IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

Empat Alasan Mengapa Madinah Dipilih sebagai Tempat Hijrah Rasulullah

Selasa 8 Januari 2019 18:0 WIB
Share:
Empat Alasan Mengapa Madinah Dipilih sebagai Tempat Hijrah Rasulullah
Masjid Nabawi Pertama Ilustrasi: syakirawisata
Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, Rasulullah bercerita bahwa suatu ketika dirinya pernah bermimpi berhijrah dari Makkah ke ke suatu kota yang memiliki banyak pohon kurma. Pada saat itu, Rasulullah mengira bahwa kota tersebut adalah Yamamah atau Hajar. Namun dugaan Rasulullah meleset, ternyata tempat yang dipilih untuk tempat hijrah adalah Madinah Yatsrib. 

Lalu apa sebetulnya yang menyebabkan Madinah dipilih sebagai tempat untuk berhijrah Rasulullah dan umat Islam secara keseluruhan? Perintah Allah sudah pasti menjadi alasan utama. Rasulullah tidak akan berhijrah kecuali atas perintah Allah. Bahkan Allah melalui malaikat Jibril juga sudah menentukan waktu Rasulullah berhijrah ke Madinah, yaitu tengah malam. Di saat para elit kaum kafir Quraisy yang mengepung rumah Rasulullah untuk menghabisinya lengah.  

Dipilihnya Madinah sebagai tempat berhijrah juga tidak lepas dari beberapa penduduk Madinah yang sudah berbaiat kepada Rasulullah, dalam Baiat Aqabah pertama dan kedua. Tentu itu menjadi modal bagus bagi Rasulullah dan umat Islam. Namun selain dua hal itu, mungkin saja ada hal-hal lainnya yang menyebabkan mengapa Madinah yang dipilih sebagai tempat berhijrah. Mengapa tidak kota-kota lainnya? Mengapa Madinah?

Dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih (M Quraish Shihab, 2018), disebutkan bahwa dipilihnya Madinah sebagai tempat hijrah karena kota tersebut memiliki beberapa keistimewaan dibandingkan dengan kota lainnya. Pertama, penduduknya memiliki sikap ramah. Suku Aus dan Khazraj yang mukim di Madinah sebetulnya berasal dari Yaman. Sementara orang-orang Yaman dikenal sebagai orang yang memiliki budi yang halus dan perasaan yang lembut. 

“Penduduk Yaman datang kepadamu. Mereka itu lembut hati dan halus perasaan,” kata Rasulullah ketika rombongan dari Yaman mengunjunginya usai Perang Khaibar. 

Kedua, penduduk Madinah memiliki pengalaman berperang. Suku Aus dan suku Khazraj, ditambah komunitas Yahudi Madinah, ‘tidak pernah akur’. Dalam sejarahnya, mereka kerap kali melancarkan peperangan antara satu suku dengan yang lainnya. Peperangannya tidak hanya setahun dua tahun, tapi berlangsung secara bertahun-tahun. Tercatat ada sekitar 10 kali peperangan yang dilalui suku-suku di Madinah. Perang Samir menjadi awal, sementara Perang Bu’ats menjadi perang terakhir. 

Perang Bu’ats merupakan perang terbesar dan terjadi lima tahun sebelum Rasulullah berhijrah. Ketika Rasulullah dan Islam datang, masyarakat Madinah menjadi bersatu dan tidak perang saudara lagi. Perlu diketahui, pengalaman berperang ini menjadi sesuatu yang penting untuk menjaga ajaran agama Islam.

Ketiga, Rasulullah memiliki hubungan darah dengan penduduk Madinah. Pada saat kecil, Rasulullah pernah diajak ibundanya Sayyidah Aminah untuk berkunjung ke Madinah. Pada kesempatan itu, Sayyidah Aminah mengajak Rasulullah untuk berziarah ke makam Sayyidina Abdullah, suaminya dan ayahanda Rasulullah. Di samping itu, Sayyidah Aminah juga mengajak Rasulullah berkunjung ke sanak saudaranya di Madinah, Bani Najjar. 

Keempat, letak Madinah yang strategis. Madinah memiliki letak geografis yang strategis. Bagaimana tidak, di sebelah timur dan barat Madinah merupakan sebuah wilayah yang terjal. Terdiri dari dataran tinggi, dataran rendah yang penuh dengan bebatuan yang keras sehingga menyulitkan siapapun –terutama musuh- untuk memasuki kota Madinah. 

