IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Tauhid

Termasuk Bid’ah adalah Menetapkan Arah bagi Allah

Kamis 27 Desember 2018 16:0 WIB
Share:
Termasuk Bid’ah adalah Menetapkan Arah bagi Allah
Salah satu nama yang paling banyak disebut ketika membahas teori tentang bid’ah adalah Imam asy-Syatibi. Beliau adalah seorang tokoh pakar ushul fiqh bermazhab Malikiyah. Kebanyakan para pendaku Salafi modern ini menganggap teorisasi bid’ah yang dilakukan oleh asy-Syatibi dalam kitabnya yang berjudul al-I’tishâm sebagai konsep teori bid’ah yang paling baik, bahkan seolah kebenaran yang tak bisa ditawar. Berbeda dari teori mayoritas ulama empat mazhab, beliau tidak membagi bid’ah secara umum menjadi dua (sebagai bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah) atau secara rinci menjadi lima hukum (haram, makruh, mubah, sunnah dan wajib). Bagi Imam asy-Syatibi, bid’ah hanyalah satu macam saja, yakni haram saja. Konsep beliau yang menyelisihi mayoritas ulama ini menarik, tetapi bukan bahasan kita kali ini. 
 
Baca juga:
Inilah Kriteria Bid‘ah Dhalalah dan Bid‘ah Hasanah
Jawaban Metodologis untuk Orang yang Gemar Menvonis Bid’ah
Kali ini penulis akan membahas tentang bagian yang berkaitan dengan teologi atau aqidah dalam kitab al-I’tishâm. Dalam pandangan asy-Syatibi, bid'ah itu ada dua tingkat, yakni yang kesesatannya di level kafir (keluar dari Islam) dan tidak sampai kafir. Berikut pernyataan beliau selengkapnya:

لَا شَكَّ فِي أَنَّ الْبِدَعَ يَصِحُّ أَنْ يَكُونَ مِنْهَا مَا هُوَ كُفْرٌ كَاتِّخَاذِ الْأَصْنَامِ لِتُقَرِّبَهُمْ إِلَى اللَّهِ زُلْفَى، وَمِنْهَا مَا لَيْسَ بِكُفْرٍ كَالْقَوْلِ بِالْجِهَةِ عِنْدَ جَمَاعَةٍ وَإِنْكَارِ الْإِجْمَاعِ وَإِنْكَارِ الْقِيَاسِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ

"Tak diragukan bahwa bid'ah itu ada yang berupa kekafiran, seperti membuat patung berhala (untuk disembah) dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Dan ada juga yang tidak sampai pada level kafir, seperti berpendapat adanya arah (bagi Allah) menurut sebagian kelompok, mengingkari konsensus ulama, mengingkari qiyas dan sebagainya." (Asy-Syatibi, al-i'tishâm, juz II, halaman 707)

Jadi menurut Imam asy-Syatibi, menetapkan adanya arah tertentu bagi keberadaan Dzat Allah, misalnya dengan meyakini bahwa Allah ada di arah atas sana, adalah sebuah keyakinan bid’ah. Hanya saja keyakinan bid’ah ini tidak sampai berkonsekuensi kekafiran, hanya dianggap sesat dan berdosa. Lalu bagaimana tentang berbagai ayat atau hadits yang seolah-olah mengisyaratkan bahwa Allah ada di atas sana, di langit, di atas Arasy? Bukannya itu semua sama saja dengan menetapkan arah bagi keberadaan Allah? Seperti mayoritas ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) lainnya, Imam Syatibi di kitabnya yang lain menjelaskannya demikian:

قَوْلُهُ تَعَالَى: {يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ} [النَّحْلِ: ٥٠] ، {أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ} [الملك: ١٦] وَأَشْبَاهُ ذَلِكَ، إِنَّمَا جَرَى عَلَى مُعْتَادِهِمْ فِي اتِّخَاذِ الْآلِهَةِ فِي الْأَرْضِ، وَإِنْ كَانُوا مُقِرِّينَ بِإِلَهِيَّةِ الْوَاحِدِ الْحَقِّ؛ فَجَاءَتِ الْآيَاتُ بِتَعْيِينِ الْفَوْقِ وَتَخْصِيصِهِ تَنْبِيهًا عَلَى نَفْيِ مَا ادَّعَوْهُ فِي الْأَرْضِ؛ فَلَا يَكُونُ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى إِثْبَاتِ جِهَةٍ أَلْبَتَّةَ؛ وَلِذَلِكَ قَالَ تَعَالَى: {فَخَرَّ عَلَيْهِمُ السَّقْفُ مِنْ فَوْقِهِمْ} [النَّحْلِ: ٢٦] ؛ فَتَأَمَّلْهُ، وَاجْرِ عَلَى هَذَا الْمَجْرَى فِي سَائِرِ الْآيَاتِ وَالْأَحَادِيثِ.

