IMG-LOGO
Ilmu Al-Qur'an

Imam Qalun dan Jalur Ilmu Qira’atnya

Sabtu 5 Januari 2019 20:15 WIB
Share:
Imam Qalun dan Jalur Ilmu Qira’atnya
(Foto: @islamivilla.com)
Guru yang berkualitas akan melahirkan generasi yang berkualitas pula. Barang kali ungkapan ini benar dan tepat disematkan kepada Imam Nafi’ dan muridnya Imam Qalun. Kedua muqri’ kelahiran Madinah ini merupakan muqri’ kenamaan yang amat terkenal atas kualitas keilmuannya.

Imam Nafi’ sebagaimana telah disinggung pada edisi yang lalu merupakan muqri’ kenamaan yang memiliki keluasan ilmu dan budi pekerti yang halus. Tidak sedikit para ulama, baik yang semasa maupun yang setelahnya, mengapresiasinya atas keluasan ilmunya dalam bidang ilmu qira’at dan bahasa Arab.

Dalam bidang ilmu qira’at, ada dua perawi termasyhur yang meriwayatkan bacaan Imam Nafi’ hingga sampai kepada kita, yaitu Imam Warsy dan Imam Qalun. Jika Imam Warsy adalah perawi yang dari luar Madinah, yakni dari Mesir, maka Imam Qalun adalah perawi dari dalam Madinah.

Selain sebagai perawi, Imam Qalun sekaligus sebagai anak tiri dari Imam Nafi’. Dari Imam Nafi’, ia mendapatkan pendidikan yang baik, bernafaskan qur’ani sehingga ia menjadi seorang qari’ yang mutqin dan baik bacaannya.

Nama lengkapnya adalah Isa bin Mina bin Wardan bin Isa bin Abdussamad bin Umar bin Abdullah Al-Zuraqi. Ia lebih dikenal dengan panggilan “Qalun”, yang berarti baik atau bagus dalam bahasa Romawi. Panggilan “Qalun” ini merupakan apresiasi seorang guru, Imam Nafi’ kepada Imam Qalun atas prestasi dan keindahan bacaannya.

Ia dilahirkan pada tahun 120 H pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik.

Perjalanan Intelektual
Pada tahun 150 H masa kekhalifahan Al-Mansur, ia belajar Al-Qur’an dan qira’atnya kepada Imam Nafi’. Ia mulazamah (selalu bersama) Imam Nafi’ selama puluhan tahun, bahkan tak terhitung berapa kali ia menghatamkan bacaan Al-Qur’an dan qira’atnya kepada Imam Nafi’.

Ketika ditanyakan kepadanya berapa kali membaca Al-Qur’an kepada gurunya, ia menjawab, “Tak terhitung jumlahnya, bahkan setelah rampung pun saya masih mulazamah dengannya selama dua puluh tahun, hingga Imam Nafi’ berkata kepadaku. Sungguh banyak kamu membaca dan menghatamkan Al-Qur’an kepadaku, duduklah di tiang pojok itu sehingga saya kirim santri untuk mengaji kepadamu.”

Bacaan yang dipelajari Imam Qalun dari Imam Nafi’ tidak lain merupakan bacaan yang diriwayatkan dari Imam Ja’far Al-Qa’qa’ disertai bacaan atas pilihannya sendiri, yaitu penggabungan antara bacaan Imam Abi Ja’far dan bacaan Imam Nafi’.

Sebagaimana dijelaskan pada edisi yang lalu bahwa Imam Nafi’ memiliki banyak guru, salah satunya adalah Imam Abi Ja’far Al-Qa’qa’, Al-A’raj, Syaibah bin Nashshah, Muslim bin Jundub dan Az-Zuhri. Dari beberapa guru ini, Imam Nafi’ melakukan seleksi bacaan, yaitu mengambil bacaan yang sama di antara guru-gurunya, dan meninggalkan bacaan yang berbeda.

Hasil dari penyeleksian inilah kemudian dijadikan kaidah tersendiri oleh Imam Nafi’, yang kemudian dikenal luas oleh para generasi berikutnya sebagai qira’ah Imam Nafi’.

Selain belajar kepada Imam Nafi’, ia juga belajar kepada Imam Isa bin Wardan; salah satu perawi Imam Ja’far Al-Qa’qa’.

Dalam bidang hadits, selain meriwayatkan dari Imam Nafi’, ia juga meriwayatkan dari Muhammad bin Ja’far bin Abi Katsir, dan Abdurrahman bin Abi Ziyad.

Ia termasuk hamba Allah yang diberikan panjang umur sehingga dapat mengajarkan dan melestarikan bacaan Imam Nafi’–sebagai perawinya–sehingga menjadi masyhur keindahan suaranya.

Keistimewaan Imam Qalun
Setiap hamba Allah yang tulus, Allah akan memberikan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh hamba-Nya yang lain.

Diriwayatkan bahwa Imam Qalun memiliki pendengaran yang tidak baik, sampai-sampai tidak bisa mendengar bunyi petir. Namun di balik kekurangan itu, Allah mengistimewakan pendengarannya dengan mampu mendengar Al-Qur’an secara jelas.

Setiap santri yang menyetor atau membaca Al-Qur’an kepadanya, ia mampu memperbaiki dan membenarkan kesalahan yang dilakukan oleh sang murid dengan melihat gerak lisannya.

Sebagian riwayat menceritakan bahwa kekurangan yang dimiliki Imam Qalun ini ada sejak lahir, namun ada pula yang menyatakan bahwa karena faktor usia. Walhasil, bagaimana pun keadaannya, ia adalah kekasih Allah yang diberikan keistimewaan atas ketulusan dan keluasan ilmunya.

Para Murid Imam Qalun
Setelah guru sekaligus bapak tirinya wafat, Imam Qalun melanjutkan estafet pengajaran Al-Qur’an dan qira’atnya di Madinah sehingga banyak yang membaca dan belajar kepadanya, baik dari dalam Madinah maupun dari luar Madinah.

Namun dari sekian banyak murid yang membaca dan belajar kepadanya ada beberapa yang paling terkenal, salah satunya adalah Imam Abu Nasyith dan Ahmad Al-Hulwani.

Perlu diketahui bahwa dalam disiplin ilmu qira’at, ada beberapa istilah dalam pemetaan transmisi jalur sanad.

Secara hirarki transmisi sanad, Imam Nafi’ disebut sebagai Imam Qira’at (qira’at Nafi’). sedangkan Imam Qalun disebut sebagai perawi (riwayat Qalun). Sementara Imam Abu Nasyith dan Ahmad Al-Hulwani disebut sebagai thariq (perawi dari perawi).
1. Imam Abi Nasyith
Imam Abu Nasyith bernama lengkap Muhammad bin Harun. Ia bergelar Al-Hafidz dan Al-Muqri’. Di kalangan ulama hadits ia dikenal dengan predikat “tsiqah”.

Ia lahir pada tahun sekitar 180-an H dan wafat pada tahun 258 H.

Jalur periwayatan yang dinukil dari Abu Nasyit ini termaktub dalam kitab “Hirz Amani wa Wajhut Tahani” atau yang lebih dikenal dengan “As-Syatibiyah” karya Imam Abil Qasim bin Firruh, terkenal dengan sebutan Imam Syatibi. Jalur periwayatan ini dalam dunia ilmu qira’at disebut dengan “Qira’at Sughra”.

2. Imam Al-Hulwani
Imam Al-Hulwani nama lengkapnya adalah Ahmad bin Yazid Al-Hulwani. Ia merupakan salah satu qari’ yang banyak melakukan perjalanan jauh dan mengabdi untuk Al-Qur’an, membaca dan mengajarkannya di Kota Rai. Ia wafat pada tahun 250 H.

Jalur periwayatan yang dinukil dari Imam Al-Hulwani terhimpun dalam kitab “Al-Nasyr fil Qira’atil Asyr” karya Imam Al-Jazari. Jalur periwatan ini dalam dunia ilmu qira’at disebut dengan “Qira’at Kubra”.

Imam Qalun dengan pengabdiannya yang tidak ternilai sehingga melahirkan generasi yang bermanfaat kepada seluruh umat, karya-karyanya utuh dan sempurna, yaitu generasi yang melanjutkan estafet bacaannya hingga sampai kepada kita.

Setelah pengabdiannya berkhidmah kepada Al-Qur’an yang cukup lama, ia dipanggil ke hadirat-Nya pada tahun 220 H pada masa pemerintahan Khalifah Al-Makmun.

Semoga Allah menganugerahkan aliran berkah ilmunya sampai kepada kita. Amin. Wallahu a‘lam bis shawab.

(Tulisan disadur dari Kitab “Tarikhul Qurra’ Al-Asyrah war Ruwatuhum” karya Syekh Abdul Fattah Al-Qadhi, halaman 13, dan Kitab “Siyar ‘A’lamin Nubala’, halaman 403, dan Kitab “Makrifatul Qurra’ Al-Kibar ‘alat Thabaqat wal A’shar” karya Imam Ad-Dzahabi halaman 93, dan dari hasil talaqqi kepada guru).


Mohammad Fathurrozi
(Dosen Ilmu Al-Quran di Jawa Timur)
Share:
Kamis 20 Desember 2018 9:0 WIB
Warsy, Imam Qira’at yang Bersuara Indah
Warsy, Imam Qira’at yang Bersuara Indah
Ilustrasi (via Pinterest)
Ada ungkapan bahwa Al-Qur’an diturunkan di tanah Hijaz, ditulis di Turki dan dibaca dan dipelajari di Mesir. Sepertinya, ungkapan itu ada benarnya, sebab dari rahim Mesirlah lahir imam-imam qira’at, para ahli dalam bidang qira’at yang menjaga nilai-nilai transmisi periwatan Al-Qur’an, salah satunya adalah Imam Warsy.

Nama lengkapnya adalah Utsman bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin Sulaiman bin Ibrahim, panggilannya Abu Sa’id. Leluhur beliau berasal dari daerah Qairuwan (kota yang terletak di Negara Tunisia), namun beliau lahir dan tumbuh besar di Mesir pada tahun 110 H di kota Qaft, wilayah Shoid (dataran tinggi: pegunungan).

Dalam dunia intelektual Muslim, Imam Utsman ini lebih dikenal dengan julukan Imam Warsy, yang merupakan panggilan dari gurunya, Imam Nafi’. Menurut riwayat, julukan Warsy disematkan kepada Imam kelahiran Mesir ini dikarenakan gerak langkah beliau yang lamban. Kata warsy (ورش) berasal dari kata warasyan (ورشان) yang berarti seekor burung yang mirip merpati putih. Kata warasyan ini kemudian disingkat menjadi “Warsy”. 

Sementara, sebagian riwayat lain menceritakan bahwa alasan utama disematkannya julukan Warsy kepada beliau ini karena kulit beliau yang berwarna putih. Sebab dalam bahasa Arab, kata Warsy berarti sesuatu yang dibuat dari susu. 

Julukan Warsy sangat melekat dalam diri Imam Utsman, sehingga beliau tidak dikenal kecuali dengan julukan tersebut. Beliaupun sangat menyukai julukan ini. Ketika seseorang bertanya perihal julukan tersebut, beliau menjawab: guruku yang menyematkan julukan itu.

Dari segi fisik, beliau memiliki perawakan yang tidak terlalu tinggi, mungil, gemuk, berambut pirang, memiliki bola mata yang berwarna hijau serta warna kulit yang putih. 

Perjalanan Intelektual

Pada tahun 155 H, Imam Warsy berangkat merantau ke Madinah. Keberangkatan ini bukan bertujuan untuk menunaikan ibadah haji atau berdagang, akan tetapi hanya untuk belajar qira’at kepada Imam Nafi’ yang berdomisili di sana. 

Dikisahkan bahwa Imam Warsy berangkat dari Mesir menuju Madinah untuk belajar kepada Imam Nafi’. Ketika beliau sudah sampai di Madinah, beliau langsung menuju ke masjid Imam Nafi’ untuk mengikuti pengajiannya. 

Dalam pengajiannya, Imam Nafi’ hanya mengajarkan 30 ayat saja kepada murid-muridnya, karena banyaknya murid yang hadir. Melihat keadaan yang demikian, maka beliau pindah ke belakang pengajian (halaqah) dan bertanya kepada seseorang tentang murid senior Imam Nafi’ yang bisa beliau temui. Maka diantarkanlah beliau untuk menemui salah seorang murid senior Imam Nafi’ yaitu Kabir al-Ja’farain (murid senior Imam Ja’far bin Qa’qa’ yang melanjutkan belajar kepada Imam Nafi’). 

Baca juga:
Nafi’ al-Madani, Imam Qira'at yang Berguru pada 70 Tabi'in
Kenapa Bacaan Al-Qur’an Disandarkan kepada Imam Qira'at, Bukan Nabi?
Ragam Bacaan Ta’awudz Menurut Qira’at Asyrah
Ketika bertemu dengan Kabir al-Ja’farain, beliau berkeluh kesah tentang kesulitan yang beliau alami dalam menimba ilmu kepada Imam Nafi’ dan meminta Kabir al-Ja’farain untuk bersedia menjadi perantara beliau untuk menemui Imam Nafi’. Kabir al-Ja’farain pun bersedia dengan senang hati mengantarkan beliau menemui Imam Nafi’. 

Saat bertemu Imam Nafi’, Kabir al-Ja’farain menyampaikan kepada gurunya tersebut bahwa ada seorang yang datang dari Mesir khusus untuk menimba ilmu qira’at kepada beliau tanpa ada tujuan yang lain. 

Imam Nafi’ pun menerima beliau sebagai murid dan meminta kepada Imam Warsy untuk bersedia tinggal di masjid selama belajar. Karena keinginan kuat untuk belajar qiraat, dengan lapang dada beliau menerima permintaan calon gurunya tersebut untuk tinggal di masjid. Sejak saat itulah beliau secara maksimal belajar kepada Imam Nafi’.  

Kepada Imam Nafi’ inilah beliau belajar Al-Qur’an dan qira’atnya, serta menghatamkannya berulang kali. Sebagian riwayat mengatakan bahwa beliau mengkhatamkan Al-Qur’an hingga empat kali dalam satu bulan. Dalam artian bahwa setiap minggu beliau dapat mengkhatamkan Al-Qur’an. Setelah dirasa cukup untuk berguru kepada Imam Nafi’, beliau memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan mengamalkan ilmu yang beliau miliki. Keaktifan dan kepiawaian beliau dalam menyampaikan ilmu, menjadikan beliau sebagai rais qurra’ (pemuka qari’) ternama pada masanya. Tidak ada orang yang dapat menggantikan posisi dan kedalaman ilmu yang beliau miliki dalam bidang linguistik Arab dan tajwid. Imam Warsy juga memiliki suara yang memukau serta bacaan yang indah, sehingga membuat setiap orang berdecak kagum dan tidak bisa berpaling ketika mendengarkan bacaannya.

Perlu diketahui bahwa sebelum beliau belajar dan meriwayatkan qira’at Imam Nafi’, Imam Warsy adalah seorang imam qari’ di negaranya, Mesir dan memiliki bacaan yang berbeda dengan guru beliau. Hanya saja, cuma bacaan Imam Nafi’ yang beliau ajarkan, sementara bacaan beliau sendiri tidak banyak yang meriwayatkan, sehingga tidak dikenal masyarakat dan khalayak umum.

Komentar Ulama

Imam al-Dzahabiy mengatakan: Dia (Warsy) adalah Imam yang tsiqah dalam melafalkan huruf-huruf Al-Qur’an dan menjadi hujjah bagi generasi setelahnya. Sedangkan dalam bidang hadis, imam al-Dzahabiy tidak memberi komentar apapun.

Imam Al-Hafidz Abu al-’Ala’ berkata: Imam Warsy adalah imam yang tsiqah dan hujjah dalam bidang qira’at.

Imam Azraq berkata: Imam Warsy setelah mahir dalam bidang linguistik Arab, beliau mulai merintis membuka sebuah lembaga yang dikenal dengan “maqra’ah Warsy”.

Murid-murid Imam Warsy

Imam Warsy memiliki murid yang tidak sedikit dalam meriwayatkan bacaannya, namun yang termasyhur adalah: Abu Ya’kub al-Azraq dan Muhammad bin Abdurrahim al-Asbahaniy.

Abu Ya’kub al-Azraq dikenal sebagai penerus yang menjaga tonggak estafet bacaan beliau yang dipelajari dari Imam Nafi’.Dalam disiplin ilmu Qira’at, al-Azraq ini dikenal sebagai thariq (jalur perawi). Bacaan (riwayat Imam Warsy) ini tidak dikenal kecuali hanya di beberapa negara, seperti Maroko, Al-Jazair, Mauritania, sebagian Negeria dan Sudan. 

Diceritakan bahwa Imam al-Azraq meminta kepada Imam Warsy untuk mengajarkan bacaan Imam Nafi’ secara komprehensif tanpa ada campuran dari periwayatan lain. Untuk mencapai keinginannya, al-Azraq senantiasa bersama Imam Warsy dan tinggal bersama beliau dalam kurun waktu yang cukup lama. Dalam kesempatan tersebut, al-Azraq berhasil menghatamkan bacaan dari qira’at Imam Nafi’ yang disetorkan kepada Imam Warsy sebanyak dua puluh kali, baik dengan bacaan pelan (tahqiq) yang dipelajari ketika berada di Masjid Abdullah, maupun bacaan cepat (hadr) yang dipelajari ketika berada di Iskandariah.

Di negeri seribu menara, Mesir, beliau mengembuskan napas terakhir pada tahun 197 H. Tepatnya pada masa pemerintahan al-Ma’mun di usia beliau yang mencapai 87 tahun. Semoga ilmu beliau selalu mengalir kepada kita semua. Amin.


Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo


Tulisan ini disadur dari karya Syekh al-Dzahabiy “Ma’rifat al-Qurra’ al-Kibar ala Tabaqat wa al-A’sar” (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, tt) dan “Siyar ‘A’lam al-Nubala’” (Kairo: Dar al-Hadits, 2006); serta karya Syekh Abdul Fattah al-Qadhi “Tarikh al-Qurra’ al-Asyrah..” (Kairo: Maktabah al-Qahirah, 2010).

Selasa 11 Desember 2018 20:25 WIB
Nafi’ al-Madani, Imam Qira'at yang Berguru pada 70 Tabi'in
Nafi’ al-Madani, Imam Qira'at yang Berguru pada 70 Tabi'in
Ilustrasi ( aboutislam.net)
Pada masa Nabi, Madinah merupakan pusat peradaban dan ilmu pengetahuan. Karena ia merupakan madrasah pertama tentang pengajaran Al-Qur’an juga qira’atnya kepada para sahabat. Dari sanalah muncul para sahabat ahli Al-Qur’an dan qira’at semisal Utsman bin Affan, Ubay bin Ka’ab, dan Zaid bin Tsabit. 

Setelah Nabi wafat, pengajaran Al-Qur’an dan qira’atnya tetap berlangsung dan eksis dilaksanakan oleh para sahabat kepada para tabi’in. Dari para sahabat itulah para tabi’in memperoleh ilmu dan bacaan Al-Qur’an secara mutawatir dari Nabi. Sebagian dari tabi’in inilah ada yang memiliki perhatian yang sangat besar terhadap Al-Qur’an dan qira’atnya, hingga kemudian dikenal sebagai ahli qira’at, salah satunya adalah Imam Nafi’. Nama lengkapnya Nafi’ bin Abdurrahman bin Abu Nu‘aim al-Madani atau biasa dikenal dengan julukan Abu Ruwaim.

Pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan (salah satu khalifah dari Bani Umayyah), Imam Nafi’ yang dilahirkan sekitar tahun tujuh puluh hijriah adalah salah satu ahli qira’at dari tujuh imam qira’at mutawatirah dan termasuk ulama yang berjuluk Al-Allamah, saleh serta memiliki kredibilitas dan kapabelitas yang sangat tinggi. 

Imam Nafi’ ini sebenarnya berasal dari Negara Asbahan, namun beliau tumbuh besar dan menetap di Madinah hingga ajal menjemputnya. 

Dari segi fisik, beliau memiliki tipikal kulit hitam legam, namun memancarkan aura wajah yang menawan serta budi pekerti yang luhur penuh wibawa. 

Perjalanan Intelektual

Imam Nafi’ dalam pengakuannya—sebagaimana diceritakan oleh Abu Qurrat Musa bin Thariq—dikatakan bahwa beliau berguru kepada tujuh puluh tabi’in, di antaranya adalah Imam Abu Ja’far (imam qira’at kedelapan), Syaibah bin Nashah, Muslim bin Jundub, Yazid bin Ruman, Muhammad bin Muslim bin Syihab al-Zuhri, Abdurrahman bin Hurmuz al-A’raj. 

Dari sekian banyak gurunya inilah, Imam Nafi’ melakukan seleksi bacaan, yaitu mengambil bacaan yang sama di antara guru-gurunya, dan meninggalkan bacaan yang berbeda. Hasil dari penyeleksian inilah kemudian dijadikan kaidah tersendiri oleh Imam Nafi’, yang kemudian dikenal luas oleh para generasi berikutnya sebagai qira’at Imam Nafi’. 

Dalam perjalanan hidupnya, Imam Nafi’ merupakan salah satu dari sekian banyak ulama yang mencurahkan waktunya untuk berkhidmah kepada Al-Qur’an dan qira’atnya. Sebagai buktinya, beliau telah mengajarkan Al-Qur’an beserta qira’atnya dalam kurun waktu lebih dari tujuh puluh tahun dan menjadi rujukan utama dalam bidang qira’at di Madinah setelah kepulangan salah satu gurunya, Imam Ja’far bin al-Qa’qa’.

Dalam bidang hadits, beliau sangat sedikit sekali meriwayatkan hadits Nabi. Namun hal tersebut tidak mengurangi kredibilitas dan kapabilitas beliau sebagai ahli qira’at. Karena hal ini justru menunjukkan konsistensi beliau dalam mengabdikan hidup untuk menyelami lautan ilmu qira’at.

Karamah Imam Nafi’

Imam Nafi’ adalah seorang ahli Al-Qur’an yang dianugerahi Allah beberapa karamah. Di antaranya, beliau memiliki bau harum yang keluar dari lisannya. 

Diceritakan bahwa jika beliau berbicara, maka terciumlah aroma harum minyak misk yang keluar dari lisannya. Ketika ditanya oleh salah seorang muridnya, “Apakah Guru memakai minyak wangi jika hendak mengajar?” Beliau menjawab, “Aku tidak pernah mendekati minyak wangi apalagi menyentuhnya. Suatu saat aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan beliau membaca Al-Qur’an persis di depan lisanku. Sejak saat itulah keluar bau harum dari lisanku.”

Selain kelebihan tersebut, Imam Nafi’ juga memiliki kelebihan yang lain, yaitu wajah yang selalu berseri-seri dan budi pekerti yang luhur. Imam al-Musayyibi berkata, ketika ditanyakan kepada Imam Nafi’ tentang hal tersebut (wajahnya yang selalu berseri-seri), beliau menajawab: “Bagaimana aku tidak berseri-seri, sementara Rasul menyalamiku dalam mimpi dan kepada Beliau aku membaca Al-Qur’an.”

Komentar Ulama

Terdapat banyak komentar dari para ulama, baik yang semasa maupun yang hidup setelahnya, perihal pribadi dan bacaan Imam Nafi’. Namun, komentar-komentar yang ditujukan kepada beliau mengarah pada satu kesimpulan, yaitu pujian. Dalam istilah ilmu hadits disebut dengan ta’dil. Di antara komentar-komentar tersebut ialah:

Imam Ibnu Mujahid berkata: “Imam Nafi’ adalah orang yang eksis dalam bidang qira’at setelah periode tabi’in di Madinah. Ia sangat mahir dan teliti dalam bidang wajah-wajah qira’at dengan mengikuti jejak imam-imam terdahulu di Negaranya”.

Imam Sa’id bin Mansur berkata: Saya mendengar Malik bin Anas berkata: “Bacaan ahli Madinah adalah sunnah (yang dipilih). Kemudian ditanyakan kepada beliau: “Apakah yang dimaksud (bacaan ahli Madinah) adalah bacaan imam Nafi’? Beliaupun menjawab: ya.

Imam ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: saya bertanya kepada bapakku (Imam Ahmad) “bacaan siapakah yang bapak sukai? Beliau menjawab: “Bacaan ahli Madinah (Imam Nafi’). Selain itu, bacaan siapa yang bapak sukai? Beliau menjawab: Qira’at Imam ‘Asim.

Komentar tentang beliau tidak hanya datang dari orang lain, namun juga datang dari anak tiri beliau yang sekaligus menjadi perawinya yang terkenal, yaitu: imam Qalun. Beliau berkata: Imam Nafi’ termasuk dari orang-orang yang memliki akhlak yang baik dan sangat baik bacaanya, zuhud serta dermawan. Ia menjadi Imam di masjid Nabi selama enam puluh tahun.

Murid-murid Imam Nafi’

Kealiman dan keistiqamahan yang dimiliki Imam Nafi’, mengantarkan beliau menjadi seorang maha guru yang disenangi oleh para murid-muridnya. Hal ini tandai oleh banyaknya murid beliau dari berbagai Negara seperti Mesir, Sham, Madinah dan lainnya. Di antara murid beliau yang terkenal adalah: Imam Malik bin Anas, Imam Laits bin Sa’ad, Abi Amr bin al-Ala’, Isa bin Wardan, Sulaiman bin Muslim bin Jammaz dan kedua putra gurunya (Imam Ja’far), yaitu Ismail dan Ya’qub. 

Namun, di antara sekian banyak murid beliau, yang paling terkenal dan kemudian menjadi perawi Imam Nafi’adalah Imam Qolun dan Imam Warsy.

Setelah mengabdikan jiwa dan raganya berkhidmah untuk Al-Qur’an, Imam Nafi’ dipanggil untuk menghadap Tuhannya pada tahun 169 H di Madinah.

Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk meneladani beliau. Amin.

Wallahu A’lam bi Al-Shawab.


Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo

Tulisan ini disadur dari kitab "Siyar ‘A’lam al-Nubala’" karya Imam Al-Dzhabi, juz II, hal 336; dan kitab "Makrifat al-Qurra’ al-Kibar ‘Ala Al-Tabaqat wa al-A’shar" karya Imam Al-Dzhabi juz II, hal. 64.

Selasa 27 November 2018 18:0 WIB
Pola Penulisan Al-Qur’an, dari Nabi atau Ijtihad Sahabat?
Pola Penulisan Al-Qur’an, dari Nabi atau Ijtihad Sahabat?
Ilustrasi (emaze.com)
Pola penulisan mushaf dalam Al-Qur’an yang sekarang beredar adalah Rasm Utsmani. Kata “utsmanî” sendiri merujuk kepada nama khalifah ketiga, yaitu Utsman bin Affan, atas jasa dan kontribusinya dalam pembukuan dan pembakuan Al-Qur’an secara sempurna dan utuh. 

Pola penulisan mushaf ini, sebagaimana disinggung pada pembahasan yang lalu, tidak memiliki kaidah yang baku sesuai dengan penulisan bahasa Arab secara konvensional.

Baca:
Enam Pola Penulisan Al-Qur’an yang Berbeda dari Kaidah Arab Konvensional
Siapa yang Memberi Nama-nama Surat dalam Al-Qur'an?
Siapa yang Menyusun Urutan Surat-surat dalam Al-Qur’an?
Sehubungan dengan itu, para ulama berbeda pendapat tentang pola penulisan Al-Qur’an ini, apakah pola penulisan ini sesuai petunjuk Nabi (tauqifî) atau hasil itijhad para sahabat? 

Dalam kitab Manahilul Irfân karya Syekh Abdul Adhim al-Zurqani dijelaskan bahwa perbedaan ini terbagi dalam tiga pendapat:

Pertama, pendapat mayoritas ulama, menurutnya pola penulisan Al-Qur’an dalam mushaf adalah bersifat tauqifî, yaitu sesuai petunjuk dan perintah Nabi. Hal ini didasarkan pada dua hal: (1) penulisan Al-Qur’an dilakukan oleh kuttab al-wahyi (para penulis Al-Qur’an) di masa Nabi ﷺ. Apa yang ditulis oleh mereka tentu telah mendapatkan persetujuan dari Nabi; (2) tulisan ini tetap ada dan terus berlanjut pada masa Abu Bakar, dan pada masa Utsman bin Affan hingga sampai masa para tabi’in (generasi yang menjumpai sahabat) dan tabi’it tabi’in (generasi yang menjumpai tabi’in). Dengan demikian, penulisan ini merupakan kesepakatan sahabat. Tidak mungkin para sahabat melakukan sesuatu yang bertentangan dengan penetapan Nabi, baik menambah huruf maupun menguranginya tanpa petunjuk Nabi.

Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan, “Haram hukumnya menyalahi penulisan Rasm Utsmanî, baik dalam penulisan huruf, ya’, alif, dan wawu.”

Kedua, sebagian ulama, termasuk Imam al-Baqillanî dan Ibnu Khaldun, berpendapat bahwa penulisan Al-Qur’an dalam mushaf itu merupakan hasil ijtihad para sahabat Nabi. Tidak bersifat tauqifî. Hal ini didasarkan pada dua fakta: (1) tidak ditemukan nash (dalil) baik berupa ayat Al-Qur’an maupun sunnah, yang menunjukkan keharusan menulis Al-Qur’an sesuai Rasm Utsmanî; (2) seandainya pola penulisan mushaf itu bersifat tauqifî, sesuai petunjuk Nabi, kenapa menggunakan istilah “rasm ustmanî” bukan “rasm nabawî”?.

Imam al-Baqillanî menyatakan bahwa sunnah menuliskan Al-Qur’an dengan pola yang mudah, sebab Nabi memerintahkan para sahabat menulis Al-Qur’an namun beliau tidak menunjukkan pola tertentu dan tidak melarang menulis pola tertentu juga.

Oleh sebab itu, bentuk dan model penulisan itu tidak lain hanyalah suatu tanda atau simbol. Segala bentuk serta model penulisan Al-Qur’an yang menunjukkan arah bacaan yang benar, dapat dibenarkan. Sedangkan rasm utsmani yang menyalahi rasm imla’î  (menurut kaidah penulisan Arab konvensional) yang dikenal masyarakat, menyulitkan banyak orang dan dapat mengakibatkan kesulitan dan keserupaan bagi pembaca.

Ketiga, pendapat ini sepertinya ingin mengakomodasi dua pendapat di atas dengan melihat kebutuhan dan kondisi sosialnya. Di satu sisi memperbolehkan bahkan mengharuskan menulis Al-Qur’an dengan menggunakan pola imla’î, dalam rangka memudahkan masyarakat umum. Artinya, bagi mereka yang tidak mengerti, tidak boleh menulis Al-Qur’an dengan Rasm Utsmanî agar tidak jatuh pada keserupaan dan perubahan. 

Di sisi yang lain dianjurkan menulis dengan pola Rasm Utsmani untuk menjaga dan melestarikan sebagai warisan yang berharga bagi generasi selanjutnya. Pendapat ini merupakan pendapat Imam Nawawi dan Imam al-Zarkasyi.

Sehubungan dengan ini, Imam al-Zurqanî berkata:

 وهذا الرأي يقوم على رعاية الاحتياط للقرآن من ناحيتين: ناحية كتابته في كل عصر بالرسم المعروف فيه إبعادا للناس عن اللبس والخلط في القرآن وناحية إبقاء رسمه الأول المأثور يقرؤه العارفون ومن لا يخشى عليهم الالتباس. ولا شك أن الاحتياط مطلب ديني جليل خصوصا في جانب حماية التنزيل

“Pendapat ini dimaksudkan untuk menjaga eksistensi Al-Qur’an dari dua aspek: pertama, yaitu penulisan Al-Qur’an dengan penulisan yang dikenal (masyarakat umum), agar terhindar dari keserupaan dan kekacauan dan kesalahan dalam membacanya. Kedua, upaya pelestarian rasm-nya yang orisinil, yang diperuntukkan bagi orang-orang yang mengerti (arif), yang tidak dikhawatirkan terjadi kekacauan dalam membacanya. Tidak diragukan lagi bahwa berhati-hati merupakan tuntutan agama yang agung, utamanya dalam hal menjaga Al-Qur’an”.

Oleh karena itu, dari tiga pendapat di atas, penulis menyimpulkan sebagai berikut: 

1. Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Muslim di seluruh dunia. Penulisan Al-Qur’an dengan pola Rasm Utsmani, jika tidak dikatakan sebagai petunjuk Nabi, ia merupakan suatu kesepakatan para sahabat. Kesepakatan sahabat memiliki kekuatan hukum yang mengikat, yang wajib diikuti oleh kaum Muslim. Termasuk pola penulisan Al-Qur’an.

2. Penulisan Al-Qur’an dengan pola Rasm Utsmani merupakan sunnah yang harus dikuti. Hal ini dinyatakan dalam kitab al-Minhaj fi fiqh al-Syafi’i, “Kalimat (الربوا) ditulis dengan wawu dan alif sebagaimana dalam Rasm Utsmani. Dalam Al-Qur’an tidak ditulis dengan ya’ dan alif, karena Rasm Utsmani adalah sunnah yang harus diikuti.”

3. Pola penulisan Al-Qur’an sesuai dengan Rasm Utsmani adalah sebuah keniscayaan, utamanya penyatuan pola penulisan Al-Qur’an bagi seluruh ummat Muslim dengan rasm utsmani, agar seragam sesuai dengan penulisan awal dan agar terhindar dari fitnah. Sehingga tidak ada ungkapan-ungkapan yang muncul, “Mushaf kami lebih bagus dari mushaf kalian, rasm kami lebih baik daripada rasm kalian!” 

4. Boleh menulis Al-Qur’an tanpa menggunakan Rasm Utsmani apabila digunakan untuk kepentingan pembelajaran bagi orang masyarakat awam, umumnya di kalangan sekolah-sekolah yang masih butuh pengetahuan tentang bahasa Arab.

5. Pola penulisan Al-Qur’an dengan rasm utsmani memiliki banyak keistimewaan, salah satunya adalah memiliki petunjuk pada makna yang tersembunyi, seperti dalam surat al-Dzarîat ayat 47, pada lafadz (بأييد).

والسماء بنيناها بأييد

Dalam lafadz tersebut ditambah huruf ya’ setelah huruf ya’, karena mempunyai petunjuk atas keagungan kekuatan Allah ﷻ, yang dapat menciptakan langit, kekuatan ini tidak sama dengan kekuatan makhluknya. Dalam kaidah dikatakan: ziyâdatul mabnâ tadullu ‘alâ ziyâdatil ma‘nâ (penambahan konsonan huruf menunjukkan atas penambahan makna).


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo