IMG-LOGO
Trending Now:
Shalat

Meninggalkan Shalat karena Pingsan, Tetap Wajib Qadha?

Jumat 4 Januari 2019 11:0 WIB
Share:
Meninggalkan Shalat karena Pingsan, Tetap Wajib Qadha?
Ilustrasi (via mabna.com)
Salah satu syarat wajibnya shalat bagi seseorang adalah status mukallaf, yakni telah beranjak baligh dan berakal. Sehingga shalat masih belum diwajibkan bagi orang yang belum baligh, seperti bagi anak kecil, dan shalat menjadi tidak wajib lagi bagi orang yang tidak memiliki akal, seperti bagi orang gila. Hal ini berdasarkan hadits:

رفع القلم عن ثلاثة عن النائم حتى يستيقظ وعن الصبي حتى يحتلم وعن المجنون حتى يعقل

“Diangkat pena (Tidak dikenakan kewajiban) pada tiga orang yaitu orang yang tidur sampai ia bangun, anak kecil sampai ia baligh dan orang gila sampai ia berakal” (HR. Baihaqi)

Sedangkan orang yang pingsan berada dalam posisi di tengah-tengah antara orang yang gila dan orang yang tidur. Hal ini seperti yang di ilustrasikan oleh Imam al-Ghazali:

 وَقَالَ الْغَزَالِيُّ الْجُنُونُ يُزِيلُهُ وَالإِغْمَاءُ يَغْمُرُهُ وَالنَّوْمُ يَسْتُرُهُ

“Imam al-Ghazali berkata: ‘Gila dapat menghilangkan akal, pingsan dapat menenggelamkan akal, dan tidur dapat menutup akal’.”

Sehingga dalam perincian hukum pada beberapa permasalahan fiqih, orang yang pingsan cenderung berada dalam penempatan hukum yang berbeda-beda. Adakalanya sama dengan orang yang tidur dan juga adakalanya sama dengan orang yang gila. Misalnya, dalam permasalahan kewajiban mengqadha shalat, orang yang pingsan memiliki hukum yang sama dengan orang yang gila dalam hal tidak wajibnya mengqadha shalat ketika memang masa pingsan atau masa gila berlangsung lama, mulai awal masuknya waktu sampai habisnya waktu shalat. 

Ketentuan di atas seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Asybah wa an-Nadha’ir:

وَاعْلَمْ أَنَّ الثَّلاثَةَ قَدْ يَشْتَرِكُونَ فِي أَحْكَامٍ وَقَدْ يَنْفَرِدُ النَّائِمُ عَنْ الْمَجْنُونِ وَالْمُغْمَى عَلَيْهِ تَارَةً يَلْحَقُ بِالنَّائِمِ وَتَارَةً يَلْحَقُ بِالْمَجْنُونِ وَبَيَانُ ذَلِكَ بِفُرُوعٍ الأَوَّلُ الْحَدَثُ يَشْتَرِكُ فِيهِ الثَّلاثَةُ الثَّانِي اسْتِحْبَابُ الْغُسْلِ عِنْدَ الإِفَاقَةِ لِلْمَجْنُونِ وَمِثْلُهُ الْمُغْمَى عَلَيْهِ الثَّالِثُ قَضَاءُ الصَّلاةِ إذَا اسْتَغْرَقَ ذَلِكَ الْوَقْتَ يَجِبُ عَلَى النَّائِمِ دُونَ الْمَجْنُونِ وَالْمُغْمَى عَلَيْهِ كَالْمَجْنُونِ اه

“Ketahuilah bahwa tiga hal ini (gila, pingsan, tidur) terkadang sama dalam beberapa hukum, dan terkadang orang yang tidur memiliki hukum tersendiri yang berbeda dari orang yang gila dan pingsan. Orang yang pingsan terkadang di satu ssisi sama dengan orang yang tidur dan di sisi yang lain sama dengan orang gila. Penjelasan hal tersebut terdapat dalam beberapa cabang-cabang fiqih. Pertama, hilangnya hadats kecil berlaku bagi tiga orang tersebut (tidur, pingsan, dan gila). Kedua, sunnahnya melaksanakan mandi bagi orang yang baru sadar dari sifat gila dan pingsan (tidak berlaku bagi orang yang baru bangun tidur). Ketiga, mengqadha shalat ketika waktu dihabiskan dengan tidur adalah hal yang wajib, berbeda halnya bagi orang yang menghabiskan waktu shalat (tidak menemui waktu shalat) karena gila, sedangkan orang yang pingsan dalam permasalahan ini sama dengan orang yang gila (dalam hal tidak wajib qadha). (Syekh Jalaluddin As-Suyuthi, al-Asybah wa an-Nadhair, hal. 213) 

Berbeda halnya ketika orang yang pingsan masih sempat menemui waktu shalat, dalam keadaan demikian ia tetap wajib melaksanakan shalat yang tertunda karena faktor pingsan. Namun kewajiban ini dibatasi dengan ketentuan ketika memang waktu tersadar yang dialami oleh orang yang pingsan ini masih mencukupi untuk melakukan shalatsecara sempurna. 

Sedangkan ketika masa tersadar yang dialami oleh seseorang sebelum ia pingsan tidak cukup untuk dibuat melakukan shalat secara sempurna, seperti hanya tersadar dalam waktu  satu menit setelah masuknya waktu shalat, dan jelas-jelas waktu satu menit tidaklah cukup untuk digunakan pelaksanaan waktu shalat sampai selesai, maka dalam keadaan demikian ia tetap tidak diwajibkan untuk mengqadha shalatnya. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Sullam at-Taufiq dan syarahnya, kitab Is’ad ar-Rafiq:

ــ )فَإِنْ طَرَأَ مَانِعٌ كَحَيْضٍ( أَوْجُنُوْنٍ أَوْإِغْمَاءٍ وَكَانَ طُرُوُّهُ )بَعْدَ مَا مَضَى مِنْ أَوَّلِ وَقْتِهَا مَا يَسَعُهَا) أَيْ يَسَعُ أَرْكَانَهَا فَقَطْ بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يُمْكِنُهُ تَقْدِيْمُ الطُّهْرِ عَلَى الْوَقْتِ كَسَلِيمٍ غَيْرَ مُتَيَمِّمٍ وَبَعْدَ أَنْ يَمْضِيَ مِنْهُ مَا يَسَعُهَا (وَطُهْرَهَا) بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ لاَيُمْكِنُهُ تَقْدِيْمُهُ (لِنَحْوِ سَلِسٍ لَزِمَهُ( بَعْدَ زَوَالِ الْمَانِعِ (قَضَاؤُهَا) أَيْ قَضَاءُ صَلاَةِ ذَلِكَ الْوَقْتِ ِلإِدْرَاكِهِ مِنْ وَقْتِهَا مَا يُمْكِنُهُ فِعْلُهَا فِيْهِ فَلاَ يَسْقُطُ بِمَا طَرَأَ 

“Jika perkara yang mencegah melakukan shalat ini datang, seperti haid, gila, pingsan, dan hal tersebut terjadi setelah masa yang cukup untuk melakukan shalat bagi orang yang dapat mendahulukan bersuci dari masuknya waktu, seperti orang yang selamat (dari hadats yang terus-menerus) yang tidak bersuci dengan tayammum. Atau udzur tadi datang setelah lewatnya waktu yang cukup untuk bersuci dan melakukan shalat bagi orang yang tidak dapat mendahulukan bersuci dari masuknya waktu, seperti karena faktor terkena tsalis (buang air terus-menerus) maka wajib baginya untuk mengqadha shalat pada waktu itu sebab ia menemui waktu (wajibnya) shalat pada masa yang mungkin untuk melakukan shalat, maka kewajiban shalat tidak menjadi gugur sebab udzur yang baru datang” (Syekh Muhammad bin Salim, Is’ad ar-Rafiq, juz 1, hal. 72)

Baca juga:
Baru Dapat Satu Rakaat, Tiba-tiba Masuk Waktu Shalat Lain, Bagaimana?
Cara Mengqadha Shalat yang Terlewat
Perincian hukum di atas berlaku bagi seseorang yang mendapati waktu shalat sebelum mengalami pingsan. Saat orang yang pingsan itu siuman maka ia menjadi wajib melaksanakan shalat yang ditinggalkan pada saat itu juga dan wajib pula baginya untuk mengqadha shalat sebelumnya ketika memang shalat tersebut dapat dijamak. Misalnya seseorang yang tersadar dari pingsannya pada saat waktu ashar, maka selain ia wajib melaksanakan shalat ashar, ia juga wajib melaksanakan shalat dzuhur, sebab kedua shalat ini dapat dijamak. 

Berbeda halnya ketika seseorang tersadar pada waktu subuh atau maghrib, maka ia hanya wajib melaksanakan shalat itu saja, tanpa wajib mengqadha shalat sebelumnya (isya' atau ashar)—karena  kedua shalat ini tidak dapat dijamak dengan shalat sebelumnya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang yang pingsan tidak wajib mengqadha shalatnya ketika masa pingsan yang dialaminya sampai menghabiskan waktu shalat, seperti pingsan sebelum masuknya waktu shalat dan tersadar ketika waktu shalat telah habis. Sedangkan ketika ia menemui waktu shalat sebelum pingsan, maka wajib baginya untuk  mengqadha shalat tersebut ketika telah tersadar. Wallahu a’lam.


(Ustadz Ali Zainal Abidin)


Tags:
Share:
Jumat 4 Januari 2019 18:0 WIB
Hukum Mengulang Shalat karena Merasa Tak Khusyuk
Hukum Mengulang Shalat karena Merasa Tak Khusyuk
Ilustrasi (NU Online)
Khusyuk adalah salah satu hal yang sangat dianjurkan oleh syariat orang-orang mukmin dalam melaksanakan shalat. Allah SWT berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ, الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang mukmin. Yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya” (QS. Al-Mu’minun, Ayat 1-2)

Khusyuk sendiri dapat dilakukan dengan cara tidak memikirkan segala hal dalam shalat kecuali pada hal yang berhubungan dengan rukun atau kesunnahan yang saat itu sedang dilakukannya, seperti bacaan dan gerakan shalat. Dengan memikirkan sesuatu yang tidak berhubungan dengan shalat yang sedang dilakukan maka seseorang sudah dianggap tidak khusyuk dalam shalatnya. 

Oleh mayoritas ulama anjuran khusyuk yang terdapat dalam dalil di atas dimasukkan dalam kategori hukum sunnah, bukan wajib. Sehingga ketika rukun-rukun dalam shalat sudah dilaksanakan dengan baik meski tanpa adanya kekhusyukan, maka shalatnya tetap dianggap sah dan tetap dapat menggugurkan kewajibannya.

Namun ada pula sebagian ulama yang berpandangan bahwa khusyuk dalam shalat merupakan salah satu syarat dalam keabsahan shalat, sehingga ketika seseorang kedapatan tidak khusyuk dalam shalatnya, maka shalat yang dilakukan dianggap tidak sah dan wajib untuk mengulang kembali shalatnya sampai bisa khusyuk. Pendapat ini salah satunya seperti yang diungkapkan oleh Imam al-Ghazali. 

Namun pendapat wajibnya khusyuk ini dipandang cukup berat untuk diamalkan karena khusyuk dalam shalat bukanlah hal yang mudah. Sehingga baiknya bagi kita untuk taqlid (mengikuti) pada ulama yang berpandangan bahwa khusyuk adalah hal yang sunnah, agar shalat kita tidak mudah distatuskan sebagai shalat yang tidak sah hanya karena ada bagian dalam shalat kita yang tidak dilakukan dengan khusyuk.

Gambaran tentang khusyuk salah satunya dijelaskan dalam kitab Fath al-Mu’in:

وسن فيها خشوع بقلبه بأن لا يحضر فيه غير ما هو فيه وإن تعلق بالآخرة وبجوارحه بأن لا يعبث بأحدها. وذلك لثناء الله تعالى في كتابه العزيز على فاعليه بقوله: * (قد أفلح المؤمنون الذين هم في صلاتهم خاشعون) * ولانتفاء ثواب الصلاة بانتفائه، كما دلت عليه الاحاديث الصحيحة ولان لنا وجها اختاره جمع أنه شرط للصحة.

“Disunnahkan dalam shalat untuk khusyuk dengan hati. Dengan gambaran sesorang tidak menghadirkan dalam shalat selain sesuatu yang sedang dilakukannya, meskipun berhubungan dengan akhirat. Dan disunnahkan khusyuk dengan anggota tubuh. Dengan gambaran tidak bermain-main dengan salah satu bagian dari anggota tubuh. Kesunnahan ini dikarenakan pujian Allah SWT pada orang yang khusyuk dalam kitab-Nya, dengan firmannya “Sungguh beruntung orang-orang mukmin. Yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya” dan dikarenakan sirnanya pahala shalat dengan tidak khusyuk, seperti halnya yang dijelaskan dalam beberapa hadis shahih. Dan juga dikarenakan adanya pandangan yang dipilih oleh golongan ulama bahwa sesungguhnya khusyuk ini adalah syarat sahnya shalat” (Syekh Zainuddin al-Maliabar, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 212)

Ketika berpijak pada pendapat mayoritas ulama bahwa khusyuk adalah kesunnahan shalat, maka ketika seseorang merasa bahwa shalatnya tidak khusyuk, tetap boleh baginya untuk mengulang kembali shalatnya, meskipun hal ini bukanlah sebuah kewajiban tapi hanya sebatas kesunnahan, seperti halnya sunnahnya mengulang kembali shalat fardhu secara umum. Sebab shalat yang dilakukan dengan tidak khusyuk tetap dihukumi sah sehingga tidak wajib untuk diulang kembali. Kekhusyukan adalah soal kualitas soal, bukan sah tidaknya shalat. 

Namun mengulang kembali shalat yang tidak khusyuk ini harus memenuhi beberapa syarat seperti halnya dalam mengulang shalat fardhu yang lain. Salah satu syarat tersebut adalah harus dilakukan dengan cara berjamaah, dilakukan saat waktu shalat masih berlangsung dan hanya dapat diulang satu kali saja. Sehingga mengulang shalat yang dipandang tidak khusyuk tidak boleh jika dilaksanakan sendirian atau di luar waktu shalat atau sampai mengulang shalat lebih dari satu kali.  Hal ini seperti yang dijelaskan dalam Hasyiyah al-Bujairami ala al-Khatib: 

قوله : (ويسن إعادة المكتوبة إلخ) حاصله أنه يشترط لصحة الإعادة الوقت ولو ركعة ، والجماعة من أولها إلى آخرها –إلى أن قال- وقال م ر : الجماعة في المعادة بمنزلة الطهارة لها ونية الفرضية ، وأن تكون الأولى صحيحة وإن لم تغنه عن القضاء ، وأن تكون مع من يرى جواز الإعادة أو ندبها ، فلو كان الإمام المعيد شافعيا والمأموم حنفي أو مالكي لا يرى جواز الإعادة لم تصح لأن المأموم يرى بطلان الصلاة فلا قدوة ، وأن تعاد مرة فقط .

“Disunnahkan mengulangi shalat fardhu. Kesimpulannya bahwa sesungguhnya disyaratkan dalam sahnya mengulangi shalat fardhu beberapa syarat. Pertama, dilakukan pada saat waktu shalat tersebut, meskipun hanya menemui satu rakaat. Kedua, dilakukan dengan cara berjamaah mulai awal shalat sampai akhir shalat. Imam Ramli berkata, 'Jamaah dalam shalat mu’adah (shalat yang diulang kembali) menempati posisi bersuci dan niat fardhu dalam shalat'. Ketiga, shalat yang pertama harus sah meskipun tidak mencukupi untuk qadha’. Keempat, dilaksanakan bersama orang yang berpandangan bolehnya mengulangi shalat atau sunnahnya mengulangi shalat. Jika imam yang mengulangi shalat bermazhab syafi’I, sedangkan makmumnya bermazhab Hanafi atau maliki yang tidak berpandangan bolehnya mengulang kembali shalat fardhu maka shalat yang dilakukan imam tersebut tidak sah, karena makmum berpandangan batalnya shalatnya (imam) maka tidak boleh untuk diikuti. Kelima, dilakukan hanya satu kali saja. (Syekh Sulaiman al-Bujairami, Hasyiyah al-Bujairami ala al-Khatib, juz 5, hal. 78)

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa mengulang kembali shalat karena merasa tidak khusyuk adalah hal yang disunnahkan menurut mayoritas ulama dan pelaksaannya harus memenuhi syarat-syarat yang telah dijelaskan di atas. Namun menurut ulama yang berpandangan bahwa khusyuk merupakan syarat sah shalat, maka mengulang kembali shalat karena merasa tidak khusyuk adalah suatu kewajiban. Kedua pendapat ini sama-sama dapat diikuti dan dijadikan pijakan, tinggal pendapat mana yang sesuai dengan kecenderungan dan keyakinan kita masing-masing.  Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Rabu 26 Desember 2018 18:0 WIB
Kapan Makmum Masbuq Disunnahkan Mengangkat Kedua Tangan?
Kapan Makmum Masbuq Disunnahkan Mengangkat Kedua Tangan?
Ilustrasi (wikipedia)
Kesunnahan dalam shalat secara umum terbagi menjadi dua, yaitu sunnah ab’ad dan sunnah hai’at. Sunnah ab’ad adalah kesunnahan yang jika tidak dilakukan maka disunnahkan menggantinya dengan sujud sahwi. Sedangkan sunnah hai’at sebaliknya, kesunnahan yang jika tidak dilakukan maka tidak disunnahkan sujud sahwi. Salah satu bagian dari sunnah ab’ad adalah kesunnahan mengangkat tangan pada saat takbir dalam rukun-rukun tertentu. 

Mengangkat tangan disunnahkan dalam beberapa tempat, yaitu ketika takbiratul ihram, ruku’, i’tidal dan ketika bangkit dari rakaat kedua atau ketika setelah selesai tasyahud awal. Kesunnahan mengangkat tangan ini salah satunya dijelaskan dalam hadits:

كان إذا دخل في الصلاة كبّر ورفع يديه وإذا ركع رفع يديه، وإذا قال: سمع الله لمن حمده رفع يديه، وإذا قام من الركعتين رفع يديه

“Rasulullah ketika melaksanakan shalat, bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Dan ketika hendak ruku’, beliau mengangkat kedua tangannya. Dan ketika mengucapkan ‘Sami‘allâhu li man hamidahu’ mengangkat kedua tangannya. Dan ketika bangkit dari dua rakaat, beliau mengangkat kedua tangannya.” (HR. Bukhari)

Sedangkan cara melaksanakan kesunnahan mengangkat tangan yang paling sempurna adalah dengan cara menyejajarkan ujung jari-jari dengan bagian telinga yang paling atas, kedua jempol sejajar dengan janur telinga dan kedua telapak tangan sejajar dengan kedua pundak, seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Fiqhu ala al-Madzahib al-Arba’ah:

الشافعية قالوا: الأكمل في السنة هو رفع اليدين عند تكبيرة الإحرام والركوع والرفع منه وعند القيام من التشهد الأول حتى تحاذي أطراف أصابعه أعلى أذنيه وتحاذي إبهاماه شحمتي أذنيه, وتحاذي راحتاه منكبيه للرجل والمرأة, أمّا أصل السنة فتحصل ببعض ذلك.

“Mazhab Syafi’iyah berpandangan bahwa kesunnahan yang paling sempurna adalah dengan cara mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram, ruku’, bangkit dari ruku’ (i’tidal), dan ketika berdiri dari tasyahud pertama. Mengangkat tangan ini sekiranya ujung jari-jari tangan sejajar dengan bagian telinga yang paling atas, kedua jempol sejajar dengan janur telinga dan kedua telapak tangan sejajar dengan dua pundak. Baik bagi laki-laki ataupun perempuan. Adapun asal kesunnahan maka sudah cukup dengan melaksanakan sebagian dari ketentuan tersebut. (Syekh Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqhu ala al-Madzahib al-Arba’ah, Juz 1, hal. 224)

Namun kesunnahan mengangkat tangan setelah tasyahud awal dalam permasalahan di atas, hanya berlaku bagi orang yang memang berada pada rakaat kedua baik ketika shalat sendirian atau dalam keadaan bermakmum pada imam sejak rakaat pertama. Lalu bagaimana dengan makmum masbuq (telat)?

Dalam hal ini, makmum masbuq yang mendapati imam tidak pada rakaat pertama tidak disunnahkan mengangkat kedua tangannya, meskipun tetap disunnahkan baginya melafalkan takbir intiqal (takbir perpindahan rukun) sebab hitungan rakaat kedua hanya berlaku bagi imam, tidak bagi dirinya. Hal ini ditegaskan dalam kitab Tuhfah al-Habib ala Syarh al-Khatib

ـ (وعند القيام إلى الثالثة من التشهد الأول) لعلّ المراد التشهد الأول بالنسبة للمصلّي. فلا يرفع إذا أدرك الإمام في الثانية

“Dan (disunnahkan mengangkat tangan) ketika berdiri menuju rakaat ketiga dari tasyahud awal. Mungkin hal yang dikehendaki (pengarang kitab) adalah tasyahud awal ketika dinisbatkan pada orang yang shalat. Maka tidak disunnahkan mengangkat tangan bagi orang yang shalat ketika bermakmum pada imam pada rakaat kedua.” (Syekh Sulaiman al-Bujairami, Tuhfah al-Habib ala Syarh al-Khatib, Juz 2, hal. 211)

Maka dengan demikian, makmum masbuq hanya disunnahkan mengangkat tangan pada saat takbiratul ihram, ruku’, i’tidal dan ketika bangkit dari tasyahud awal yang dinisbatkan pada dirinya sendiri bukan tasyahud awal yang dinisbatan pada imam, seperti ia mendapati imam pada shalat maghrib di rakaat kedua, maka setelah rakaat ketiga imam, ia disunnahkan takbir intiqal sekaligus mengangkat kedua tangannya, sebab dalam hal ini, tasyahud akhir dari imam merupakan tasyahud awal bagi makmum masbuq tersebut. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Selasa 25 Desember 2018 15:0 WIB
Yakin Punya Utang Shalat tapi Lupa Shalat Apa, Bagaimana?
Yakin Punya Utang Shalat tapi Lupa Shalat Apa, Bagaimana?
Shalat merupakan salah satu ibadah yang sangat ditekankan agama. Berulang kali kata shalat disebutkan dalam ayat Al-Qur’an. Kewajiban shalat lima waktu diterima langsung Rasulullah dari Allah saat peristiwa Isra’ Mi’raj, tanpa perantara malaikat Jibril, tidak seperti kewajiban lainnya. Yang demikian menunjukan begitu besarnya urusan shalat. 

Seseorang yang meninggalkan shalat, baik lupa, tertidur, disengaja atau faktor lainnya, wajib mengqadhanya (menggantinya). Sebagaimana ditegaskan oleh Nabi:

من نسي صلاة أو نام عنها فكفارتها أن يصليها إذا ذكرها

“Barangsiapa lupa shalat atau tertidur, maka gantinya adalah melakukan shalat tersebut ketika ia ingat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kewajiban mengqadha shalat yang ditinggalkan karena sengaja dianalogikan dengan meninggalkan shalat karena lupa atau tertidur dengan pola qiyas aulawi (analogi “apalagi”). Jika meninggalkan shalat secara tidak sengaja saja wajib mengqadha, apalagi meninggalkan shalat secara sengaja.

Persoalan muncul ketika seseorang yakin memiliki tanggungan shalat, namun ia tidak ingat secara persis jenis shalatnya, apakah Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’, atau Subuh. Bagaimana cara mengqadhanya?

Seseorang yang yakin meninggalkan shalat fardhu, namun ia tidak mengetahui persis jenis shalatnya, maka ia wajib melaksanakan lima shalat fardhu. Hal ini dilakukan agar tanggungan qadha shalatnya bisa gugur secara yakin. Sebab tidak mungkin tanggungan shalatnya terbayarkan secara yakin tanpa melaksanakan semuanya. Misal hanya mengqadla Zhuhur dan Ashar, ternyata yang ditinggalkan adalah Maghrib.
Persoalan ini oleh al-Imam al-Asnawi masuk dalam kaidah fiqih “suatu aktivitas yang menjadi jalan sempurnanya suatu kewajiban, maka hukum aktivitas itu juga wajib dilakukan.” Beliau dalam karya monumentalnya tentang kaidah fiqih, “al-Tamhid” berkata:

 الأمر بالشيء هل يكون أمرا بما لا يتم ذلك لشيء إلا به وهو المسمى بالمقدمة أم لا يكون أمرا به فيه مذاهب أصحها عند الإمام فخر الدين وأتباعه وكذا الآمدي أنه يجب مطلقا ويعبر عنه الفقهاء بقولهم مالا يتأتى الواجب إلا به فهو واجب

“Memerintahkan perkara apakah juga memerintahkan perkara yang menjadi penyempurnanya? Hal tersebut disebut dengan muqaddimah. Dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat. Pendapat yang paling benar hukumnya wajib secara mutlak. Pendapat ini sebagaimana didukung oleh al-Imam Fakhruddin al-Razi dan pengikutnya, demikian pula al-Imam al-Amudi. Para pakar fiqih meredaksikannya dengan ungkapan, ‘suatu aktivitas yang menjadi jalan sempurnanya suatu kewajiban, maka hukum aktivitas itu juga wajib dilakukan’.”

إذا علمت ذلك فيتخرج على هذه القاعدة مسائل الى أن قال الثالثة إذا نسي صلاة من الخمس ولم يعلم عينها فيلزمه الخمس

“Bila kamu mengetahui penjelasan tersebut, maka beberapa masalah terproduksi dari kaidah ini. Masalah yang ketiga, apabila seseorang lupa satu shalat dari lima waktu dan ia tidak mengetahui persisnya, maka wajib mengganti lima waktu shalat.” (Abu Muhammad Jamaluddin Abdurrahim bin al-Hasan al-Asnawi, al-Tamhid Fi Takhrij al-Furu’ ‘ala al-Ushul, hal. 83 dan 85)

Penuturan Syekh al-Asnawi di atas juga senada dengan beberapa kitab fiqih mazhab Syafi’i. Misalkan salah satu guru besar ulama mazhab Syafi’i, Syekh Abu Ishaq al-Syairazi mengatakan:

ومن نسي صلاة من الخمس ولم يعرف عينها لزمه أن يصلي الخمس

“Orang yang lupa meninggalkan satu shalat dari lima shalat fardhu dan ia tidak mengetahui persisnya, maka wajib baginya lima shalat fardhu.” (Syekh Abu Ishaq al-Syairazi, al-Tanbih fi al-Fiqh al-Syafi’i, hal. 31)

Bila saat mengqadhanya dalam kondisi mungkin berwudhu, maka cukup dilakukan dengan satu kali wudhu untuk kelima-limanya. Namun saat mengqadhanya dalam kondisi bertayamum, misal karena sakit, maka menurut pendapat al-Ashah (yang paling kuat), lima shalat tersebut cukup dilakukan dengan satu kali tayamum. Pendapat ini berargumen bahwa yang berstatus shalat fardhu hanya satu shalat saja, sedangkan yang lainnya hanya sebagai perantara menggugurkan kewajiban. 

Sementara menurut pendapat yang lemah, wajib dilaksanakan dengan lima kali tayamum untuk masing-masing shalatnya, sebab pendapat ini tidak membedakan antara kewajiban atas jalan hukum asal dan wasilah, “al-wajib ashalatan wa al-wajib wasilatan”.

Keterangan tersebut sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Muhmmad bin Ahmad al-Ramli sebagai berikut:

و الأصح أن من نسي إحدى الخمس ولم يعلم عينها وجب عليه أن يصلي الخمس لتبرأ ذمته بيقين ، وإذا أراد ذلك كفاه تيمم لهن لأن الفرض واحد وما عداه وسيلة، والثاني يجب خمس تيممات لوجوب الخمس

“Menurut al-Ashah, orang yang lupa salah satu dari lima shalat dan tidak mengetahui persisnya, wajib baginya lima shalat untuk membebaskan tanggungannya secara yakin. Bila ia hendak melakukannya, maka cukup baginya satu kali tayamum untuk lima shalat tersebut, sebab shalat fardhunya hanya satu, yang lain hanya sebagai wasilah (perantara). Dan menurut pendapat kedua, wajib lima kali tayamum, karena wajibnya lima shalat tersebut”. (Syekh Muhammad bin Ahmad al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, juz 1, hal. 314).

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan. Kami terbuka untuk menerima kritik dan saran. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)