IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Ketika Rasulullah Mengalahkan Jagoan Gulat Quraisy

Sabtu 29 Desember 2018 20:0 WIB
Share:
Ketika Rasulullah Mengalahkan Jagoan Gulat Quraisy
Alkisah, suatu ketika Rasulullah berada di suatu tempat di Makkah bersama dengan Rukanah bin Abdi Yazid bin Hisyam bin al-Muthalib bin Abdi Manaf, orang yang tenaganya paling kuat di kalangan Quraisy. Rukanah memiliki badan dan perawakan yang kekar dan besar, meski demikian ia sangat lincah. Ia juga jago gulat. Tidak ada seorang pun yang berhasil menjatuhkannya ke tanah.

Ketika berdua dengan Rukanah tersebut, Rasulullah menyerunya agar masuk Islam. Kata Rukanah, ia akan mengikuti Rasulullah jika dirinya tahu bahwa yang dibawa dan dikatakan Rasulullah adalah sesuatu yang benar.

Rasulullah lantas menantang Rukanah gulat. Ada riwayat yang menyebut kalau Rukanah lah yang menantang Rasulullah. Kalau Rasulullah menang, maka Rukanah harus mengakui bahwa apa yang dibawa dan dikatakan Rasulullah benar. Sebagai seorang petarung, Rukanah tertarik dengan kata-kata Rasulullah itu. Ia menyambut tantangan dari Rasulullah.

Aturan dari ‘permainan’ ini adalah siapa yang roboh duluan maka dia yang kalah. Rasulullah menyiapkan kuda-kuda. Begitu pula Rukanah. Kemudian mereka saling serang dan saling menjatuhkan. Setelah melakukan beberapa gerakan, Rasulullah berhasil mengunci tubuh Rukanah. Seketika itu, Rasulullah menjatuhkan tubuh Rukanah ke tanah.

Tidak terima dengan itu. Rukanah menantang Rasulullah lagi untuk gulat. Tantangan itu disambut baik oleh Rasulullah. Setelah berhasil memiting Rukanah, Rasulullah lagi-lagi berhasil menjatuhkan tubuh Rukanah untuk yang kedua kalinya dan ketiga kalinya. Sang jago gulat merasa aneh, bagaimana mungkin seorang Muhammad bisa mengalahkannya begitu mudah tiga kali berturut-turut. 

“Ada yang lebih aneh dari itu. Jika engkau mau menundukkan diri dan takut kepada Allah serta menuruti perintahku, akan kuperlihatkan kepadamu yang jauh lebih aneh daripada itu,” kata Rasulullah.

“Apakah itu?” tanya Rukanah.

Rasulullah kemudian memanggil pohon yang kemudian bergerak hingga berada tepat di depannya. Beberapa saat kemudian, Rasulullah memerintahkan agar pohon itu kembali ke tempat asalnya. Kejadian ini membuat Rukanah terheran-heran.  Ia kemudian pergi ke kaumnya dan menceritakan apa yang dialaminya bersama Rasulullah.

“Hai Bani Abdi Manaf, teman kalian itu (Muhammad) sanggup menyihir semua penghuni bumi ini. Demi Allah, saya tidak pernah melihat ada tukang sihir sehebat dia,” kata Rukanah dalam Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam sebagaimana dikutip Hubbur Rasul (Taufik Anwar, 2012).

Rupanya hidayah belum sampai di hati Rukanah. Ia tidak menepati janjinya tersebut, yakni memeluk Islam setelah kalah gulat dengan Rasulullah.  namun hidayah itu akhirnya datang. Dikisahkan bahwa ketika Fathu Makkah, Rukanah menemui Rasulullah dan akhirnya masuk Islam. 

“Demi Allah, aku mengetahui jika engkau bergulat denganku, engkau akan mendapat pertolongan dari langit,” kata Rasulullah. Rukanah kemudian pindah ke Madinah dan menetap di sana hingga masa kekhalifahan Muawiyah. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Jumat 28 Desember 2018 16:0 WIB
Rasulullah, Sayyidina Ali, dan Cerita Penamaan Cucu-cucunya
Rasulullah, Sayyidina Ali, dan Cerita Penamaan Cucu-cucunya
“Aku menamai mereka dengan nama-nama anak Harun; Syabr, Syubair, dan Musybir,” kata Rasulullah dalam hadits riwayat Ahmad dan Al-Hakim.