Hanya dari sisi utara Madinah yang menjadi wilayah terbuka. Maka tidak heran ketika terjadi Perang Khandaq, Salman al-Farisi mengusulkan kepada Rasulullah agar umat Islam membuat parit di sepanjang wilayah utara Madinah. Tujuannya adalah untuk menghalangi musuh masuk ke kota Madinah. 

Merujuk buku Madinah: Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Nabi Muhammad saw. (Zuhairi Misrawi, 2009), Madinah merupakan sebuah kota yang dibentuk atau dibangun oleh orang-orang yang melarikan diri (eksodus) dari tempat asalnya, entah disebabkan konflik atau pun ekonomi. 

Madinah atau Yatsrib memiliki sejarah yang panjang. Konon, awal mula orang-orang datang ke wilayah Madinah adalah pengikut Nabi Nuh as. yang selamat dari bencana banjir yang maha dahsyat. Setelah satu tahun 10 hari berada di atas kapal Nabi Nuh as dan banjir surut, mereka yang selamat ada yang bepergian ke wilayah Madinah. Diantara dari mereka adalah Yatsrib bin Qaniyah bin Mahlail bin Iram bin Abil bin Iwadh bin Iram bin Sam bin Nuh as. Diperkirakan kejadian itu terjadi pada tahun 2600 SM.

Maka akhirnya tempat tersebut dikenal sebagai kota Yatsrib, dan kemudian Rasulullah mengganti nama kota Yatsrib menjadi Madinah ketika beliau hijrah ke kota tersebut. Rasulullah tinggal di Madinah selama 10 tahun. Sama seperti Makkah, Madinah juga kota yang istimewa bagi Rasulullah secara personal. Dalam sebuah kesempatan Rasulullah pernah berdoa: Ya Allah anugerahilah pahala yang berlipat ganda di Madinah, sebagaimana Engkau telah memberikan berkah di Makkah. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Senin 7 Januari 2019 19:30 WIB
Gambar dalam Ka’bah yang Dihapus Rasulullah saat Fathu Makkah
Gambar dalam Ka’bah yang Dihapus Rasulullah saat Fathu Makkah
Ilustrasi: kissclipart.com
Pembebasan kota Makkah (Fathu Makkah) menjadi kemenangan yang nyata bagi umat Islam. Bagaimana tidak, tanpa peperangan, tanpa pertumpahan darah, dan tanpa ada yang menghunus pedang, umat Islam berhasil ‘mengambil alih’ kota Makkah dari kaum musyrik Quraisy Makkah.   

Dalam peristiwa yang terjadi pada 10 Ramadhan abad ke-8 Hijriyah atau bertepatan dengan 8 Juni 632 M itu, Rasulullah melakukan perombakan besar-besaran terhadap kota Makkah. Terutama menghancurkan 360 buah berhala di sekitar Ka’bah yang menjadi sesembahan masyarakat musyrik Makkah. Ketika membabat berhala-berhala itu, Rasulullah sambil menyerukan QS. Al-Isra ayat 81 secara berulang-ulang.

“Kebenaran telah datang dan kebatilan telah hancur. Sesungguhnya kebatilan akan musnah selamanya,” kata Rasulullah. Hal itu kemudian diikuti oleh para sahabat.

Pada saat Fathu Makkah itu, Rasulullah juga menghancurkan atau menghapus gambar-gambar yang dibuat kaum musyrik Makkah di dalam dinding Ka’bah. Ketika memasuki Ka’bah, Rasulullah mendapati ada banyak gambar di dinding Ka’bah. Diantaranya adalah gambar Nabi Ibrahim as. Di situ, Nabi Ibrahim as. digambarkan tengah memegang azlam (anak panah tanpa kepala dan bulu) yang digunakan masyarakat musyrik Makkah untuk meminta petunjuk. 

Di satu ujung, ditulisi ‘kerjakan’. Di sisi yang lain, ditulisi ‘jangan kerjakan’. Ketika hendak melakukan sesuatu, mereka mengundi azlam yang disematkan di tangan Nabi Ibrahim as. itu. Mereka sangat percaya bahwa hasil undiannya pada azlam itu berasal dari Tuhan. Sehingga kalau yang keluar sisi ‘kerjakan’, maka mereka mengira itu sebagai sebuah izin dari Tuhan. Begitu pun sebaliknya.  

Merujuk buku Sejarah Hidup Muhammad (Muhammad Husain Haekal, 2015), Rasulullah memandang dan mengamati gambar Nabi Ibrahim as. di dalam dinding Ka’bah itu cukup lama. Beliau tidak terima kalau salah satu Kekasih Allah itu dilukiskan sedemikian rupa, dengan memegang azlam. 

