IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Ini Sejumlah Pesan Takwa Rasulullah SAW

Jumat 28 Desember 2018 9:30 WIB
Share:
Ini Sejumlah Pesan Takwa Rasulullah SAW
Kata takwa sering kita dengar. Setidaknya sepekan sekali karena pesan takwa (washiyat bit takwa) merupakan salah satu rukun khutbah Jumat. Kita diingatkan selalu untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Tetapi kita sendiri jarang mendengar pesan takwa Rasulullah.

Syekh Ihsan M Dahlan Jampes Kediri dalam Kitab Sirajut Thalibin, anotasi atas Minhajil Abidin karya Imam Al-Ghazali menyebut hadits yang memuat sejumlah pesan takwa Rasulullah SAW. Di luar dugaan, pesan takwa Rasulullah tidak berkaitan semata dengan kesalehan ritual, tetapi kesalehan sosial dan moral.

Syekh Ihsan Jampes pertama mengutip hadits takwa yang sangat terkenal sebagai berikut, (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes Kediri, Kitab Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 334).

عن أبي ذر قال قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم اتق الله حيثما كنت وأتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن

Artinya, “Dari Abu Dzar, ia berkata bahwa Rasulullah SAW berkata kepadanya, ‘Bertakawalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya hal itu dapat menghapusnya. Bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik’,” (HR At-Tirmidzi)

Pesan takwa Rasulullah SAW berikutnya berkaitan dengan sikap warga negara terhadap pemerintah. Hadits ini juga kemudian berkaitan dengan pandangan kelompok Ahlussunnah wal Jamaah berkaitan dengan sikap mereka terhadap negara.

عن أبي نجيح العرباض بن سارية رضي الله تعالى عنه قال وعظنا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم موعظة وجلت منها القلوب وذرفت منها العيون فقلنا : يا رسول الله كأنها موعظة مودع فأوصنا قال أوصيكم بتقوى الله عز وجل والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد حبشي

Artinya, “Dari Abi Najih Al-Irbadh bin Sariyah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW menasihati kami dengan sebuah pesan yang membuat hati takut dan air mata berlinang. Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah SAW, wejanganmu ini seakan nasihat terakhir. Berilah kami nasihat.’ Rasulullah menjawab, ‘Aku berpesan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah, patuh, dan taat sekali pun seorang budak Habsyi menjadi pemerintahmu,’” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Pesan takwa Rasulullah SAW yang dikutip Syekh Ihsan Jampes berikut ini berkaitan dengan solidaritas sosial dan akhlak komunikasi di ruang publik, yaitu semangat berbagi dan penyebaran konten media sosial yang baik.

قال عدي سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول اتقوا النار ولو بشقة تمرة فمن لم يجد شقة تمرة فبكلمة طيبة

Artinya, “Sahabat Adi berkata, ia mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘Takutlah kepada api meski hanya dengan (sedekah) sobekan kurma. Siapa saja yang tidak menemukan sobekan kurma, maka bisa dengan kalimat yang baik,’” (HR Bukhari).

Pesan takwa Rasulullah SAW pada hadits berikut ini berkaitan dengan kesetaraan dan kemanusiaan. Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak ada satu kelompok dengan latar belakang suku, agama, ras, golongan yang mendapatkan posisi sosial lebih tinggi di atas sesamanya. Pasalnya, semua adalah manusia.

قام رسول الله صلى الله عليه وسلم وسط أيام التشريق، فقال يا أيها الناس إن ربكم واحد، وإن أباكم واحد، ألا لا فضل لعربي على أعجمي ولا لعجمي على عربي ، ولا أسود على أحمر ، ولا أحمر على أسود إلا بتقوى الله أنتم  من آدم وآدم من تراب

Artinya, “Rasulullah SAW berdiri di tengah hari Tasyriq. Ia menyeru, ‘Wahai manusia, Tuhanmu satu. Nenek moyangmu juga satu. Ketahuilah, tidak ada kelebihan bangsa Arab di atas bangsa ajam (bangsa non-Arab), tidak ada kelebihan bangsa ajam di atas bangsa Arab, tidak ada kelebihan bangsa kulit hitam di atas bangsa kulit merah, dan tidak ada kelebihan bangsa kulit merah di atas kulit hitam kecuali sebab ketakwaannya kepada Allah. Kamu semua dari Nabi Adam. Nabi Adam dari tanah,’” (Musnad Abdullah Ibnul Mubarak).

Sedangkan pada hadits berikut ini, Rasulullah SAW menjelaskan siapa yang berhak disebut sebagai keluarganya. Pada hadits berikut ini, Rasulullah SAW menegaskan bahwa anggota keluarga beliau adalah orang-orang yang akhlak dan moralitas mencapai derajat ketakwaan.

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ آل مُحَمَّدٍ؟ قَالَ كُلُّ تَقِىٍّ 

Artinya, “Rasulullah SAW pernah ditanya perihal ‘Siapakah yang dimaksud dengan keluarganya?’ ‘Siapa saja yang bertakwa,’ jawab Rasulullah SAW,” (HR Baihaqi).

Demikian sejumlah pesan takwa Rasulullah SAW dalam hadits yang dikutip oleh Syekh Ihsan M Dahlan Jampes Kediri dalam Kitab Sirajut Thalibin, anotasi atas Minhajil Abidin karya Imam Al-Ghazali. Semuanya mengandung pokok-pokok pikiran yang relevan dan abadi sepanjang zaman. Walllahu a‘lam. (Alhafiz K)
Tags:
Share:
Senin 24 Desember 2018 6:15 WIB
13 Adab Pelajar terhadap Pelajarannya Menurut KH Hasyim Asy’ari (2)
13 Adab Pelajar terhadap Pelajarannya Menurut KH Hasyim Asy’ari (2)
(Foto: @ibtimes.co.uk)
Adab ketiga, fokus dalam mempelajari fan atau kitab tertentu
Hendaknya saat masih pemula, tidak menyibukan diri dalam ilmu ikhtilaf di antara ulama, baik yang berkaitan dengan dalil aqli (logika) dan naqli (Al-Quran dan hadits). Sungguh hal demikian dapat mengganggu pikiran dan konsentrasi.

Langkah yang tepat adalah memfokuskan dan mematangkan satu disiplin ilmu atau kitab tertentu. Bila metode gurunya adalah mengkaji mazhab-mazhab dan iktilaf di antara ulama, hendaknya dihindari, tidak perlu mengikutinya. Sebab dampak buruknya lebih banyak dari pada manfaatnya.

Demikian pula dalam mengkaji kitab, hendakya menghindari menelaah banyak kitab secara terpisah-pisah dan terpotong-potong. Sebab hal tersebut dapat menyia-nyiakan waktu. Yang benar adalah menguasai satu kitab secara utuh dan matang.

Demikian pula jangan berpindah-pindah dari satu kitab ke kitab lain sebelum mengkhatamkannya, sesungguhnya hal tersebut tanda-tanda kegagalan dalam belajar. 

Pandangan Hadhratus Syekh tentang mengutamakan tahqiq (kematangan) dalam metode belajar, juga senada dengan pendapat Syekh Al-Habib Abdullah Al-Haddad. Menurutnya, lebih baik paham sepuluh masalah secara matang daripada membaca satu kitab secara sempurna namun tidak memahaminya secara sempurna.

Sebagaimana dikutip dalam Kitab Al-Manhajus Sawi, Syekh Abdullah Al-Haddad mengatakan:

وخير لك أن تحسن عشر مسائل وتتقنها من أن تقرأ كتابا تاما لا تتقنه

Artinya, “Lebih baik bagi kamu, paham sepuluh masalah dan mematangkannya ketimbang membaca satu kitab sempurna namun tidak mematangkannya,” (Lihat Al-Habib Zain bin Smith, Al-Manhajus Sawi, halaman 225).

Hendaknya mendahulukan skala prioritas untuk fan ilmu yang paling urgens. Tidak lupa untuk mengamalkan ilmu yang didapatkan, di mana hal tersebut merupakan maksud utama dari ilmu itu sendiri.

Adab keempat, membenarkan bacaannya sebelum dihafal
Sebelum pelajaran dihafalkan, terlebih dahulu bacaannya dibetulkan, ditashih di hadapan guru atau orang lain yang berkompeten. Jangan sampai menghafalkan sebelum dibenarkan bacaannya, sebab dapat mengakibatkan tahrif (perubahan).

Membenarkan bacaan dengan bimbingan guru yang kompeten menjadi hal yang sangat penting untuk menjaga keotentikan buku agama. Dari sini juga dapat dipahami bahwa ilmu tidak boleh didapatkan hanya mengandalkan teks buku yang tersebar, tanpa digurukan. Sebab hal tersebut dapat mendatangkan dampak buruk yang sangat fatal.

Setelah hafal, hendaknya pelajaran itu diulang-ulang secara rutin agar hafalannya awet. Di manapun berada, ia dianjurkan untuk senantiasa membawa alat tulis agar dapat menulis atau membenahi bacaan  di kitabnya.

Adab kelima, bergegas mendengarkan ilmu
Hendaknya bergegas untuk mendengarkan pesan ilmu, utamanya ilmu hadits. Jangan sampai mengabaikan hadits dengan segala hal yang berkaitan dengannya, meliputi riwayat, sanad, mushtalah, sejarah, lughat hadits, hukum-hukum yang tertuang dalam hadits dan lain-lain.

Menurut KHM Hasyim Asy’ari, pertama kali kitab hadits yang perlu digeluti adalah Shahihul Bukhari dan Shahih Muslim, baru setelahnya kitab-kitab induk di bidang hadits seperti Al-Muwattha’ karya Imam Malik bin Anas, Sunan Abi Dawud, Sunan An-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, dan Jami’ At-Tirmidzi.

Kiai Hasyim sangat menyayangkan bila pelajar tidak mempelajari minimal kitab-kitab induk di bidang hadits tersebut.

Bagi pakar fiqih, Kiai Hasyim merekomendasikan untuk menekuni kitab As-Sunanul Kubra karya Al-Imam Al-Baihaqi. Kitab tersebut sangat membantu seorang faqih dalam memperdalam tafaqquhnya. Kitab hadits bagaikan salah satu dari dua sayapnya ilmu sehingga Imam As-Syafi’i mengatakan:

من نظر في الحديث قويت حجته

Artinya, “Barang siapa melihat hadits, maka kuat argumennya.”

Adab keenam, mengembangkan ilmu
Dalam mengembangkan ilmu yang dipelajari, KHM Hasyim Asy’ari memiliki sebuah metode khusus. Metode mendalami pelajaran terlebih dahulu harus melalui tiga proses.

Pertama, menghafal kitab mukhtasar yang berisikan instrumen dasar fan ilmu. Kedua, mempelajari kitab syarahnya, komentar atau penjelasan dari kitab mukhtashar. Ketiga, mengupas beberapa redaksi yang musykil (sukar dipahami) dalam kitab mukhtashar.

Setelah tiga proses itu dilalui dengan baik, baru beralih ke pengembangan kitab yang lebih besar lagi. Dalam proses kajian kitab-kitab besar tersebut, dibutuhkan telaah yang serius dan intens. Ketika menemukan keterangan yang bagus, disalin ulang.

Demikian pula penjelasan atau masalah-masalah yang anti-mainstream, sebisa mungkin untuk dicatat dan didokumentasikan dengan baik.

Cita-cita pelajar dalam menuntut ilmu harus tinggi. Ia tidak boleh menerima begitu saja ilmu yang sedikit padahal mampu menghasilkan lebih banyak lagi. Pantangan bagi pelajar menerima warisan ilmu para Nabi dengan sedikit.

Bila memiliki kesempatan mengkaji, jangan ditunda-tunda, sebab dalam menunda-nunda terdapat banyak keburukan. Sikap menunda-nunda akan menghambat produktivitas pelajar. Dengan memanfaatkan waktu, pelajar akan mendapatkan pengetahuan baru di kesempatan selanjutnya.

Masa-masa keemasan hendaknya dimanfaatkan dengan baik. Jangan menunggu tua dalam belajar. Saat masih muda, pelajar semangatnya masih meyala-nyala dan lebih bertenaga. Sebelum banyak rintangan, pelajar harus mengerahkan segala upaya dan potensinya untuk belajar.

Jangan sekali-kali merasa cukup dengan ilmu yang sudah didapat. Kiai Hasyim tidak membenarkan bila ada pelajar yang memandang dirinya sebagai sosok yang sempurna sehingga ia merasa tidak lagi membutuhkan para masyayikh. Yang demikian itu merupakan hakikat dari kebodohan. Pembesar Tabi’in, Imam Sa’id bin Jubari berkata:

لا يزال الرجل عالما ما تعلم فإذا ترك التعلم وظن أنه قد استغنى فهو أجهل ما يكون

Artinya, “Seseorang senantiasa disebut alim selama ia terus belajar. Bila ia meninggalkan belajar dan menduga dirinya telah cukup, maka hal tersebut adalah kondisi terbodohnya”. (Bersambung…)


