IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Gambar dalam Ka’bah yang Dihapus Rasulullah saat Fathu Makkah

Senin 7 Januari 2019 19:30 WIB
Share:
Gambar dalam Ka’bah yang Dihapus Rasulullah saat Fathu Makkah
Ilustrasi: kissclipart.com
Pembebasan kota Makkah (Fathu Makkah) menjadi kemenangan yang nyata bagi umat Islam. Bagaimana tidak, tanpa peperangan, tanpa pertumpahan darah, dan tanpa ada yang menghunus pedang, umat Islam berhasil ‘mengambil alih’ kota Makkah dari kaum musyrik Quraisy Makkah.   

Dalam peristiwa yang terjadi pada 10 Ramadhan abad ke-8 Hijriyah atau bertepatan dengan 8 Juni 632 M itu, Rasulullah melakukan perombakan besar-besaran terhadap kota Makkah. Terutama menghancurkan 360 buah berhala di sekitar Ka’bah yang menjadi sesembahan masyarakat musyrik Makkah. Ketika membabat berhala-berhala itu, Rasulullah sambil menyerukan QS. Al-Isra ayat 81 secara berulang-ulang.

“Kebenaran telah datang dan kebatilan telah hancur. Sesungguhnya kebatilan akan musnah selamanya,” kata Rasulullah. Hal itu kemudian diikuti oleh para sahabat.

Pada saat Fathu Makkah itu, Rasulullah juga menghancurkan atau menghapus gambar-gambar yang dibuat kaum musyrik Makkah di dalam dinding Ka’bah. Ketika memasuki Ka’bah, Rasulullah mendapati ada banyak gambar di dinding Ka’bah. Diantaranya adalah gambar Nabi Ibrahim as. Di situ, Nabi Ibrahim as. digambarkan tengah memegang azlam (anak panah tanpa kepala dan bulu) yang digunakan masyarakat musyrik Makkah untuk meminta petunjuk. 

Di satu ujung, ditulisi ‘kerjakan’. Di sisi yang lain, ditulisi ‘jangan kerjakan’. Ketika hendak melakukan sesuatu, mereka mengundi azlam yang disematkan di tangan Nabi Ibrahim as. itu. Mereka sangat percaya bahwa hasil undiannya pada azlam itu berasal dari Tuhan. Sehingga kalau yang keluar sisi ‘kerjakan’, maka mereka mengira itu sebagai sebuah izin dari Tuhan. Begitu pun sebaliknya.  

Merujuk buku Sejarah Hidup Muhammad (Muhammad Husain Haekal, 2015), Rasulullah memandang dan mengamati gambar Nabi Ibrahim as. di dalam dinding Ka’bah itu cukup lama. Beliau tidak terima kalau salah satu Kekasih Allah itu dilukiskan sedemikian rupa, dengan memegang azlam. 

“Mudah-mudahan Allah membinasakan mereka (yang membuat lukisan Nabi Ibrahim as.)!” kata Rasulullah setelah mengamati gambar Nabi Ibrahim as. tersebut.

Ketika memalingkan ke dinding lainnya, Rasulullah mendapati ada banyak lukisan malaikat. Rasulullah lagi-lagi menyangkal dan tidak terima dengan gambar yang dibuat kaum musyrik itu. Mengapa? Karena di dinding Ka’bah itu malaikat dilukiskan sebagai perempuan-perempuan cantik. Padahal, di dalam Islam malaikat itu tidak laki-laki dan juga tidak perempuan. 

Setelah mengamati semua gambar yang menempel di dinding dalam Ka’bah itu, Rasulullah memerintahkan kepada para sahabatnya untuk menghapus semuanya. Semuanya, sehingga tidak ada satu pun lukisan dan berhala yang tersisa di Ka’bah. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Senin 7 Januari 2019 6:0 WIB
Cara Rasulullah Menghadapi Pengemis
Cara Rasulullah Menghadapi Pengemis
Suatu ketika ada seorang laki-laki dari kaum Anshor yang mendatangi Rasulullah untuk meminta-minta. Rasulullah tidak membentak dan menyuruhnya pergi. Pun tidak langsung memberinya uang. Rasulullah malah bertanya kepadanya tentang apa yang dimilikinya. Laki-laki dari kaum Anshar tersebut menjawab bahwa di rumahnya hanya ada sehelai kain kasar untuk selimut dan sebuah gelas untuk minum. 

