IMG-LOGO
Thaharah

Berwudhu dengan Air Satu Gayung, Bolehkah? (II)

Selasa 1 Januari 2019 16:0 WIB
Share:
Berwudhu dengan Air Satu Gayung, Bolehkah? (II)
Setelah sebelumnya dibahas tentang jumlah air yang sunnah digunakan dalam wudhu, sekarang kita membahas masalah berikutnya dalam kasus berwudhu dengan air satu gayung, yakni tata caranya.

Bila seseorang berwudhu dengan cara menuangkan air sedikit demi sedikit dari wadahnya (gayung) ke anggota wudhu tanpa memasukkan tangan ke dalam wadah air, maka cara ini adalah cara yang disepakati kebolehannya. Bahkan inilah cara berwudhu yang standar bila memakai air yang sedikit (jumlahnya kurang dari 2 qullah). Adapun bila memakai air banyak atau air yang jumlahnya melebihi ukuran dua qullah (sekitar 270 liter menurut Syaikh Wahbah az-Zuhaily), maka tak masalah baik berwudhu dengan cara airnya dituangkan atau berwudhu di dalam wadah airnya.
Adapun bila seseorang berwudhu dengan cara memasukkan tangannya ke dalam gayung, maka cara ini butuh perincian lebih lanjut tentang keabsahannya sebab air yang jumlahnya kurang dari dua qullah akan menjadi musta’mal (air sisa) ketika sudah dipakai untuk menyucikan satu anggota wudhu sehingga dalam pandangan banyak ulama, terutama Syafi’iyah, ia tak bisa dipakai lagi untuk menyucikan anggota wudhu lainnya. Imam Nawawi berkata:

وَلَوْ غَمَسَ الْمُتَوَضِّئُ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ قَبْلَ الْفَرَاغِ مِنْ غَسْلِ الْوَجْهِ، لَمْ يَصِرْ مُسْتَعْمَلًا. وَإِنْ غَمَسَهَا بَعْدَ فَرَاغِهِ مِنَ الْوَجْهِ بِنِيَّةِ رَفْعِ الْحَدَثِ، صَارَ مُسْتَعْمَلًا. وَإِنْ نَوَى الِاغْتِرَافَ، لَمْ يَصِرْ،

“Apabila seseorang mencelupkan tangannya ke dalam wadah air sebelum ia selesai dari membasuh muka maka airnya tidak menjadi musta’mal.. Apabila ia mencelupkan tangannya setelah selesai membasuh muka dengan niatan untuk menghilangkan hadas tangan maka airnya menjadi musta’mal. Apabila ia berniat ightirâf maka tidak menjadi musta’mal.” (an-Nawawi, Raudlat al-Thâlibîn, juz I, halaman 9)

Lebih jelasnya, Syaikh Sa’id bin Muhammad Ba’alawi menjelaskan praktiknya seperti berikut:

ـ (فإذا أدخل) الجنب جزءاً من بدنه باقياً على جنابته بعد نية الغسل، أو (المتوضىء) جزءاً محدثاً من يده اليمنى أو اليسرى (يده في الماء القليل بعد غسل وجهه) ثلاثاً… (غير ناو الاغتراف) بأن أدخلها بقصد غسلها في الإناء، أو مع الإطلاق ( ... صار الماء مستعملاً) ـ 

“Apabila seseorang yang junub memasukkan sebagian badannya yang statusnya masih junub setelah ia berniat untuk mandi, atau seorang yang berwudhu memasukkan sebagian anggota tubuhnya yang masih berhadas, berupa tangan kanan atau kiri, ke dalam air yang sedikit setelah ia membasuh wajahnya sebanyak 3 kali, .... tanpa ia berniat untuk ightirâf, semisal ia memasukkan tangannya dengan niat membasuhnya di dalam wadah atau tanpa niat apapun maka airnya menjadi musta’mal.” (Sa’id bin Muhammad Ba’alawi, Syarh Muqaddimah al-Hadlramiyah, halaman 77).

