IMG-LOGO
Tasawuf/Akhlak

Ini yang Perlu Didoakan di Makam Wali dan Orang Saleh

Ahad 6 Januari 2019 10:0 WIB
Share:
Ini yang Perlu Didoakan di Makam Wali dan Orang Saleh
(Foto: @makam Syekh Abdurrahman Marasabesi Maluku)
Islam menganjurkan umatnya untuk melakukan ziarah kubur. Aktivitas ini mengandung sejumlah manfaat bagi mereka yang melakukannya, yaitu menambah keimanan dan mengingatkan seseorang pada alam sesudah kehidupan sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ

Artinya, “Dulu aku pernah melarang kalian untuk ziarah kubur. Sekarang, silakan ziarah karena sungguh ziarah kubur dapat membuat kalian zuhud di dunia dan dapat mengingatkan kalian pada akhirat,” (HR Ibnu Majah).

Ziarah kubur secara harfiah adalah aktivitas kunjungan semata ke sebuah makam. Tetapi biasanya ziarah kubur juga berisi dengan aktivitas lain seperti membacakan ayat Al-Qur’an dan mendoakan ahli kubur yang sedang diziarahi.

Selain ziarah kubur anggota keluarga dan kerabat yang telah mendahului kita, Islam juga menganjurkan kita untuk menziarahi makam para nabi, para wali, para ulama, dan orang-orang saleh.

Syekh Ihsan Jampes Kediri menganjurkan orang yang menziarahi kubur orang-orang saleh untuk melakukan sejumlah hal sebagai berikut:

ثم يتوسل بأهل تلك المقابر أعني بالصالحين منهم في قضاء حوائجه ومغفرة ذنوبه ثم يدعو لنفسه ولوالديه ولمشايخه ولأقاربه ولأهل تلك المقابر ولأموات المسلمين ولأحيائهم وذريتهم إلى يوم الدين ولمن غاب عنه من إخوانه

Artinya, “Kemudian ia bertawasul dengan ahli kubur tersebut, yakni mereka yang saleh, dalam meluluskan hajatnya dan pengampunan dosanya, kemudian ia mendoakan dirinya, kedua orang tuanya, para gurunya, kerabatnya, ahli kubur setempat, umat Islam yang telah wafat dan yang masih hidup, keturunan mereka hingga kelak hari kiamat, dan umat Islam yang tidak hadir,” (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 465).

Syekh Ihsan Jampes Kediri menganjurkan peziarah makam orang saleh untuk bertawasul melalui ahli kubur agar Allah meluluskan hajatnya dan mengampuni dosanya. Syekh Ihsan Jampes juga menganjurkan agar peziarah makam orang saleh mendoakan sebagai berikut:
1. Dirinya sendiri
2. Kedua orang tuanya.
3. Para gurunya.
4. Kerabatnya.
5. Ahli kubur di kompleks pemakaman tersebut.
6. Umat Islam yang telah wafat.
7. Umat Islam yang masih hidup.
8. Keturunan umat Islam hingga hari kiamat.
9. Umat Islam yang tidak hadir di tempat.

Semuanya, kata Syekh Ihsan Jampes, didoakan setelah peziarah bertawasul melalui ahli kubur orang saleh yang sedang diziarahi. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Sabtu 5 Januari 2019 22:45 WIB
Penggalan Kisah Sejumlah Ulama Besar yang Doakan Gurunya
Penggalan Kisah Sejumlah Ulama Besar yang Doakan Gurunya
(Foto: @masrawy.com)
Dalam proses menuntut ilmu termasuk ilmu agama, kita mesti menghormati guru kita agar ilmu yang diajarkannya dapat bermanfaat dan berguna di dunia dan di akhirat. Bahkan tak jarang kita melihat para santri di pesantren banyak mendoakan para masyaikh mereka, yang hidup maupun yang telah wafat.

Jasa para guru begitu besar di antaranya telah mendirikan pondok untuk tempat menuntut ilmu. Hal ini telah dicontohkan oleh ulama terdahulu, yang mana memiliki ilmu tak hanya semata karena giatnya belajar, namun karena berkah dari guru-guru mereka.

Sebagaimana dikutip oleh Syekh Abdul Fattah Abu Guddah dalam Hasyiyah-nya atas Kitab Risâlatul Mustarsyidin karya Al-Harits Al-Muhasibi dari Kitab Faydhul Qadîr:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (تَوَاضَعُوْا لِمَنْ تَعَلَّمُوْنَ مِنْهُ

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Rendah hatilah kepada orang yang mengajarkan kalian.’”

Al-Munawi menambahkan penjelasan hadits di atas, “Sungguh ilmu tidak didapatkan kecuali dengan rendah hati dan mendengarkan, sedangkan kerendahhatian seorang murid kepada gurunya adalah sebuah adab pekerti yang tinggi, sikap rendah hati terhadap guru adalah sebuah kemuliaan, dan ketundukan kepadanya merupakan sebuah kebanggaan,” (Lihat Imam Al-Haris Al-Muhasibi, Risâlatul Mustarsyidin, [Darus Salam], halaman 141).

Salah seorang ulama besar yang patut dicontoh adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Konon ia berguru kepada seseorang yang bernama Husyaim bin Basyir Al-Wâsithi selama lima tahun. Ia berkata, “Aku tidak pernah sama sekali meminta sesuatu kepadanya, sebab penghormatan kepadanya, kecuali dua kali.”

Diceritakan pula, bahwa Imam As-Syafi’i, setiap kali memegang lembaran kertas kitab, ia memegangnya dengan lembut dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara, khawatir Imam Malik mendengarnya.

Begitupula dengan muridnya Imam As-Syafi’i, Ar-Rabî’ bin Sulaiman, ia mengatakan, “Demi Allah aku tak berani minum, sedang Imam As-Syafi’i sedang melihatku.”

Telah diriwayatkan dalam Kitab Manaqib al-Imam Abu Hanifah yang disusun oleh Al-Khuwârizmi, Imam Abu Hanifah berkata, “Aku tak penah menyelonjorkan kakiku menghadap rumah guruku, Hammad, karena menghormatinya. Sedang jarak antara rumahku dan rumahnya hanya sekitar tujuh langkah kaki.”

Kemudian ia melanjutkan, “Dan aku tidak shalat senjak wafatnya guruku itu melainkan aku meminta ampunan untuknya, dan untuk orang tuaku. Sungguh aku tentulah meminta ampunan untuk orang-orang yang telah mengajariku ilmu.” Begitupula Abu Yusuf, murid Abu Hanifah, ia mengatakan, “Sungguh aku mendoakan Abu Hanifah sebelum mendoakan orang tuaku.”

Tak kalah pula, Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata, “Tidaklah aku tidur sejak tiga puluh tahun, melainkan aku pasti mendoakan Imam As-Syafi’I dan meminta ampunan untuknya.”

Suatu hari, anak Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menanyakan kepadanya, “Wahai ayahku, bagaimana sosok Imam As-Syafi’i itu? Aku mendengar bahwa engkau banyak mendoakannya.” Imam Ahmad bin Hanbal menjawab, “Wahai anakku, Imam As-Syafi’i itu diperumpamakan seperti matahari bagi dunia, dan kesehatan bagi manusia. Lihatlah, apakah kedua benda itu memiliki pengganti?”

Dari kisah-kisah di atas, kita dapat mengambil simpulan, betapa pentingnya mendoakan guru-guru kita, yang masih hidup dan yang telah wafat. Syekh Abdul Fattah Abu Guddah menuliskan lafal doa untuk mendoakan guru-guru kita semua.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ عَلَّمَنَا وَارْحَمْهُمْ، وَأَكْرِمْهُمْ بِرِضْوَانِكَ الْعَظِيْمِ، فِي مَقْعَد الصِّدْقِ عِنْدَكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Artinya, “Wahai Allah ampunilah guru-guru kami dan orang yang telah mengajarkan kami. Sayangilah mereka. Muliakanlah mereka dengan ridha-Mu yang agung, di tempat yang disenangi di sisi-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara penyayang.”

Demikian doa untuk meminta ampunan bagi guru-guru kita semua. Semoga kita diberikan manfaat ilmu dari semua yang kita pelajari, baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu a‘lam.


Ustadz Amien Nurhakim
Sabtu 5 Januari 2019 8:45 WIB
Ini Hubungan Batin Para Wali setelah Wafat dan Pengikutnya
Ini Hubungan Batin Para Wali setelah Wafat dan Pengikutnya
Hubungan guru dan murid secara lahiriah terputus setelah sang guru wafat. Tetapi kelompok Ahlussunnah wal Jamaah meyakini bahwa hubungan keduanya tetap langgeng meski secara fisik keduanya ida lagi bersama.

Syekh Ihsan M Dahlan Jampes mengutip pandangan Sayid Ahmad Zaini Dahlan yang mengatakan bahwa seorang wali akan tetap terhubung dengan batin para pengikutnya. Hubungan batin keduanya membawa keberkahan tersendiri bagi muridnya.

قال سيدي العلامة أحمد دحلان رحمه الله في تقريب الأصول لتسهيل الوصول قد صرح كثير من العارفين أن الولي بعد وفاته تتعلق روحه بمريديه فيحصل لهم ببركاته أنوار وفيوضات

Artinya, “Sayyid Ahmad Zaini Dahlan Rahimahullah dalam Taqribul Ushul li Tashilil Wushul mengatakan bahwa banyak orang saleh dengan makrifat kepada Allah menyatakan secara jelas bahwa batin seorang wali Allah sesudah ia wafat akan terhubung dengan para muridnya sehingga berkat keberkahan gurunya itu mereka mendapatkan limpahan cahaya dan aliran anugerah Allah SWT,” (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 466).

Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad bahkan menambahkan bahwa hubungan seorang wali dan para muridnya lebih erat pada saat wali tersebut telah wafat. Pasalnya, wali tersebut memiliki perhatian dan kesempatan lebih lapang setelah ia wafat. Sementara seorang wali ketika hidup disibukkan oleh kewajiban dan tanggung jawab manusiawinya.

Sisi keistimewaan seorang wali kadang tidak terlalu dominan ketika ia hidup karena tertutup oleh sisi manusiawinya. Tetapi ada juga seorang wali yang semasa hidupnya memiliki sisi keistimewaan yang cukup dominan.

وممن صرح بذلك قطب الإرشاد سيدي عبد الله بن علوى الحداد فإنه قال رضي الله عنه الولي يكون اعتناؤه بقرابته واللائذين به بعد موته أكثر من اعتنائه بهم في حياته لأنه كان في حياته مشغولا بالتكليف  وبعد موته طرح عنه الأعباء والحي فيه خصوصية وبشرية وربما غلبت إحداهما الأخرى وخصوصا في هذا الزمان فإنها تغلب البشرية والميت ما فيه إلا الخصوصية فقط

Artinya, “Salah satu orang saleh yang menjelaskan masalah ini secara terbuka Quthbul Irsyad Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Ia mengatakan bahwa perhatian seorang wali setelah ia wafat terhadap kerabat dan orang-orang yang ‘bersandar’ kepadanya lebih besar disbandingkan perhatiannya terhadap mereka seketika ia hidup. Hal demikian terjadi karena ia saat hidup sibuk menunaikan pelbagai kewajiban. Sementara setelah wafat, beban kewajiban itu sudah diturunkan dari pundaknya. Wali yang hidup memiliki keistimewaan dan memiliki sisi manusiawi. Bahkan terkadang salah satunya lebih dominan dibanding sisi lainnya. Terlebih lagi di zaman sekarang ini, sisi manusiawinya lebih dominan. Sementara seorang wali yang telah meninggal dunia hanya memiliki sisi keistimewaan,” (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 466).

Keyakinan semacam ini yang bagi banyak orang menguatkan hubungan murid dan guru meski gurunya telah wafat sekian tahun dan bahkan ratusan tahun. Oleh karenanya, seorang wali atau sang guru ini–meski telah wafat–akan tetap hidup di hati para murid dan pengikutnya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Selasa 1 Januari 2019 6:0 WIB
Ini Empat Tanda Tobat Sungguhan menurut Syekh Abdul Qadir
Ini Empat Tanda Tobat Sungguhan menurut Syekh Abdul Qadir
Tobat merupakan jalan untuk menghapus dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan. Sebesar apa pun kesalahan manusia, Allah akan mengampuninya bila hamba-Nya bertobat dengan sungguh-sungguh dan tidak mengulangi kesalahannya. Allah Maha Penyayang dan membuka pintu maaf dan tobat selebar-lebarnya bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh.

Tobat mesti dibarengi dengan keikhlasan dan keseriusan agar diterima Allah SWT. Keseriusan itu diwujudkan melalui penyesalan atas kesalahan yang pernah dilakukan dan tidak mengulanginya kembali, serta memperbanyak istighfar dan berdoa kepada Allah SWT. Sebab itu, tobat tidak cukup dilafalkan dan ditunjukkan melalui kata-kata, tapi mesti dibuktikan melalui perbuatan.

Syekh Abdul Qadir dalam Al-Ghunyah menjelaskan ada empat tanda orang yang bertobat. Empat tanda ini bisa menjadi ukuran dari keseriusan tobat yang dilakukan seseorang. Syekh Abdul Qadir mengatakan:
 
إنما تعرف توبة التائب في أربعة أشياء: أحدها أن يملك لسانه من الفضول والغيبة والنميمة والكذب. والثاني ألا يرى لأحد في قلبه حسدا ولا عداوة. والثالث: أن يفارق إخوان السوء، فإنهم هم الذين يحملونه على رد هذا القصد ويشوشون عليه صحة هذا العزم...والرابع أن يكون مستعدا للموت نادما مستغفرا لما سلف من ذنوبه مجتهدا في طاعة ربه
 
Artinya, “Tobat seseorang diketahui melalui empat tanda: pertama, dia menjaga lisannya dari sifat curiga, gunjing, dan bohong. Kedua, dia tidak melihat orang lain sebagai musuh dan dengki. Ketiga, menghindar dan tidak bergaul dengan orang-orang yang tidak baik, karena mereka bisa mengalihkan maksud tobat dan menggoda orang yang sedang tobat. Keempat, dia siap untuk mati dalam keadaan menyesal, minta ampun dari dosa yang pernah dilakukan, dan bersungguh-sungguh dalam mentaati Allah SWT.”

Dari penjelasan Syekh Abdul Qadir ini dapat dipahami bahwa ada empat tanda orang yang sungguh-sungguh dalam bertobat:

Pertama, mampu menjaga lisannya dari berkata bohong, menggunjing orang lain, dan curiga.

Kedua, tidak memandang orang lain sebagai musuh dan tidak mudah untuk hasud dan dengki pada orang lain.

Ketiga, tidak bergaul dengan orang-orang yang dapat merusak konsisten dan mengajak pada keburukan.

Keempat, tidak takut mati karena terus-menerus minta ampun pada Allah SWT dan sungguh-sungguh dalam ketaatan.

Empat tanda ini perlu direnungi oleh siapa pun. Kalau kita belum mampu menjaga lisan dan masih suka bohong dan mencurigai orang lain misalnya, lebih baik kita merenung dan memperbanyak istighfar agar hati kita dibersihkan dari sifat-sifat buruk. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)