Rasulullah menyuruh laki-laki dari Anshar itu untuk mengambil dua benda yang dimilikinya itu.  Rasulullah lantas melelang dua benda itu. Salah seorang sahabat bersedia membayar satu dirham. Tidak puas dengan itu, Rasulullah menawarkan kembali kain dan gelas tersebut. Lalu ‘harta’ laki-laki Anshar itu laku dua dirham. 

“Belikan lah yang satu dirham makanan, lalu berikan kepada keluargamu. Lalu belikan lah satu dirham yang lain sebuah kapak, lalu bawakan kepadaku,” perintah Rasulullah sambil menyerahkan dua dirham kepada laki-laki peminta dari Anshar itu, seperti dikutip dari buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib As-Sirjani, 2011).

Beberapa hari kemudian, laki-laki Anshar itu datang kepada Rasulullah dengan membawa kapak. Rasulullah lalu mengikatkan sebatang kayu pada kapak tersebut. Maka jadilah ia kapan utuh. Laki-laki Anshar itu diperintah Rasulullah untuk mencari kayu bakar dengan kapak itu, lalu menjualnya.  

“Pergilah, carilah kayu bakar dan jual lah. Dan aku tidak ingin melihatmu selama 15 hari,” titah Rasulullah. 

Laki-laki dari Anshar itu menuruti semua perintah Rasulullah. Ia pergi, mencari kayu bakar, dan menjualnya kepada masyarakat yang membutuhkan. Setelah 15 hari berlalu, ia baru menemui Rasulullah dengan membawa uang 10 dirham dari hasil penjualan kayu bakar. Uang tersebut digunakan untuk membeli pakaian, makanan, dan kebutuhan lainnya. 

“Ini lebih baik untukmu dari pada engkau datang meminta-minta,” kata Rasulullah.

Demikian lah cara Rasulullah menghadapi pengemis. Beliau tidak mengusirnya secara langsung. Juga tidak langsung memberinya. Tetapi Rasulullah mendorong dan memotivasi agar pengemis itu menggunakan kemampuan dan keterampilannya untuk bekerja secara halal sehingga ia tidak meminta-minta lagi.

Rasulullah tidak ingin melihat umatnya menjadi seorang peminta-minta. Bagi Rasulullah, bekerja –apapun itu pekerjaannya asal halal- itu lebih baik dari pada meminta-minta. Bahkan Rasulullah menegaskan jika meminta-minta itu tidak diperbolehkan dalam Islam, kecuali untuk tiga orang saja. Pertama, orang yang memikul beban berat di luar batas kemampuannya (sangat miskin). Rasulullah menyebutkan bahwa kelompok pertama ini diperbolehkan meminta-minta sampai tercukupi sekadar kebutuhannya. Ketika sudah tercukupi kebuuhan sekedarnya, ia harus berhenti mengemis.

Kedua, orang yang terkena musibah dan hartanya hilang semua. Kelompok kedua ini juga diperbolehkan meminta-minta, namun apabila sekadar kebutuhannya sudah tercukupi maka ia harus berhenti. Ketiga, orang-orang yang sangat miskin. Bagaimana cara mengukur miskin yang seperti ini? Rasulullah memberikan standar bahwa apabila tiga orang tetangganya menilai orang tersebut miskin, maka orang orang tersebut benar-benar miskin. Orang seperti ini diperkenankan untuk meminta-minta sampai kebutuhan sekadarnya tercukupi.

“Di luar kelompok tersebut, meminta-minta tidak diperkenankan. Dan jika ada orang di luar kelompok itu meminta-minta, harta haram telah dimakan,” kata Rasulullah. (A Muchlishon Rochmat)
Ahad 6 Januari 2019 6:0 WIB
Cara Rasulullah Membaca Al-Qur’an
Cara Rasulullah Membaca Al-Qur’an
Allah menurunkan kitab suci-Nya yang terakhir, Al-Qur’an, kepada Rasulullah selama 23 tahun. Rasulullah kemudian menyampaikan apa yang diterimanya itu kepada para sahabat. Memang, Rasulullah adalah seorang ummi (tidak bisa membaca dan menulis). Namun demikian, Rasulullah adalah orang yang paling paham dan paling mengetahui cara ‘membaca’ Al-Qur’an. Termasuk, orang yang paling paham akan isi dan makna yang terkandung dalam setiap ayat Al-Qur’an.  