“Firman Allah Ta'ala: "Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka" (an-Nahl: 50), "Apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit" (al-Mulk: 16), dan ayat semisal itu sesungguhnya tidak lain hanyalah dalam konteks kebiasaan mereka dalam membuat berbagai sesembahan di bumi meskipun mereka juga mengakui Ketuhanan Allah Yang Maha Esa dan Maha Benar. Kemudian ayat-ayat itu datang dengan menentukan ketinggian dan  mengkhususkannya dalam rangka memperingatkan penegasian terhadap apa yang mereka sembah di bumi. Maka hal itu sama sekali tidak menunjukkan penetapan arah Tuhan. Karena itu, Allah berfirman:  "Lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa dari atas mereka" (an-Nahl:26), maka renungkanlah ini dan terapkan metode ini dalam seluruh ayat dan hadits.” (as-Syatibi, al-Muwâfaqât, juz IV, halaman 155)

Dalam pandangan asy-Syatibi, semua ayat atau hadits yang seolah mengatakan bahwa Allah berada di arah atas harus dibaca dalam konteks saat turunnya ayat itu tatkala marak penyembahan berhala. Semua berhala itu ada di bumi; di depan, di belakang, atau di samping manusia. Maksud semua ayat itu tak lain hanyalah untuk manafikan keberadaan seluruh berhala yang di bumi itu sebagai sosok Tuhan, bukannya untuk menetapkan bahwa Dzat Allah berada di arah atas. 

Seperti halnya dalam ungkapan “atap jatuh dari atas” dalam ayat an-Nahl:26, sama sekali tidak bermaksud menegaskan bahwa atap pastilah selalu berada di atas, tetapi hanya ungkapan kebiasaan bahwa atap biasanya diposisikan berada di atas. Kenyataannya, atap tetaplah atap meskipun ia belum diletakkan di atas sekalipun. Dalam kasus Dzat Allah,  Allah tetaplah Allah sebagai Tuhan yang tak berarah atau pun bertempat sebab Ia sudah ada sebelum semua tempat tercipta dan otomatis juga sebelum adanya arah apapun. 

Pemahaman seperti ini menurutnya adalah kaidah yang harus diberlakukan ketika menghadapi semua ayat atau hadits yang seolah menetapkan adanya arah atas bagi Allah. Ini adalah keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah yang ada sejak masa salaf hingga sekarang. Karena itu jangan ada yang mengkhayalkan bahwa Allah berada atau bertempat di atas. Khayalan semacam ini adalah bid’ah, hal baru yang dibuat-buat belakangan oleh Aliran Mujassimah dan Hasyawiyah. Kemahatinggian Allah sama sekali tak bermakna bahwa Dzat Allah bertempat di lokasi yang tinggi, tetapi Kemahatinggian dalam konteks sifat ‘uluw yang telah dibahas di artikel sebelumnya. Wallahu a'lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jember.

Share:
Senin 10 Desember 2018 18:15 WIB
Pertanyaan bagi yang Meyakini Allah Berada dalam Arah Tertentu
Pertanyaan bagi yang Meyakini Allah Berada dalam Arah Tertentu
Sudah maklum bahwa dalam aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah dan Maturidiyah) ditegaskan bahwa Allah ada tanpa arah dan tempat sebab Dzat Allah bukanlah jism (sesuatu yang punya volume). Allah tidak bisa dianggap berada dalam lokasi atau koordinat tertentu sebab yang demikian hanyalah jism belaka. Dalam hal ini Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berkata:

