IMG-LOGO
Jumat

Jumatan adalah Hajinya Orang-orang Fakir

Jumat 4 Januari 2019 5:30 WIB
Share:
Jumatan adalah Hajinya Orang-orang Fakir
Keutamaan shalat Jumat tidak diragukan lagi. Banyak beberapa dalil yang  menjelaskannya. Salah satunya adalah yang menyebutkan bahwa shalat Jumat adalah hajinya orang-orang fakir. Apa maksud dari keutamaan ini? Bagaimana status riwayatnya?

Hadits mengenai Jumat sebagai hajinya orang-orang fakir diriwayatkan oleh al-Qadla’i dan ibnu Asakir dari Ibnu Abbas dengan redaksi:

الجمعة حج الفقراء

“Jumat adalah hajinya orang-orang fakir.”

Menurut pakar hadits, Syekh Abdurrauf al-Manawi, hadits tersebut tergolong lemah riwayatnya. Al-Manawi menegaskan:

رواه القضاعي وابن عساكر عن ابن عباس بإسناد واه

“Hadits riwayat al-Qadla’i dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas dengan sanad yang lemah.” (Abdurrauf al-Manawi, al-Taisir bi Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 1, hal. 995).

Meski tergolong lemah riwayatnya, namun tetap bisa diamalkan, karena berkaitan dengan keutamaan amaliah (fadlail al-a’mal), bukan dalam konteks penetapan hukum.

Baca juga:
Dalil Keutamaan Hari Jumat
Bagaimana Sikap Muslim Terhadap Hadits Dhaif dan Hadits Palsu?
Menurut al-‘Amiri, sebagaimana dikutip Syekh Abdurrauf al-Manawi, maksud dari hadits tersebut adalah, bahwa orang yang rajin beribadah Jumat yang sangat berharap bisa berangkat haji, namun terkendala biaya, Allah memberinya pahala sebagaimana pahala haji atas kemauan yang ia miliki. Menurut al-Amiri, hal ini senada dengan hadits lain tentang keutamaan niat berjihad, saat suatu kelompok punya tekad yang kuat untuk berjihad, ia tidak dapat hadir berperang karena tertimpa udzur, mereka tetap mendapat pahala sebagaimana pasukan yang ikut berperang.

Al-Manawi menegaskan:

ـ (الجمعة حج الفقراء) قال العامري : لما عجز المسكين عن مال الحج أو ضعف وكان يتمناه بقلبه نظر الكريم إلى تحسره فأعطاه ثواب الحج بقصده على منوال خبر إن بالمدينة أقواما ما قطعتم واديا إلا وقد سبقوكم إليه حبسهم العذر 

“Jumat adalah hajinya orang-orang fakir. Al-Amiri berkata, saat orang miskin tidak mampu dari biaya haji atau terkendala lemah fisik, dan ia berkeinginan berangkat haji di dalam hatinya, maka Allah sang maha dermawan melihat kesedihannya, maka Allah memberinya pahala seperti pahala haji atas niat baiknya. Hal ini sesuai dengan anugerah yang diterangkan dalam hadits, sesungguhnya di Madinah terdapat beberapa kaum yang kalian tidak menempuh jurang kecuali mereka mendahului kalian di dalamnya. Mereka tertahan oleh udzur.”  (Syekh Abdurrauf al-Manawi, Faidl al-Qadir, juz 3, hal. 474).

Pandangan berbeda diutarakan Syekh Ihsan bin Dakhlan. Menurut beliau, pahala berjumatan memang sangat besar, saking besarnya sehingga disandingkan dengan pahala haji. Namun, pahala haji tetap lebih besar dari pada Jumat. Sehingga menurut beliau, penyerupaan Jumat dengan haji adalah dari sisi sama-sama memiliki pahala yang besar, meski kadar pahalanya terdapat selisih. Ulama asal Jampes Kediri tersebut menegaskan:

يَعْنِيْ ذَهَابُ الْعَاجِزِيْنَ عَنِ الْحَجِّ اِلَى الْجُمُعَةِ هُوَ لَهُمْ كَالْحَجِّ فِيْ حُصُوْلِ الثَّوَابِ وَاِنْ تَفَاوَتَ وَفِيْهِ الْحَثُّ عَلَى فِعْلِهَا وَالتَّرْغِيْبُ فِيْهِ. 