Jadi, permasalahan utamanya terletak pada niat ightirâf. Bila seseorang memasukkan tangannya ke dalam gayung atau wadah air lainnya dengan niat ightirâf, maka airnya tidak menjadi musta'mal sehingga tak masalah untuk dipakai melanjutkan wudhu. Akan tetapi bila tanpa niat ightirâf ini, maka airnya berstatus sebagai air musta’mal sehingga tak bisa dipakai melanjutkan wudhu dan harus diganti dengan air lainnya. Niat ightirâf ini tempatnya ketika awal mula tangan menyentuh air dalam wadah. Syaikh asy-Syarwani berkata:

وَالْوَجْهُ الَّذِي لَا مَحِيصَ عَنْهُ وَلَا التَّفَاوُتُ لِغَيْرِهِ أَنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ نِيَّةُ الِاغْتِرَافِ عِنْدَ أَوَّلِ مُمَاسَّةِ الْيَدِ لِلْمَاءِ حَتَّى لَوْ خَلَا عَنْهَا أَوَّلَ الْمُمَاسَّةِ صَارَ الْمَاءُ بِمُجَرَّدِ الْمُمَاسَّةِ مُسْتَعْمَلًا

“Pendapat yang tak bisa diabaikan dan tidak boleh ditukar dengan yang lain adalah bahwasanya niat ightirâf tidak boleh tidak harus dilakukan ketika awal mula tangan menyentuh air sehingga apabila di waktu awal persentuhan tersebut tidak ada niat, maka airnya menjadi musta’mal hanya dengan menyentuhnya saja.” (Syarwani, Hawâsyi asy-Syarwâni, juz I, halaman 81).

Uraian di atas adalah pendapat yang dianggap kuat dalam mazhab Syafi’i yang difatwakan sebagai pendapat resmi mazhab. Semuanya bertumpu pada ada tidaknya niat ightirâf. Lalu apa niat ightirâf itu? Secara bahasa, ightirâf berarti mengambil air. Niat ightirâf dalam istilah fiqih adalah niatan dalam hati untuk mengambil air keluar dari wadahnya untuk dipakai menyucikan anggota wudhu di luar wadah. Niat ini sebagai penegasian bahwa tangan menyentuh air tidak dalam rangka menghilangkan hadas tangan di dalam wadah, melainkan sebagai media untuk mengambil air saja. 

Imam asy-Syarwani menjelaskan:

لَيْسَ الْمُرَادُ بِهَا التَّلَفُّظُ بِنَوَيْتُ الِاغْتِرَافَ، وَإِنَّمَا الْمُرَادُ اسْتِشْعَارُ النَّفْسِ أَنَّ اغْتِرَافَهَا هَذَا لِغَسْلِ الْيَدِ وَفِي خَادِمِ الزَّرْكَشِيّ أَنَّ حَقِيقَتَهَا أَنْ يَضَعَ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ بِقَصْدِ نَقْلِ الْمَاءِ وَالْغَسْلِ بِهِ خَارِجَ الْإِنَاءِ لَا بِقَصْدِ غَسْلِهَا دَاخِلَهُ انْتَهَى. وَظَاهِرٌ أَنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ حَتَّى الْعَوَامّ إنَّمَا يَقْصِدُونَ بِإِخْرَاجِ الْمَاءِ مِنْ الْإِنَاءِ غَسْلَ أَيْدِيهِمْ خَارِجَهُ وَلَا يَقْصِدُونَ غَسْلَهَا دَاخِلَهُ وَهَذَا هُوَ حَقِيقَةُ نِيَّةِ الِاغْتِرَافِ

“Yang dimaksud niat ightirâf bukankah mengucap saya niat mengambil air (ightirâf), tetapi merasakan dalam hati bahwa tindakannya mengambil air bertujuan untuk membasuh tangan. Dan dalam kitab Khadim karya Imam Az-Zarkasyi disebutkan bahwa hakikat ightirâf adalah dengan cara meletakkan tangan di dalam wadah air dengan niatan memindah air dan membasuh tangan di luar wadah, bukan dengan maksud membasuh tangan di dalamnya. Yang jelas, bahwa sebagian besar orang bahkan yang awam sekalipun tak lain mereka berniat mengeluarkan air dari wadahnya untuk membasuh tangannya di luar wadah dan tidak bermaksud untuk membasuh tangan di dalamnya. Inilah dia hakikat dari niat ightirâf itu.” (Syarwani, Hawâsyi asy-Syarwâni, juz I, halaman 80-81).