وَلَا يَلْزَمُ مِنْ كَوْنِ جِهَتَيِ الْعُلُوِّ وَالسُّفْلِ مُحَالٌ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُوصَفَ بِالْعُلُوِّ لِأَنَّ وَصْفَهُ بِالْعُلُوِّ مِنْ جِهَةِ الْمَعْنَى وَالْمُسْتَحِيلُ كَوْنُ ذَلِكَ مِنْ جِهَةِ الْحِسِّ وَلِذَلِكَ وَرَدَ فِي صِفَتِهِ الْعَالِي وَالْعَلِيُّ وَالْمُتَعَالِي وَلَمْ يَرِدْ ضِدُّ ذَلِكَ وَإِنْ كَانَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْء علما جلّ وَعز

“Kemustahilan arah atas dan bawah bagi Allah tidak menunjukkan bahwa Allah tidak bisa disifati dengan sifat Kemahatinggian (al-‘Uluw) sebab penyifatan Allah dengan sifat Maha Tinggi adalah dari sisi maknawi. Yang mustahil adalah penyifatan Itu dari sisi indrawi. Karenanya, ada ayat atau hadits tentang sifat al-‘Âliy, al-‘Aliyy, dan al-Muta’âly (kesemuanya bermakna Yang Maha Tinggi) dan tak ada satu pun kebalikannya, meskipun Allah yang Maha Agung meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bâry, Juz VI, halaman 136)

Demikian juga seluruh imam Ahlussunnah yang lain sepakat menafikan adanya arah bagi Allah sehingga Allah diyakini ada tetapi keberadaan-Nya tak bisa disebut dengan ungkapan di atas, di bawah, di samping, di depan atau di belakang dalam makna indrawi atau makna lokasi. Kemahatinggian Allah tak lain bermakna kemahatinggian mutlak dalam derajat dan keagungan-Nya yang tak dapat dicapai siapa pun. 

Baca juga:
• Sifat Kemahatinggian Allah Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah
• Bolehkah Mengatakan Allah Bersemayam di Atas Arasy?

Namun demikian, selalu saja orang yang bersikukuh menebar propaganda bahwa Allah bertempat dan pastinya juga berada dalam arah tertentu. Mereka meyakini bahwa Allah bertempat secara fisikal (indrawi) di atas sana dan hanya terbatas di arah atas sana saja dengan berpedoman pada segelintir dalil yang tak dipahami secara komprehensif seperti arahan para ulama. Untuk mematahkan propaganda mereka, Syekh Saif bin Ali al-Ashri dalam kitab fenomenalnya, al-Qawl at-Tamâm Bi-Itsbât at-Tafwîdh Madzhaban Lis-Salaf al-Kirâm mengajukan beberapa pertanyaan sederhana sebagai berikut:

Apa pendapat kalian tentang aqidah Hulul (aqidah yang mengatakan bahwa Allah menyatu/bertempat di dalam makhluk)?

Bila kalian menjawab bahwa aqidah hulul adalah sesat, maka jawaban itu benar tetapi hal ini justru menafikan keberadaan Allah secara indrawi di arah atas sana.

Arah atas yang kalian tetapkan apakah makhluk atau bukan makhluk?

Bila kalian berkata bahwa arah atas itu makhluk, maka kalian sama saja telah meyakini aqidah hulul yang menyatakan  Allah menyatu dalam makhluk, dan ini kufur. Namun bila kalian berkata bahwa arah atas itu bukan makhluk, maka kalian sudah menyelisihi firman Allah yang artinya: “Allah Maha Menciptakan segala sesuatu.” (QS. Ar-Ra’d: 16). Adapun bila kalian berkata bahwa arah itu adalah ketiadaan bukan sesuatu yang ada, maka sama saja kalian mengatakan Allah itu tidak ada sebab tak mungkin ada sesuatu yang ada di dalam ketiadaan. 

Demikianlah pertanyaan dari Syekh Saif bin Ali al-Ashri yang tampaknya mustahil dijawab oleh mereka yang meyakini bahwa Allah bertempat dalam arah atau koordinat tertentu. Sudah maklum bagi semua yang berakal bahwa arah tak lain merupakan perspektif dari dua jism. Arah atas berarti perspektif dari jism yang di bawah terhadap jism lain yang lokasinya di atasnya. Arah bawah adalah perspektif dari jism yang di atas terhadap jism lain yang lokasinya di bawahnya, dan demikian seterusnya. Arah ini sudah pasti adalah makhluk sebab ia ada perspektif dari makhluk. Arah juga sesuatu yang riil atau nyata, bukan sesuatu yang tidak ada. Dengan demikian, meyakini bahwa Allah berada dalam arah tertentu sama halnya dengan meyakini bahwa Allah berada dalam makhluk tertentu dan ini sudah disepakati sebagai aqidah yang menyimpang. Wallahu a'lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jatim.