“Mudah-mudahan Allah membinasakan mereka (yang membuat lukisan Nabi Ibrahim as.)!” kata Rasulullah setelah mengamati gambar Nabi Ibrahim as. tersebut.

Ketika memalingkan ke dinding lainnya, Rasulullah mendapati ada banyak lukisan malaikat. Rasulullah lagi-lagi menyangkal dan tidak terima dengan gambar yang dibuat kaum musyrik itu. Mengapa? Karena di dinding Ka’bah itu malaikat dilukiskan sebagai perempuan-perempuan cantik. Padahal, di dalam Islam malaikat itu tidak laki-laki dan juga tidak perempuan. 

Setelah mengamati semua gambar yang menempel di dinding dalam Ka’bah itu, Rasulullah memerintahkan kepada para sahabatnya untuk menghapus semuanya. Semuanya, sehingga tidak ada satu pun lukisan dan berhala yang tersisa di Ka’bah. (A Muchlishon Rochmat)
Senin 7 Januari 2019 6:0 WIB
Cara Rasulullah Menghadapi Pengemis
Cara Rasulullah Menghadapi Pengemis
Suatu ketika ada seorang laki-laki dari kaum Anshor yang mendatangi Rasulullah untuk meminta-minta. Rasulullah tidak membentak dan menyuruhnya pergi. Pun tidak langsung memberinya uang. Rasulullah malah bertanya kepadanya tentang apa yang dimilikinya. Laki-laki dari kaum Anshar tersebut menjawab bahwa di rumahnya hanya ada sehelai kain kasar untuk selimut dan sebuah gelas untuk minum. 

Rasulullah menyuruh laki-laki dari Anshar itu untuk mengambil dua benda yang dimilikinya itu.  Rasulullah lantas melelang dua benda itu. Salah seorang sahabat bersedia membayar satu dirham. Tidak puas dengan itu, Rasulullah menawarkan kembali kain dan gelas tersebut. Lalu ‘harta’ laki-laki Anshar itu laku dua dirham. 

“Belikan lah yang satu dirham makanan, lalu berikan kepada keluargamu. Lalu belikan lah satu dirham yang lain sebuah kapak, lalu bawakan kepadaku,” perintah Rasulullah sambil menyerahkan dua dirham kepada laki-laki peminta dari Anshar itu, seperti dikutip dari buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib As-Sirjani, 2011).

Beberapa hari kemudian, laki-laki Anshar itu datang kepada Rasulullah dengan membawa kapak. Rasulullah lalu mengikatkan sebatang kayu pada kapak tersebut. Maka jadilah ia kapan utuh. Laki-laki Anshar itu diperintah Rasulullah untuk mencari kayu bakar dengan kapak itu, lalu menjualnya.  

“Pergilah, carilah kayu bakar dan jual lah. Dan aku tidak ingin melihatmu selama 15 hari,” titah Rasulullah. 

Laki-laki dari Anshar itu menuruti semua perintah Rasulullah. Ia pergi, mencari kayu bakar, dan menjualnya kepada masyarakat yang membutuhkan. Setelah 15 hari berlalu, ia baru menemui Rasulullah dengan membawa uang 10 dirham dari hasil penjualan kayu bakar. Uang tersebut digunakan untuk membeli pakaian, makanan, dan kebutuhan lainnya. 

“Ini lebih baik untukmu dari pada engkau datang meminta-minta,” kata Rasulullah.

Demikian lah cara Rasulullah menghadapi pengemis. Beliau tidak mengusirnya secara langsung. Juga tidak langsung memberinya. Tetapi Rasulullah mendorong dan memotivasi agar pengemis itu menggunakan kemampuan dan keterampilannya untuk bekerja secara halal sehingga ia tidak meminta-minta lagi.

Rasulullah tidak ingin melihat umatnya menjadi seorang peminta-minta. Bagi Rasulullah, bekerja –apapun itu pekerjaannya asal halal- itu lebih baik dari pada meminta-minta. Bahkan Rasulullah menegaskan jika meminta-minta itu tidak diperbolehkan dalam Islam, kecuali untuk tiga orang saja. Pertama, orang yang memikul beban berat di luar batas kemampuannya (sangat miskin). Rasulullah menyebutkan bahwa kelompok pertama ini diperbolehkan meminta-minta sampai tercukupi sekadar kebutuhannya. Ketika sudah tercukupi kebuuhan sekedarnya, ia harus berhenti mengemis.