Dengan demikian menjadi jelas bahwa persoalan ini sebenarnya tidaklah rumit. Intinya, bila seseorang berniat mengambil air keluar dari wadahnya untuk berwudhu di luar wadah, maka airnya tidak menjadi musta’mal sehingga wudhunya sah. Akan tetapi, bila ia berniat membasuh tangannya (dalam rangka berwudhu) di dalam wadah, maka airnya menjadi musta’mal dan wudhunya menjadi tidak sah bila terus menggunakan air tersebut. 

Lalu apakah ketentuan untuk berniat ightirâf ini merupakan kesepakatan ulama yang tak bisa ditawar lagi? Kita akan bahas pada bagian selanjutnya. 

Wallahu a'lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Pengurus Lembaga Bahtsul Masa’il PWNU Jawa Timur


Bersambung…

Tags:
Share:
Selasa 1 Januari 2019 16:30 WIB
Berwudhu dengan Air Satu Gayung, Bolehkah? (III)
Berwudhu dengan Air Satu Gayung, Bolehkah? (III)
Ilustrasi (instazu.com)
Sebelumnya telah disebutkan bahwa niat ightiraf yang diwajibkan oleh para ulama ketika mencelupkan tangan ke dalam wadah wudhu sejatinya hanyalah niat untuk membasuh anggota wudhu di luar wadah, sehingga asalkan wudhunya tidak di dalam wadah maka otomatis sudah terpenuhi niat ightiraf. Praktik demikian menurut Syaikh asy-Syarwani adalah praktik hampir semua orang, bahkan yang awam sekalipun, sebagaimana sudah dinukil sebelumnya. 

Baca juga:
Berwudhu dengan Air Satu Gayung, Bolehkah? (I)
Berwudhu dengan Air Satu Gayung, Bolehkah? (II)
Meskipun sudah demikian mudah untuk dipraktikkan, namun ternyata para ulama, bahkan di internal Syafi’iyah sekalipun, tidak seluruhnya sepakat untuk mewajibkan adanya niat ightiraf ini. Ada juga tokoh Syafi’iyah yang menganggap bila saat tangan menyentuh air di dalam wadah tanpa ada niat apapun, maka airnya tidak menjadi musta’mal. Imam Nawawi menyebutkan:

وَإِنْ لَمْ يَنْوِ شَيْئًا، فَالصَّحِيحُ أَنَّهُ يَصِيرُ، وَقَطَعَ الْبَغَوِيُّ بِأَنَّهُ لَا يَصِيرُ

“Apabila ia tidak berniat apapun maka menurut pendapat yang shahih airnya menjadi musta’mal. Tetapi al-Baghawi memastikan bahwa air tersebut tidak musta’mal”. (an-Nawawi, Raudlat al-Thâlibîn, juz I, halaman 9).

Dengan demikian menurut al-Baghawi, ketika tangan menyentuh air di dalam wadah belum ada niatan sama sekali, baik niatan untuk membasuh tangan di dalam wadah atau membasuhnya di luar wadah, maka tetap saja tak masalah sebab airnya tidak menjadi musta’mal. Pendapat ini lebih ringan daripada pendapat resmi mazhab Syafi’i.