Jumat 23 November 2018 0:30 WIB
Nur Muhammad dalam Kitab Barzanji
Nur Muhammad dalam Kitab Barzanji
Kitab Qashidah Barzanji mengandung konsep yang kemudian dikenal dengan istilah Nur Muhammad. Kitab karya As-Sayyid Ja‘far yang kerap dibaca masyarakat Muslim di pelbagai belahan dunia ketika peringatan maulid ini menyebutnya dengan “Ushalli wa usallimu ‘alan nuril maushufi bit taqaddumi wal awwaliyyah.” Konsep ini mengundang diskusi tanpa kata putus.

Konsep Nur Muhammad ini kerap memicu polemik di tengah umat Islam. Sebagian orang menolaknya karena konsep ini bertentangan dengan konsep penciptaan manusia dalam Al-Qur’an. Sebagian orang lainnya menolak karena konsep terpengaruh oleh doktrin salah satu sekte dalam Islam, yaitu Syiah.

Adapun sebagian kelompok lainnya menolak karena konsep ini membuka lebar pemikiran yang ditengarai oleh kosmologi sufisme yang dianggap berlebihan dan melewati batas. Sebagian orang Islam lainnya menolak konsep Nur Muhammad ini karena membuka jalan pada paham wahdatul wujud. Paham sufisme yang berkembang di Nusantara menyebutnya kurang lebih martabat lima atau martabat tujuh. Sedangkan sebagian orang menolak pijakan konsep Nur Muhammad ini melalui kritik hadits.

Berikut ini kami kutip bagian dari qashidah tersebut yang menyebut konsep Nur Muhammad dan terjemahannya secara harfiah.

أصلي وأسلم على النور الموصوف بالتقدم والأوليه

Artinya, “Aku mengucap shalawat dan salam untuk cahaya yang bersifat terdahulu dan awal” (Lihat As-Sayyid Ja‘far Al-Barzanji, Qashidah Al-Barzanji pada Hamisy Madarijus Shu‘ud ila Iktisa’il Burud, [Surabaya, Syirkah Ahmad bin Sa‘ad bin Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 4).

Di tengah pelbagai polemik perihal konsep Nur Muhammad itu, Syekh Muhammad Nawawi Banten, ulama Nusantara yang otoritas keilmuannya teruji dan diakui oleh ulama di Timur Tengah di zamannya, menjelaskan konsep tersebut dari sudut pandang aqidah Ahlusunnah wal Jamaah.

Menurutnya, konsep Nur Muhammad tidak sulit untuk dipahami dan tidak perlu dibikin ruwet. Status Nur Muhammad bukan qadim sebagaimana keqadiman sifat Allah. Nur Muhammad adalah makhluk yang pertama kali Allah ciptakan sebelum Dia menciptakan makhluk lainnya.

قوله (أصلي) أي أطلب صلاة الله أي رحمته (وأسلم) أي أطلب سلام الله أي تحيته (على) صاحب (النور الموصوف بالتقدم) على كل مخلوق (والأوليه) أي كونه أولا بالنسبة لسائر المخلوقات

Artinya, “(Aku mengucap shalawat) aku memohon shalawatullah, yaitu rahmat Allah (dan) aku memohon (salam) Allah, yaitu penghormatan-Nya (untuk) yang empunya (cahaya yang bersifat terdahulu) sebelum segala makhluk (dan awal) yang entitasnya lebih awal dalam kaitannya dengan semua makhluk,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Madarijus Shu‘ud ila Iktisa’il Burud, [Surabaya, Syirkah Ahmad bin Sa‘ad bin Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 4).

Dengan keterangan Syekh M Nawawi Banten ini, kepercayaan kelompok Ahlussunnah wal Jamaah tidak menjadi cacat, ternoda, terkontaminasi, tersesat, atau bergeser dari aqidah ahlussunnah hanya karena mempercayai konsep Nur Muhammad.