“Maksudnya, berangkatnya orang-orang yang tidak mampu berhaji menuju shalat Jumat, seperti berangkat menuju tempat haji dalam hal mendapatkan pahala, meskipun berbeda tingkat pahalanya. Dalam hadits ini memberi dorongan untuk melakukan Jumat.” (Syekh Ihsan bin Dakhlan, Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz 1, hal. 282, cetakan Ponpes Jampes Kediri, tt).

Keutamaan pahala Jumat disandingkan dengan haji bukan berarti menyimpulkan ibadah haji bisa digantikan dengan Jumat. Bagi orang yang mampu, tetap berkewajiban melaksanakan haji. Penyandingan pahala dua ibadah di atas lebih mengarah kepada dorongan untuk rajin melaksanakan Jumatan.

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)

Tags:
Share:
Jumat 4 Januari 2019 15:0 WIB
Hukum Shalat Jumat di Mushalla, Bukan di Masjid
Hukum Shalat Jumat di Mushalla, Bukan di Masjid
Ilustrasi (via Pinterest)
Di beberapa tempat, shalat Jumat tidak didirikan di masjid. Keterbatasan dana pembangunan masjid menjadi alasan mereka menunaikan Jumatan di mushala. Ada anggapan dari sebagian kalangan bahwa Jumat harus dilaksanakan di masjid. Sehingga menjadi tidak sah bila pelaksanaan Jumat dilakukan di mushala. Sebenarnya, sahkah shalat Jumat di mushala?

Menurut mazhab Syafi’i, tidak ada persyaratan bahwa Jumat wajib dilakukan di masjid. Shalat Jumat bisa dilaksanakan di mana saja. Bisa di masjid, mushala, surau atau lapangan, asalkan masih dalam batas wilayah pemukiman warga.

Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali mengatakan:

وَلَا يُشْتَرَطُ أَنْ يُعْقَدَ الْجُمُعَةُ فِي رُكْنٍ أَوْ مَسْجِدٍ بَلْ يَجُوْزُ فِي الصَّحْرَاءِ إِذَا كاَنَ مَعْدُوْداً مِنْ خِطَّةِ الْبَلَدِ فَإِنْ بَعُدَ عَنِ الْبَلَدِ بِحَيْثُ يَتَرَخَّصُ الْمُسَافِرُ إِذَا انْتَهَى إِلَيْهِ لَمْ تَنْعَقِدْ اَلْجُمُعَةُ فِيْهَا

“Jumat tidak disyaratkan dilakukan di surau atau masjid, bahkan boleh di tanah lapang apabila masih tergolong bagian daerah pemukiman warga. Bila jauh dari daerah pemukiman warga, sekira musafir dapat mengambil rukhshah di tempat tersebut, maka Jumat tidak sah dilaksanakan di tempat tersebut.” (Imam al-Ghazali, al-Wasith, juz 2, hal. 263, Kairo, Dar al-Salam, cetakan ketiga tahun 2012).

Sedangkan menurut mazhab Maliki, Jumat wajib dilaksanakan di masjid. Maka menjadi tidak sah pelaksanaan Jumat di selain masjid, seperti mushala. Syekh al-Baji dari kalangan Malikiyyah memberikan syarat lebih ketat lagi, bahwa Jumat harus dilaksanakan di masjid yang masih berbentuk bangunan layaknya arsitektur masjid. Sehingga bila masjid roboh berpuing-puing, maka tidak sah melaksanakan Jumat di tempat tersebut. Pendapat al-Baji tidak disetujui Syekh Ibnu Rusydi. Menurut Ibnu Rusydi, Jumatan di masjid yang roboh tetap sah, sebab statusnya tetap masjid, baik dari sisi penamaan dan hukumnya.

Keterangan tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abu Abdillah Muhammad bi Yusuf al-Abdari al-Mawaq sebagai berikut:

ـ (وَبِجَامِعٍ) ابْنُ بَشِيرٍ : الْجَامِعُ مِنْ شُرُوطِ الْأَدَاءِ ابْنُ رُشْدٍ : لَا يَصِحُّ أَنْ تُقَامَ الْجُمُعَةُ فِي غَيْرِ مَسْجِدٍ مَبْنِيٍّ 

“Dan disyaratkan pelaksanaannya di masjid Jami’. Syekh Ibnu Basyir berkata, masjid Jami’ merupakan salah satu beberapa syarat pelaksanaan Jumat. Syekh Ibnu Rusydi berkata, tidak sah mendirikan Jumat di selain masjid yang dibangun.”

 الْبَاجِيُّ : مِنْ شُرُوطِ الْمَسْجِدِ الْبُنْيَانُ الْمَخْصُوصُ عَلَى صِفَةِ الْمَسَاجِدِ فَإِنْ انْهَدَمَ سَقْفُهُ صَلَّوْا ظُهْرًا أَرْبَعًا

“Syekh al-Baji berkata, di antara syaratnya masjid yang dijadikan tempat Jumat adalah bangunan khusus yang sesuai sifatnya masjid. Maka, bila atapnya masjid roboh, jamaah berkewajiban shalat zhuhur empat rakaat.”

 ابْنُ رُشْدٍ : هَذَا بَعِيدٌ ، لِأَنَّ الْمَسْجِدَ إذَا انْهَدَمَ بَقِيَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ مِنْ التَّسْمِيَةِ وَالْحُكْمِ، وَإِنْ كَانَ لَا يَصِحُّ أَنْ يُسَمَّى الْمَوْضِعُ الَّذِي يُتَّخَذُ لِبِنَاءِ الْمَسْجِدِ مَسْجِدًا قَبْلَ أَنْ يُبْنَى وَهُوَ فَضَاءٌ

“Ibnu Rusydi berkata, pendapat al-Baji ini jauh dari kebenaran. Sebab bila masjid rubuh, penamaan dan hukumnya masih tetap. Meski tidak sah menamakan tempat yang hendak dibangun masjid sebagai masjid sebelum dibangun. Tempat tersebut disebut dengan tanah lapang.” (Syekh Abu Abdillah Muhammad bi Yusuf al-Abdari al-Mawaq, al-Taj wa al-Iklil, juz 2, hal. 237).

Demikian penjelasan mengenai hukum shalat Jumat di mushala. Simpulannya, persoalan ini tergolong hal yang diperselisihkan di antara ulama. Sehingga pelaksanaan Jumat di sebagian tempat di mushala sudah benar dan tidak perlu diingkari. Meski bila ditilik dari pertimbangan keutamaan, lebih baik dilaksanakan di masjid, untuk keluar dari ikhtilaf (perbedaan pendapat) ulama.

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)

Jumat 28 Desember 2018 8:0 WIB
Bolehkah Imam atau Khatib Jumat dari Kampung Lain?
Bolehkah Imam atau Khatib Jumat dari Kampung Lain?
Ilustrasi (wikipedia)
Di sebagian tempat, imam atau khatib Jumat dilakukan oleh orang yang bukan dari kampung setempat, namun dari kampung lain. Faktor yang melatarbelakanginya beragam, ada yang karena keterbatasan imam/khatib di daerah pelaksanaan Jumat, meratakan jatah, mengambil keberkahan dengan yang lebih senior, dan lain sebagainya. Bolehkah imam/khatib Jumat berasal dari kampung lain?

Menurut pendapat kuat dalam mazhab Syafi’i, tidak ada aturan imam/khatib Jumat berasal dari kampung setempat. Yang menjadi prinsip adalah keberadaan imam/khatib adalah orang yang sah menjadi imam shalat, sebagaimana berlaku dalam shalat-shalat selain Jumat. Sehingga boleh bertindak sebagai imam/khatib Jumat, anak kecil, hamba sahaya dan musafir. Demikian pula boleh dari orang yang berdomisili sementara di tempat Jumat (muqim ghairu mustauthin).

Kebolehan imam/khatib Jumat dari luar kampung setempat disyaratkan jumlah jamaah Jumat sudah memenuhi standar minimal 40 orang yang mengesahkan Jumat, tanpa menghitung imam/khatib. Sehingga tidak sah bila jamaah Jumat yang mengesahkan Jumat hanya 39 orang, sementara imam/khatib dari luar kampung pelaksanaan Jumat, sebab keberadaannya tidak dapat mengesahkan Jumat. 

Karena prinsipnya adalah sebagaimana imam shalat, maka menjadi tidak sah imam/khatib dari orang gila, non muslim dan orang yang shalatnya wajib diulang (seperti shalat dengan tayamum di tempat yang umumnya ditemukan air). Demikian pula tidak sah menjadi imam/khatib, seseorang yang tidak fasih membaca surat al-Fatihah dan dia teledor dalam belajar, kecuali bila tidak teledor, maka tetap sah.

Bila melihat kepada pertimbangan keutamaan, hendaknya imam/khatib Jumat berasal dari kampung setempat (muqim mustauthin). Sebab ada sebagian pendapat dari mazhab Syafi’i yang tidak mengesahkan imam/khatib dari luar kampung pelaksanaan Jumat. Menurut pendapat ini, imam/khatib disyaratkan harus orang yang dapat mengesahkan Jumat, yaitu muqim mustauthin (orang muqim yang permanen). Oleh sebab itu, dianjurkan untuk keluar dari ikhtilaf ini, sebagai bentuk dari pengamalan kaidah fiqh:

الخروج من الخلاف مستحب

“Keluar dari ikhtilaf Ulama disunahkan.”

Penjelasan di atas merujuk kepada beberapa referensi sebagai berikut:

ـ (وتصح) الجمعة (خلف العبد والصبي والمسافر في الأظهر) أي خلف كل منهم (إذا تم العدد بغيره) لصحتها منهم كما في سائر الصلوات وإن لم تلزمهم والعدد قد وجد بصفة الكمال وجمعة الإمام صحيحة والاقتداء بمن لا تجب عليه تلك الصلاة فيها جائز

“Sah Jumat di belakang imam hamba, anak kecil dan musafir menurut pendapat al-Azhhar. Hal ini bila bilangan Jumat sempurna dengan selain imam, sebab Jumat sah dari mereka sebagaimana dalam shalat-shalat yang lain, meski mereka tidak berkewajiban Jumat. Bilangan Jumat telah wujud dengan sifat sempurna, Jumatnya imam sah. Bermakmum kepada orang yang tidak wajib melaksanakan Jumat adalah boleh.” 

 والثاني لا تصح لأن الإمام ركن في صحة هذه الصلاة فاشترط فيه الكمال كالأربعين بل أولى إلى أن قال أما إذا تم العدد بواحد ممن ذكر فلا تصح جزما

“Menurut pendapat kedua, tidak sah, sebab Imam adalah rukun dalam keabsahan shalat Jumat ini, maka disyaratkan sempurna seperti 40 Jamaah, bahkan lebih utama. Adapun bila jumlah jamaah Jumat sempurna dengan jenis imam yang telah disebutkan, maka Jumat tidak sah tanpa ada perbedaan pendapat.” (Syekh al-Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 1, hal. 284).

Referensi yang berkaitan dengan khatib adalah sebagai berikut:

وسادسها تقدم خطبتين على الصلاة للاتباع رواه الشيخان ممن تصح خلفه الجمعة ولو صبيا زاد على الأربعين بخلاف من لا تصح خلفه كمجنون وصبي من الأربعين وكافر
 
“Syarat yang keenam, mendahuluinya dua khutbah atas shalat Jumat, karena mengikuti Nabi, sebagaimana hadits riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim. Khutbah disyaratkan dari orang yang sah menjadi imam Jumat, meski anak kecil yang melebihi dari empat puluh jamaah. Berbeda orang yang tidak sah menjadi imam Jumat, seperti orang gila, anak kecil yang merupakan bagian dari empap puluh Jamaah dan non muslim.” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Syarh al-Tahrir, juz 1, hal. 264).

Mengomentari referensi di atas, Syekh al-Syarqawi mengatakan:

ـ (قوله ممن تصح خلفه) أي صادرتين ممن تصح إلخ وهذا يفيد اعتبار كونه ممن لا تلزمه الإعادة كمتيمم على وجه لا يسقط تيممه الصلاة وكونه غير أمي قصر في التعلم فإن لم يقصر فيه صحت خطبته لصحة الصلاة خلفه وعده من الأربعين

“Ucapan Syekh Zakariyya, dari orang yang sah menjadi imam Jumat, ini memberi kesimpulan pensyaratan khatib dari orang yang tidak berkewajiban mengulang shalatnya seperti orang tayamum dalam kondisi yang tayamumnya tidak menggugurkan shalat, dan pensyaratan khatib bukan dari ummi (orang yang tidak fasih membaca al-Fatihah) yang teledor dalam belajar. Bila ia tidak teledor dalam belajar, maka sah khutbahnya, sebab sah bermakmum dengannya dan ia tergolong dari empat puluh jamaah Jumat.” (Syekh Abdullah bin Hijazi al-Syarqawi, Hasyiyah al-Syarqawi ‘ala Syarh al-Tahrir, juz 1, hal. 264).

Demikian penjelasan mengenai imam/khatib Jumat dari kampung lain. Semoga bermanfaat.

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)

Kamis 20 Desember 2018 5:0 WIB
Hukum Menjamak Shalat Jumat dan Shalat Ashar
Hukum Menjamak Shalat Jumat dan Shalat Ashar
(Foto: @prayerinislam.com)
Salah satu dispensasi yang diberikan syari’at kepada musafir adalah rukhsah jamak, yaitu mengumpulkan dua shalat fardhu dalam satu waktu. Teori jamak dalam fiqih Islam dikenal ada dua macam, jamak taqdim dan ta’khir.

Jamak taqdim artinya mengumpulkan dua shalat fardhu dalam satu waktu, di mana pelaksanaannya dilakukan di waktu shalat pertama, seperti shalat Ashar dikerjakan di waktu Zuhur, shalat Isya’ dilakukan di waktu Maghrib. Sedangkan jamak ta’khir adalah mengumpulkan dua shalat fardhu dalam satu waktu, di mana pelaksanaannya dilakukan di waktu shalat kedua, seperti shalat Zuhur dilakukan di waktu Ashar.

Kebolehan menjamak shalat dirumuskan berdasarkan beberapa hadits Nabi, di antaranya:

عن أنس أنه عليه الصلاة والسلام كان يجمع بين الظهر والعصر في السفر

Artinya, “Dari sahabat Anas, bahwa Nabi Saw mengumpulkan di antara shalat Zuhur dan Ashar di perjalanan,” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim yang lain, ditegaskan pula hadits Nabi yang menegaskan:

عن معاذ قال خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عام تبوك وكان يجمع بين الظهر والعصر والمغرب والعشاء

Artinya, “Dari sahabat Mu’adz, ia berkata, kami keluar bersama Rasulullah saat perang Tabuk, Nabi mengumpulkan di antara shalat Zuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’,” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Persoalan muncul ketika seseorang bepergian saat hari Jumat, sementara ia berangkat safar setelah terbit fajar, maka ia berkewajiban melaksanakan Jumat di tengah perjalanannya. Atau misalkan ia sudah berada di perjalanan sebelum hari Jumat, kemudian saat hari Jumat, ia masih berada di perjalanan dan melaksanakan Jumat di desa setempat. Pertanyaannya adalah, apakah shalat Jumat boleh dijamak dengan shalat Ashar?

Para ulama menegaskan bahwa secara umum, Jumat memiliki kedudukan yang sama dengan shalat Zuhur. Ada banyak hukum-hukum yang berlaku di dalam shalat Zuhur, juga berlaku untuk shalat Jumat, termasuk di antaranya kebolehan mengumpulkannya dengan shalat Ashar dengan teori jamak taqdim. 

Dalam praktik pelaksanaan menjamak taqdim Jumat dan Ashar, saat niat shalat Jumat, diniati pula mengumpulkannya dengan shalat Ashar dengan niat jamak taqdim. Berikut ini contoh niatnya:

أُصَلِّيْ فَرْضَ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ مَجْمُوْعًا بِالْعَصْرِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءُ مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى

Setelah selesai salam, disyaratkan untuk bergegas melanjutkan shalat Ashar, sebab dalam jamak taqdim wajib sambung menyambung antara shalat pertama dan kedua, tanpa ada pemisah yang lama. Dalam konteks ini, shalat ba’diyyah Jumat dilakukan setelah shalat Ashar. Untuk contoh niat shalat Ashar yang dijamak taqdim dengan Jumat adalah sebagai berikut:

أُصَلِّيْ فَرْضَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا إِلَيْهِ الْجُمُعَةُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى

Bila shalat Asharnya diqashar, maka redaksi “arba’a raka’atin” diganti dengan “maqshuratan”. Bila shalat Ashar dilakukan berjamaah, maka ditambahkan kata “jama’atan/ ma’muman” sebelum redaksi “Lillahi Ta’ala”.

Sedangkan untuk jamak ta’khir, tidak diperbolehkan dilakukan dalam permasalahan ini. Teori jamak ta’khir tidak berlaku dalam kasus mengumpulkan shalat Jumat dan Ashar, sebab Jumat wajib dikerjakan di waktu Zuhur.

Berkaitan dengan kebolehan menjama’ taqdim shalat Jumat dan Ashar, Syekh Khathib al-Syarbini mengatakan:

قوله (ويجوز للمسافر) سفر قصر (أن يجمع بين) صلاتي (الظهر والعصر في وقت أيهما شاء) تقديما وتأخيرا (و) أن يجمع (بين) صلاتي (المغرب والعشاء في وقت أيهما شاء) تقديما وتأخيرا . والجمعة كالظهر في جمع التقديم

Artinya, “Boleh bagi musafir dalam jarak tempuh yang memperbolehkan qashar shalat, mengumpulkan di antara Shalat Zuhur dan Ashar di waktu yang ia kehendaki, baik jamak taqdim atau ta’khir. Dan diperbolehkan mengumpulkan di antara shalat Maghrib dan Isya’, di waktu yang ia kehendaki, baik jamak taqdim atau ta’khir. Shalat Jumat hukumnya sama dengan shalat Zuhur dalam masalah jamak taqdim,” (Lihat Syekh Khathib As-Syarbini, Al-Iqna’ ‘ala Matni Abi Syuja’, juz I, halaman 174-175).

Mengomentari referensi di atas, Syekh Sulaiman Al-Bujairimi mengatakan:

قوله (والجمعة كالظهر في جمع التقديم) أي كأن دخل المسافر قرية بطريقه يوم الجمعة فالأفضل في حقه الظهر، لكن لو صلى الجمعة معهم فيجوز له في هذه الحالة أن يجمع العصر معها تقديماً

Artinya, “Ucapan Syekh Khathib, Shalat Jumat hukumnya sama dengan shalat Zuhur dalam masalah jamak taqdim, seperti musafir memasuki desa di tengah perjalanannya saat hari Jumat, maka yang lebih utama baginya adalah melakukan Zuhur. Namun, bila ia shalat Jumat bersama penduduk setempat, boleh baginya dalam kondisi demikian untuk menjamak taqdim shalat Jumat dengan shalat Ashar,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khatib, juz I, halaman 174-175).

Berdasarkan referensi tersebut, bagi musafir yang sebelum hari Jumat sudah bepergian, saat hari Jumat tiba, yang lebih lebih utama baginya adalah shalat Zuhur, bukan shalat Jumat. Namun bila ia menghendaki shalat Jumat, maka ia tetap diperbolehkan menjamak taqdim dengan shalat Ashar.

Demikian penjelasan mengenai hukum menjamak shalat Jumat dengan Ashar. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. (Ustadz M Mubasysyarum Bih)