Ustadz M Mubasysyarum Bih
Ahad 23 Desember 2018 19:45 WIB
13 Adab Pelajar terhadap Pelajarannya Menurut KH Hasyim Asy’ari (1)
13 Adab Pelajar terhadap Pelajarannya Menurut KH Hasyim Asy’ari (1)
(Foto: @googleplus)
Belajar memerlukan metode yang baik agar hasilnya bisa maksimal. Keberhasilan belajar seorang pelajar ditentukan dengan menjaga etika dengan pelajaran yang digeluti. KHM Hasyim Asy’ari dalam Kitab Adabul Alim wal Muta’allim menjelaskan ada tiga belas etika seorang pelajar berkaitan dengan buku pelajarannya.

Adab pertama, memulai belajar ilmu fardhu 'ain
Menurut KHM Hasyim Asy’ari, ada empat materi ilmu yang terlebih dahulu harus dipelajari murid. Pertama, ilmu tentang zat Allah, dalam disiplin ilmu ini murid cukup meyakini bahwa Allah adalah zat yang wujud, dahulu, kekal, dibersihkan dari sifat-sifat kurang dan memiliki sifat-sifat kesempurnaan.

Kedua, ilmu tentang sifat-sifat Allah. Materi yang harus diketahui murid tentang sifat-sifat adalah bahwa Allah memiliki sifat kuasa, berkehendak, mengetahui, hidup, mendengar, melihat dan berbicara.

Seluruh sifat-sifat wajib Allah, sifat mustahil dan sifat jaiz cukup diketahui oleh seorang murid dalam proses permulaan belajarnya. Lebih utama lagi jika disertai pengetahuan tentang dalil-dalil sifat tersebut.

Mendahulukan pengetahuan tentang zat Allah dan sifat-sifat-Nya juga senada dengan apa yang ditegaskan Syekh Ibnu Ruslan. Dalam nazham monumentalnya Shafwatuz Zubad, ia menegaskan bahwa kewajiban pertama bagi orang mukalaf adalah mengenali Allah dan sifat-sifat-Nya dengan yakin. Syekh Ibnu Ruslan berkata:

أول واجب على الإنسان * معرفة الإله باستيقان

Artinya, “Kewajiban pertama bagi atas manusia adalah mengenali Allah dengan yakin,” (Lihat Syekh Ibnu Ruslan, Nazham Shafwatuz  Zubad).

Mengomentari nazham di atas, Syekh Muhammad bin Ahmad Ar-Ramli mengatakan:

والمراد بها معرفة وجوده تعالى وما يجب له من إثبات أمور ونفي أمور

Artinya, “Yang dikehendaki adalah mengetahui wujudnya Allah dan yang wajib untuk Allah, berupa menetapkan beberapa sifat dan mentiadakan beberapa sifat,” (Lihat Syekh Muhmmad bin Ahmad Ar-Ramli, Ghayatul Bayan, halaman 8).

Ketiga, ilmu fiqih. Cukup bagi pelajar untuk mengetahui dasar-dasar fiqih yang berkaitan dengan keabsahan ibadahnya sehari-sehari, meliputi shalat, wudhu, mandi janabat, menghilangkan najis, puasa, dan lain sebagainya.

Bila memiliki harta, maka ia wajib mengetahui ilmu tentang bagaimana membelanjakan harta dengan benar, bertransaksi yang sah secara syariat. Tidak diperkenankan melakukan aktivitas apa pun sampai ia mengetahui hukum Allah di dalamnya.

Pendapat KHM Hasyim Asy’ari mengenai urgensi fiqih ini senada dengan apa yang ditegaskan oleh Syekh Ibnu Ruslan dalam Nazham Az-Zubad sebagai berikut:

وكل من بغير علم يعمل  *  أعماله مردودة لا تقبل

Artinya, “Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amal-amalnya tertolak, tidak diterima,” (Lihat Syekh Ibnu Ruslan, Nazham Shafwatuz Zubad).

Keempat, ilmu tasawuf, yaitu ilmu yang berkaitan tentang menata hati, bujuk rayu nafsu dan yang sejenis dengannya. Ilmu ini penting untuk diketahui sebagai bekal dasar pengetahuannya agar tidak menjadi pribadi yang sombong, angkuh, pendengki dan sifat-sifat tercela lainnya.

Al-Imam Al-Ghazali menyebutkannya secara gamblang dalam Kitab Bidayatul Hidayah, demikian pula Al-Habib Abdullah bin Thahir dalam Kitab Sullam At-Taufiq. Hadhratussyekh merekomendasikan dua kitab tersebut untuk dipelajari oleh seorang pelajar.

Adab kedua, mempelajari Al-Qur'an
Setelah mempelajari ilmu fardhu ‘ain, yang hendaknya dilakukan adalah menggeluti Al-Quran. Hendaknya bersungguh-sungguh memahami tafsir-tafsirnya dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Kalamullah, sungguh Al-Quran adalah dasar dari segala ilmu.

KHM Hasyim Asy’ari juga menganjurkan para pelajar untuk menghafalkan kitab yang menjelaskan dasar-dasar fan ilmu yang menjadi penunjang dalam memahami kitabullah, meliputi ilmu mushtalah hadits, ushul fiqih, ushul akidah, nahwu, dan sharaf.

Kesibukan murid untuk mempelajari dan menghafalkan hendaknya tidak menghambatnya untuk tetap bertadarus membaca Al-Quran setiap hari. Hendaknya membaca Al-Quran menjadi salah satu wiridannya. Jangan sekali-kali lupa Al-Quran setelah menghafalnya karena sungguh banyak beberapa hadits yang mengecam pelakunya.

Dasar-dasar ilmu dan penjelasannya harus digurukan atau ditashih di hadapan para masyayikh. Jangan hanya mengandalkan membaca secara otodidak tanpa digurukan. Hendaknya memilih guru yang berkompeten di setiap fan ilmu.

Dalam proses menghafal dan memahami, hendaknya jangan terlalu memforsir diri, harus disesusaikan dengan batas kemampuan. Namun juga tidak terlalu ceroboh sehingga banyak waktu yang sia-sia. (bersambung)


Ustadz M Mubasysyarum Bih
Rabu 12 Desember 2018 18:15 WIB
Tujuh Anggota Badan: Kewajiban dan Cara Menjaganya
Tujuh Anggota Badan: Kewajiban dan Cara Menjaganya
Ilustrasi (AP)
Manusia dianugerahi oleh Allah ﷻ anggota tubuh yang lengkap. Masing-masing anggota tubuh memiliki fungsinya. Di sisi lain anggota tubuh memiliki kewajiban yang mesti ia laksanakan. Sebagaimana yang dituturkan Harits al-Muhasibi dalam kitabnya, Risalah al-Mustarsyidin:

واعلم أن حفظ الجوارح فريضة وترك الفضول فضيلة

“Ketahuilah olehmu bahwa menjaga anggota tubuh itu wajib dan meninggalkan sikap berlebih-lebihan adalah keutamaan.” (al-Harits al-Muhasibi, Risâlah al-Mustarsyidin, Maktabah al-Mathbu’ah al-Islamiyah, Aleppo, Suriah, hal. 112)

Imam al-Muhasibi menjabarkan perihal kewajiban di atas, dengan menyebutkan bahwa ada tujuh anggota yang mesti dijaga. Yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, lisan, kedua tangan, kedua kaki, dan hati. Bagian terakhir, atau hati, itulah mesin penggerak dari semuanya. 

Tindakan menjaga anggota tubuh, dapat diimplementasikan dengan cara menaati perintah Allah ﷻ dan menjauhi larangan-Nya. Oleh karena itu, Imam al-Muhasibi mengupas apa saja yang perlu kita jaga dari anggota tubuh kita.

1. Kewajiban hati

Kewajiban hati setelah beriman kepada Allah ﷻ dan tobat adalah ikhlas mengamalkan perintah-Nya semata-mata karena Allah, berbaik sangka ketika tertimpa suatu kesulitan, percaya kepada Allah, takut akan azab Gusti Allah, dan mengharap keutamaan Gusti Allah.

Hati merupakan bagian terpenting dari jasad. Apabila hati baik maka baiklah seluruh jasad ini, begitupula sebaliknya. Sebagaimana tertera dalam hadits:

ألاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ   مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ  أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ (رواه البخاري ومسلم) ـ

“Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa ia adalah hati. (HR Bukhari dan Muslim)

2. Kewajiban lisan

Di antara kewajiban lisan, yaitu jujur dalam keadaan senang maupun marah, menghindar dari ucapan yang menyakiti orang lain, meninggalkan sikap berlebih-lebihan dalam menyampaikan suatu hal yang baik maupun yang buruk.

Dalam menjaga lisan, kita dituntut untuk jujur, karena jujur merupakan curahan hati yang sesunnguhnya. Artinya apa yang terbersit di hati, itulah yang diucapkan oleh lisan. Maka dari itu, dalam keadaan senang maupun sulit, kita dituntut untuk selalu jujur.

Jika kita berhasil menjaga lisan kita maka Rasulullah-lah yang akan menjamin kita di surga nanti. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (lisan) dan yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin surga baginya.” (HR. Al-Bukhari)

3. Kewajiban mata

Di antara kewajiban mata, yaitu menjaga pandangan dari sesuatu yang haram, tidak bersikeras mencari untuk melihat sesuatu yang dihalangi. Dalam artian, ketika kita mengetahui bahwa sesuatu itu dilarang untuk dilihat, terkadang kita lebih penasaran ingin melihatnya. Maka hal itu mesti kita hindari.

Sahabat Hudzaifah radliyallahu ‘anh meriwayatkan hadits dari Nabi ﷺ:

النَّظْرَةُ سَهْمٌ مِن سِهَامِ إِبْلِيْسَ، مَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللهِ أَتاهُ إِيْمَانًا حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ

“Pandangan itu adalah panah di antara panah iblis, siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah mendatangkan kepadanya keimanan, yang ia dapatkan manisnya dalam hatinya.” (HR ath-Thabrani dan al-Hakim)

4. Kewajiban telinga

Kewajiban telinga di antaranya seperti perkataan dan penglihatan. Segala sesuatu yang dilarang untuk dikatakan dan dilihat, begitu juga diramkan untuk didengar.

Imam al-Muhasibi berpendapat, bahwa tak ada anggota tubuh setelah lisan, yang lebih membahayakan dari telinga atau pendengaran, karena hasil pendengaran adalah sesuatu yang lebih cepat mencapai hati.

Telah diceritakan, bahwa Waki’ bin al-Jarrâh telah berkata: “Aku telah mendengar satu kalimat dari seorang ahli bid’ah sejak dua puluh tahun yang lalu, dan aku tidak bisa menghilangkan kalimat tersebut dari telingaku!”

Begitupula hal yang dilakukan Thawus, apabila datang kepadanya seorang ahli bid’ah, maka ia pun menutup telinganya, supaya tidak mendengar perkataannya.

5. Kewajiban indra penciuman

Adapun kewajiban indra penciuman, yaitu seperti pendengaran dan penglihatan. Jika boleh didengar dan dilihat, boleh juga dicium.

Telah diceritakan, bahwa suatu hari khalifah Umar bin Abdul Aziz diberi sebotol minyak misik. Kemudian ia menutup hidungnya, dan berkata, “Apakah ia bermanfaat, kecuali hanya wanginya saja.”

Dalam artian, minyak misik tersebut diambil dari Baitul Mal, dan bukan milik pribadi beliau, hingga sang Khalifah pun menahan diri dan bersifat wara’ dari hal tersebut.

6. Kewajiban menjaga kedua tangan dan kaki

Kewajiban tangan dan kaki di antaranya adalah dengan tidak mengarahkan keduanya kepada hal-hal yang dilarang dan tidak menyelewengkannya. 

Masrûq berkata, “Tidaklah seorang hamba melangkah melainkan telah dicatat baik ataupun buruk.”

Pernah suatu hari anak perempuan Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik menulis surat kepada ‘Abdah binti Khalid bin Ma’dân. Dalam suratnya ia mengatakan, “Datangilah aku.”

Maka ‘Abdah pun membalas suratnya, “Amma ba’du, maka sesungguhnya ayahku, semoga Allah merahmatinya, tidak suka untuk berjalan di perjalanan yang tidak memiliki jaminan di hadapan Allah, dan juga ia membenci memakan makanan yang apabila ditanya di hari akhir kelak, ia tidak memiliki alasan untuk menjawabnya, maka aku pun tidak suka terhadap apa yang tidak disukai ayahku, wassalamu alaik.”

Demikianlah paparan Imam al-Muhasibi terkait kewajiban tujuh anggota tubuh kita, semoga dengan mengetahuinya kita dapat menjaga kewajiban yang Allah tetapkan kepada kita. Amin.


(Ustadz Amien Nurhakim)