungan shalatnya terbayarkan secara yakin tanpa melaksanakan semuanya. Misal hanya mengqadla Zhuhur dan Ashar, ternyata yang ditinggalkan adalah Maghrib.
Persoalan ini oleh al-Imam al-Asnawi masuk dalam kaidah fiqih “suatu aktivitas yang menjadi jalan sempurnanya suatu kewajiban, maka hukum aktivitas itu juga wajib dilakukan.” Beliau dalam karya monumentalnya tentang kaidah fiqih, “al-Tamhid” berkata:

 الأمر بالشيء هل يكون أمرا بما لا يتم ذلك لشيء إلا به وهو المسمى بالمقدمة أم لا يكون أمرا به فيه مذاهب أصحها عند الإمام فخر الدين وأتباعه وكذا الآمدي أنه يجب مطلقا ويعبر عنه الفقهاء بقولهم مالا يتأتى الواجب إلا به فهو واجب

“Memerintahkan perkara apakah juga memerintahkan perkara yang menjadi penyempurnanya? Hal tersebut disebut dengan muqaddimah. Dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat. Pendapat yang paling benar hukumnya wajib secara mutlak. Pendapat ini sebagaimana didukung oleh al-Imam Fakhruddin al-Razi dan pengikutnya, demikian pula al-Imam al-Amudi. Para pakar fiqih meredaksikannya dengan ungkapan, ‘suatu aktivitas yang menjadi jalan sempurnanya suatu kewajiban, maka hukum aktivitas itu juga wajib dilakukan’.”

إذا علمت ذلك فيتخرج على هذه القاعدة مسائل الى أن قال الثالثة إذا نسي صلاة من الخمس ولم يعلم عينها فيلزمه الخمس

“Bila kamu mengetahui penjelasan tersebut, maka beberapa masalah terproduksi dari kaidah ini. Masalah yang ketiga, apabila seseorang lupa satu shalat dari lima waktu dan ia tidak mengetahui persisnya, maka wajib mengganti lima waktu shalat.” (Abu Muhammad Jamaluddin Abdurrahim bin al-Hasan al-Asnawi, al-Tamhid Fi Takhrij al-Furu’ ‘ala al-Ushul, hal. 83 dan 85)

Penuturan Syekh al-Asnawi di atas juga senada dengan beberapa kitab fiqih mazhab Syafi’i. Misalkan salah satu guru besar ulama mazhab Syafi’i, Syekh Abu Ishaq al-Syairazi mengatakan:

ومن نسي صلاة من الخمس ولم يعرف عينها لزمه أن يصلي الخمس

“Orang yang lupa meninggalkan satu shalat dari lima shalat fardhu dan ia tidak mengetahui persisnya, maka wajib baginya lima shalat fardhu.” (Syekh Abu Ishaq al-Syairazi, al-Tanbih fi al-Fiqh al-Syafi’i, hal. 31)

Bila saat mengqadhanya dalam kondisi mungkin berwudhu, maka cukup dilakukan dengan satu kali wudhu untuk kelima-limanya. Namun saat mengqadhanya dalam kondisi bertayamum, misal karena sakit, maka menurut pendapat al-Ashah (yang paling kuat), lima shalat tersebut cukup dilakukan dengan satu kali tayamum. Pendapat ini berargumen bahwa yang berstatus shalat fardhu hanya satu shalat saja, sedangkan yang lainnya hanya sebagai perantara menggugurkan kewajiban. 

Sementara menurut pendapat yang lemah, wajib dilaksanakan dengan lima kali tayamum untuk masing-masing shalatnya, sebab pendapat ini tidak membedakan antara kewajiban atas jalan hukum asal dan wasilah, “al-wajib ashalatan wa al-wajib wasilatan”.

Keterangan tersebut sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Muhmmad bin Ahmad al-Ramli sebagai berikut:

و الأصح أن من نسي إحدى الخمس ولم يعلم عينها وجب عليه أن يصلي الخمس لتبرأ ذمته بيقين ، وإذا أراد ذلك كفاه تيمم لهن لأن الفرض واحد وما عداه وسيلة، والثاني يجب خمس تيممات لوجوب الخمس

“Menurut al-Ashah, orang yang lupa salah satu dari lima shalat dan tidak mengetahui persisnya, wajib baginya lima shalat untuk membebaskan tanggungannya secara yakin. Bila ia hendak melakukannya, maka cukup baginya satu kali tayamum untuk lima shalat tersebut, sebab shalat fardhunya hanya satu, yang lain hanya sebagai wasilah (perantara). Dan menurut pendapat kedua, wajib lima kali tayamum, karena wajibnya lima shalat tersebut”. (Syekh Muhammad bin Ahmad al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, juz 1, hal. 314).

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan. Kami terbuka untuk menerima kritik dan saran. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)

Sabtu 22 Desember 2018 17:30 WIB
Hukum Shalat Hadiah untuk Orang yang Sudah Meninggal
Hukum Shalat Hadiah untuk Orang yang Sudah Meninggal
Ilustrasi (wikipedia)
Berkaitan dengan shalat, kadang kita temukan di masyarakat praktik shalat hadiah untuk orang yang sudah meninggal. Pelaksanaan shalat ini dimaksudkan untuk meringankan beban mayit di kuburan. Bagaimana hukum shalat hadiah dalam perspektif fiqih Islam?

Shalat sunnah secara garis besar terbagi menjadi tiga macam. Pertama, shalat sunnah yang dibatasi dengan waktu, seperti shalat sunnah rawatib dan shalat tarawih. Kedua, dibatasi dengan sebab, seperti shalat Istisqa’ (memohon hujan) dan shalat gerhana. Ketiga, shalat sunnah yang tidak dibatasi dengan waktu dan sebab, atau biasa disebut dengan shalat sunnah mutlak.

Shalat sunnah yang dibatasi dengan waktu, harus dilakukan sesuai aturan waktu yang telah ditentukan, semisal tarawih. Pelaksanaannya tertentu di bulan Ramadhan setelah shalat Isya’. Sedangkan shalat sunnah yang dibatasi dengan sebab, harus dilakukan saat sebabnya masih wujud, semisal shalat istisqa’, terbatas ketika kondisi kekurangan air. Sementara untuk shalat sunnah mutlak, kapan pun bisa dilakukan.

Jenis shalat sunnah pertama dan kedua, pelaksanaannya harus mengikuti anjuran khusus dari Nabi. Tidak boleh dibuat-buat sendiri. Sehingga menjadi tidak sah, bila seseorang membuat-buat shalat sunnah sendiri dengan dibatasi waktu atau sebab tertentu. Sesuai dengan kaidah fiqih:

العبادة حيث لم تطلب لم تنعقد

“Ibadah ketika tidak dituntut, tidak sah”.

Atas dasar kaidah itu, ulama menyatakan keharaman melaksanakan shalat raghaib, shalat Shafar, shalat Nishfu Sya’ban, dan lain sebagainya. Sebab shalat-shalat yang jenis demikian tidak berlandaskan dalil yang shahih.

Lain halnya dengan shalat sunnah mutlak, boleh dialksanakan kapan saja. Berapa pun rakaatnya, di mana pun tempatnya, ada sebab atau tidak ada sebab, kita boleh secara bebas melaksanakannya, asalkan tidak dilakukan di waktu-waktu terlarang.

Berkaitan dengan shalat hadiah, Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa shalat tersebut tidak memiliki landasan dalil yang dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga melaksanakannya adalah haram dan tidak sah.

Dalam himpunan fatwanya, Rais Akbar NU tersebut mengatakan:

اورا ويناع فيتواه اجاء اجاء لن علاكوني صلاة رابو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت اع سؤال كارنا صلاة لورو ايكو ماهو اورا انا اصلى في الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها كايا كتاب تقريب، المنهاج القويم، فتح المعين ، التحرير لن سافندوكور كايا كتاب النهاية المهذب لن احياء علوم الدين، كابيه ماهو أورا انا كاع نوتور صلاة كاع كاسبوت. الى ان قال وليس لأحد أن يستبدل بما صح عن رسول الله انه قال الصلاة خير موضوع فمن شاء فليستكثر ومن شاء فليستقلل، فإن ذلك مختص بصلاة مشروعة.

“Tidak boleh berfatwa, mengajak dan melakukan shalat Rabu Wekasan dan shalat hadiah yang disebutkan dalam pertanyaan, karena dua shalat tersebut tidak ada dasarnya dalam syari’at. Tendensinya adalah bahwa kitab-kitab yang bisa dibuat pijakan tidak menyebutkannya, seperti kitab al-Taqrib, al-Minhaj al-Qawim, Fath al-Mu’in, al-Tahrir dan kitab seatasnya seperti al-Nihayah, al-Muhadzab dan Ihya’ Ulum al-Din. Semua kitab-kitab tersebut tidak ada yang menyebutkannya. Bagi siapapun tidak boleh berdalih kebolehan melakukan kedua shalat tersebut dengan hadits shahih bahwa Nabi bersabda, shalat adalah sebaik-baiknya tempat, perbanyaklah atau sedikitkanlah, karena sesungguhnya hadits tersebut hanya mengarah kepada shalat-shalat yang disyari’atkan”. (KH. Hasyim Asy’ari sebagaimana dikutip kumpulan Hasil Bahts al-Masail PWNU Jawa Timur).

Namun, bila yang dimaksud adalah melaksanakan shalat sunnah mutlak, kemudian pahalanya dihadiahkan untuk mayit, maka diperbolehkan. Pahala shalat yang dihadiahkan menurut pendapat Hanabilah (mazhab Hanbali) dan mayortitas ulama bisa sampai kepada mayit. 

Keterangan ini sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Isma’il Zain sebagai berikut:

حكم صلاة الهدية سؤال:ما حكم  صلاةالهدية للميت التي يصليها الإنسان بين العشائين فهل هي صحيحة ومحصلة لما نواه أولا؟
الجواب: والله الموفق للصواب أن الإنسان إذا صلى شيئا من النوافل ثم وهب للميت وأهداه له فإن ذلك الثواب يصل إلى الميت بإذن الله وهو مذهب الحنابلة وجمهور العلماء والله سبحانه وتعالى اعلم

“Hukum shalat hadiah. Pertanyaan: apa hukumnya shalat hadiah untuk mayit, yang dilakukan oleh seseorang di antara Maghrib dan Isya’, apakah sah dan dapat menghasilkan apa yang ia niati? Jawaban: Semoga Allah memberi pertolongan. Sesungguhnya apabila seseorang melaksanakan shalat sunnah, kemudian ia berikan dan hadiahkan untuk mayit, maka pahala shalat tersebut sampai kepada mayit dengan izin Allah. Ini adalah pendapat Hanabilah dan mayoritas ulama. Dan Allah Subahanhu wa Ta’ala maha mengetahui.” (Syekh Isma’il Zain, Qurrat al-‘Ain, hal. 59)

Persoalan shalat hadiah ini juga disinggung oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayah al-Zain, hal. 107. Beliau menyebutnya dengan shalat lil unsi fi al-qabri (shalat untuk menghibur mayat di kuburan). Di kitab tersebut juga disampaikan tata cara dan doa-doanya. Syekh Nawawi mengutip dari sebagian ulama, bahwa orang yang rutin melakukannya di setiap malam dan menghadiahkan pahalanya untuk setiap mayat dari kaum muslimin, ia mendapat pahala yang besar dan menjadi orang yang sangat beruntung. 

Penjelasan Syekh Nawawi ini harus dipahami dalam konteks shalat sunnah mutlak. Shalat sunnah yang beliau paparkan tetap tidak keluar dari kedudukannya sebagai shalat sunnah mutlak. Sebab, tidak ada dalil secara khusus tentang anjuran shalat hadiah sebagaimana ditegaskan oleh KH Hasyim Asy’ari di atas.

