IMG-LOGO
Jenazah

Ketinggalan Takbir Imam dalam Shalat Jenazah, Bagaimana?

Kamis 3 Januari 2019 14:30 WIB
Share:
Ketinggalan Takbir Imam dalam Shalat Jenazah, Bagaimana?
Ilustrasi (NU Online)
Shalat jenazah bisa disebut merupakan jenis shalat yang paling berbeda dibanding dengan shalat lainnya. Jika shalat yang lain terdiri dari berbagai macam rukun fi’liyyah (gerakan tubuh) seperti berdiri, ruku’, sujud dan duduk, maka shalat jenazah dilakukan dengan cara berdiri saja, tanpa terdapat gerakan ruku’, sujud dan duduk.

Dari perbedaan yang begitu mencolok ini, terdapat berbagai permasalahan yang terjadi dalam pelaksanaan shalat jenazah, salah satunya ketika seorang makmum ketinggalan takbir dalam shalat janazah yang dilakukan secara berjamaah. 

Seperti kita ketahui bersama bahwa shalat jenazah terdiri dari empat takbir dengan berbagai bacaan tertentu yang dibaca setelah masing-masing takbir. Lalu ketika makmum datang pada saat imam telah takbir yang kedua, misalnya, bolehkah ia shalat bermakmum pada imam tersebut? Lalu bacaan apakah yang mesti dibaca olehnya?

Baca juga:
Tata Cara Melaksanakan Shalat Jenazah
Beda Letak Kepala Jenazah Laki-laki dan Perempuan saat Dishalati
Makmum dalam permasalahan di atas, dalam istilah fiqih biasa dikenal dengan sebutan makmum masbuq. Yaitu makmum yang tidak mengikuti imam sejak dari awal pelaksanaan shalat, sehingga ia tidak dapat menyempurnakan kewajiban bacaannya sendiri. 

Dalam kasus shalat jenazah ini, makmum yang ketinggalan takbir pertama atau kedua imam tetap diperbolehkan bermakmum dengan ketentuan membaca bacaan sesuai dengan runtutan bacaan dirinya sendiri. Yaitu setelah takbir pertama ia membaca Surat Al-Fatihah, meskipun imam berada pada takbir kedua yang membaca shalawat. Sebab dalam keadaan ini, ia tidak perlu mengikuti bacaan imam secara sama. Namun yang wajib diikutinya adalah gerakan takbir imam saja.

Setelah imam melaksanakan salam, ia melanjutkan kekurangan hitungan takbirnya sendiri. Jika ia menemui imam pada takbir yang kedua, maka ia menambahkan satu takbir lagi setelah itu salam. Ketentuan demikian seperti yang dijelaskan oleh Imam An-Nawawi:

فرع المسبوق إذا أدرك الإمام في أثناء هذه الصلاة كبر ولم ينتظر تكبيرة الإمام المستقبلة ثم يشتغل عقب تكبيره بالفاتحة ثم يراعي في الأذكار ترتيب نفسه فلو كبر المسبوق فكبر الإمام الثانية مع فراغه من الأولى كبر مع الثانية وسقطت عنه القراءة كما لو ركع الإمام في سائر الصلوات عقب تكبيره 

“Cabang permasalahan. Ketika makmum masbuq menemui imam di pertengahan shalat ini (shalat janazah) maka (langsung) bertakbir, tanpa perlu menunggu takbir imam selanjutnya, lalu setelah takbir ia membaca Surat al-Fatihah dan dzikir-dzikir sesuai dengan runtutan bacaannya sendiri (bukan bacaan imam). Jika makmum masbuq baru saja memulai takbir, lalu imam beranjak pada takbir kedua karena bacaan setelah takbir pertamanya telah selesai maka makmum tersebut juga melakukan takbir kedua dan bacaan Al-Fatihah menjadi gugur bagi dirinya. Seperti halnya permasalahan ketika imam beranjak ruku’ pada shalat fardhu setelah takbirnya makmum.” (Syekh Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Raudah at-Thalibin, juz 2, hal. 128)

Permasalahan yang juga sering terjadi dalam shalat jenazah yaitu ketika makmum pertengahan membaca al-Fatihah, namun belum selesai merampungkan bacaannya tiba-tiba imam takbir. Dalam keadaan demikian apakah makmum tetap wajib meneruskan bacaannya, atau ia memutus bacaan al-Fatihah seketika itu juga agar bisa mengikuti takbirnya imam? Dalam ha ini terdapat dua pendapat. Namun pendapat yang paling kuat adalah makmum memutus bacaan al-Fatihahnya agar ia bisa mengikuti takbir imam. Seperti yang dijelaskan dalam kelanjutan referensi di atas:

ولو كبر الإمام الثانية والمسبوق في أثناء الفاتحة فهل يقطع القراءة ويوافقه أم يتمها وجهان كالوجهين فيما إذا ركع الإمام والمسبوق في أثناء الفاتحة أصحهما عند الأكثرين يقطع ويتابعه 

“Jika imam melakukan takbir yang kedua, sedangkan makmum masbuq sedang pertengahan membaca al-Fatihah, apakah dalam kasus demikian ia memilih memutus bacaannya atau menyempurnakan al-Fatihahnya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat seperti halnya berlaku dalam permasalahan ketika imam ruku’ sedangkan makmum masbuq berada di pertengahan bacaan al-Fatihah. Pendapat paling benar menurut banyak ulama adalah ia memutus bacaannya dan melanjutkan untuk mengikuti imam.” 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa makmum yang ketinggalan takbir imam dalam shalat jenazah, ia tetap boleh untuk bermakmum padanya dengan ketentuan tetap membaca bacaan sesuai runtutan bacaan takbir yang dilakukannya. Wallahu a’lam.


(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Tags:
Share:
Jumat 14 Desember 2018 16:0 WIB
Tata Cara Shalat Jenazah yang Tak Diketahui Jenis Kelaminnya
Tata Cara Shalat Jenazah yang Tak Diketahui Jenis Kelaminnya
Shalat jenazah adalah salah satu jenis ibadah yang berstatus fardhu kifayah (kewajiban kolektif). Ketika sudah terdapat salah satu dari penduduk yang melaksanakan kewajiban ini, maka kewajiban melaksanakan shalat jenazah bagi penduduk lainnya menjadi gugur.

Sudah maklum sekali bahwa tata cara shalat jenazah adalah dengan cara melakukan empat takbir. Takbir pertama disertai niat menshalati mayit, lalu setelah itu membaca Surat Al-Fatihah. Takbir kedua membaca shalawat nabi. Takbir ketiga membaca doa-doa yang ditujukan kepada mayit, seperti doa:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِوَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَنَجِّهِ مِنْ النَّارِ

Dhamir “hu” yang terdapat dalam doa-doa di atas diubah menjadi dhamir “ha” ketika mayit yang hendak dishalati adalah perempuan sehingga doanya menjadi:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَها وَارْحَمْها وَعَافِها وَاعْفُ عَنْها وَأَكْرِمْ نُزُلَها وَوَسِّعْ مُدْخَلَها وَاغْسِلْها بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّها مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْها دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِها وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهاوَأَدْخِلْها الْجَنَّةَ وَنَجِّها مِنْ النَّارِ

Setelah melaksanakan takbir yang ketiga selanjutnya melaksanakan takbir keempat yang diiringi dengan  salam. Cara demikian adalah ketentuan yang ringkas dalam pelaksanaan shalat jamaah.

Permasalahan terjadi ketika seseorang yang hendak akan melaksanakan shalat mayit, rupanya tidak mengetahui jenis kelamin mayit. Dalam keadaan demikian, bagaimanakah ketentuan shalat yang harus dilakukannya?

Dalam keadaan demikian, para ulama’ Mazhab Syafi’iyah berpandangan bahwa dibebaskan bagi seseorang yang hendak menshalati mayit yang tidak diketahui alat kelaminnya untuk menggunakan dhamir “hu” atau “ha” dalam bacaan doa setelah takbir ketiga.

Menggunakan dhamir “hu” dengan dimaksudkan pada lafadz شخص (seseorang) atau ميت yang dalam gramatika arab keduanya tergolong lafal yang mudzakkar (laki-laki) atau boleh juga dalam doa setelah takbir ketiga melafalkan dengan menggunakan dlamir “ha” dengan dimaksudkan pada lafal جنازة (jenazah) yang dalam gramatika arab tergolong muannats (perempuan).

Bebasnya memilih dua kategori ini dikarenakan ketiga lafal di atas (شخص, ميت, جنازة) dapat mengakomodasi mayit yang berkelamin laki-laki dan perempuan sehingga boleh saja memilih pelafalan salah satu jenis doa di atas pada kasus mayit yang tidak diketahui alat kelaminnya.

Keterangan ini seperti yang dijelaskan dalam Kitab Mughnil Muhtaj:

والقياس أنه لو لم يعرف أن الميت ذكر أو أنثى أن يعبر بالمملوك ونحوه ويجوز أن يأتي بالضمائر مذكرة على إرادة الشخص أو الميت ومؤنثة على إرادة لفظ الجنازة

Artinya, “Secara qiyas, sungguh jika tidak diketahui apakah mayit laki-laki atau perempuan, maka kata ‘mayit’ dilafalkan dengan kata mamluk atau lafal lain yang sama, dan boleh (dalam doa) untuk menggunakan dhamir mudzakkar (laki-laki) dengan menghendaki kata ‘As-Syakhs’ atau ‘Al-Mayyit’ dan boleh pula menggunakan dhamir muannats (perempuan) dengan menghendaki kata ‘al-janazah,’ (Lihat Syekh Khatib As-Syirbini, Mughnil Muhtaj, juz I, halaman 343).

Adapun pelafalan niat shalat jenazah pada mayit yang tidak diketahui status kelaminnya tidak perlu dipertegas dengan dhamir mudzakkar atau muannats dalam pelafalan niatnya sebab hal ini tidak diwajibkan. Cukup dengan menggunakan kata isyarat seperti dengan menggunakan niat demikian:

أصلي على هذا الميت فرضا لله تعالى

Artinya, “Saya niat menshalati  mayit ini sebagai shalat fardhu karena Allah ta’ala.”

Dengan menggunakan kata “mayit ini” yang ditujukan pada mayit yang ada di depannya, maka sudah dianggap cukup, walau orang yang menshalati sejatinya tidak mengetahui alat kelamin dari mayit. Pasalnya, kata “mayit ini” sudah mengakomodasi mayit laki-laki atau perempuan. Wallahu a’lam. (Ustadz Ali Zainal Abidin)
Selasa 27 November 2018 10:0 WIB
Hukum Mengharapkan Mati di Tanah Suci
Hukum Mengharapkan Mati di Tanah Suci
null
Kematian tidak dapat diduga kapan akan tiba, tidak ada yang mengetahui kapan ajal menjemput kita. Sebagaimana difirmankan oleh-Nya, maut tidak bisa maju, tidak pula dapat mundur. Tugas manusia adalah mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan setelah mati, bukan berputus asa dengan mengharapkan kematian.

Nabi Muhammad SAW melarang umatnya mengharapkan kematian karena musibah yang menimpa. Nabi mengajarkan untuk berdoa agar diberikan hal yang terbaik, mati atau hidup, bukan dengan mengharapkan kematian.

Nabi SAW bersabda:

لا يتمنين أحدكم الموت لضر أصابه فإن كان لا بد فاعلا فليقل اللهم أحيني ما كانت الحياة خيرا لي وتوفني إذا كانت الوفاة خيرا لي

Artinya, “Sungguh janganlah kalian berharap kematian karena bahaya yang menimpa. Bila tidak bisa menghindar, maka berdoalah, ya Allah hidupkanlah aku bila kehidupan lebih baik bagiku, matikanlah aku bila kematian lebih baik bagiku,” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam penjelasannya atas hadits tersebut, Syekh Muhammad bin Abdil Hadi As-Sindi berkata:

قوله : (لا يتمنينّ أحدكم الخ) أي : لأنه كالتبرّي عن قضاء الله في أمر ينفعه في آخرته

Artinya, “Sabda Nabi, sungguh janganlah kalian mengharapkan kematian, karena sesungguhnya hal tersebut seperti terbebas dari kepastian Allah dalam perkara yang bermanfaat untuk akhiratnya,” (Lihat Syekh Muhammad bin Abdil Hadi As-Sindi, Hasyiyah As-Sindi ‘alal Bukhari, juz IV, halaman 50).

Dari keterangan hadits tersebut, para pakar fiqih merumuskan bahwa mengharapkan kematian karena musibah yang menimpa hukumnya makruh.

Saat terkena cobaan, manusia tidak sepantasnya untuk berburuk sangka kepada Allah atau berputus asa, bisa jadi musibah yang menimpa merupakan sesuatu yang terbaik untuk dunia dan urusan akhiratnya, adakalanya menghapus dosa-dosa yang lalu dan mensucikan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat.

Saat Nabi menyambangi laki-laki berusia senja yang tengah mengalami sakit panas, ia bersabda, “thahurun, insya Allah” (tidak apa-apa, insya Allah sakit ini mensucikan kesalahan-kesalahan).

Namun demikian, tidak selamanya berharap kematian merupakan hal yang buruk. Mengharapkan kematian hukumnya bisa menjadi sunnah apabila karena tujuan yang baik, misalkan berharap mati syahid di jalan Allah, berharap mati di tiga kota suci (Mekah, Madinah dan Baitul Maqdis) atau karena khawatir terfitnah agamanya. Disamakan dengan anjuran berharap mati di tiga kota suci, berharap mati di tempatnya orang-orang saleh.

Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami menegaskan:

وفي المجموع يسن تمنيه ببلد شريف أي مكة أو المدينة أو بيت المقدس وينبغي أن يلحق بها محال الصالحين

Artinya, “Di dalam Kitab Al-Majmu’, sunnah mengharapkan kematian di tempat mulia, yaitu Mekah, Madinah dan Baitul Maqdis, seyogianya disamakan juga dengan tiga tempat tersebut, tempatnya orang-orang saleh,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj, juz III, halaman 182).

Ada perbedaan istilah apakah berharap syahid atau mati di tempat suci termasuk mengharapkan kematian atau bukan. Menurut Syekh Sayyid Al-Bashri, mengharapkan kematian di tempat yang mulia sebenarnya bukan termasuk mengharapkan kematian, namun mengaharapkan sifat atau kondisi tertentu saat kematian tiba.

Syekh Ali Syibramalisi dan Syekh Abdul Hamid Al-Syarwani tidak menyetujui kemutlakan pendapat Syekh Sayyid Al-Bashri di atas, namun harus diperinci. Bila harapan tersebut dikhususkan dengan perjalanan atau tahun tertentu, semisal saat berihram haji atau umrah berharap mati di tanah suci dan tidak kembali ke tanah air, maka termasuk berharap kematian.

Bila harapannya dimutlakan, maka bukan termasuk berharap kematian, namun mengharapkan kondisi tertentu saat kematian tiba, seperti berdoa menjadi syahid atau berada di tanah suci saat ajal menjemput. 

Dalam titik harapan yang dimutlakan ini, pada hakikatnya seperti doa-doa pada umumnya, yaitu berdoa diberi kondisi yang terbaik saat meninggal dunia. Seakan-akan ia berdoa “Bila engkau mematikanku, matikanlah aku sebagai syahid atau di kota Mekah”, sebagaimana doa yang diteladankan Nabi Yusuf “Matikanlah aku dalam keadaan Muslim dan susulah aku dengan orang-orang saleh.”

Meski demikian, ulama-ulama tersebut sepakat bahwa berharap mati di tanah suci hukumnya sunah, mereka hanya berbeda sudut pandang dalam sebuah istilah “harapan kematian.” Namun sepakat secara hukum, yaitu sunnah.

Penjelasan demikian sebagaimana keterangan referensi di bawah ini:

قوله )يسن تمنيه ببلد إلخ) بالتأمل الصادق يظهر أن تمني الشهادة وتمني الموت بمحل شريف ليس من تمني الموت بل تمني صفة أو لازم له عند عروضه بصري أقول وهذا فيما إذا تمنى ذلك وأطلق وأما إذا تمنى ما ذكر وقيده بنحو سفر أو عام مخصوص فظاهر أنه من تمني الموت 

Artinya, “Ucapan Syekh Ibnu Hajar, sunah berharap kematian di tempat mulia, dengan pemikiran yang benar, tampak jelas bahwa sesungguhnya berharap mati syahid dan mati di tempat mulia bukan termasuk mengharapkan kematian, tetapi mengharapkan sifat atau kondisi yang menetapi kematian saat ia tiba, keterangan dari Syekh Sayyid Al-Bashri. Aku (Syekh Syarwani) berkomentar, yang demikian ini bila berharap kematian dan memutlakannya. Adapun bila berharap mati sebagaimana demikian dan dibatasi dengan perjalanan atau tahun tertentu, maka jelas bahwa hal tersebut termasuk berharap kematian. Keterengan dari Syekh Ali Syibramalisi.”

عبارة ع ش ولا يتأتى أن ذلك من تمني الموت إلا إذا تمناه حالا أو في وقت معين أما بدون ذلك فيمكن حمله على أن المعنى إذا توفيتني فتوفني شهيدا أو في مكة إلخ كما قيل به في الجواب عن قول سيدنا يوسف صلى الله وسلم على نبينا وعليه { توفني مسلما وألحقني بالصالحين } ا هـ .

Artinya, “Teks lengkap pernyataan Syekh Ali Syibramalisi, hal yang demikian tidak dapat masuk kategori berharap kematian kecuali berharap mati saat itu atau pada waktu tertentu. Bila tidak demikian, maka mungkin diarahkan bahwa arti dari harapan tersebut adalah, bila engkau matikan aku, maka matikanlah sebagai syahid atau di kota Mekah, dan lain-lain, seperti diucapkan dalam jawaban doanya Sayyidina Yusuf, ya Allah, matikanlah aku sebagai muslim dan susulah aku dengan orang-orang saleh,” (Lihat Syekh Abdul Hamid As-Syarwani,Hasyiyatus Syarwani ‘ala Tuhfatil Muhtaj, juz III, halaman 182).

Demikian penjelasan mengenai hukum mengharapkan mati di kota suci. Pada kesimpulannya hukumnya sunah, namun tetap harus disertai dengan semangat untuk menjaga kualitas hidup menjadi lebih baik, bukan justru menjadikannya putus asa. Wallahu a‘lam. (M Mubasysyarum Bih)
Jumat 16 November 2018 15:30 WIB
Mencium Batu Nisan saat Ziarah, Bolehkah?
Mencium Batu Nisan saat Ziarah, Bolehkah?
Ilustrasi (muftinews.com)
Cara seseorang dalam melakukan penghayatan saat ziarah kubur berbeda-beda. Ada yang cukup dengan membacakan Surat Yasin dan Tahlil. Ada yang merasa kurang puas jika tidak mendekati makam, bahkan ada pula yang cukup berlebihan dalam berziarah sampai mencium nisan, mengusap tanah sekitar makam pada wajah dan aneka ekspresi lain yang biasanya kita lihat ketika ziarah.

Sebenarnya bagaimana hukum mencium batu nisan saat ziarah?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, sebaiknya dipahami bahwa bersikap berlebihan dalam urusan agama adalah hal yang terlarang, termasuk berlebihan dalam melaksanakan ritual ziarah kubur ini. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ ؛ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ 

“Waspadalah kalian pada sikap berlebihan. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian disebabkan berlebihan dalam urusan agama.” (HR. Ahmad)

Salah satu contoh bentuk sikap yang berlebihan dalam konteks kuburan adalah hal yang dilakukan oleh kaum yahudi dan nasrani di masa silam, mereka menjadikan makam nabi mereka sebagai masjid. Padahal melakukan ritual shalat di sekitar kuburan adalah hal yang tidak dianjurkan sebab dikhawatirkan mengikis makna shalat yang berupa menyembah hanya pada Allah ﷻ. 

Hal demikian dijelaskan dalam hadits:

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ 

“Semoga laknat Allah tertuju pada kaum yahudi dan nasrani yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid (tempat peribadatan).” (HR. An-Nasa’i)

Berdasarkan penjelasan di atas, para ulama’ berpendapat bahwa mencium nisan kuburan saat ziarah merupakan termasuk bentuk berlebih-lebihan dalam melaksanakan ritual ziarah, sehingga merupakan hal yang tidak dianjurkan untuk dilakukan saat ziarah. Bahkan menurut Imam Abu al-Hasan al-Marzuki, tindakan mencium nisan kuburan ini tergolong sebagai bid’ah munkarah (bid’ah yang terlarang) yang harus dijauhi dan melarang orang yang melakukan tindakan ini. 

قال أبو الحسن واستلام القبور وتقبيلها الذى يفعله العوام الآن من المبتدعات المنكرة شرعا ينبغي تجنب فعله وينهي فاعله

“Imam Abu al-Hasan berkata “mengusap dan mencium kuburan seperti yang dilakukan oleh orang awam saat ini adalah tergolong bid’ah munkarah secara syara’, hendaknya untuk dihindari dan dicegah orang yang melakukan hal ini.” (Syekh Abu Zakaria Yahya an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 5, hal. 311).

Baca juga:
Adab-adab dalam Berziarah Kubur
Hukum Melangkahi Kuburan
Hukum Menandai Makam dengan Papan atau Batu Nisan
Selain tergolong sebagai bid’ah munkarah yang terlarang, mencium nisan kuburan ini juga tergolong sebagai perilaku yang biasa dilakukan oleh kaum nasrani, seperti yang dijelaskan dalam kitab Mauidzah al-Mu’minin:

وَالْمُسْتَحَبُّ فِي زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَنْ يَقِفَ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ مُسْتَقْبَلًا لِوَجْهِ الْمَيِّتِ ، وَأَنْ يُسَلِّمَ وَلَا يَمْسَحَ الْقَبْرَ وَلَا يَمَسَّهُ وَلَا يُقَبِّلَهُ ، فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَادَةِ النَّصَارَى

“Hal yang disunnahkan dalam ziarah kubur adalah berpaling dari arah kiblat dengan menghadap pada wajah mayit, mengucapkan salam pada mayit, tidak mengusap, menyentuh dan mencium kuburan, karena hal tersebut adalah sebagian tradisi dari kaum nasrani” (Muhammad Jamaluddin bin Muhammad Said bin Qasim al-Hallaq, Mauidzah al-Mu’minin, hal. 324)

Berbagai larangan yang terdapat dalam referensi di atas belum memandang ketika mencium batu nisan ada niatan tabarruk (mengharap berkah) dari peziarah pada mayit yang terdapat dalam kuburan, dikarenakan mayit termasuk orang-orang yang saleh, ketika ada niatan demikian maka mencium kuburan dianggap sebagai hal yang diperbolehkan. 

Penjelasan demikian seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Ilal wa Ma’rifat ar-Rijal:

سألته عن الرجل يمس منبر النبي صلى الله عليه و سلم ويتبرك بمسه ويقبله ويفعل بالقبر مثل ذلك أو نحو هذا يريد بذلك التقرب إلى الله جل وعز فقال لا بأس بذلك 

“Aku bertanya padanya (ayahku, Ahmad bin Hanbal) tentang lelaki yang mengusap mimbar Nabi Muhammad ﷺ, dan ber-tabarruk dengan mengusap dan mencium mimbar tersebut, lalu ia melakukan hal yang serupa pada kuburan dengan tujuan mendekatkan diri pada Allah ﷻ. Ia pun menjawab “hal tersebut tidak masalah” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Ilal wa Ma’rifat ar-Rijal, Juz 2, Hal. 492)

Hal yang perlu diperhatikan dalam referensi di atas bahwa bolehnya mencium nisan ini hanya ketika ada tujuan tabarruk, sedangkan kuburan yang dapat diniati tabarruk  hanya terbatas pada makam-makam orang saleh. Sehingga hukum ini tidak bersifat menyeluruh pada semua nisan kuburan.

Demikian penjelasan materi ini, secara umum dapat disimpulkan bahwa mencium nisan kuburan adalah termasuk bid’ah munkarah yang terlarang secara syara’. Larangan ini dikecualikan dalam satu kasus yaitu ketika peziarah mencium nisan kuburan karena ada tujuan tabarruk pada mayit yang bersemayam di kuburan dikarenakan mayit termasuk orang-orang yang saleh. Wallahu a’lam

(Ali Zainal Abidin)