Kepercayaan kelompok Ahlussunnah wal Jamaah atas konsep Nur Muhammad tidak kemudian membuat mereka terjatuh pada lubang tasybih (imanensi) yang menyerupakan hingga kemudian menyatukan Allah dan Nur Muhammad. Dengan pengertian yang disampaikan Syekh M Nawawi Banten, kelompok Ahlussunnah wal Jamaah yang kerap membaca Qashidah Barzanji tetap konsisten pada logika tanzih (transendental) yang membedakan zat Allah dan Nur Muhammad.

Entitas Nur Muhammad sendiri sebagai makhluk pertama Allah merupakan sebuah anugerah luar biasa dari Allah yang dapat Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Keberadaan Nur Muhammad merupakan hak prerogatif Allah tanpa intervensi dan pengaruh siapa dan apa pun.

Syekh M Nawawi Banten juga membawa hadits riwayat Jabir yang menjadi salah satu dasar konsep Nur Muhammad di samping beberapa riwayat hadits lainnya.

كما في حديث جابر أنه سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن أول ما خلقه الله تعالى قال إن الله خلق قبل الأشياء نور نبيك فجعل ذلك النور يدور بالقدرة حيث شاء الله ولم يكن في ذلك الوقت لوح ولا قلم ولا جنة ولا نار ولا ملك ولا إنس ولا جن ولا أرض ولا سماء ولا شمس ولا قمر وعلى هذا فالنور جوهر لا عرض 

Artinya, “Sebagaimana tersebut dalam hadits riwayat sahabat Jabir RA bahwa ketika ditanya perihal makhluk pertama yang diciptakan Allah, Rasulullah SAW menjawab, ‘Sungguh, Allah menciptakan nur nabimu sebelum segala sesuatu.’ Allah menjadikan nur itu beredar dengan kuasa Allah sesuai kehendak-Nya. Saat itu belum ada lauh, qalam, surga, neraka, malaikat, manusia, jin, bumi, langit, matahari, dan bulan. Atas dasar ini, nur itu adalah substansi, bukan aksiden,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Madarijus Shu‘ud ila Iktisa’il Burud, [Surabaya, Syirkah Ahmad bin Sa‘ad bin Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 4).

Riwayat lain yang mengungkapkan Nur Muhammad antara lain adalah hadits riwayat Imam Bukhari dari sahabat Maysarah RA yang bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan kau menjadi nabi?” “Saat Adam AS di antara roh dan jasad,” jawab Rasulullah SAW. (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Targhibul Musytaqin li Bayani Manzhumatis Sayyid Al-Barzanji Zainil Abidin fi Maulidi Sayyidil Awwalin wal Akhirin SAW, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 6).

Adapun pemaknaan sebagian orang Islam atas konsep Nur Muhammad dengan sudut pandang atau syak wasangkanya sendiri dan dibuat ruwet sendiri lalu kemudian menghakimi konsep tersebut sebagai sebuah penyimpangan atau kesesatan adalah sebuah keniscayaan.

Yang diperlukan dalam perbedaan tafsir atau pemaknaan atas konsep Nur Muhammad ini adalah sikap saling menghargai satu sama lain dan tidak memaksakan tafsirnya atas pihak lain karena hanya akan memicu polemik dan debat kusir tidak berkesudahan. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Kamis 15 November 2018 21:0 WIB
Nabi Isa Pun Seorang Muslim
Nabi Isa Pun Seorang Muslim
Beberapa kalangan beranggapan bahwa Nabi yang pertama kali membawa agama Islam adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan nabi-nabi terdahulu, menurut mereka, membawa agama yang berbeda-beda. Kata mereka, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam beragama tauhid, tidak beragama Islam, dan Allah menurunkan kepada Nabi Musa dan Isa ‘alaihimassalam agama Yahudi dan Nashrani, bukan agama Islam. Anggapan seperti ini tentu tidak benar karena tidak sejalan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan bahwa Islam adalah agama semua nabi dan rasul. 

Allah ta’ala menegaskan dalam Al-Qur’an:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama yang diridlai oleh Allah hanyalah Islam.” (QS Ali ‘Imran: 19)

Dalam ayat lain, Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ في الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ 

“Dan barangsiapa mencari selain agama Islam untuk ia peluk, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Ali ‘Imran: 85)

Sungguh tidak logis, apabila Allah ta’ala menurunkan banyak agama yang berbeda-beda kepada para nabi dan rasul, kemudian yang diterima hanya agama Islam.

Islam Agama Semua Nabi dan Rasul

Semua nabi, mulai Nabi Adam ‘alaihissalam hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa agama yang sama, yaitu Islam. Begitu juga seluruh pengikut para nabi, semuanya beragama Islam. 

Nabi Ibrahim, Sulaiman, Yusuf, Isa dan nabi-nabi yang lain, semuanya beragama Islam. Mereka semua menyembah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Perhatikan dan cermati ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini.

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الُمشْرِكِينَ 

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang jauh dari syirik dan kufur dan dia seorang yang muslim. Dan sekali-kali dia bukanlah seorang yang musyrik.” (QS Ali ‘Imran: 67)

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ، أَلَّا تَعْلُوْا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ 

“Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan sesungguhnya isinya: Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, bahwa janganlah kalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang memeluk Islam.” (QS An-Naml: 30-31)

تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ 

“(Yusuf berkata): Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkan aku bersama orang-orang yang saleh.” (QS Yusuf: 101)

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ 

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Isra’il), ia berkata: Siapakah yang akan menjadi pembela-pembelaku untuk menegakkan agama Allah? Para Hawwariyyun (sahabat-sahabat setia Nabi Isa) menjawab: Kamilah pembela-pembela-agama Allah. Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.” (QS Ali ‘Imran: 52)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang kesemuanya menegaskan bahwa para nabi beserta pengikut-pengikut mereka beragama Islam. Dengan demikian, tidak ada seorang pun di antara mereka yang mambawa selain Islam. Adapun perbedaan di antara para nabi adalah terletak dalam hukum-hukum syari’at yang Allah ta’ala turunkan kepada mereka, seperti dalam tata cara dan ketentuan bersuci, shalat, zakat, puasa dan lainnya. Tentang hal ini, Allah ta’ala berfirman:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Dan untuk tiap-tiap umat di antara kalian (umat Muhammad dan umat-umat sebelumnya), Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS Al-Ma’idah: 48)

Dalam hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الأَنْبِيَاءُ إخْوَةٌ لِعَلاَّتٍ دِيْنُهُمْ وَاحِدٌ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى (رواه البخاري ومسلم وأحمد وابن حبان) ـ

“Para nabi bagaikan saudara seayah, agama mereka satu yaitu agama Islam, dan ibu-ibu (syari’at-syari’at) mereka berbeda-beda.” (HR al-Bukhari).

Nabi Muhammad Bukan Muslim Pertama

Allah ta’ala berfirman tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَا شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ المُسْلِمِيْنَ

“(Muhammad berkata): tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah muslim yang pertama.” (QS Al-An’am: 163).

Di kitab-kitab tafsir dijelaskan bahwa yang dimaksud adalah bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah muslim pertama pada masanya, bukan muslim pertama secara mutlak. Imam ath-Thabari dalam tafsirnya mengatakan:

أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ

“Yang dimaksud bahwa Nabi Muhammad adalah muslim pertama di kalangan umat ini (umat beliau).”

Penafsiran yang sama dapat kita jumpai dalam kitab tafsir al-Qurthubi, al-Baghawi, al-Jalalain, an-Nasafi dan lainnya.

Mengapa Disebut Yahudi dan Nashrani?

Dari apa yang telah diuraikan di atas menjadi jelas bahwa seluruh nabi dan rasul beserta para pengikut mereka adalah orang-orang yang beragama Islam, termasuk Nabi Musa, Nabi Isa dan para pengikut keduanya. 

Mengapa para pengikut Nabi Musa dinamakan Yahudi dan para pengikut Nabi Isa disebut Nashara atau Nashrani, berikut penjelasan Imam al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (Penerbit Mu’assasah ar-Risalah, juz 2, hlm. 157-160).

نُسِبُوا إِلَى يَهُوذَا وَهُوَ أَكْبَرُ وَلَدِ يَعْقُوبَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَلَبَتِ الْعَرَبُ الذَّالَ دَالًا، لِأَنَّ الْأَعْجَمِيَّةَ إِذَا عُرِّبَتْ غُيِّرَتْ عَنْ لَفْظِهَا. وَقِيلَ: سُمُّوا بِذَلِكَ لِتَوْبَتِهِمْ عَنْ عِبَادَةِ الْعِجْلِ. هَادَ: تَابَ. وَالْهَائِدُ: التَّائِبُ ... وفى التنزيل:" إِنَّا هُدْنا إِلَيْكَ" [الأعراف: 156] أَيْ تُبْنَا... (وَالنَّصارى) جَمْعٌ وَاحِدُهُ نَصْرَانِيٌّ. وَقِيلَ: نَصْرَانُ بِإِسْقَاطِ الْيَاءِ، وَهَذَا قَوْلُ سِيبَوَيْهِ. وَالْأُنْثَى نَصْرَانَةٌ، كَنَدْمَانَ وَنَدْمَانَةٍ...وَقَالَ الْخَلِيلُ: وَاحِدُ النَّصَارَى نَصْرِيٌّ، كَمَهْرِيٌّ وَمَهَارَى... ثُمَّ قِيلَ: سُمُّوا بِذَلِكَ لِقَرْيَةٍ تُسَمَّى" نَاصِرَةَ" كَانَ يَنْزِلُهَا عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ فَنُسِبَ إِلَيْهَا فَقِيلَ: عِيسَى النَّاصِرِيُّ، فَلَمَّا نُسِبَ أَصْحَابُهُ إِلَيْهِ قِيلَ النَّصَارَى، قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ وَقَتَادَةُ...وَقِيلَ: سُمُّوا بِذَلِكَ لِنُصْرَةِ بَعْضِهِمْ بَعْضًا ...وَقِيلَ: سُمُّوا بِذَلِكَ لِقَوْلِهِ:" مَنْ أَنْصارِي إِلَى اللَّهِ قالَ الْحَوارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصارُ اللَّهِ"

“Para pengikut Musa disebut Yahudi karena dinisbatkan kepada Yahudza, putra pertama Nabi Ya’qub. Orang Arab mengganti huruf dzal menjadi dal karena kata non-Arab jika diserap ke dalam bahasa Arab, maka diubah pelafalannya. Menurut pendapat yang lain, mereka dinamakan Yahudi karena pertaubatan mereka dari menyembah anak sapi. Haada artinya taaba (telah bertaubat). Haa`id berarti taa`ib (orang yang bertaubat). Dalam Al-Qur’an (menceritakan perkataan para pengikut Nabi Musa): Innaa Hudnaa ilaiKa. Hudnaa dalam ayat ini artinya “kami telah bertaubat”. Sedangkan Nashara adalah bentuk plural dari Nashrani. Menurut pendapat lain, Nashara adalah bentuk plural dari Nashran, dengan menghilangkan huruf ya’. Ini adalah pendapat Sibawaih. Bentuk mu’annats-nya adalah Nashranah, seperti kata Nadman dan Nadmanah. Al-Khalil berkata, bentuk tunggal dari Nashara adalah Nashri, seperti kata Mahri dan Mahara. Kemudian dikatakan: mereka dinamakan demikian karena disandarkan pada sebuah desa yang bernama ‘Nashirah’. Isa pernah menetap sementara di sana. Maka dikatakan: Isa an-Nashiri (Isa yang pernah menetap di Nashirah). Ketika para pengikutnya dinisbatkan kepadanya, maka mereka dinamakan Nashara. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan Qatadah. Pendapat lain menyatakan bahwa mereka dinamakan Nashara karena sebagian dari mereka menolong (nushrah) sebagian yang lain. Sebagian yang lain lagi berpendapat, mereka dinamakan Nashara karena perkataan Isa kepada mereka: ‘siapakah yang akan menjadi penolongku (Anshari) untuk menegakkan agama Allah?’, para sahabat setianya berkata: ‘kamilah para penolong (Anshar) agama Allah’.”

Jadi dapat disimpulkan bahwa para pengikut Nabi Musa dan Nabi Isa beragama Islam. Yahudi dan Nashara atau Nashrani adalah semacam gelar yang melekat pada diri mereka. Sedangkan orang-orang Yahudi dan Nashrani yang hidup pada masa sekarang, mereka semuanya adalah orang-orang kafir karena telah menyelewengkan makna tauhid dan menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya serta tidak beriman terhadap kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi bersabda:

لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نصراني ثُمَّ لَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ 

“Tidaklah seorang pun dari umat ini, Yahudi atau pun Nashrani (atau yang lain) yang mengetahui tentang kerasulanku lalu ia tidak mau beriman kepada ajaran yang aku bawa, kecuali pasti ia menjadi penghuni neraka.” (HR Muslim)


Nur Rohmad, Tim Peneliti/Pemateri Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur