IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Bisikan Rahasia Rasulullah yang Membuat Sayyidah Fathimah Menangis dan Tertawa

Rabu 2 Januari 2019 6:0 WIB
Share:
Bisikan Rahasia Rasulullah yang Membuat Sayyidah Fathimah Menangis dan Tertawa
Pada hari-hari terakhir menjelang Rasulullah wafat, semua istri, anak, dan cucunya berkumpul di sisinya. Tidak terkecuali Sayyidah Fathimah, putri terkasih Rasulullah. Pada saat Sayyidah Fathimah tiba, Rasulullah langsung menyambutnya. Beliau mempersilahkan putrinya itu untuk duduk di sampingnya. 

Ketika itu, Rasulullah membisikkan sesuatu ke telinga Sayyidah Fathimah. Setelah mendengar bisikan pertama, Sayyidah Fathimah menangis. Namun, Sayyidah Fathimah ganti tertawa usai mendengar bisikan yang kedua dari ayahandanya, Rasulullah. Tentu saja kejadian ini membuat orang yang hadir di bilik tidur Rasulullah penasaran. 

Termasuk Sayyidah Aisyah, salah satu istri Rasulullah dan ibu tiri Sayyidah Fathimah. Sama seperti yang lainnya, Sayyidah ingin mengetahui apa yang sebetulnya dikatakan Rasulullah sehingga Sayyidah Fathimah menangis lalu tertawa.

Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih (M Quraish Shihab, 2018), pada saat itu Sayyidah Fathimah tidak bersedia membeberkan rahasia atau apa yang dibisikkan Rasulullah di telinganya kepada ibu tirinya itu. Rupanya Sayyidah Aisyah masih penasaran tentang bisikan Rasulullah itu. Ia lantas menanyakan lagi kepada Sayyidah Fathimah perihal bisikan itu setelah Rasulullah wafat.      

“Malaikat Jibril setiap tahun bertadarus Al-Qur’an denganku sekali; pada tahun ini dua kali. Aku tidak melihat itu, kecuali ajalku telah dekat. Maka bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah. Aku adalah pendahulu terbaik untukmu,” kata Rasulullah kepada Sayyidah Fathimah sebagaimana diceritakan Sayyidah Aisyah dalam hadits riwayat Bukhari Muslim.

Hal ini lah yang membuat mata Sayyidah Fathimah berlinang air mata. Ia tak kuasa menahan air matanya karena tahu bahwa ajal ayahanda tercintanya itu tidak akan lama lagi. Dan bisikan dari Rasulullah di atas merupakan sebuah pertanda akan hal itu. 

“Tidakkah engkau puas menjadi pemimpin perempuan-perempuan mukminah atau perempuan-perempuan umat ini?” kata Rasulullah. Bisikan Rasulullah ini ternyata membuat Sayyidah Fathimah tertawa. 

Lantas, Rasulullah berkata bahwa Sayyidah Fathimah adalah orang pertama dari keluarganya yang akan menyusulnya atau wafat. Benar saja, Sayyidah Fathimah meninggal sekitar tiga bulan setelah Rasulullah Wafat. Rasulullah wafat pada bulan Juni 632 M, sementara Sayyidah Fathimah meninggal pada bulan Agustus 632 M dalam usia 27 tahun. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Rabu 2 Januari 2019 17:0 WIB
Kisah Rasulullah dengan Abul Ash, Menantunya yang Non-Muslim (Bagian II-Habis)
Kisah Rasulullah dengan Abul Ash, Menantunya yang Non-Muslim (Bagian II-Habis)
Kepergian Sayyidah Zainab membuat Abul Ash terpuruk. Abul Ash masih sangat menyayangi dan merindukan Sayyidah Zainab. Sembari terus mencari cara agar bisa bertemu dengan Sayyidah Zainab, Abul Ash tetap melakukan aktivitasnya, yaitu berdagang ke luar Makkah. Nasib buruk menimpa Abul Ash ketika kepergok pasukan umat Islam di tengah perjalanannya balik ke Makkah, usai berdagang di Syam. Semua barang dan hartanya diambil.

Abul Ash menjadi pilu. Jika ia pulang ke Makkah tanpa membawa harta hasil dagangan, maka investornya akan marah kepadanya. Lalu ia datang ke Madinah dengan sembunyi-sembunyi untuk meminta perlindungan kepada Sayyidah Zainab. Putri tertua Rasulullah itu pun mengabulkan permintaan Abul Ash. 

Rasulullah kemudian mengingatkan bahwa Abul Ash sudah tidak halal lagi bagi Sayyidah Zainab. Meski demikian, Rasulullah mempersilahkan Sayyidah Zainab untuk tetap menghormati Abul Ash. Keduanya masih saling mencintai. Rasulullah tahu akan hal itu. Oleh karenanya, beliau selalu berdoa agar Abul Ash mendapatkan hidayah. 

Sahabat Rasulullah yang mengambil harta dan barang segera mengembalikan kepada Abul Ash. Mereka juga menjamin keselamatan Abul Ash hingga tiba di Makkah. Abul Ash langsung menuju ke Ka’bah ketika sampai di Makkah. Ia menyerahkan semua hasil dagangannya kepada para investornya. Hal itu membuat mereka gembira. Namun, sesaat setelahnya mereka terperangah karena Abul Ash mengucapkan dua kalimat syahadat. Merujuk buku  Bilik-bilik Cinta Muhammad: Kisah Sehari-hari Rumah Tangga Nabi (Nizar Abazah, 2018), rupanya kejadian di Madinah itu menjadi ‘wasilah’ Abul Ash memperoleh hidayah.  

Riwayat lain menyebutkan bawah Abul Ash berada di Habasyah. Saat itu, dia semakin benci dengan kemajuan yang diperoleh umat Islam. Akhirnya, ia meninggalkan Makkah dan menuju Habasyah. Di sana ia bertemu dengan Amr bin Umayah ad-Dhamri yang tengah menyampaikan surat Rasulullah untuk penguasa Habasyah saat itu, Negus. 

Mengetahui hal itu, Abul Ash meminta Negus agar menyerahkan utusan Rasulullah itu untuk dibunuhnya. Negus marah dan menolak permintaan Abul Ash. 

“Apakah wajar aku menyerahkan utusan seorang Nabi yang datang kepadanya malaikat yang pernah datang kepada Musa dan Isa?” kata Negus, sebagaimana dikutip dari buku  Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih (M Quraish Shihab, 2018).

Baca juga: Kisah Rasulullah dengan Abul Ash, Menantunya yang Non-Muslim (Bagian I)

Jawaban Negus ini lah yang  membuat Abul Ash terbuka hatinya. Abul Ash kemudian pergi ke Madinah untuk menemui Rasulullah dan menyatakan diri masuk Islam. Di tengah perjalanan, Abul Ash bertemu dengan Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah yang juga ingin bertemu dengan Rasulullah. Di hadapan Rasulullah, mula-mula ketiganya menyesali semua perbuatan yang pernah dilakukannya, yaitu memusuhi Rasulullah dan umat Islam. Kemudian Abul Ash, Khalid bin Walid, dan Utsman bin Thalhah menyatakan diri masuk Islam. 

“Keislaman menutupi dosa yang dilakukan sebelumnya,” kata Rasulullah.

Keislaman Abul Ash itu tentu saja membuat Sayyidah Zainab gembira. Rasulullah sadar bahwa keduanya masih saling mencintai. Maka kemudian, Rasulullah menyerahkan kembali Sayyidah Zainab kepada Abul Ash. Merujuk kitab Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyidi al-Mursalin karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, ada dua pendapat terkait dengan rujuknya Abul Ash dengan Sayyidah Zainab.  Pertama, Rasulullah mengembalikannya pada nikah yang pertama. Artinya, tidak ada akad nikah lagi. Kedua, rujuknya Sayyidah Zainab dengan Abul Ash disertai dengan ‘akad nikah baru’.

Abul Ash dan Sayyidah Zainab memiliki dua anak, yaitu Sayyidina Ali yang meninggal saat masih kecil dan Sayyidah Umamah yang dinikahi Sayyidina Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Sayyidah Fathimah az-Zahra al-Batul. 

Kebersamaan Abul Ash dan Sayyidah Zainab untuk yang kedua kalinya tidak berlangsung lama. Sayyidah Zainab wafat pada tahun ke-8 Hijriyah. Hal ini membuat Abul Ash mengalami kesedihan yang mendalam. Hingga tidak lama setelah Sayyidah Zainab wafat, Abul Ash menyusulnya istrinya ke haribaan Allah. (A Muchlishon Rochmat)
Rabu 2 Januari 2019 13:30 WIB
Kisah Rasulullah dengan Abul Ash, Menantunya yang Non-Muslim (Bagian I)
Kisah Rasulullah dengan Abul Ash, Menantunya yang Non-Muslim (Bagian I)
Dialah Amr bin Al-Ash bin Rabi’ atau biasa dikenal Abul Ash bin Rabi’. Suami dari putri tertua Rasulullah, Sayyidah Zainab. Abul Ash merupakan seorang bangsawan Quraish. Ia memiliki nasab dan status sosial yang baik dan terhormat. Sebetulnya, Abu Ash masih kerabat dengan Rasulullah. Dia adalah anak dari Halah binti Khuwailid, saudara perempuan dari istri Rasulullah, Sayyidah Khadijah binti Khuwailid.

Abul Ash juga seorang dengan tampang yang rupawan dan harta yang bergelimangan. Dia ahli dalam dunia perdagangan. Ia berdagang ke luar Makkah pada musim dingin dan musim panas. Kafilahnya mencapai 200 orang dan 100 ekor unta. Semua dagangan yang dibawanya selalu habis terjual dan banyak laba yang didapatkannya. 

Abul Ash dan Sayyidah Zainab menikah sebelum Rasulullah diangkat menjadi seorang nabi dan rasul. Keduanya saling mencintai. Setelah Rasulullah menerima risalah kenabian, Sayyidah Zainab menyatakan diri untuk memeluk Islam. Sementara Abul Ash tidak. Merujuk buku Bilik-bilik Cinta Muhammad: Kisah Sehari-hari Rumah Tangga Nabi (Nizar Abazah, 2018), Abul Ash masih setia dengan agama lamanya, menyembah pagan. 

Meski demikian, kehidupan keduanya masih berjalan baik-baik saja karena pada saat itu belum ada larangan Muslim menikah dengan non-Muslim. Sayyidah Zainab selalu berdoa agar suaminya itu mendapatkan hidayah dari Allah untuk masuk Islam. Hidayah yang diiinginkan Sayyidah Zainab itu tak kunjung datang, butuh proses dan waktu yang panjang.

Sayyidah Zainab masih tinggal di Makkah ketika Rasulullah dan umat Islam hijrah ke Madinah. Dia masih menjaga dan merawat suaminya dengan penuh cinta. Begitu pun dengan Abul Ash. Bahkan, Abul Ash juga tidak pernah mengusik dan mengganggu keislaman istrinya. Dia baik-baik saja dengan hal itu.

Saat Perang Badar meletus, Abul Ash berada di barisan kafir Quraisy Makkah. Keadaan ini membuat Sayyidah Zainab dilema. Di satu sisi, ia mengkhawatirkan ayahandanya, Rasulullah. Di sisi lain, ia cemas apabila terjadi suatu hal yang buruk terhadap suaminya, Abul Ash.  

Singkat cerita, pasukan kafir Quraisy kalah dan Abul Ash menjadi salah satu tawanan perang umat Islam. Sebagaimana kebijakan yang diterapkan kepada para tawanan lainnya, Abu Ash akan dibebaskan manakala kerabatnya di Makkah memberikan uang tebusan. 

Kabar itu sampai di telinga Sayyidah Zainab. Seketika itu juga, Sayyidah Zainab mengutus saudara Abul Ash untuk berangkat ke Madinah –dengan membawa harta tebusan- untuk menjemput suaminya itu. Setelah sampai di Madinah, utusan Sayyidah Zainab itu langsung menemui Rasulullah dan menyerahkan harta tebusan dari Sayyidah Zainab.

Rasulullah langsung menitikan air mata ketika melihat harta tebusan itu. Bagaimana tidak, harta tebusan yang diberikan Sayyidah Zainab untuk membebaskan Abul Ash itu adalah kalung yang dulu dipakai  Sayyidah Khadijah. Kalung itu kemudian dihadiahkan Sayyidah Khadijah ketika Sayyidah Zainab menikah dengan Abul Ash. 

Baca juga:Kisah Rasulullah dengan Abul Ash, Menantunya yang Non-Muslim (Bagian II-Habis)

Setelah melihat kalung itu, Rasulullah teringat dengan kenangan-kenangannya bersama istri tercinta, Sayyidah Khadijah. Keadaan ini membuat Rasulullah sulit; tetap menerima harta tebusan atau mengembalikannya. Rasulullah sendiri condong untuk mengembalikan Abul Ash dan tebusan itu kepada Sayyidah Zainab. Akan tetapi, Rasulullah tidak semena-mena memutuskan hal itu. Ia kemudian bermusyawarah dengan para sahabatnya apakah menerima atau menolak harta tebusan untuk Abul Ash itu. 

Para sahabat yang mengerti keadaan Rasulullah berpendapat bahwa Abul Ash dibebaskan tanpa uang tebusan. Namun ada syarat, yaitu mengizinkan Sayyidah Zainab untuk hijrah ke Madinah. Abul Ash menyanggupi hal itu dengan berat hati karena dia masih sangat mencintai istrinya itu. 

Kejadian usai Perang Badar itu rupanya belum membuat Abul Ash mendapatkan hidayah. Setelah Abul Ash hidup beberapa hari di Makkah –usai ia dibebaskan Rasulullah- bersama Sayyidah Zainab, turun wahyu bahwa Muslim dilarang menikah dengan orang musyrik. Rasulullah pun meminta Abul Ash untuk menceraikan anaknya. 

Abul Ash juga menunaikan janjinya, yaitu membiarkan –bahkan mengantarkan- Sayyidah Zainab untuk berhijrah ke Madinah. Setelah persiapan keberangkatan selesai, Sayyidah Zainab yang ditemani adik iparnya, Kinanah bin Rabi’, berangkat ke Madinah dengan menaiki unta yang sudah dilengkapi dengan ‘haudaj’. Semacam kubah yang dirancang sedemikian rupa untuk melindungi dari sengatan matahari dan hawa panas. 

Namun sayang, ketika sampai di daerah yang bernama Dzy Thuwa mereka dicegat dan diganggu oleh seorang kafir Quraisy, Habbar bin al-Azwad bin al-Muthalib. Sebagaimana diceritakan buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih (M Quraish Shihab, 2018), Habbar menakut-nakuti Sayyidah Zainab dengan mengacung-ngacungkan panahnya. Kinanah bin Rabi’ yang ditugaskan untuk menemani dan menjaga Sayyidah menghunuskan anak panahnya. Siap untuk menyerang Habbar. 

Kejadian itu membuat Sayyidah Zainab terjatuh dari untanya sehingga membuatnya keguguran. Pada saat itu, Sayyidah Zainah tengah mengandung anak Abul Ash.  

Namun tiba-tiba Abu Sufyan datang. Ia berusaha untuk menengahi agar tidak terjadi pertumpahan darah. Abu Sufyan juga mengusulkan agar Sayyidah Zainah dan Kinanah putar balik ke Makkah dan pergi lagi ke Madinah pada malam hari agar tidak diketahui orang. Kinanah dan Sayyidah Zainab setuju dengan usul Abu Sufyan itu. Mereka mengadakan perjalanan ke Madinah lagi pada malam hari.

Sementara itu, Rasulullah mengutus seseorang dari Anshar dan Zaid bin Haritsah, untuk menjemput Sayyidah Zainab. Dalam buku Sirah Nabawiyah (Syekh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, 2012), sebagaimana perintah Rasulullah mereka menunggu Sayyidah Zainab di perkampungan Ya’juj. Selang beberapa waktu, Sayyidah Zainab sampai di perkampungan Ya’juj dan utusan Rasulullah itu langsung membawanya ke Madinah. (A Muchlishon Rochmat)

Bersambung....
Ahad 30 Desember 2018 9:30 WIB
Abdullah bin Salam, Pendeta Yahudi yang Masuk Islam
Abdullah bin Salam, Pendeta Yahudi yang Masuk Islam
Nama aslinya Al-Husain bin Salam, namun Rasulullah mengganti namanya dengan Abdullah bin Salam setelah dia masuk Islam. Dia adalah seorang rahib atau pendeta Yahudi dari Bani Qainuqa'. Cucu dari Yusuf bin Ya’qub as. Orang yang paling tahu di antara Yahudi lainnya tentang ajaran-ajaran Taurat. Dan seorang pemimpin Yahudi. Oleh karenanya, Abdullah bin Salam sangat dihormati dan dihargai di kalangan Yahudi. 

Abdullah bin Salam selalu berdoa kepada Tuhan agar umurnya dipanjangkan  sehingga bisa bertemu dengan seorang nabi baru. Maka ketika ada kabar bahwa Rasulullah hendak ke Madinah, dia sangat gembira dan menanti kedatangannya. Tidak lain, Abdullah bin Salam ingin  memastikan apakah ciri-ciri dan karakteristik dari orang dikabarkan sebagai nabi dan utusan Allah itu sesuai dengan yang disebutkan di Taurat. 

Akhirnya hari itu tiba, Rasulullah dan rombongan umat Islam sampai di Madinah setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan. Abdullah bin Salam nyempil di antara penduduk Madinah lainnya. Ia perhatikan seksama wajah, gerak-gerik, sikap, dan gaya Rasulullah. Setelah mengamati wajahnya, Abdullah bin Salam melihat bahwa Rasulullah bukan lah seorang pembohong. Tidak ada ‘gurat kebohongan’ di wajah Rasulullah.   

Namun demikian, keyakinan Abdullah bin Salam bahwa Rasulullah adalah seorang nabi dan rasul baru belum seratus persen. Ia kemudian mengajukan empat ‘pertanyaan langit’ kepada Rasulullah untuk menguji kebenarannya: Apa tanda pertama hari kiamat? Apa menu makanan yang pertama kali dinikmati penghuni surga? Mengapa seorang anak mirip dengan bapaknya? Dan mengapa seorang anak mirip dengan ibunya? Dan apakah warna hitam yang terdapat di bulan?

Rasulullah diam sejenak. Sejenak setelah mendapatkan wahyu dari Jibril, Rasulullah langsung menjawab: tanda pertama hari kiamat adalah adanya api yang menggiring manusia dari timur ke barat, makanan pertama yang dinikmati penghuni surga adalah cuping hati ikan, seorang anak akan mirip bapaknya jika bapaknya yang mencapai orgasme dulu pada saat berhubungan badan dan begitu juga sebaliknya, dan warna hitam yang ada di bulan adalah dua matahari.  

“Maka adapun hitam yang kamu (Abdullah bin Salam) lihat, ia adalah penghapusan,” kata Rasulullah, merujuk buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib As-Sirjani, 2011).

Usai mendengar jawaban Rasulullah itu, Abdullah bin Salam langsung mengikrarkan dirinya untuk masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Keyakinannya kepada Rasulullah begitu penuh setelah pertanyaan-pertanyaannya itu dijawab Rasulullah. 

Abdullah bin Salam juga mengajak keluarganya untuk masuk Islam. Keluarganya dengan senang hati dan rela akhirnya masuk Islam. Jadilah mereka sekeluarga menjadi keluarga Yahudi yang memeluk Islam .

Yahudi berbalik mendustakan Abdullah bin Salam

Sesaat mengucapkan dua kalimat syahadat, Abdullah bin Salam dan keluarganya menyembunyikan keislamanannya dari orang-orang Yahudi. Abdullah bin Salam sadar bahwa umatnya adalah pendusta, pembohong, dan pengkhianat. Jika mereka tahu Abdullah bin Salam masuk Islam maka mereka tidak segan-segan akan mendustakan dan menjelek-jeleknannya. 

Abdullah bin Salam tak ingin lama-lama menyembunyikan keislamannya. Ia minta agar dimasukkan ke dalam rumah Rasulullah.  Sementara Rasulullah mengutus sahabatnya untuk mengundang orang-orang  Yahudi datang ke rumahnya. 
Rasulullah bertanya kepada orang-orang Yahudi tersebut perihal Abdullah bin Salam. Mereka menjawab bahwa Abdullah bin Salam adalah orang yang paling baik, pemimpin mereka, dan orang yang paling tahu di antara mereka. 

“Bagaimana jika mereka masuk Islam?” tanya Rasulullah kepada orang-orang Yahudi tersebut. Mereka lantas berdoa agar hal itu tidak terjadi kepada Abdullah bin Salam. 

Rasulullah memanggil Abdullah bin Salam. Abdullah bin Salam lantas keluar dari bilik Rasulullah dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Abdullah bin Salam juga mengajak umatnya untuk bertakwa kepada Allah dan menerima ajaran yang dibawa Rasulullah. 

“Engkau dusta, engkau adalah orang yang paling jahat di antara kami dan anak yang paling jahat,” kata mereka sambil terus menerus mengejek Abdullah bin Salam. 

Begitu lah kelakuan mereka. Sebelumnya memuji setinggi langit Abdullah bin Salam, namun setelah mengetahui sang rahib masuk Islam, mereka langsung mendustakannya. (A Muchlishon Rochmat)