Senada dengan al-Baghawi, beberapa ulama Syafi’iyah lainnya banyak yang tidak mewajibkan niat ightirâf sama sekali, sebagaimana dinukil dalam kitab Bughyat al-Musytarsyidîn. Di antara mereka yang tidak mewajibkannya adalah Ibnu al-Muqri, asy-Syasi, Ibnu Abdissalam, Ibnu ‘Ujail, dan inilah pendapat yang dipilih oleh Imam al-Ghazali. Hal ini membuat Syaikh Abu Makhramah menghimbau para alim ulama demikian:

قال أبو مخرمة : فلا يشدد العالم على العامي بل يفتيه بعدم وجوبها

Abu Makhramah berkata: “Maka orang alim janganlah mempersulit orang awam, tapi hendaknya dia berfatwa dengan ketidak wajiban niat ightirâf.” (Sayyid Abdurrahman Ba’alawi, Bughyat al-Musytarsyidîn, halaman 26).

Bila kita mengikuti pendapat yang tak mewajibkan niat ightiraf ini, maka asalkan wudhu dilakukan di luar wadah air berarti hukumnya sah meskipun dalam hati tak ada niatan sama sekali untuk mengeluarkan air ke luar dari wadahnya. Anggap saja misalnya orangnya masih mengobok-obok air tanpa ada niatan melanjutkan wudhu. Hal ini tak membuat airnya menjadi musta’mal. Meskipun dinilai sebagai pendapat lemah dalam mazhab, namun pendapat ini bisa difatwakan untuk orang dipraktikkan orang awam

Yang bermasalah hanyalah ketika ada niatan untuk membasuh tangan di dalam wadah air, tidak di luarnya. Dalam perspektif Syafi’iyah, ini menyebabkan airnya menjadi musta’mal sehingga tak bisa dipakai lagi, seperti sudah dibahas sebelumnya. Namun, bila kita keluar dari mazhab Syafi’i dan beralih ke mazhab lain, maka air musta’mal pun masih boleh dipakai untuk berwudhu. Mazhab Malikiyah misalnya berpendapat:

المالكية قالوا: الاستعمال لا يرفع طهورية الماء، فيجوز استعماله في الوضوء، والغسل، ونحوهما، ولكن يكره استعماله في ذلك إن وجد غيره، فالاستعمال لا يسلب طهورية الماء، ولو كان ذلك الماء قليلاً

“Para Ulama Malikiyah berkata: Pemakaian air tidak menghilangkan kemampuan air tersebut Untuk menyucikan [lagi], maka boleh memakai air musta’mal di dalam wudhu, mandi dan selainnya. Akan tetapi makruh untuk memakai air musta’mal untuk tujuan tersebut apabila masih ditemukan air lainnya. Pemakaian air itu sendiri tidak menghilangkan kemampuan air untuk mensucikan benda lain meskipun air tersebut sedikit.” (Abdurrahman al-Jaza’iri, al-Fiqh ‘ala Madzâhib al-Arba’ah, juz I, halaman 37).

Tentunya bila beralih mazhab seharusnya mengikuti seluruh aturan mazhab tersebut. Misalnya, dalam mazhab Maliki berwudhu wajib untuk membasuh seluruh kepala dari depan hingga belakang dan wajib untuk menggosok anggota wudhu, tak cukup hanya dengan mengalirkan air saja ke kulit. Asal aturan ini dilakukan maka tak masalah berwudhu langsung ke dalam air gayung sekalipun sebab meskipun berstatus air sisa tetapi tetap dapat digunakan.

Dengan demikian, polemik tentang sah tidaknya wudhu dalam air yang hanya satu gayung adalah ranah ikhtilaf (perbedaan pendapat di kalangan ulama) yang lumrah di dalam dunia fiqih. Inti dari semua bahasan ini adalah: bila mengikuti mazhab yang melarang penggunaan air musta’mal, maka berwudhu dengan air satu gayung adalah sah selama wudhunya dilakukan di luar gayung. Bila mengikuti mazhab yang tidak melarang penggunaannya, maka wudhunya sah meskipun dilakukan di dalam gayung itu sekalipun. Wallahu a'lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Pengurus Lembaga Bahtsul Masa’il PWNU Jawa Timur.