Mengarahkan referensi yang ada dalam Nihayah al-Zain sebagaimana di atas, bisa kita ilhaq-kan dengan referensi yang ditegaskan oleh Syekh Abdul Hamid Quds al-Makki mengenai shalat Shafar, Shalat Raghaib dan yang sejenisnya. Menurut beliau, bila shalat-shalat tersebut diniati secara khusus, maka haram dan tidak sah, sebagaimana banyak ditemukan dalam kitab-kitab turats. Namun, bila diniati dengan shalat sunnah mutlak, maka boleh dan sah.

Syekh Abdul Hamid Quds al-Makki menegaskan:

قلت ومثله صلاة صفر فمن أراد الصلاة فى وقت هذه الأوقات فلينو النفل المطلق فرادى من غير عدد معين وهو ما لا يتقيد بوقت ولا سبب ولا حصر له . انتهى

“Aku berpendapat, termasuk yang diharamkan adalah shalat Shafar (Rabu Wekasan), maka barang siapa menghendaki shalat di waktu-waktu terlarang tersebut, maka hendaknya diniati shalat sunnah mutlak dengan sendirian tanpa bilangan rakaat tertentu. Shalat sunnah mutlak adalah shalat yang tidak dibatasi dengan waktu dan sebab tertentu dan tidak ada batas rakaatnya”. (Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki, Kanz al-Najah wa al-Surur, hal. 22)

Demikian penjelasan mengenai hukum shalat hadiah. Semoga dapat dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima kritik dan saran. Wallahu a’lam.

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)


Jumat 21 Desember 2018 8:0 WIB
Apakah Posisi Anak-anak di Shaf Pertama Hilangkan Keutamaan Shalat Jamaah?
Apakah Posisi Anak-anak di Shaf Pertama Hilangkan Keutamaan Shalat Jamaah?
(Foto: @reuters)
Dalam ritual shalat jamaah, tak jarang kita temukan orang tua mengajak anak-anaknya yang masih kecil untuk berangkat ke masjid agar mengikuti shalat jamaah. Orang tua mengajak anaknya ini tak lain bertujuan agar anaknya dapat terbiasa menjalankan shalat jamaah kelak ketika sudah dewasa.

Banyak juga anak-anak kecil yang berangkat ke masjid sendirian tanpa bersama dengan orang tuanya. Mereka bersemangat berangkat ke masjid biasanya karena teman-temannya yang seumuran juga ikut berangkat shalat berjamaah di masjid.

Realitas demikian adalah hal yang perlu ditradisikan, sebab sangat menunjang terhadap perilaku positif kepada anak-anak. Namun jangan sampai hal ini tidak disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh syara’ kepada anak kecil ketika shalat jamaah.

Sering kita lihat, anak kecil ketika shalat jamaah mereka menempati shaf yang paling awal. Padahal di belakangnya masih terdapat orang lain yang sudah baligh yang juga mengikuti shalat jamaah. Melihat realitas demikian terbesit sebuah pertanyaan, sudah benarkah ketentuan shalat jamaah ketika shaf awal terdapat anak kecil yang menempatinya?

Anjuran syara’ dalam hal penempatan para makmum dalam shalat jamaah adalah dengan cara menempatkan makmum laki-laki yang dewasa pada barisan paling depan (shaf awal), lalu barisan selanjutnya ditempati oleh anak-anak laki-laki yang belum baligh, lalu shaf selanjutnya ditempati oleh khuntsa (orang berkelamin ganda), lalu shaf selanjutnya ditempati oleh para wanita.

Ketentuan seperti inilah yang dianjurkan oleh syara’ agar pelaksanaan shalat jamaah menjadi sempurna. 

Ketentuan tidak bolehnya anak kecil menempati shaf paling depan dalam penjelasan di atas mengecualikan ketika anak kecil memang datang terlebih dahulu dibandingkan dengan orang-orang yang telah baligh, maka dalam hal ini anak kecil diperkenankan untuk menempati shaf depan. Pasalnya, mereka masih dianggap satu jenis dengan laki-laki yang telah baligh.

Penjelasan di atas tercantum dalam Kitab Mauhibatu Dzil Fadhal:

قوله (ويقف) ندبا فيما إذا تعددت أصناف المأمومين (خلفه الرجال) صفا (ثم) بعد الرجال إن كمل صفهم (الصبيان) صفا ثانيا وان تميزوا عن البالغين بعلم ونحوه هذا (إن لم يسبقوا) أي الصبيان (إلى الصف الأول فان سبقوا) إليه (فهم أحق به) من الرجال فلا ينحون عنه لهم لأنهم من الجنس بخلاف الخناثى والنساء ثم بعد الصبيان وان لم يكمل صفهم الخناثى (ثم بعدهم وان لم يكمل صفهم النساء) للخبر الصحيح ليلينى منكم أولوا الاحلام والنهى اى البالغون العاقلون ثم الذين يلونهم ثلاثا ومتى خولفا لترتيب المذكور كره وكذا كل مندوب يتعلق بالموقف فإنه يكره مخالفته وتفوت به فضيلة الجماعة كما قدمته فى كثير من ذلك

Artinya, “Lelaki (dewasa) disunnahkan untuk berdiri di shaf belakang imam (shaf pertama) ketika banyak makmum yang ikut berjamaah. Lalu setelah shaf lelaki penuh maka selanjutnya shaf yang di isi oleh anak-anak kecil. Termasuk dari anak kecil ini adalah anak (yang belum baligh) yang dapat dibedakan dari lelaki yang telah baligh dengan cara diketahui atau yang lainnya. Ketentuan ini ketika mereka (anak kecil) tidak mendahului mendapatkan shaf awal. Jika mereka mendahului pada shaf awal (dari orang baligh) maka mereka lebih berhak untuk menempati shaf awal dari lelaki yang telah baligh. Maka mereka tidak boleh diusir dari shaf awal karena mereka masih satu jenis (laki-laki). Berbeda halnya bagi khuntsa (orang yang berkelamin ganda) atau perempuan.”

Lalu yang menempati shaf di belakang anak kecil laki-laki, meskipun shaf mereka tidak penuh, adalah khuntsa, lalu setelah khuntsa adalah orang perempuan, meskipun shafnya khuntsa tidak penuh. Hal ini berdasarkan hadits shahih “Hendaknya mengiring-ngiringi barisan kalian (imam) orang-orang yang telah baligh, lalu setelah itu orang-orang yang mengiringi kalian,” (kata-kata ini diucapkan tiga kali oleh Rasulullah).

Ketika ketentuan tertibnya shaf di atas dilanggar, maka hukumnya makruh. Begitu juga kemakruhan ini juga berlaku pada melanggar segala kesunnahan yang berhubungan dengan tempat berdiri. Kemakruhan ini dapat menghilangkan fadhilah jama’ah, seperti yang telah saya (Mushannif) jelaskan dalam berbagai  keterangan yang berkaitan dengan hal ini. (Lihat Syekh Mahfudz At-Turmusi, Mauhibatu Dzil Fadhal Hasyiyah At-Turmusi, juz III, halaman 59-62).

Dalam memaknai hilangnya fadhilah jama’ah dalam permasalahan ini, terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli. Menurut Imam Ibnu Hajar, ketika ketentuan penempatan shaf di atas dilanggar oleh makmum, maka hal yang hilang adalah fadilah jama’ah bagi makmum.

Menurut Imam Ramli, perkara yang tidak di dapatkan makmum hanyalah fadhilah shaf sehingga fadilah shalat jamaah yang berupa keutamaan 27 derajat masih didapatkan oleh makmum. (Syekh Husein Abdullah, Itsmidul ‘Ainain, halaman 33).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa baiknya bagi anak kecil agar tidak ditempatkan pada shaf awal dalam shalat jama’ah, sebab hal demikian bertentangan dengan ketentuan yang telah ditetapkan syara’ dan akan menghiangkan fadilah jama’ah menurut Imam Ibnu Hajar dan menhilangkan fadilah shaf menurut Imam Ramli.

Berbeda halnya ketika anak kecil hadir di masjid terlebih dahulu dan menempati shaf yang awal, maka dalam keadaan demikian mereka menempati shaf awal menjadi tidak dipermasalahkan. Wallahu a’lam. (Ustadz Ali Zainal Abidin)