Lantas, bagaimana sebetulnya cara Rasulullah membaca Al-Qur’an? Sebagaimana keterangan dalam beberapa hadits yang terkumpul dalam kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah (Imam At-Tirmidzi, 2016), berikut cara Rasulullah ‘membaca’ Al-Qur’an.

Pertama, membaca Al-Qur’an dengan jelas. Rasulullah membaca Al-Qur’an dengan pengucapan yang sangat jelas dan terang, kata per kata, kalimat per kalimat. Sehingga tidak ada satu kata atau kalimat pun yang terlewat atau terdengar samar-samar ketika Rasulullah membacanya. 

Kedua, membaca panjang atau pendek setiap huruf Al-Qur’an sesuai dengan hukum ilmu tajwid. Memang, ilmu tajwid baru ada belakangan. Tapi ilmu tajwid yang diajarkan hingga saat ini merupakan ilmu yang dikembangkan oleh para ulama tentang bagaimana Rasulullah dan generasi awal Islam membaca Al-Qur’an. Dan cara Rasulullah membaca Al-Qur’an adalah sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Atau jika dibalik, kaidah ilmu tajwid yang ada sekarang sesuai dengan cara Rasulullah membaca Al-Qur’an. Yaitu memanjangkan yang harus dibaca  dan memendekkan apa-apa yang harus dibaca pendek.   

Ketiga, berhenti sejenak pada setiap ayat. Rasulullah tidak berhenti ketika ayat tersebut habis. Tidak memaksa untuk membaca terus atau menerobos bacaan satu ayat dengan yang ayat yang lainnya. Sebagaimana hadits riwayat Ummu Salamah ra., Rasulullah memotong bacaannya ayat per ayat. 

“Beliau membaca ayat ‘Alhamdulillah raabil alamin’, lalu berhenti. Kemudian beliau membaca ‘Arrahmanirrahim’, lalu berhenti lagi. Setelah itu, beliau membaca ayat ‘Maliki yaumiddin,” kata kata Ummu Salamah ra. 

Keempat, kadang membaca Al-Qur’an dengan suara lantang (jahr), kadang dengan suara lirih. Suatu ketika Abu Qais bertanya kepada Sayyidah Aisyah tentang bagaimana cara Rasulullah membacaAl-Qur’an. Lalu Sayyidah Aisyah menjawab bahwa terkadang Rasulullah membacaAl-Qur’an dengan suara nyaring dan terkadang dengan suara lirih.

Pada saat Fathu Makkah misalnya, sambil menunggangi untanya Rasulullah membaca Surat Al-Fath dengan suara yang lantang dan menggema. Sehingga orang-orang yang ada di sekitarnya mendengar bacaan Rasulullah itu. Hal ini disaksikan oleh Abdullah bin Mughaffal dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Tirmidzi, Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Ahmad.

Terakhir, membaca Al-Qur’an dengan suara indah. Rasulullah membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu. Adalah al-Bara’ bin Azib yang menyaksikan hal itu sebagaimana hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Pada saat itu, al-Bara’ sedang shalat Isya bersama Rasulullah. Al-Bara’ takjub dengan suara merdu Rasulullah ketika membaca Surat At-Tin.

“Aku belum pernah mendengar seorang pun yang suaranya lebih merdu dari suara Baginda,” kata al-Bara’. (A Muchlishon Rochmat)
Sabtu 5 Januari 2019 17:0 WIB
Solusi Rasulullah untuk Menyelesaikan Persoalan Kemiskinan
Solusi Rasulullah untuk Menyelesaikan Persoalan Kemiskinan
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kemiskinan,” kata Rasulullah dalam hadits riwayat Abu Daud, An-Nasa’i, Ahmad, dan Al-Hakim.

Kemiskinan menjadi sebuah persoalan yang selalu ada di setiap era. Tentu banyak faktor yang menyebabkannya. Mulai dari sikap malas bekerja hingga ‘tidak mampu’ bekerja karena suatu hal tertentu seperti tidak memiliki keahlian, tidak punya daya, dan lain sebagainya. Bahkan, ada juga ‘kekuatan’ yang membuatnya menjadi miskin atau dimiskinkan secara struktural.

Begitu pun pada zaman Rasulullah. Ada sahabat atau orang-orang yang juga mengalami persoalan kemiskinan. Lalu bagaimana Rasulullah menyelesaikan persoalan kemiskinan yang mendera umatnya itu?

Merujuk buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib As-Sirjani, 2011), setidaknya ada enam solusi praktis dan aplikatif yang ditawarkan Rasulullah untuk memberantas kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan bersama. 

Pertama, memotivasi seseorang untuk bekerja sesuai dengan keahlian dan kemampuannya. Rasulullah selalu memotivasi para sahabatnya yang terjebak dalam kemiskinan untuk selalu bekerja. Apapun itu pekerjaannya. Rasulullah sangat menghargainya, asal tidak meminta-minta. Rasulullah sendiri juga melakukan hal yang sama. Beliau menggembala kambing dan mendagangkan harta Sayyidah Khadijah untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.   

Kedua, mendorong proyek-proyek ekonomi diantara kaum Muslim. Apabila seseorang tidak memiliki modal awal, maka Rasulullah menganjurkan orang tersebut untuk bekerja sama dengan orang lain. Misalnya, jika seseorang tidak punya lahan, maka ia bisa menggarap lahan orang lain dengan sistem muzara'ah atau bagi hasil. Langkah ini telah dibuktikan oleh kaum Anshar dan Muhajirin. Dimana kaum Muhajirin yang datang ke Madinah dan tidak memiliki apa-apa menggarap lahan-lahan milik kaum Anshar. 

Ketiga, mengharamkan riba. Rasulullah sangat tegas melarang umat Islam menerapkan praktik riba. Mengapa? Karena praktik riba dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, merugikan masyarakat kecil, membuat masyarakat miskin menjadi semakin miskin, dan membuat yang kaya semakin kaya. Sehingga jika praktik riba diterapkan, maka kesenjangan sosial akan semakin menganga. 

Keempat, mengelola keuangan dengan baik. Suatu ketika ada seorang Anshar yang datang meminta-minta kepada Rasulullah. Rasulullah tidak memarahinya. Beliau bertanya perihal apa yang dimilikinya. Seorang Anshar menjawab bahwa dirinya hanya memiliki sepotong kain kasar dan sebuah gelas untuk minum. Rasulullah meminta dua barang itu diserahkan kepadanya.
Kemudian Rasulullah melelang dua barang miliki seorang Anshar tersebut. barang hasil lelangan itu laku dua dirham. Rasulullah lantas menyerahkan uang dua dirham itu kepada seorang Anshar. 

“Belikan lah yang satu dirham, makanan, lalu berikan kepada keluargamu. Lalu belikan lah satu dirham yang lain sebuah kapak, lalu bawakan kepadaku,” perintah Rasulullah.

Selang beberapa saat, seorang Anshar itu menemui Rasulullah dengan membawa sebuah kapak. Rasulullah lalu mengikatkan sebatang kayu pada kapak tersebut. Beliau langsung memerintahkan seorang Anshar tersebut untuk mencari kayu bakar dengan kapaknya itu dan kemudian menjualnya. Beberapa hari kemudian, seorang Anshar itu menemui Rasulullah sambil membawa uang 10 dirham. 

“Ini lebih baik untukmu dari pada engkau datang meminta-minta,” kata Rasulullah.

Kelima, memfungsikan orang-orang kaya. Di dalam Islam, ada zakat, infak, sedekah, dan lainnya. Itu merupakan ibadah yang bersifat sosial. Dimana orang-orang kaya dan memiliki kecukupan harta memberikan sebagian hartanya untuk saudara mereka yang miskin dan membutuhkan. Meski demikian, tidak semua orang bisa mendapatkan sedekah. Hanya orang-orang tertentu saja yang betul-betul miskin dan tidak mampu mencari kerja. 

“Tidak halal sedekah bagi orang yang kaya, dan tidak juga bagi orang yang mampu untuk bekerja mencari rezeki,” kata Rasulullah dalam hadits riwayat Abu Daud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i.

Keenam, memanfaatkan APBN (baitul mal) dengan sebaik-baiknya. Uang negara yang dihimpun dari pajak bisa menjadi solusi untuk mengentaskan masyarakat dan umat dari masalah kemiskinan. Hal ini lah yang dilakukan Rasulullah terhadap ahli shuffah. Orang-orang miskin dari kalangan Muhajirin yang tidak memiliki rumah. Mereka tinggal di emperan Masjid Nabawi. Rasulullah memberdayakan mereka dengan menggunakan simpanan umum harta negara (APBN). (A Muchlishon Rochmat)