Selasa 1 Januari 2019 14:30 WIB
Berwudhu dengan Air Satu Gayung, Bolehkah? (I)
Berwudhu dengan Air Satu Gayung, Bolehkah? (I)
Ilustrasi (Getty)
Ada polemik di masyarakat tentang orang yang berwudhu dari air satu gayung saja. Lumrahnya, masyarakat Indonesia yang notabene berlimpah air berwudhu dengan jumlah air yang lebih dari itu. Kali ini kita akan membahas perihal ini dari perspektif fiqih perbandingan secara ringkas. 

Ada dua hal pokok yang perlu diurai dalam masalah ini, yakni masalah jumlah airnya dan masalah tata cara berwudhunya. Mengenai jumlah air wudhu dan mandi besar, Imam Nawawi menukil kesepakatan ulama sebagai berikut:

أجمع المسلمون على أن الماء الذي يجزئ في الوضوء والغسل غير مقدر بل يكفي فيه القليل والكثير إذا وجد شرط الغسل وهو جريان الماء على الأعضاء

“Para Ulama Muslimun sepakat bahwa air yang dianggap mencukupi dalam wudhu dan mandi tidaklah ditentukan, tetapi dianggap cukup air sedikit atau banyak ketika sudah memenuhi syarat mandi [dan wudhu], yaitu mengalirkan air ke anggota tubuh.” (an-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim, juz IV, halaman 2).

Jadi, jumlah batas keabsahan air sebenarnya tidak ditentukan. Selama mencukupi untuk menunaikan rukun wudhu maka tak masalah. Tetapi para ulama seluruhnya juga sepakat bahwa jumlah air wudhu tidak boleh berlebihan. Imam Nawawi juga menukil kesepakatan ini dalam kitabnya yang lain sebagai berikut:

اتفق أصحابنا وغيرهم على ذم الإسراف في الماء في الوضوء والغسل

“Para sahabat kami (Syafi’iyah) dan selain mereka sepakat untuk mencela praktek berlebihan dalam menggunakan air, dalam wudhu dan mandi”. (an-Nawawi, al-Majmû’, juz II, halaman 190)

Setelah sepakat bahwa berlebihan adalah tercela, maka pertanyaannya berapakah ukuran berlebihan ini? Ukuran tidak berlebihan ini harus dikembalikan pada kebiasaan Rasulullah ﷺ, bukan kepada selera masing-masing orang sebab akan berbeda-beda. Dalam hal ini diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ berwudhu dengan jumlah air seperti berikut:

كَانَ النَّبِىُّ ﷺ يَغْسِلُ أَوْ كَانَ يَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ وَيَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ

“Nabi Muhammad ﷺ mandi besar dengan air satu sha’ hingga empat mud dan berwudhu dengan air satu mud.” (HR. Bukhari)

Jumlah satu mud air adalah sejumlah air yang diambil dengan dua telapak tangan orang dewasa ketika disatukan. Telapak tangan yang menjadi patokan adalah telapak tangan standar orang Arab, sedikit lebih lebar dari telapak tangan orang Indonesia. Dalam kitab Fath al-Qadîr Fî ‘ajâ’ib al-Maqâdîr karya Kyai Maksum bin Ali disebutkan bahwa satu mud air adalah setara dengan 786 gram. Adapun menurut kitab al-Fiqh al-Islâmiy Wa’adillatuh karya Dr. Wahbah az-Zuhaily disebutkan bahwa satu mud setara 675 gram (Juz I, halaman 533). Sedikit perbedaan jumlah ini bisa dibilang wajar mengingat ukuran sebenarnya adalah telapak tangan. Sedangkan satu sha’ adalah empat mud, inilah yang menjadi jumlah air yang dipakai Rasulullah ﷺ untuk mandi besar.

Jumlah yang sangat sedikit inilah yang menjadi patokan standar untuk berwudhu sehingga berwudhu dengan air yang jauh lebih banyak dapat dianggap berlebihan. Menjaga agar tidak berlebihan memakai air ini tetap harus diperhatikan meskipun berwudhu dari air laut sekalipun, seperti perkataan Syaikh Ibnu Ruslan dalam kitab Zubad-nya:

مَكْرُوهُهُ فِي الْمَاءِ حَيْثُ أَسْرَفَا  # وَلَوْ مِنْ الْبَحْرِ الْكَبِيرِ اغْتَرَفَا

“Makruhnya air wudhu adalah sekiranya berlebih, meskipun ia mengambil dari lautan besar.” (Nadham Zubad Ibnu Ruslân)

Dengan demikian, tentang ukuran berwudhu dengan air satu gayung tidak bermasalah. Bahkan jumlah ini tergolong baik sebab lebih dekat pada aturan sunnah. Satu mud sendiri sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ tidak sampai satu gayung dalam ukuran gayung standar yang tak terlalu kecil.

Perlu dicatat di sini bahwa jumlah yang terlalu sedikit juga makruh sebab mengkhawatirkan airnya tidak merata. Para ulama fiqih menyebut contoh yang terlalu sedikit itu misalnya dengan taqtîr atau meneteskan-neteskan air pada anggota wudhu. (lihat misalnya: al-Bujairami, Hasyiyat al-Bujairamî ‘ala al-Khathîb, Juz I, halaman 175). Meskipun sebelumnya dinukil adanya kesepakatan ulama bahwa jumlah air wudhu tidak ditentukan, hanya saja dalam menurut satu riwayat dari Imam Abu Hanifah, jumlah satu mud adalah batas minimal berwudhu sehingga tidak boleh kurang dari itu (Muhammad Na’im, Mausû’ah Masâ’il al-Jumhûr Fi al-Fiqh al-Islâmî, juz I, halaman 89).

Setelah masalah jumlah air ini selesai, maka masalah kedua yakni tatacara dalam berwudhu dengan air sedikit tersebut. Dalam hal ini ada tatacara yang disepakati seluruh ulama dan ada pula yang diperselisihkan. Titik perdebatannya ada dalam masalah air musta’mal atau air sisa. Periciannya akan kita bahas pada tulisan berikutnya.

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Pengurus Lembaga Bahtsul Masa’il PWNU Jawa Timur

Bersambung…


Senin 24 Desember 2018 15:0 WIB
Apakah Cairan Hitam pada Cumi-cumi itu Najis?
Apakah Cairan Hitam pada Cumi-cumi itu Najis?
Ilustrasi (cookpad.com)
Cumi-cumi merupakan salah satu hewan laut yang dihalalkan oleh syara’ untuk mengonsumsinya.  Namun setiap kali mengonsumsi cumi-cumi, kita pasti mendapati cairan hitam yang berada di dalam daging cumi-cumi ini. Bahkan seringkali cairan hitam yang ada pada cumi-cumi justru merupakan pelengkap kenikmatan makan bagi sebagian orang.

Hal yang menjadi pertanyaan, sebenarnya apakah status dari cairan hitam pada cumi-cumi ini? Apakah najis, sehingga tidak boleh untuk dikonsumsi, atau suci sehingga bebas untuk dikonsumsi?

Dalam menyikapi status cairan hitam yang terdapat dalam cumi-cumi, para ulama terjadi perbedaan pendapat. Ulama yang berpandangan suci berpijak pada ketentuan bahwa cairan hitam merupakan cairan khusus yang hanya dimiliki oleh cumi-cumi yang berfungsi untuk sembunyi dari hewan laut yang akan memangsanya. Cairan ini tidak dapat disamakan dengan kotoran-kotoran yang terdapat di dalam ikan yang memang secara umum dihukumi najis.

Penjelasan ulama yang berpandangan bahwa cairan hitam pada cumi-cumi dihukumi suci, misalnya terdapat dalam kitab Bulghah at-Thullab:

ـ (مسألة: ث) السواد الذي يوجد في بعض الحيتان مما اختلف فيه هل هو من الباطن فيكون نجسا أو لا فيكون طاهرا, فينبغي للعاقل أن يتحققه لأنّ هذا مما يتعلّق بالعيان. قلت: يعني أنّ هذا السواد إذا كان من الباطن فهو أشبه بالقيئ فيكون نجسا وإلّا فهو أشبه باللعاب فيكون طاهرا. وقد قال بعض مشايخنا: أنّ هذا السواد شيء جعله الله لصاحبه ترسا يتترس به عن كبار الحيتان فإذا قصده حوت كبير ليأكله أخرج هذا السواد فاختفى به عنه فلا يقاس بالقيئ ولا باللعاب لكونه خاصا له بهذه الخصوصية ويكون طاهرا والله أعلم

“Warna hitam yang ditemukan di sebagian jenis ikan merupakan sebagian persoalan yang diperselisihkan apakah termasuk kategori cairan yang keluar dari bagian dalam ikan sehingga tergolong najis, atau bukan dari bagian dalam sehingga dihukumi suci. Hendaknya bagi orang yang berakal agar memperdalam permasalahan ini karena termasuk suatu hal yang berhubungan dengan realitas. Aku (pengarang) berkata cairan hitam ini jika memang berasal dari bagian dalam maka lebih serupa dengan muntahan sehingga dihukumi najis, jika tidak dari dalam maka serupa dengan air liur sehingga dihukumi suci. 

Sebagian guruku pernah berkata: “cairan hitam ini merupakan sesuatu yang diciptakan oleh Allah pada hewan yang memilikinya untuk dijadikan tameng agar dapat berlindung dari makhluk laut yang lebih besar. Ketika terdapat makhluk laut besar yang akan memangsanya maka ia mengeluarkan cairan hitam ini agar dapat bersembunyi. Maka cairan hitam ini tidak dapat disamakan dengan muntahan ataupun air liur, sebab cairan hitam ini adalah sesuatu yang menjadi ciri khas hewan ini, sehingga dihukumi suci” (Syekh Thaifur Ali Wafa, Bulghah at-Thullab, hal. 106)

Sedangkan ulama yang berpandangan bahwa cairan hitam pada cumi cumi adalah sesuatu yang najis dan tidak dapat dikonsumsi, berpijak pada ketentuan umum dalam hewan bahwa segala sesuatu yang tergolong bagian dalam hewan dan bukan merupakan juz dari hewan maka dihukumi najis, termasuk cairan hitam ini, sebab menurut pandangan mereka, cairan hitam tergolong cairan yang keluar dari bagian dalam cumi-cumi, bukan dari bagian luar. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam Bughyah al-Mustarsyidin:

الذي يظهر أنّ الشيء الأسود الذي يوجد في بعض الحيتان وليس بدم ولا لحم نجس, إذ صريح عبارة التحفة أنّ كلّ شيء في الباطن خارج عن أجزاء الحيوان نجس, ومنه هذا الأسود للعلّة المذكورة إذ هو دم أو شبهة

“Cairan hitam yang ditemukan pada sebagian makhluk laut dan bukan merupakan daging ataupun darah dihukumi najis. Sebab teks dalam kitab Tuhfah menegaskan bahwa sesungguhnya setiap sesuatu yang berada di bagian dalam adalah sesuatu yang bukan termasuk dari juz (juz/organ) hewan dan dihukumi najis, termasuk cairan hitam ini, karena alasan yang telah dijelaskan. Sebab cairan hitam ini sejatinya adalah darah atau serupa (dengan darah).”  (Syekh Abdurrahman bin Muhammad Ba’lawi, Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 15)

Jika berpijak pada ulama yang berpendapat najis, siapa saja yang ingin mengonsumsi cumi-cumi wajib baginya untuk membersihkan cumi-cumi dari cairan hitam ini, sekiranya daging dapat menjadi bersih. Selain itu wajib baginya untuk menyucikan tangan atau anggota tubuh lain yang terkena cairan hitam ini. Jika berpegangan pada pendapat bahwa cairan hitam itu suci maka boleh bagi seseorang untuk menikmati cumi-cumi lengkap dengan cairan hitamnya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam menyikapi najis tidaknya cairan hitam pada cumi-cumi, para ulama berbeda pendapat antara yang menghukumi suci dan najis. Kedua pendapat tersebut sama-sama dapat digunakan oleh masyarakat secara umum. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)