Kedua, orang yang terkena musibah dan hartanya hilang semua. Kelompok kedua ini juga diperbolehkan meminta-minta, namun apabila sekadar kebutuhannya sudah tercukupi maka ia harus berhenti. Ketiga, orang-orang yang sangat miskin. Bagaimana cara mengukur miskin yang seperti ini? Rasulullah memberikan standar bahwa apabila tiga orang tetangganya menilai orang tersebut miskin, maka orang orang tersebut benar-benar miskin. Orang seperti ini diperkenankan untuk meminta-minta sampai kebutuhan sekadarnya tercukupi.

“Di luar kelompok tersebut, meminta-minta tidak diperkenankan. Dan jika ada orang di luar kelompok itu meminta-minta, harta haram telah dimakan,” kata Rasulullah. (A Muchlishon Rochmat)
Ahad 6 Januari 2019 6:0 WIB
Cara Rasulullah Membaca Al-Qur’an
Cara Rasulullah Membaca Al-Qur’an
Allah menurunkan kitab suci-Nya yang terakhir, Al-Qur’an, kepada Rasulullah selama 23 tahun. Rasulullah kemudian menyampaikan apa yang diterimanya itu kepada para sahabat. Memang, Rasulullah adalah seorang ummi (tidak bisa membaca dan menulis). Namun demikian, Rasulullah adalah orang yang paling paham dan paling mengetahui cara ‘membaca’ Al-Qur’an. Termasuk, orang yang paling paham akan isi dan makna yang terkandung dalam setiap ayat Al-Qur’an.  

Lantas, bagaimana sebetulnya cara Rasulullah membaca Al-Qur’an? Sebagaimana keterangan dalam beberapa hadits yang terkumpul dalam kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah (Imam At-Tirmidzi, 2016), berikut cara Rasulullah ‘membaca’ Al-Qur’an.

Pertama, membaca Al-Qur’an dengan jelas. Rasulullah membaca Al-Qur’an dengan pengucapan yang sangat jelas dan terang, kata per kata, kalimat per kalimat. Sehingga tidak ada satu kata atau kalimat pun yang terlewat atau terdengar samar-samar ketika Rasulullah membacanya. 

Kedua, membaca panjang atau pendek setiap huruf Al-Qur’an sesuai dengan hukum ilmu tajwid. Memang, ilmu tajwid baru ada belakangan. Tapi ilmu tajwid yang diajarkan hingga saat ini merupakan ilmu yang dikembangkan oleh para ulama tentang bagaimana Rasulullah dan generasi awal Islam membaca Al-Qur’an. Dan cara Rasulullah membaca Al-Qur’an adalah sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Atau jika dibalik, kaidah ilmu tajwid yang ada sekarang sesuai dengan cara Rasulullah membaca Al-Qur’an. Yaitu memanjangkan yang harus dibaca  dan memendekkan apa-apa yang harus dibaca pendek.   

Ketiga, berhenti sejenak pada setiap ayat. Rasulullah tidak berhenti ketika ayat tersebut habis. Tidak memaksa untuk membaca terus atau menerobos bacaan satu ayat dengan yang ayat yang lainnya. Sebagaimana hadits riwayat Ummu Salamah ra., Rasulullah memotong bacaannya ayat per ayat. 

“Beliau membaca ayat ‘Alhamdulillah raabil alamin’, lalu berhenti. Kemudian beliau membaca ‘Arrahmanirrahim’, lalu berhenti lagi. Setelah itu, beliau membaca ayat ‘Maliki yaumiddin,” kata kata Ummu Salamah ra. 

Keempat, kadang membaca Al-Qur’an dengan suara lantang (jahr), kadang dengan suara lirih. Suatu ketika Abu Qais bertanya kepada Sayyidah Aisyah tentang bagaimana cara Rasulullah membacaAl-Qur’an. Lalu Sayyidah Aisyah menjawab bahwa terkadang Rasulullah membacaAl-Qur’an dengan suara nyaring dan terkadang dengan suara lirih.

Pada saat Fathu Makkah misalnya, sambil menunggangi untanya Rasulullah membaca Surat Al-Fath dengan suara yang lantang dan menggema. Sehingga orang-orang yang ada di sekitarnya mendengar bacaan Rasulullah itu. Hal ini disaksikan oleh Abdullah bin Mughaffal dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Tirmidzi, Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Ahmad.

Terakhir, membaca Al-Qur’an dengan suara indah. Rasulullah membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu. Adalah al-Bara’ bin Azib yang menyaksikan hal itu sebagaimana hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Pada saat itu, al-Bara’ sedang shalat Isya bersama Rasulullah. Al-Bara’ takjub dengan suara merdu Rasulullah ketika membaca Surat At-Tin.

“Aku belum pernah mendengar seorang pun yang suaranya lebih merdu dari suara Baginda,” kata al-Bara’. (A Muchlishon Rochmat)