Rasulullah adalah seorang kakek yang sangat perhatian, sayang, dan cinta kepada cucu-cucunya. Banyak kisah tentang bagaimana Rasulullah mencurahkan rasa cintanya kepada cucu-cucunya. Diantaranya adalah ketika Hasan dan Husein terjatuh pada saat Rasulullah berkhutbah. Rasulullah langsung mengambil mereka dan menempatkannya di pangkuannya. 

Begitu pun ketika cucu-cucunya menaiki punggungnya ketika sujud, Rasulullah membiarkan dan bahkan memperlama sujudnya hingga cucu-cucunya puas. Kejadian ini sempat membuat salah sangka para sahabat. Dikira Rasulullah sujud lama karena sedang menerima wahyu, namun Rasulullah menjawab bahwa ia memperlama sujud untuk membuat cucunya puas menaikinya. Kisah ini terekam dalam hadits riwayat An-Nasa’i, Ahmad, dan Al-Hakim. 

Kasih sayang dan perhatian Rasulullah terhadap cucu-cucunya juga ditunjukkan dengan cara memberi mereka nama-nama yang terbaik dan terindah. Ada cerita menarik tentang bagaimana Rasulullah memberikan nama kepada cucu-cucunya.

Sebagaimana tercantum dalam buku Rasulullah: Teladan untuk Semesta Alam (Raghib As-Sirjani, 2011), ketika Hasan dilahirkan, Sayyidina Ali bin Abi Thalib awalnya menamainya 'Harb'. Lalu Rasulullah datang dan bertanya perihal nama cucunya itu.

“Harb,” jawab Sayyidina Ali bin Abi Thalib singkat.

Rasulullah langsung berkata, namanya Hasan, bukan Harb. Seketika itu Sayyidina Ali tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya menyetujui mertuanya itu. Ketika Husain lahir, Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga menamai anaknya itu dengan nama ‘Harb.’ Lagi-lagi Rasulullah tidak sepakat dengan pemberian tersebut.

“Tidak, namanya adalah Husain,” kata Rasulullah. 

Hal yang sama juga terjadi ketika anak ketiga Sayyidina Ali bin Thalib lahir. Lagi-lagi Sayyidina Ali menamainya Harb. Rupanya ia keukeuh dengan nama ‘Harb’. Namun Rasulullah juga keukeh tidak setuju dengan nama 'Harb'. Rasulullah yang saat itu datang ke rumah Sayyidina Ali langsung mengganti nama cucunya itu dengan nama Muhsin.

“Aku menamai mereka dengan nama-nama anak Harun; Syabr, Syubair, dan Musybir,” kata Rasulullah. Sayyidina Ali seketika itu juga menyetujui nama yang diusulkan Rasulullah untuk anak-anaknya. (A Muchlishon Rochmat)
Kamis 27 Desember 2018 6:0 WIB
Rasulullah, Pemimpin yang Tidak Ingin Diistimewakan
Rasulullah, Pemimpin yang Tidak Ingin Diistimewakan
Biasanya orang yang memiliki kedudukan ingin diistimewakan, dihormati, dan dilayani. Sebagai seorang pemimpin misalnya, dia bebas sekehendak hati memerintahkan anak buahnya untuk melakukan ini dan itu. Tanpa dia ikut mengerjakannya. Mungkin itu sudah menjadi ‘watak’ atau ‘karakter’ orang yang memiliki jabatan. Mereka selalu merasa di atas dan harus diistimewakan.    

Namun Rasulullah tidak lah demikian. Meski dia adalah seorang pemimpin agama dan negara, seorang nabi dan rasul Allah yang terakhir, tapi Rasulullah tidak pernah meminta kepada para sahabat dan umatnya untuk diistimewakan. 

Rasulullah bergaul dengan para sahabatnya tanpa ada sekat yang memisahkannya. Jika memerintahkan sahabatnya untuk melakukan suatu hal, Rasulullah juga ikut terlibat di dalamnya. Bahkan, Rasulullah memberikan teladan terlebih dahulu sebelum menyuruh sahabatnya untuk melakukan suatu hal.

Sebagaimana keterangan dalam buku Akhlak Rasul Menurut Bukhari Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2009), diceritakan bahwa suatu hari Rasulullah dan para sahabatnya akan memasak kambing bareng. Rasulullah lantas membagi tugas untuk para sahabatnya. Ada yang bertugas menyembelih kambing, mengulitinya, menyiapkan tungku, menyiapkan air, dan memasaknya. 

Awalnya para sahabat tenang karena semuanya kebagian tugas. Namun suasana langsung riuh manakala Rasulullah mengatakan kalau dirinya yang akan mencari dan mengumpulkan kayu bakar. Para sahabat ‘tidak terima’ dengan hal itu. Mereka meminta Rasulullah agar berdiam diri dan menunggu saja. Tidak perlu ikut bekerja. Apalagi mencari kayu. Tugas itu biar dikerjakan orang lain saja. Kata para sahabat dengan nada memprotes.

“Saya tahu kalian bisa menyelesaikan pekerjaan ini, tapi saya tidak suka diistimewakan,” jawab Rasulullah dengan tegas. Rasulullah lantas mengungkapkan bahwa Allah tidak suka melihat seorang hambanya diistimewakan dari teman-teman yang lainnya. 

Begitu lah Rasulullah. Kedudukan dan statusnya yang begitu agung tidak lantas menjadikannya arogan. Buta akan penghormatan. Dan selalu minta diistimewakan. Beliau seolah memberikan teladan bahwa seorang pemimpin tidak cukup dengan hanya memberikan instruksi apa yang harus dikerjakan anak buahnya, lalu kemudian berdiam diri dan ongkang-ongkang. Jika tidak benar, maka ia akan memarahi anak buahnya habis-habisan.

Tidak seperti itu. Bagi Rasulullah, seorang pemimpin harus ikut turun ke bawah. Kalau perlu berkeringat sebagaimana anak buahnya berkeringat dan memastikan semua yang dikerjakan anak buahnya berjalan dengan baik dan lancar. (A Muchlishon Rochmat)
Rabu 26 Desember 2018 19:0 WIB
Kisah Rasulullah, Tsauban, dan Turunnya QS An-Nisa 69
Kisah Rasulullah, Tsauban, dan Turunnya QS An-Nisa 69
Dialah Tsauban. Salah satu budak atau pelayan Rasulullah. Tsauban merupakan seorang penduduk Yaman yang menjadi tawanan ketika terjadi perang di zaman Jahiliyah. Rasulullah membelinya dan kemudian membebaskan. Tsauban tidak mau kembali ke Yaman, ia memilih untuk tinggal dan melayani Rasulullah. Iya, Rasulullah memang memiliki banyak budak, tapi di kemudian hari semuanya dibebaskan.  

Sama seperti budak atau pelayan Rasulullah –mungkin lebih, Tsauban sangat mencintai dan menyayangi majikannya itu. Bahkan, Tsauban tidak mau jauh atau berpisah dari Rasulullah. Ia selalu mengusahakan diri agar bisa selalu mendampingi Rasulullah. Kapan pun dan dimanapun. Di rumah maupun di perjalanan.

Jika Rasulullah ada tugas di luar. Tsauban begitu gelisah. Ia resah karena tidak bisa menatap wajah Rasulullah. Maka ketika Rasulullah kembali ke rumah, Tsauban langsung menatap muka majikannya itu. Ia gembira manakala dekat dengan Rasulullah. Dan dia sedih ketika Rasulullah tidak ada di dekatnya.

Merujuk buku Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018), Rasulullah mendapati Tsauban bersedih. Padahal pada saat itu Tsauban tidak sakit dan sedang bersama dengan majikannya, sumber kebahagiaannya. Rasulullan lantas bertanya kepada Tsauban perihal mengapa dia bersedih. 

“Kalau teringat akhirat, aku takut tak dapat melihatmu lagi. Sebab, kau akan diangkat ke surga tertinggi bersama para nabi. Lalu, mana tempatku dibandingkan tempatmu? Mana peringkatku dibandingkan peringkatmu?” jawab Tsauban.  

“Dan, jika aku tidak masuk surga, niscaya aku tidak dapat melihatmu lagi selamanya,” tambahnya.  

Begitu lah cinta Tsauban kepada Rasulullah, sangat besar. Hingga ia sampai kepikiran tentang kebersamaannya dengan Rasulullah di akhirat kelak. Apakah dirinya bisa bersama Rasulullah atau tidak.

Rasulullah terharu dengan jawaban Tsauban tersebut. beliau juga menjadi kasihan dengan pelayannya itu. Namun tak lama setelah itu turun wahyu kepada Rasulullah, yaitu Al-Qur’an Surat (QS) Al-An’am ayat 69. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa siapapun yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan bersama-sama dengan orang yang dianugerahi Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan para orang shaleh. 

Ayat tersebut seolah menjawab kesedihan Tsauban yang takut tidak bisa bertemu dengan Rasulullah, orang yang sangat dicintainya, di akhirat kelak. (A Muchlishon Rochmat)